Tears Of The Phoenix (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction)
Lolos moderasi pada: 14 June 2017

Buummmm.. Gunung itu meledak memancarkan kepulan asap hitam yang tebal menjulang tinggi ke angkasa. Prilly ikut terlempar ke atas langit lalu terjatuh di antara awan-awan putih di sekitar sana.

“Priilllyyyyy” Teriak Ali. Entah kenapa dia tidak ingin terjadi apa-apa pada Prilly, dia salah karena tidak menghalangi Prilly untuk terjun ke gunung merapi itu. Wajahnya terlihat pucat melihat Prilly terjun ke dalam gunung merapi itu.

Terlihat ada cahaya seperti api yang keluar dari dalam gunung merapi itu cahaya itu mengarah ke arah Prilly dan dituntunnya Prilly yang tak sadarkan diri ke arah Ali dan juga Unicorn itu berada. Kepulan asap itu membentuk sebuah wajah yang menghadap ke arah mereka sekarang.
Ali dan Unicorn itu melihat ke arah kepulan asap yang terbentuk seperti wajah.

“Perasaan yang tulus dan juga rela berkorban untuk mendapatkan sesuatu atau menyelamatkan seseorang adalah kunci untuk menemukan keberadaan burung Phoenix. Itu sebabnya saya tidak akan membawa dia sebagai tumbal karena Ia telah rela untuk mengorbankan dirinya itu adalah kunci utama untuk membawa burung Phoenix” Jelas asap berbentuk wajah itu. Seketika awan hitam itu menghilang seiring dengan angin yang berhembus menerpanya.

Ali melihat ke arah asap itu lalu sedetik kemudian Ia menengok ke arah Prilly yang tak sadarkan diri di hadapannya. Ada luka bakar di tangan ataupun kakinya. Burung Phoenix yang berada di samping Prilly seketika mengeluarkan air mata lalu terjatuh di atas luka Prilly. Dengan sekejap luka Prilly menghilang seketika seiring dengan sadarnya Ia dari pingsannya.
“Ada apa ini? Bukannya aku sudah rela menjadi seorang tumbal” Tanya Prilly terheran. Ali tersenyum ke arah Prilly lalu beralih ke arah Unicorn yang sama melihat ke arah Ali.
Setelah mendapatkan burung Phoenix mereka pun pergi pulang menuju kerajaan Ilalang di negeri Timur.

Sekarang mereka sudah sampai di kerajaan Ilalang. Prilly, Ali ataupun Unicorn itu disambut suka ria oleh semua masyarakat di kerajaan Ilalang. Semua masyarakat bersenang karena putri mereka telah kembali dengan selamat sambil membawa burung Phoenix yang bisa menyembuhkan Raja mereka.

“Ayahanda Prilly sudah pulang Prilly sudah membawakan burung Phoenix yang akan menyembuhkan Ayahanda” Ucap Prilly yang terduduk di samping ranjang ayahnya. “Pengawal bawakan burung itu ke sini” Titah Prilly. Pengawal yang membawa burung Phoenix itu segera berjalan mendekat ke arah Prilly lalu memberikan burung itu kepada Prilly.
“Lihat Ayahanda. Burung ini sudah berada di tanganku” Prilly menaruh burung itu di dada ayahnya. Seketika air mata burung itu terjatuh tepat di mulut Raja kerajaan Ilalang itu. Sesaat setelah itu terjadi Raja terlihat terbatuk-batuk lalu terbangun dari tidur panjangnya selama ini.
Semua orang yang berada di kamar baginda raja terlihat tersenyum senang karena Raja mereka telah bangun dan sembuh dari racun penyihir hitam itu.

Hari ini ada perayaan besar-besaran yang diadakan kerajaan Ilalang untuk menyambut kepulangan Putri Prilly dan juga atas kesembuhan Baginda Raja kerajaan Ilalang.
Ali terlihat termenung sendiri di balkon luas aula utama Istana.

“Kamu kenapa?” Tanya Prilly tiba-tiba.
Ali tersentak kaget saat mendapati Prilly tengah berdiri di sampingnya. Sejak kapan Ia ada di sini. “Hmm aku tidak sedang apa-apa. Aku hanya ingin sendiri” Ia mengalihkan pandangannya kembali pada kota Kerajaan Ilalang yang terlihat begitu damai dan tenang. Pantas saja kotanya sedamai ini jika Raja yang memimpinnya pun baik dan tegas dalam menjalankan pemerintahannya. Apalagi dengan seorang putri yang baik dan juga lembut seperti Prilly.
“Aku temani kamu di sini gak papa kan?” Tanya Prilly berhati-hati. Ia tak ingin jika Ia salah berbicara pada Ali. Ia tahu jika Ali telah banyak membantunya untuk menemukan burung Phoenix. Jadi Ia tak ingin sedikitpun membuatnya tak enak hati selama berada di kerajaan Ilalang ini.
“Iya silahkan” Ali kembali mengalihkan pandangannya pada kota kerajaan Ilalang.
Prilly yang menyadari hal aneh yang terjadi pada Ali pun mencoba untuk bertanya padanya. “Apa yang sedang kamu pikirkan Ali? Aku rasa kamu memikirkan hal yang serius karena aku bisa lihat dari mimik wajah kamu” Tanya dan papar Prilly.
Ali menghembuskan nafas kasar. “Aku hanya sedang memikirkan Ibunda. Aku yakin dia pasti sedang memikirkanku! Karena aku sejak dulu sangat dekat dengan Ibunda” Kata Ali sedikit tersenyum memandang awan-awan di atas sana.
“Kamu sungguh beruntung bisa melihat Ibundamu secara langsung. Dia masih ada! Sedangkan aku? Sejak kecil aku tidak pernah melihat wajah Ibundaku. Aku hanya melihatnya lewat lukisan-lukisan yang ada di istana tapi aku yakin dia pasti selalu ada di dekatku tepatnya dia selalu ada di hatiku” Papar Prilly dengan pmata yang berkaca dan nada suara yang bergetar menahan tangis.
Ali menatap nanar Prilly yang berdiri di sampingnya. Ia melihat seorang wanita atau putri yang terlihat begitu tegar tapi dia yakin di lubuk hatinya Ia rapuh karena sejak kecil tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu. “Tapi aku tak yakin bisa bertemu dengan Ibundaku kembali! Karena aku tahu aku tak akan bisa kembali ke Kerajaan Awan”
“Tapi firasat aku kamu akan kembali ke sana! Ke kerajaan kamu”
“Semoga saja”

“Tolong.. Tolong.. Tolong..” Teriak para masyarakat di dalam aula Istana.
Ali dan Prilly mengalihkan pandangan mereka ke dalam aula Istana. “Ada apa itu?” Tanya Ali.
“Aku juga tidak tahu! Ya sudah ayo kita lihat” Ucap Prilly. Ali mengangguk lantas mereka berdua masuk ke dalam aula Istana.

“Penyihir Hitam” Pekik Prilly setelah melihat jika sang pembuat kekacauan adalah penyihir hitam.
Penyihir Hitam itu melihat keberadaan Prilly. Ia berjalan mendekat ke arah Prilly. “Wah wah wah Putri Prilly kamu sudah berada di sini rupanya. Hebat sekali kamu bisa pulang dengan keadaan selamat dari negeri barat” Kata Penyihir Hitam itu tersenyum sinis.
“Apa yang kamu inginkan lagi dari kami Penyihir Hitam? Apa kamu tak cukup membuat Ayahandaku sakit kemarin? Dan membuat seluruh masyarakat kami menderita?” Papar Prilly mencoba tenang.
“Aku hanya tak ingin melihat musuhku bahagia. Kapanpun dan di manapun kalian bahagia aku akan datang”
“Sudahlah apa yang kau inginkan dari kerajaan yang damai ini? Pergilah jangan ganggu kebahagiaan mereka!” Ucap Ali mengangkat suara.
“Wah ini siapa Putri Prilly? Penyelamatmu? Boleh juga” Penyihir hitam itu manggut-manggut mengerti. “Ada urusan kau berada di kerajaan ini?”
“Bukan urusanmu Penyihir Hitam”
“Beraninya kau”
“Aku tak takut pada apapun apalagi hanya pada penyihir sepertimu”
“Kurang ajar kau” Tanpa aba-aba Penyihir Hitam itu langsung menyerang Ali yang tak mau kalah langsung mengeluarkan pedang kilatnya. Semua masyarakat yang berada di aula Istana berjalan mundur untuk sedikit menjauh dari Penyihir Hitam ataupun Ali.

Mereka saling menyerang dengan masing-masing kekuatan yang mereka punya. Ali terengah dengan kucuran keringat dari pelipisnya. Ia sungguh merasa kewalahan menghadapi Penyihir Hitam yang kekuatannya tak dapat dianggap remeh. Sampai akhirnya Ali tersungkur di lantai Aula Istana.

“Hahaha orang sepertimu mau mengalahkanku? Tak sebanding” Kata Penyihir hitam itu dengan angkuhnya.

Eakk.. Eakk.. Eakk..
Suara burung Phoenix menggema di seluruh Aula Istana. Terlihat burung itu terbang di atas Aula. Ia mendekati Penyihir Hitam lantas mencabut rambut Penyihir itu tepat di ubun-ubunnya. Dengan sekejap mata sang Penyihir langsung berteriak kesakitan sambil memegang kepalanya. “Dasar burung penghancur. Aahhhhh” Teriaknya.
Wajahnya yang tadi begitu cantik dan muda langsung berubah menjadi seperti seorang nenek-nenek tua. Lantas tak lama menjadi abu dan menghilang di antara baju yang tadi Ia pakai. Seketika ruang Aula Istana riuh oleh teriakan kebahagiaan seluruh masyarakat karena sang Penyihir yang selalu membuat hidup mereka tak tenang akhirnya telah tewas.

Prilly berlari ke arah Ali yang terlihat masih kecapean setelah bertarung dengan Penyihir Hitam. “Kamu tidak apa-apa?” Tanya Prilly terlihat sangat khawatir dengan keadaan Ali. Ali hanya menggeleng sebagai jawaban.

“Maaf Baginda Raja Erlank Ratu Shopia bukan sakit dia hanya mengalami penekanan batin yang dahsyat” Ucap Tabib Kerajaan Awan pada Rajanya yang terlihat sangat khawatir akan keadaan permaisurinya itu. Bagaimana tidak Ratu Shopia sakit sejak kepergian putranya Pangeran Alivendra yang dibuang kebumi akibat kesalahan yang Ia perbuat.
“Penekanan batin? Maksudnya tabib?” Tanya Raja Erlank tak mengerti.
“Maksudnya dia hanya sedang sangat merindukan putranya yaitu Pangeran Alivendra”
“Alivendra Ibunda ingin bertemu denganmu” Igau Ratu Shopia dengan mata yang masih setia mengatup. Raja Erlank hanya menatap nanar keadaan yang sedang dialami oleh permaisurinya itu.
“Saran saya bawa pulang kembali pangeran Alivendra Baginda Raja. Dengan begitu saya sangat yakin jika Ratu Shopia akan sembuh seperti sedia kala” Papar Tabib kerajaan menasehati.
Raja Erlank terlihat mengernyit kening berpikir. “Baiklah jika itu satu-satunya jalan terbaik yang bisa membuat permaisuri saya kembali seperti sedia kala. Saya akan memaafkan Pangeran Alivendra dan mengajaknya pulang. Pengawal. Pengawal” Teriak Baginda Raja Erlank. Tak lama seorang pengawal datang dengan sebelumnya memberi tanda penghormatan padanya. “Tolong cari tahu keberadaan Pangeran Alivendra di bumi. Kita akan segera menjemputnya” Jelas Raja Erlank yang langsung diberi anggukan ooleh pengawalnya yang seiring dengan itu pergi dari hadapannya.
“Permaisuriku aku pergi dulu. Aku akan datang bersama Pangeran Alivendra” Ucap Raja Erlank lantas beranjak dari tempatnya untuk bersiap-siap turun kebumi.

Terlihat Putri Prilly dan juga Ali sedang berjalan di taman istana. Mereka duduk di bangku yang terbuat dari batu. “Terima kasih atas segala sesuatu yang telah kamu lakukan untuk menyelamatkanku ataupun menyelamatkan kerajaanku” Ucap Prilly tersenyum sambil menatap Ali yang terlihat sama menatapnya.
“Sama-sama. Saya hanya ingin membantu setiap orang yang sedang kesusahan”
Mereka tersenyum antara satu dan yang lain. Terlihat kekakuan di antara mereka yang tak tahu harus bicara apa lagi setelahnya.

“Pangeran Alivendra” Suara Baginda Raja Erlank menusuk ke telinga keduanya. Baik Ali ataupun Prilly berdiri dari duduknya dan menengok ke arah suara.
“Ayahanda” Ucap Ali tak percaya.
Raja Erlank berjalan mendekat ke arah Putranya. “Mari pulang! Ibundamu sedang sakit, dia ingin bertemu denganmu Alivendra” Ucap Raja Erlank dengan wibawanya sebagai seorang Raja.
“Tapi Alivendra sudah dibuang Ayahanda. Alivendra tidak bisa pulang”
“Ayahanda mencabut hukumanmu Alivendra. Ini semua demi Ibundamu yang sedang sakit”
Ali menatap Prilly yang tersenyum ke arahnya. Seketika Prilly mengangguk menyetujui keinginan Baginda Raja Erlank. “Pergilah! Ibundamu membutuhkanmu” Ucap Prilly lembut.
Ali mengehembuskan nafas panjang. Sedetik kemudian Ia mengangguk menyetujui permintaan Ayahandanya. Baginda Raja Erlank berjalan mendekat ke arah Ali memegang punggungnya. Dalam hitungan detik mereka seperti melesat pergi ke atas langit.

Prilly terlihat bersedih akan kepergian Ali. Entah kenapa hatinya memberontak untuk memberinya izin pulang bersama Ayahandanya tapi apa hak dia untuk mencegahnya pergi karena Ia tahu jika Ali itu adalah seorang pangeran Awan. Tak mungkin mereka akan bersatu dan tak mungkin juga Ali mempunyai perasaan yang sama terhadapnya.

Sudah berbulan-bulan Alivendra pulang ke Kerajaan Awan dan sekarang keadaan Ratu Shopia telah seperti sedia kala. Ali terlihat berdiri di balkon kamarnya menatap kearah bumi yang sama sekali tak bisa Ia lihat di sini. Entah kenapa raganya yang memang sedang berada di Kerajaan Awan tapi hatinya jauh berada di bumi. Ia merindukan sosok Prilly. Wanita yang selama Ia berada di bumi selalu berada disampingnya. Mungkin kebersamaan yang tak sebentar itu membuatnya tak bisa menghilangkan sosok Prilly dari pikirannya.

“Alivendra” Sapa Ratu Shopia menepuk pelan pundak Ali. Ali menatap ke arah Ibundanya itu. Ia berusaha tersenyum walau nyatanya Ia sama sekali tak ingin tersenyum.
“Ada apa Ibunda?” Tanyanya menatap wajah Ibundanya itu.
“Apa yang tengah kau pikirkan Putraku” Tanya Ratu Shopia.
“Tidak bunda. Aku hanya sedang kangen dengan bumi. Tapi sebenarnya aku sedang memikirkan seseorang”
“Siapakah dia?”
“Dia Putri Prilly yang berasal dari kerajaan Ilalang. Selama di bumi Ali selalu bersamanya tapi entah kenapa semenjak Ali ke sini Ali selalu ingat dengannya Ibunda” Papar Ali mengutarakan seluruh isi hatinya pada sang Ibunda.
“Itu artinya kamu menyukainya Alivendra. Kamu menyukai Putri Prilly dari Kerajaan Ilalang.”
“Apakah itu bisa disebut suka Ibunda.”
“Iya! Kamu selalu bahagia berada di sampingnya bukan?” Ali mengangguk mantap. “Dan jika kamu jauh darinya kamu merasa sedih?” Lagi-lagi Ali hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Ibundanya. Tapi memang itu adalah kenyataan yang sedang Ia rasakan bukan.
“Ibunda akan bicara dengan Ayahandamu untuk melamarkan Putri Prilly dari Kerajaan Ilalang untuk menjadi permaisurimu Alivendra”
“Tapi apakah itu bisa Ibunda? Bukankah kita beda? Prilly berasal dari Bumi sedangkan Ali berasal dari Awan”
“Kenapa memangnya? Bukankah Bumi dan Awan itu saling melengkapi? Semuanya bisa menjadi mungkin Putraku.” Ali mengangguk mengerti akan perkataan Ibundanya.

Beberapa hari telah berlalu. Hari ini adalah hari yang Paling Alivendra tunggu. Hari ini Ia akan menikah dengan Putri Prilly karena kemarin lusa keluarganya datang untuk melamar dan kerajaan Ilalang menyambutnya dengan suka cita dan juga Putri Prilly menerima lamarannya.

Alivendra tersenyum ke arah Prilly yang terlihat begitu cantik. Mereka berdiri bersampingan menghadap pendeta yang akan segera menikahkan mereka. Tak lama mereka pun telah menjadi sepasang suami istri. Mereka akan tinggal di istana atau kerajaan mereka sendiri yang sudah disiapkan oleh kerajaan Ilalang ataupun kerajaan Awan.
Kerajaan baru dengan pemimpin baru yang akan memimpin seluruh rakyatnya. Kerajaan yang saat itu diberi nama dengan kerajaan Phoenix. Mereka pun bahagia dengan kerajaan milik mereka sekarang dengan tenang dan damai mereka menjalankan kerajaan mereka sendiri. Mereka pun hidup bahagia dengan kerajaan baru mereka sekarang.

Cinta dan pengorbanan itu mungkin sungguh sakit tapi dengan adanya cinta yang tulus dan juga rasa yang selalu ingin berkorban yang akan menjadi tonggak awal cinta sejati. Jadi apapun yang terjadi perjuangkanlah cinta kalian semua.

TAMAT

Cerpen Karangan: Ineu Desiana
Facebook: Ineu Desiana

Cerpen Tears Of The Phoenix (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Naura Dan Peri Air

Oleh:
Naura adalah anak yang pintar, cantik dan tinggi. Ia selalu mendapat peringkat pertama di kelasnya. Tinggi badannya mebuat semua orang tertipu. Banyak yang mengira Naura sudah berada di kelas

Palsu

Oleh:
Aku membencimu dibalik semua rasa sayangku, aku membencimu yang meninggalkan ku tanpa kepastian, mengombang-ambingkakan perasaan. Tetapi aku juga merindumu melalui perhatian kecilmu, suara serakmu yang dulu sering menemani malamku,

Ada Cerita

Oleh:
Namaku neila aku mahasiswa perguruan tinggi di yogyakarta aku punya pacar namanya nicko. Dia baik bahkan sangat baik. Awal ketemu dengan nicko secara tidak sengaja. Awalnya aku dan keluargaku

Good Bye

Oleh:
Jatuh itu sangat menyakitkan maka jangan mudah terjatuh, jatuhlah untuk sesuatu yang memang dapat membuatmu sembuh dari luka akibat jatuh tersebut Kring-kring suara telepon rumahku berdering, saat ini liburan

Akhirnya Jadi Nikah

Oleh:
Perkenalkan namaku Mike, akhirnya hari minggu telah tiba dimana hari-hari lain penuh dengan tugas sekolah. Aku bangun pagi pukul 05:30, aku mandi lalu siap-siap bergegas pergi ke Alun-alun kota

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Tears Of The Phoenix (Part 3)”

  1. I'm Little Prillvers says:

    Bagus ceritanya. Bikin baper, penasaran, selain fanfiction dan cerpen romantis, juga bisa jadi cerpen Thiller lohh…

  2. Luqman says:

    Keren nih cerpen nya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *