Tentang Aku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 12 August 2015

Aku tahu akhirnya akan sama saja seperti angin. Iya, seperti kemarin.
Deg. Lagi-lagi hanya angin.

Bisa jadi. Bisa jadi angin merindukanmu. Rindu untuk memberimu napas, memberimu hal yang memang seharusnya sudah kau dapatkan, darinya. Bisa jadi ia merasa bersalah. Bersalah karena memberimu badai itu, yang bahkan hati kecilmu merasa muak melihatnya, walau hati tak bisa melihat.

Ah, maksudku, hati kecilmu hanya bisa melihat hal-hal yang murni juga, bukan seperti badai yang tentu saja terlalu kotor untuk hati sucimu itu. Aku tahu kau juga merindukannya. Merindukan napas bahagia itu, juga kupu-kupu. Kupu-kupu yang entah kenapa suka hinggap di perut kecilmu saat kau senang. Tapi kau tak perlu ikut-ikutan merasa bersalah seperti dirinya. Karena kau memang tak salah.

Tidak ada yang salah jika kau hanya memandangi benda bercahaya yang menerangi surat di dinding biru itu. Tidak ada yang salah jika kau hanya menghirup sisa-sisa napas bahagia yang baru saja membuat kupu-kupu kembali hinggap di perutmu. Tidak ada salahnya jika kau hanya duduk di sana, mendengar ocehan burung-burung itu yang karenanya angin berhenti memberimu napas. Tapi aku yakin kau akan tetap hidup walau hanya dengan harapan angin akan kembali.

Terkadang aku berpikir, kau bersalah dalam hal ini. Kau membesarkan hal kecil dan memandang kecil hal besar. Sudah puaskah hatimu mendengar burung-burung itu berbicara —dengan bahasanya— kepada angin, hingga angin pergi, tanpa sepatah kata pun, meninggalkanmu dan tak lagi menghembuskan kebahagiaan, sampai kupu-kupu itu enggan hinggap di perutmu lagi? Aku tebak, kau puas. Atau mungkin, menyesal.

Selembar surat di dinding biru. Ah, betapa rasa ingin untuk membakarnya terasa sangat membuncah. Surat itu dari sahabatku, untuk angin. Sebenarnya cukup dibiarkan saja di tanah, toh jika angin tahu itu untuknya, dia pasti akan langsung mengambilnya. Bukan temanku jika dia tidak melakukan sesuatu yang aneh.

Menjadi aneh, adalah satu kalimat yang sering aku ucapkan ketika seseorang menanyakan bakatku. Itu bakat alami dan sepertinya bakat yang langka. Aku bersyukur setinggi-tingginya karena berkah berupa teman yang sama anehnya telah datang padaku. Dia tahu segala hal tentang aku bahkan tentang aku yang sedang menutupi rasa butuhku akan angin, napas dan segala kebahagiaan.

Katanya, surat ini untuk angin, dan aku boleh membacanya jika mau. Bagus. siapa yang tidak penasaran jika ada seseorang mengirimi surat secara pribadi untuk angin, padahal sudah jelas dia selalu ada di sekitar kita. Kau cukup mengatakan apapun yang ingin kau katakan dan dia pasti mendengarmu.
Dan aku membacanya. Ada namaku di sana. Aku sempat tersedak beberapa kali. Ini benar-benar surat pribadi.

Aku sedang tidur. Jangan kau tanya mengapa aku bisa tahu, karena jawabanku hanya, “karena aku tahu,” Aku tahu karena aku sedang melihat wajahnya, dengan sangat jelas. Ini pasti hanya mimpi, makanya aku tahu kalau aku sedang tidur.

Di mimpi itu, aku melihatnya dan dia pun melihatku, berulang-ulang kali sampai akhirnya ia menulis sesuatu di permukaan botol mineralnya, lalu pergi. Aku segera beranjak ke tempat duduknya tadi, dan kutemukan botolnya. I caught her eyes. Aku bahkan tidak mengerti apa maksudnya. Yang aku tahu, kalimat ini adalah sesuatu yang manis.

Entahlah. Kalimat itu terus-terus saja terngiang di telingaku bahkan saat aku sedang di rumah berjendela besarku dan menyebabkan aku tersenyum. Bisa jadi orang-orang menganggap aku gila. Kenyataannya memang begitu aku gila karenanya, karena angin.

I only dream of you, my beautiful
Lirik ini tak pernah berhenti mengiang di telingaku. Ini hanya lirik lagu, bukan kalimat yang diucapkan seseorang untukku. Bukan. Tak ada seorang pun yang akan mengucapkan kalimat itu kepadaku, kecuali sang penyanyi.

Suatu hari, angin mengirimiku pesan udaranya. Kali ini dia mengirimiku pesan rahasia. Aku tidak akan memberitahumu, ini rahasia. Tapi dengarlah suara angin itu, ia menertawaiku!

Sejujurnya aku terkejut dengan isi pesan itu, ia sama sekali tidak formal. Kau pasti tahu kebiasaannya berbicara formal seakan akan semua orang adalah ketua suku. Aku tidak akan memberitahumu apa isi pesannya, tapi aku akan memberitahumu jawabanku. “aku mengejarmu karena kau adalah angin, kau adalah oksigen, kau adalah pemain utama di film ini. Tanpamu aku mati. Masih sempatkah kau tertawa? Lalu, benarkah kau hanya bercanda? Candaanmu sama sekali tidak lucu, sayang. Itu malah menyakitiku.”

Kau tahu seberapa besar aku bergantung, aku berharap, aku memujamu? Candaan yang menyakiti orang lain itu sindiran, bukan candaan.” Tapi aku tidak pernah mengatakannya.

Dan ia pergi. Aku tidak tahu bagaimana caraku hidup, yang penting aku masih hidup. Semua makhluk masih hidup. Aku tidak mau mempermasalahkan mengapa kami masih bisa hidup tanpa bernapas. Yang aku permasalahkan adalah kemana ia pergi? Apakah pesan rahasia kemarin adalah pesan terakhirnya? Apakah kalimat “Cuma bercanda” adalah kalimat selamat tinggal terbaru?

Aku merindukannya. Aku merindukan angin lembut yang sering menerpaku. Aku merindukan saat-saat aku bernapas. Aku merindukannya.

Aku bertemu dengannya, dengan angin. Tapi kali ini dia berbeda. Dia tidak lembut lagi. Dia jahat. Sangat jahat. Dia, aku benar-benar merindukan ia yang dulu.

Dia adalah angin, sedangkan aku adalah hujan. Kami tak akan bisa bersatu. Tak akan pernah bisa bersama. Kami hanya akan menyebabkan bencana bagi manusia. Kami hanya akan menjadi badai jika bersama.
Itukah sebabnya kau, wahai angin, tiba-tiba menjauh dan menyakitiku? Karena kau takut kita hanya akan menyebabkan kerusakan? Bukankah kita bisa menciptakan perfect hurricane, berdua?

Sekarang angin telah benar-benar pergi. Dari hidupku. Dari pikiranku. Dari hatiku. Terkadang, entah bagaimana caranya, ia tiba-tiba hadir di pikiranku. Tapi aku langsung mengusirnya. Memikirkannya saja membuatku sakit. Jadi aku bertekad untuk benar-benar melupakannya. Toh kalau aku mengingatnya, ia tak akan mengingatku juga.

Dulu ia yang memulai percakapan denganku. Dulu ia yang mencariku. Dulu ia yang bertanya-tanya tentangku. Sekarang, ia pergi, tanpa selamat tinggal, tanpa mengingatku.

Aku mencari yang baru. Maksudku, teman yang baru agar aku melupakan yang lama. Dan aku menemukannya! Menemukan yang baru tidak sesusah meninggalkan yang lama, percayalah.

Dia adalah awan. Aku tidak akan berkomentar apapun jika kau berkata, “bukankah hujan ada karena awan?” Dia jahil. Mengganggu orang adalah hobinya, kurasa.

Tapi ada saat dimana ia serius dan itu membuatku melupakan angin. Oh yang benar saja. Tiga tahun aku mengharapkan angin dan tak pernah bisa melupakannya barang sedetik pun dan awan membuatku benar-benar melupakannya. Aku sempat berpikir bahwa dia diciptakan tuhan untuk menyelamatkanku yang selalu saja disakiti angin.

Atau sebenarnya aku yang menyakiti diriku sendiri? Angin tak memikirkanku dan aku sakit karena aku tahu itu. Bukankah ini lucu? Aku menyakiti diriku sendiri karena tahu angin tidak akan menyakitiku apalagi menyayangiku.

Aku sudah mengenal awan selama delapan bulan. Kami sudah agak dekat, kurasa. Maksudku, kuharap. Rasanya susah sekali mendekatinya. Aku tidak mendekatinya karena ada apa-apa, aku cuma ingin berteman, sumpah demi langit. Menurutku dia jauh berbeda dari angin. Angin yang selalu pertama menyapaku, mencariku, berbicara kepadaku, dulu. Sedangkan awan? Ia hanya berbicara pada kami, kaum hujan, jika ada hal yang penting saja.

Dia tidak pernah memberitahu kami apa alasannya, tapi aku tahu. Ia tidak mau merasa kesal, lalu marah, lalu menciptakan kilat dan petir. Bukankah ia baik? Ah entahlah, ini hanya perkiraanku.
Akhir-akhir ini ia sering berbicara padaku, sering melihatku, sering… mungkin ini hanya perasaanku, tapi aku benar-benar yakin yang dilihatnya adalah aku.

Aku sadari itu, karena sejak pertama kali aku bertemu dengannya, ia telah menjadi objekku. Maksudku, aku suka mempelajari sifat makhluk lain. Sejak awal aku sudah menemukan ia berbeda dari yang lain, maka aku jadikan ia objekku.

Aku juga sering memperhatikannya. Ia lucu. Cara ia tersenyum, percayalah, sangat aneh. Mukanya terlihat seperti orang yang sedang malu. Cara berbicaranya juga. Ada suatu nada atau tekanan atau intonasi, apapun itu namanya, yang terdengar aneh. tapi keanehan itu yang membuatnya terlihat keren, menurutku.

Kemarin aku sedang bermain dengan sahabatku. Coba tebak apa kira-kira yang dimainkan oleh makhluk-makhluk hujan. Tiba-tiba awan datang. Matahari sedang bersinar dengan terik dan ia menutupi sinar itu. Kau tahu apa yang terjadi.

Aku tidak tahu apa tujuannya, tapi aku harap bukan untuk menjahiliku.
Ternyata ia cuma ingin berbasa-basi denganku. Aku hanya terlalu malu untuk mengungkapkannya disini. Rasanya aneh jika ada orang yang datang dari jauh, cuma untuk berbasa basi. Aneh sekali.

Dia melihatku.
Berulang kali dalam satu hari ini saja. Atau sebenarnya aku yang selalu melihatnya, hingga setiap kali ia tak sengaja melihatku, aku merasa ia benar-benar sedang melihatku?

Aku termasuk makhluk yang jelek jika dibandingkan dengan makhluk hujan lainnya. Jika ada banyak orang yang melihatku, pasti karena pakaianku yang terlihat aneh, atau karena mukaku yang memang aneh. Tapi jika ada satu orang yang melihatku, dan aku melihatnya sedang melihatku, percayalah itu jauh lebih aneh.

Dia melihatku, lagi.
Aku bukanlah orang yang gampang merasa. Maksudku, aku terlalu peka dengan segera aku tahu jika ada yang sedang membicarakanku atau melihatku, tapi aku juga dengan segera tahu apa alasannya —mungkin karena mukaku yang aneh, karena pakaianku yang aneh atau karena aku aneh, jadi tidak ada alasan buatku untuk geer.

Lagi-lagi dia melihatku.
Seaneh itukah wajahku?

Tiba-tiba angin datang. Masuk jauh ke dalam pikiranku. Sebesar itukah aku mengharapkannya?
Satu hal yang sudah aku pelajari sepanjang hidupku, jangan pernah mengharapkan apapun. Jika ingin sesuatu, berusahalah untuk mendapatkannya. Harapan adalah hal yang dijadikan alasan oleh orang bodoh, oleh para pemalas yang bahkan tidak mau berusaha untuk mendapatkan apa yang selalu mereka inginkan. Mereka hanya me- seandainya aku, tidak ada jaminan akan mendapatkannya.
Aku selalu mengharapkan angin. Iya, aku memang bodoh. Tapi aku bukan pemalas. Aku selalu berusaha untuk mendapatkannya. Ahah, mendapatkannya? Aku bahkan tidak tahu apa kata-kata yang bagus untuk menjelaskannya.

Coba kau dengarkan lagu itu, Resistance.
“Love is our resistance. They’ll keep us apart and they won’t stop breaking us down.” Bukankah kalimat ini sangat dalam? Aku mengharapkannya dengan cinta, dan cinta itu sendiri yang menghalangi kami.

Aku sudah menceritakan semuanya pada sahabatku, Ve. Maksudku, aku selalu menceritakan apapun kepadanya dan dia selalu mendengarkanku. Lebih baik tidak ditanggapi daripada tidak didengarkan sedikit pun. Aku juga sudah menceritakan tentang “dia” yang melihatku dan ia berkata bahwa aku memang aneh, lalu mengapa aku harus risi jika ada yang melihatku?
Yap, she’s always right.

Hal paling aneh dari segala keanehan yang ia miliki adalah dia selalu benar. Dia selalu memiliki logika dan pemikiran yang benar. Namun, terkadang, aneh.
Anehnya lagi, setelah aku menceritakan semuanya ke Ve, “dia” tidak lagi melihatku. Sejujurnya, aku menikmati saat-saat diperhatikan, dan sejujurnya, aku rindu diperhatikan. Olehnya.

Lagi-lagi aku merasakan perasaan —aku tidak tahu bagaimana menyebutkannya— yang aku rasakan saat angin meninggalkanku. Sedih, sepi, sunyi, sendiri, terlalu sedih untuk dideskripsikan.
Lagi-lagi aku merasakannya. Jangan katakan bahwa awan pun, objekku pun akan pergi meninggalkanku.
Tapi ia masih di sini. Masih menjahili orang lain, masih tersenyum “malu” masih seperti ia yang dulu. Ah, tidak sepenuhnya seperti yang dulu. Ia tidak lagi berbicara apalagi berbasa-basi denganku, lagi.
Itukah mengapa aku merasakan perasaan itu?

Ada sebuah bangunan tua dengan jendela besar yang terletak di tepi perbatasan pemukiman Makhluk Hujan dengan peukiman-pemukiman lainnya. Bangunan itu mungkin lebih mirip gubuk dengan segala macam kayu dan hal-hal tidak berguna yang bergantung dan jendela-jendela besar itu, namun tetap saja itu tempat favoritku.

Aku menyukai kayunya, harum kayunya, sinar matahari yang masuk lewat jendela besar itu, udara segar dari pohon-pohon di sekitarnya aku menyukainya! Aku selalu senang jika sedang duduk di sini. Tapi sekarang aku sama sekali tidak senang. Entahlah. Biasanya, jika aku duduk di depan jendela ini, dengan cahaya hangat mentari menerpaku, aku akan melihat angin, dengan jalan seperti kelinci yang melompat, menundukkan pandangannya pada orang lain dan akan tersenyum hanya padaku.

Semenjak angin pergi, aku tetap duduk di sini. Berharap ia akan melakukannya lagi. Berjalan lagi di depanku, melompat-lompat seperti anak kecil yang mendapatkan permen, tersenyum lagi padaku. Namun, tidak. Tidak akan terjadi, sayang. Dan, apa-apaan tadi? Kamu berharap? Iya, aku berharap seperti orang bodoh.

Lalu sekarang aku menemukan objekku, dan perasaan aneh itu hilang. Ia juga sering lewat di depan jendela besarku. Aku tidak bermaksud egois dengan mengatakan itu jendelaku tapi memang jarang orang yang datang ke tempat indah ini.

Ya, objekku yang menarik itu sama seperti angin. Sering melewati jendelaku. Melewatinya dengan senyum malunya, namun bukan untukku. Tetapi sembari ia tersenyum, ia selalu melihatku. Selalu menyempatkan diri untuk menoleh ke arah jendela besar indahku, ke arahku, selalu.
Semenjak aku menceritakan segalanya pada Ve, ia tidak lagi menoleh ke jendelaku. Ia berjalan lurus, dengan raut muka yang seakan-akan mengatakan, “aku tidak akan pernah melihatmu lagi,” Itu raut muka paling menyedihkan yang pernah kulihat. Yang paling menyedihkanku.

Bodohnya lagi, aku, entah mengapa, selalu melihat ke jendela setiap kali ia lewat, dengan raut muka menyedihkannya itu, yang menyebabkan aku sedih.
Perasaan aneh itu datang lagi.

Perasaan sunyi, sedih, sepi, sendiri, yang aku mulai rasakan sejak angin pergi. Bukan, Menghilang.
Aku tidak tahu apa hubungannya Ve dengan Awan. Tapi kurasa tidak ada apa-apa dan tidak saling kenal. Ve yang aneh itu bukan orang yang mudah berteman dengan makhluk dengan ras yang berbeda. Tidak seperti aku. Aku tahu ini masih di pertengahan cerita, dan aku berharap lupakan cerita ini masih jauh dari ending. Semoga saja cerita ini memiliki sebuah happy ending.

Sekarang sudah musim hujan. Kaum Hujan, Awan, Angin dan Petir akan lebih sering bekerjasama. Sayangnya angin sudah pergi. Biasanya jika bukan Ve yang bekerja bersamaku, pasti angin yang menemaniku. Selalu begitu setiap tahun. Sekarang dia sudah tidak ada. Jika Ve tidak bisa menemaniku, aku mungkin akan bekerja sendirian.

Ah! Aku melupakan sesuatu. Objekku. Di mana objekku? Dia mungkin sekarang sedang bekerja sendirian juga. Apa salahnya bertanya seandainya ia mau bekerja denganku.
Sayangnya lagi, aku tidak tahu dia di mana.

Aku sedang menungguinya. Menunggu objekku. Menunggu awan. Di rumah berjendela besarku ini, aku akan menungguinya. Di depan jendela besarku ini, aku akan menungguinya. Sembari duduk di kursi ini, aku akan menungguinya.

Aku akan tetap menungguinya walaupun akan selama aku menunggu angin.
Aku selalu menunggu. 12 bulan menunggu musim hujan kesukaanku. Beberapa hari menunggu untuk bisa bertemu Ve. Beberapa jam menunggu untuk giliran kerjaku. Selama-lamanya menunggu angin.
Dia bahkan tidak tahu.

Di sinilah aku sekarang, duduk di atas kursi, di dalam rumah berjendela besarku yang beratap bocor. Aku sengaja membiarkan lubangnya. Jika hari sedang hujan aku akan tetap bisa bermain hujan walaupun aku sedang berada di dalam rumah. Kau mungkin akan bertanya, “Mengapa tidak di luar saja bermain hujannya?,” Mengapa? Aku pun tidak tahu mengapa. Rasanya lebih nyaman dan menyenangkan jika bermain hujan di dalam rumah. Aku tidak bisa membiarkan lubang sebesar itu di rumahku yang sebenarnya, atau perabotan rumahku akan basah semuanya. Tapi di rumah ini? No one cares about it. Tidak ada perabotan berguna yang akan basah di sini.

Di sinilah aku sekarang, duduk di atas kursi, di dalam rumah berjendela besarku yang beratap bocor, menunggui awan. Aku tahu dia akan lewat, dengan senyum malunya.
Di sinilah aku sekarang, duduk di atas kursi, di dalam rumah berjendela besarku yang beratap bocor, sedang menatap awan. Tidak ada yang bisa menandingi kesahihan instingku. Instingku selalu benar. Awan lewat, dengan senyum malunya. Tapi dia tidak menoleh ke arahku. Sudah kukatakan ia sudah tidak lagi menoleh ke arah jendelaku, ke arahku.
Di sinilah aku sekarang, berdiri di depan jendela, menatap awan yang semakin menjauh.

Aku punya teman baru, dari ras petir. Aku belum terlalu akrab dengannya, jadi aku memanggilnya dengan nama akhirnya. Dia mengajakku untuk bekerja bersama. Tentu saja aku mengiyakan. Bagaimana bisa aku menolak? Aku tidak bisa bekerja dengan Ve karena ia sudah bersama temannya, aku tidak bisa bekerja dengan angin karena ia sudah pergi, aku tidak bisa pergi dengan awan karena aku terlalu malu untuk memanggilnya kemarin, aku tidak bisa pergi dengan siapapun karena tidak ada yang mengajakku dan aku terlalu malu untuk mengajak makhluk lain.

Hampir di setiap jam kerja aku bersama petir. Aku akan menurunkan hujan dan dia sesekali menciptakan kilat dan bunyi petirnya. Aku suka melihatnya saat sedang menciptakan kilat, berwarna. Tapi aku tidak suka bunyinya, sungguh.

Terkadang saat sedang kerja, awan datang ke arahku dan aku akan refleks melihatnya dengan penuh harap. Tetapi ia pasti berbelok ke arah lain. Dia sedang menjahiliku, aku tahu itu. Tapi itu lebih baik daripada ia tidak lagi berkomunikasi denganku. Maksudku, aku sempat menganggap ia marah atau apapun, yang membuatnya tidak lagi melihatku. Tapi ternyata aku salah.
Baguslah jika aku hanya salah.

Aku sedang bersama petir. Akhir-akhir ini aku sering bersamanya. Dia menyenangkan, walaupun terkadang ia menampakkan sifat khas ras petirnya. Itu bukan sifat yang menyenangkan, percayalah padaku.
Terkadang aku merasa seperti diawasi. Tapi itu cuma perasaanku. Instingku memang sering benar, tapi di beberapa masalah ia keliru. Kekeliruannya hanya akan membuatku sakit.

Aku sedang bersama petir. Sedang menyelesaikan pekerjaanku menurunkan hujan kepada manusia-manusia yang baik. Aku tidak akan mau menurunkan hujan jika penghuni daerah itu adalah manusia jahat, karena mereka tidak akan pernah mau berterimakasih.

Aku sedang bersama petir. saat pekerjaanku hampir habis. Saat aku menemukan awan sedang mengawasiku. Aku berpura-pura tidak melihatnya sebelumnya. Aku, maksudku kami —petir tidak mau membiarkanku berjalan sendiri— mendatanginya dan bertanya sedang apa dia di sana.
Dia tidak menjawabnya.

“kalian romantis, ya. Kalian memang cocok berdua,” Entah mengapa air mataku jatuh. Kulihat awan pergi menjauh. Aku dengar petir tertawa bangga.
“kalian memang romantis!”

Ia pergi. Sama seperti saat angin pergi.
Air mataku jatuh lagi.

Lagi-lagi aku mendengar tawa bangga petir. Aku merasakan perasaan aneh itu. Sama seperti saat angin meninggalkanku. Sekali lagi aku dengar tawa bangganya.

Aku menangis. Aku menurunkan hujan yang sangat deras. Aku kasihan pada manusia yang tinggal di bawah sana. Aku sedih. Aku mendengar petir mengajakku pulang. Aku tidak menanggapinya. Hujanku semakin deras. Maafkan aku, manusia. Maafkan aku, awan.

Cerpen Karangan: Zulfa Aliyah
Blog: never-stawhp-dreaming.tumblr.com
Facebook: Zulfa Aliyah

Cerpen Tentang Aku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Verdriet

Oleh:
Sejak dua jam yang lalu aku bersantai di halaman belakang rumaku, angin malam berhembus, mendinginkan otakku, memang enak sih bersantai sambil mendengarkan lagunya Shaggy dog – Bersamamu. Beberapa menit

Hari Terakhir Di Atlantis

Oleh:
Ia menyebut namanya Litos kependekan dari Merlitos. Satu-satunya korban bencana sekaligus saksi hidup yang berhasil hanyut sampai ke Yunani. Aku mendengar kabar mengenai dirinya dari seorang senior seprofesiku. Sambil

Saiki and Magical Pencil

Oleh:
Namaku adalah Saiki aku hanya seorang murid SMA biasa. Di sore hari aku berjalan di jembatan sepi yang biasa kulewati selepas pulang sekolah di sore hari, aku sedang berjalan

Kisah Suatu Negeri

Oleh:
Pada suatu hari Evelyn dan Reyna sedang Joging pagi di Taman air mancur. Ketika sedang beristirahat Evelyn melihat seberkas cahaya di dekat air mancur. Lalu Evelyn Memanggil Reyna untuk

Kutunggu di Pintu Akhirat (Part 2)

Oleh:
Saat itu, dasar curug begitu dipadati pengunjung. Beberapa anak kecil riang bermain air yang jernih, sedang para orangtua di belakang mengawasi. Sejumlah muda-mudi asyik mengabadikan foto, beberapa yang lain

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *