Tentang Aku dan Senpai

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 December 2013

Minggu, 25 Agustus 2013

“iya aku berangkat, tunggu sebentar”

Hari ini aku tidak mengikuti acara di sekolah karena jarak rumahku dengan sekolah sangat jauh. Tetapi aku masih mengikuti acara jalan sehat yang ada di daerahku.

“I-kun! Lama tau!” kesal Lisa kepadaku.
“hehe maaf-maaf” jawabku dengan tersenyum.

Aku bertemu kembali dengan teman baikku semasa SMP. Aku senang bisa bermain kembali dengan mereka walau hanya satu hari ini. Kakakku dan suaminya meninggalkanku bersama Lisa.

“hei! Lahir batin Kun!” Alf menjabat tanganku.
“eh! Iya aku juga”

Alf, dia teman SMPku juga tapi aku sewaktu SMP hanya mengenal mukanya saja bukan namannya, hanya saling memandang bukan menyapa, bersampingan hanya diam tidak saling berbincang karena aku sewaktu SMP sangat pemalu jika dekat dengan orang yang belum aku kenal. Tetapi sekarang aku berubah, aku bisa mengurangi sifat pemaluku dan mempunyai banyak kenalan baru untuk menjadi temanku.

“eh Kun! Kamu sekarang sekolah dimana?” tanya Alf padaku.
“aku adek kelasnya itu” jawabku.

Aku menunjuk seorang anak yang jngkok di belakang Alf yang berdiri di depanku. Anak itu kakak kelasku di sekolah baruku. Aku sedikit malu ketika ia melihatku. Wajahnya begitu manis dan tampan.

“Hei! Ini lo adik kelasmu” ujar Alf yang tersenyum.
“udah tahu aku” jawabnya singkat.
“cieee… I-kun…” ujar Lisa.

Aku tersipu malu mendengar kalimat dari Alf dan Lisa. Begitu juga dengan Dipta dan Vine yang mengolokku mengira aku pacarnya kakak itu. dasar! Mereka memang aneh…

Jalan sehat dimulai. Kami berjalan santai dengan rute yang sudah ditentukan. Selama perjalanan kami berlima berbincang-bincang tentang sekolah lanjutan yang kami tempati satu bulan yang lalu sembari mendengarkan musik. Alf dan kakak kelasku berjalan lebih dulu.

“Kun! Kun! Adi itu loh diem aja, ajak bicara dong biar CLBK lagi” ujar Lisa.
“iya Kun! Dia masih jomblo loh setelah kamu putusin waktu SMP dulu” ujar Vine juga.
“I-kun itu mau tapi malu” ujar Dipta santai.
“eeh! Apa-apain sih, aku sekarang males bahas yang gitu-gituan ah!” sahutku.

Bergurau di tengah perjalanan. Aku bersama teman dekatku bercanda tawa bersama, bernyanyi bersama, berfoto. Sebenarnya disaat itu aku menahan tangis, tangis rinduku kepada mereka yang dulu setiap hari selalu menghiburku.

“whaaaa I-Kun capek banget” keluh Lisa.
“aku lapar” ucap Dipta sambil melihat HP yang di bawanya.
“cari makan aja, aku udah sarapan kok” ujar Vine.
“aku juga” ujarku dan Adi.

Kami berempat mengantarkan Dipta membeli makanan yang bisa mengenyangkan perutnya. Walau Dipta laki-laki yang genius tapi dia gampang sakit dan kami sebagai teman dekatnya berusaha untuk menolongnya. Tidak lama kemudian makanan sudah kami dapatkan. Aku, Vine, Adi dan Lisa menemani Dipta makan sembari bermain game di HP kami masing-masing.

“hei! Ini lo dicariin” ujar Alf.

Tiba-tiba Alf datang di belakangku dan memukul pundakku. Aku tersipu malu kembali, hatiku berdebar ketika melihat kakak kelasku itu. sebenarnya apa yang aku rasakan, bukankah dulu aku pernah diabaikan oleh kakak kelasku sewaktu SMP. Aku tak boleh menyukainya aku harus tetap fokus ke sekolah dulu dan tidak mau diganggu oleh hal seperti itu lagi.

“hei! Itu lo…” ujar Alf kembali.
“apaan sih Alf? Dia Cuma kakak kelasku, udahlah jangan seperti itu” jawabku sambil tertawa.
“lo! Nih anak dari SMP kalau udah ngakak susah berhentinya” sahut Vine.
“Aku aneh” jawabku yang langsung berhenti tertawa.
“aku selesai, ayo ke lantai atas, kita nunggu disana sambil mengenang masa-masa wisuda” sahut Dipta.
“iya ayo! Ayo Kun!” Lisa yang menarik tanganku.

Aku berjalan perlahan. Tubuhku bergetar aku sangat deg-degan disaat kakak itu berjalan di sampingku sambil memegang Hpnya. Aku mulai melihat wajahnya ia sangat manis hingga aku tersipu oleh wajahnya.
“kenapa gak ikut acara di Singosari?” ujar kakak itu kepadaku.
“anu… aku.. hehe jauh kak, lagi pula Cuma perlombaan saja kan?” jawabku yang sedikit gugup.
“iya sih, oh iya udah ada pembentukan OSIS baru lagi?” tanyanya.
“udah tapi masih ketua OSIS, anggotanya pengurus kelas” jawabku.

Aku berbincang sambil menaiki tangga yang amat jauh. Dekat sekali, ini pertama kalinya aku dekat sekali dengan kakak kelas laki-laki yang aku kagumi. Tapi aku masih ingin menutup hatiku. “Indri harus tahan dengan semua ini”

Selama beberapa hari berlalu. Aku mengetahui nama kakak kelasku, namanya Ufiq tapi aku menyebutnya Senpai. Aku semakin akrab dan perasaan yang aku rasakan ini aneh, apa aku harus biarkan perasaan ini berjalan sesuka hati dan tak ada yang menghambatnya? Aku bingung. Besok, Senpai ingin berangkat ke sekolah bareng. Di malam hari ini aku tidak bisa tidur sama sekali. Aku terus memikirkan “apa yang harus aku lakukan besok di hadapan Senpai?”.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Dan keesokan harinya aku menemuinya di perempatan Pandaan. Sebelumnya aku bangun amat pagi, takut jika nanti Senpai menunggu lama.

“Bis ini?” ujar Senpai sambil menunjuk busnya.
“iya deh” jawabku pasrah.

Kami berdua menaiki bus yang ada di depan kami. Aku mengira di dalam bus akan ramai ternyata tidak justru malah sepi. Mataku dan Senpai melihat kanan kiri untuk mencari kursi yang kosong. Saat aku ingin duduk di sampingnya Senpai, kedua temanku ada di belakang dan aku kira mereka sudah meninggalkanku sendirian lagi.

“Cieee”

Ah! Aku tidak tahu. Selalu disaat aku bersama Senpai ujaran itu muncul. Padahal aku tidak boleh senang dengan Senpai aku tidak boleh sampai suka dengan Senpai, aku harus menghilangkan rasa ini, harus.

Dari awal aku hanya diam saja saat duduk di samping Senpai. Aku merasakan perasaan yang baru aku kenal. Aku sangat deg-degan, ingin tersenyum, gemetar semuanya campur aduk jadi satu. Hingga di tengah perjalanan kami mulai bercakap sebentar. Hanya ada empat kalimat yang kelur dari mulutku dan Senpai. Saat ia berbicara aku tak berani untuk melihatnya karena saat aku melihat wajahnya perasaan itu akan semakin tinggi.

“aku PSGnya disini dek” ujar Senpai dengan tiba-tiba.

Aku hanya menjawabnya dengan kata “Iya” aku sangat gugup saat menjawabnya. Aku heran pada diriku sendiri mengapa aku jadi seperti ini saat di samping laki-laki yang baru aku kenal dan selama ini aku tak pernah mengalami perasaan indah ini. Sekarang apa yang aku kulakukan? Perasaan ini semakin memaksaku untuk tidak menghalanginya. Apa yang harus aku lakukan?

Minggu, 8 Sebtember 2013

Pagi yang cerah nan indah. Dinginnya pagi menyambutku untuk bangun. Setelah sekian lama aku dan Senpai berteman, terkadang aku lupa untuk menahan perasaanku. Aku menjadi anggota OSIS di bidang Olahraga seperti di SMP dulu dan Senpai juga anggota OSIS di bidang keagamaan. Hari ini adalah hari minggu, ketua OSIS yang baru melaksanakan rapat di sekolah.

Pukul 08.00 lebih aku bertemu Senpai di perempatan kota Pandaan. Ia tidak tahu kalau aku sudah ada di hadapanya mungkin karena aku merubah penampilanku.

“kak?” sapaku.
“kita naik bis ini aja ya” ujarnya.

Aku menaiki bus untuk kedua kalinya bersama Senpai. Dan di hari inilah aku mulai kalah dengan perasaanku. Aku mulai mencintai Senpai.

“dek masuk o ayo nonton bareng”

Senpai mengirim pesan singkat untukku. Ia mengajakku melihat film 5 cm buatan Indonesia. Aku mulai masuk ke dalam ruangan ia menyuruhku duduk di sampingnya. Perasaanku semakin bertambah. Kami berdua tertawa karena melihat film itu.

“apakah aku harus tetap seperti ini pada Senpai?”

Aku merasa nyaman di sampingnya. Terasa indah di hati. Tapi apa yang harus aku lakukan?

Kamis, 12 Sebtember 2013

Di hari ulang tahun Senpai, pagi-pagi sekali aku sudah mengucapkan selamat pada Senpai. Kemudian, sore harinya, aku dan Senpai merencanakan bahwa kami akan melihat karnaval di Lawang pada hari Sabtu tanggal 14 Sebtember 2013 nanti. Kami berdua sudah merencanakan bahwa nanti kami akan foto dengan guru favorit kami, foto berdua, dan masih banyak lagi. Hati ini tak sabar menunggu tanggal itu datang. Andai di hari itu aku berani mengungkapkannya, apa yang akan terjadi selanjutnya kepadaku.

Sabtu, 13 sampai 14 Sebtember 2013

“ndik, nanti kalau pulang sekolah ke rumahku, besok jadi ke Jogjakarta”

Aku membaca pesan singkat itu dari kakak kandungku. “selalu saja membingungkan”, gumamku. Saat itu aku di kelas hanya diam dan berpikir masih sempatkah aku menemui Senpai esok pagi?. Senpai sudah berusaha tidak mengikuti karnaval karena aku juga tidak mengikutinya karena ada satu syarat yang aku gak suka.

“jika aku membatalkan pertemuanku besok, bagaimana dengan Senpai?”

Yang aku pikirkan hanyalah Senpai. Aku tak ingin membuatnya kecewa dan juga menyesal karena ingin menemuiku tetapi pada akhirnya aku tak bisa menemuinya.

“memang besok ke Jogja berangkat jam berapa sih?” tanyaku pada kakakku.
“jam 3 sore kumpul di rumah Prigen terus jam 8 malam berangkat” jawabnya.

Aku senang. Berarti besok aku masih bisa menemui Senpai di siang hari dan pulang sebelum jam sore. Rencanaku hampir berhasil hingga keesokan harinya…

“kita semua sekelas suruh ikut karnaval” pesan singkat dari Senpai.
“berarti aku gak jadi liat” balasku.
“gak tau aku dek, aku bingung, ini aku sekarang diajak ke kecamatan untuk ngambil nomer urut dan persiapannya” balasan dari Senpai.

Saat itu hatiku mulai sedikit kecewa, tetapi aku masih berusaha agar Senpai bisa menemuiku dan aku bisa menemuinya tanpa sepengetahuan teman-teman dan guru-guruku.

“aku benar-benar gak bisa dek” sebuah pesan singkat dari Senpai lagi.
“hm, ya sudah kalau gitu, aku mau ganti baju lagi” balasku.

Kini aku sangat kecewa, yang aku rencanakan dua hari yang lalu gagal, padahal tinggal sedikit lagi.

“haduuh, aku malah ngecewain kamu, maaf ya” pesan singkat dari Senpai.
“ngapain minta maaf? Aku gak apa-apa kok” balasku.
“iya kamu yang gak apa-apa, tapi akunya yang gak enak” balas Senpai.

Tetesan airmata tak ku sadari mengalir di pipiku. “kenapa aku menangis?”, gumamku. Sekecewa inikah aku dalam hal ini. Hanya tak jadi bertemu mengapa aku sangat kecewa?.

Minggu,15 Sebtember 2013

Aku sudah ada di Jogjakarta. Walau masih ada kekecewaan di hati, namun, kekecewaan itu lama-lama terkikis oleh ucapan Senpai yang membuatku ceria kembali. Dari pagi hingga sore aku dan Senpai saling mengirim pesan singkat. Tak ada hentinya aku tersenyum dan tak ada hentinya aku memikirkannya juga.

“hihi… kakak tuh! Selalu bikin aku ketawa sendiri” ku kirim pesan singkat untuk Senpai.
“ketawa kenapa?” balasnya.
“ya senang baca pesan dari kakak yang ceria itu” balasku.
“ya udah, aku ceria biar kamu ikut ceria juga” balasnya.

Perasaan sukaku bertambah dan apa yang diucapkannya walau pun dari pesan singkat yang hanya bisa dibaca bukan didengar itu terasa seperti Senpai yang mengatakan kalimat itu langsung di hadapanku. Bukan hanya kalimat itu, tetapi semua kalimat yang ada di pesan singkat Senpai yang dikirimkan kepadaku itu terasa bahwa Senpai selalu ada di hadapanku.

“bukankah seharusnya aku yang buat kakak ceria?, tapi terima kasih kak” balas pesanku pada Senpai.
“okey, ya bukan kamu saja, aku juga harus buat kamu ceria” balasan dari Senpai.

Turun dari mobil aku senyum sendiri tetapi mulutku ku tutupi dengan tangan kananku. Takut jikalau kakak kandungku curiga bahwa aku sedang jatuh cinta.

“mbak? Samen gak popo a?” tanya saudaraku yang dari Surabaya.
“gak apa-apa dek” jawabku yang sedikit menahan senyum.

Hari ini, dimana empat hari lagi good day untukku.

Selasa, 17 Sebtember 2013

Pukul 2 pagi ini aku baru sampai di rumah. Rasanya lelah sekali, ingin tidur tapi takut kalau nanti pukul 5 pagi malah gak bisa bangun, karena aku harus sekolah.

“aku di pos Polisi” pesan singkat dari Senpai.

Dari kejauhan aku sudah melihatnya. Seperti cinta yang memancarkan cahayanya dan menarik perasaanku hingga terjebak dan tersipu melihatnya.

“aku nitip ini ya” ucap Senpai padaku sembari memberikan flashdisk milik teman sekelasku.
“iya kak, ya udah aku berangkat” ujarku setelah bersalaman dengannya.

Sebenarnya aku merindukannya. HP aku pegang, membuka web dan masuk pada social network yang bernama “Facebook”.

“ketemu hanya sesingkat itu? padahal aku kangen”

Kalimat itu aku tulis pada dinding profilku sehingga bisa dibaca oleh semua orang yang memakai social network ini. Dan setelah aku sampai di Sekolahku aku membuka beranda pada social network itu kembali. Aku membacanya…

“ketemu hanya ngasihkan Flashdisk”

Itu kalimat yang diketik oleh Senpai sendiri. Mungkinkah perasaan kami sama? Atau bagaimana?. Tinggal dua hari lagi. Aku berharap di hari good day ku aku bisa menjadi kekasihnya Senpai.

Rabu, 18 September 2013

“kakak marah ya?” tanyaku lewat pesan singkat yang aku kirim.
“enggak, aku ceria gini kok” balasnya.
“berarti aku salah kira” balasku dengan simbol senyum.
“kamu sih, aku biasa-biasa aja, dikirain marah” balas Senpai.
“aku takut perasaan kakak berubah ke aku” balasku kembali.

Entah kenapa kalimat itu bisa muncul dan ku tulis pada pesan singkat yang sudah aku kirim pada Senpai. Aku kan belum menjadi kekasihnya? Mengapa aku selancang itu mengatakan hal yang tak seharusnya aku katakan?, aku memang bodoh.

“gak mungkin kok, aku keep smile buat kamu”

Kalimat indah itu tertera pada layar Hpku. Walau pun cara penulisanya biasa tetapi dalam hatiku itu adalah kalimat yang membahagiakan untukku. Di tengah-tengah pembicaraan aku akhirnya mengungkapkan perasaanku…

“aku iyas, aku sangat menyukai kakak kelasku, yaitu Senpai”

“okeh okeh aku mau buka juga,”
“disaat aku baru bertemu denganmu disaat acara tanggal 25 kemarin, aku sudah merasa seperti ada perasaan ke kamu. Tapi aku rasa perasaan itu bohong. Namun, lama kelamaan aku akrab denganmu, rasa itu semakin menjadi. Jadi aku dari dulu, pertama bertemu denganmu, aku sudah menyukaimu. Tapi dulu, kamu terlihat tidak ada rasa suka padaku, ya sudah aku biarkan rasa itu. namun, ternyata salah, ternyata kamu juga menyukaiku. Kita sama-sama menyukainya”

kalimat demi kalimat terungkap dari hati Senpai. Malam tanggal 19 Sebtember 2013, telah terungkap kedua perasaan kami. Semua yang aku harapkan tercapai, yang aku impikan agar Senpai juga menyukaiku terwujudkan. Tiada henti aku tersenyum, hati ini benar-benar berbunga-bunga, sangat bahagia, terasa ingin menjerit sekeras mungkin.

“istilahnya kita pacaran”

Pesan tambahan dari Senpai. Di malam pertengahan umurku ke 15 yang akan beranjak 16 tahun aku baru pertama kali merasakan kebahagiaan ini.
Terima kasih Ya Allah, Kau telah mendengar do’aku.

Kamis, 19 Sebtember 2013

Di pagi yang cerah nan indah, aku tersenyum bahagia, Senpai datang, menggenggam tanganku sembari mengucapkan “selamat ulang tahun” untukku.

Kebahagiaan yang tak terduga datang di hari yang tepat. Hari dimana aku 16 tahun yang lalu dilahirkan dan sekarang aku telah menemukan seseorang yang mencintaiku dan yang menyayangiku. Duduk di sampingku, tersenyum menatapku dan kehangatan cintanya yang merasuk dalam tubuhku.

Cerpen Karangan: Indri Triyas Merliana
Facebook: https://www.facebook.com/indri.kun.9

Cerpen Tentang Aku dan Senpai merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


FLS2N

Oleh:
“Felly! Hari ini, lo bakalan latihan, kan?,” tanya Riska. “Lihat nati aja deh!,” ucap Felly santai. “Jangan gitu lah, Fel! Lomba udah deket. Ayolah!” “Iya-iya,” kata Felly dengan mengacuhkan

Semua Kerena-Nya

Oleh:
Tahun ini adalah tahun yang menyedihkan bagi icha, karena dia harus kehilangan kedua orang tuanya saat kecelakaan maut, saat itu icha sedang mengikuti acara pepisahan di sekolahnya, akhirnya diapun

Sendiri

Oleh:
“Om telolet om… om telolet om” “Telolelolelolet telolelolelolet” “Yeeeeeeeee” Ya, pemandangan seperti yang sering gue dapati saat sore tiba. Mungkin ini yang namanya galau. Menghabiskan banyak waktu buat sendiri

My Love is Salah Orang (Part 1)

Oleh:
Angin bergemuruh dari bilik dinding bercat putih memudar, terdengar sayu rintik-rintik hujan bergesekkan di antara dedaunan basah. Mataku masih berkaca-kaca, sesekali kuusap tetesan air mata yang tak sanggup kubendung.

Sayonara My Lovely (Part 1)

Oleh:
Liburan akhir semester genap hampir saja selesai, tak terasa aku akan menginjakkan kaki di sekolah baru, aku baru saja lulus madrasah dengan nilai akhir yang lumayan, dan siap untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *