Tentang Bagas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 20 May 2019

Aku tak suka saat keadaan seperti ini.
Aku yang sangat merasa bersalah. Padahal semuanya sudah ia maaf kan, dan berlalu.
Aku yang merasa deg degan saat melihat pesan darinya. Tanganku yang terasa kaku saat akan membalas pesannya. Padahal hanya pesan. Tidak untuk bertatap muka.
Aku yang merasa bahwa dia semakin cuek saja.
Aku yang kewalahan, tidak tahu untuk melakukan apa agar ia kembali seperti hari hari biasanya.
Aku yang kepikiran saat ia hanya membaca balasan pesanku.
Ketakutanku tentang dirinya. Yang marah, cuek, itu semua membuatku tak bisa berpikir jernih.

Seperti saat ini. Tadi pagi, tiba tiba ia datang ke rumah. Mengajakku keluar. Aku kaku, salah tingkah, takut saat itu, tapi tetap menerima ajakannya. Dan sekarang, aku dan dia berada di alun alun kota. Aku makin gemetar bukan main. Keringatku terus bercucuran membasahi kening dan tubuh. Apalagi kedua telapak tanganku yang mulai sangat basah.
Aku terus menunduk, tak mau melihatnya, yang mungkin kini ia sedang menunduk juga untuk melihatku.
Pikiranku tak karuan. Aku bingung. Jantungku terus berdegup semakin kencang.

“Nay”
Oh tidak. Padahal dia hanya memanggilku, tapi rasanya jantungku ingin melompat dari tempatnya. Pun sepertinya aku kekurangan oksigen.
Ini tidak seperti biasanya, saat kami bertemu dan berjalan berdua.

“Hei, Nay” panggilnya lagi. Suaranya melembut seperti biasa, seperti tidak terjadi apa apa di antara kita.
“Lo kenapa? Dari tadi kok diem? Kok nunduk terus? Muka gue nyeremin ya?” Tanyanya bertubi tubi.
Memang, saat dia mengajakku keluar pagi tadi. Aku hanya diam sebagai responku. Aku bingung. Serius, aku tidak tau mau menjawab apa.

“Nay?” Panggilnya lagi. Kini tangan besarnya menyentuh daguku dan mengarahkan padanya.
“Kok pucat? Sakit ya?”
Tangannya beralih pada keningku.
Refleks. Aku menggeleng cepat.
Lalu tangannya ia letakkan di kedua bahuku.
Mulutku terus bungkam.
Manik matanya yang teduh terus memperhatikan wajahku. Aku tak berani menatap balik padanya. Degupan ini semakin kencang saja.

“Kenapa sih, Nay?”
Aku hanya tersenyum tipis. Lalu menggeleng.
Tangannya ia lepas kan dari bahuku. Kepalanya ia toleh kan ke samping kanan. Melihat orang yang berlalu lalang. Saat ini aku berani melihatnya, dari samping.
Lalu cepat cepat aku mengalihkan pandangan, saat ia kembali menolehkan ke wajahku.
Aku menunduk takut. “Maaf”

Aku merasa, kini dia sedang mengangkat sebelah alisnya. Ia pasti bingung.
“Buat apa Nay? Lo bikin salah apa?”
Aku bergumam. Bola mataku memutar ke atas.
Jujur saja atau mengalihkan pembicaraan?.
Tapi, aku bukanlah cewek yang suka mengalihkan pembicaraan.
Jadi kupilih opsi pertama. Jujur. Ya aku jujur.

“Em” jemariku saling menaut. Gugup.
“Tentang kemarin. Maaf. Tapi serius, gue gak sengaja pas itu Gas, gue gak tau” beritahuku, suaraku mendadak lemas saat mengucapkan kata yang terakhir.
“Aduh, serius gue minta maaf, Gas. Gue tau, gue salah” kataku lagi.
Aku mendongak, menatapnya dengan wajah memelas. “Maaf ya, Gas?”
Tapi, respon Bagas. Dia malah tertawa.
Aku melengos, apanya yang lucu?.

“Lucu ya, Gas?” Tanyaku polos.
Bagas mengangguk, masih tertawa.
Aku masih memasang wajah bloon.
“Udah Nay, udah lewat. Lagian juga lo gak sengaja kan” katanya sambil menghirup oksigen banyak. “Gapapa, lupain aja, Nay”
“Ya tapi kan-”
“Soal pesan lu yang cuma gue baca? Maaf, pas itu hape gue lowbatt, baru gue idupin tadi pagi, tapi gue gak buka pesan. Maaf ya” jelasnya memotongku.
Aku mengangguk senang. Oh, aku sudah berpikiran yang aneh aneh tentangnya.
Tangan kanannya menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga. Tatapannya masih teduh.
“Lo lucu kalo bingung. Jadi gemeter gitu deket sama gue. Haha” katanya. Dan ia tertawa lagi.
Lalu tangannya mengacak rambutku gemas. Aku suka saat seperti ini.

“Kita baikan ya? Gak marahan lagi ya?” Tanyaku polos
Senyuman Bagas mengembang. “Iyalah. Kita juga gak pernah marahan kan?”
Aku mengangguk ragu. Memang kita tidak pernah marahan. Saling bungkam. Tidak pernah. Mungkin ini hanya perasaanku saja kan? Yah, kan ini perasaannya cewek.

“Ya udah yuk, kita jalan jalan” ajak nya. Merangkulku seperti biasanya.
“Yuk” aku senang.
Kami tertawa.

Aku suka saat semuanya sudah kembali seperti hari biasanya.

Cerpen Karangan: Nabilaff
Blog / Facebook: Nabila Afief

Cerpen Tentang Bagas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seperti Mentari

Oleh:
Tiga ratus lima puluh delapan… tiga ratus lima puluh sembilan… tiga ratus enam puluh… tiga ratus e.. “Demikian akhir ceritanya. Untuk mengenang kisah cinta mereka, mentari berjanji akan terus

Semua Tentang Kita (Part 1)

Oleh:
Erma, Fikri dan Feny sedang asik menikmati makanannya di kantin. Namun kenikmatan itu berakhir ketika seisi kantin yang mayoritas perempuan teriak histeris. “Woy, apaan sih?” Erma menggebrak meja karena

Cinta Berawal Dari Sahabat

Oleh:
Terlihat semangat yang menggebu dalam diri ica, Karena tepat pada hari ini, adalah hari pertama ia masuk sekolah di SMAN 1 KARAWANG. Sambil terus berjalan munuju ke sekolah, Ica

Kekuatan Cinta

Oleh:
Namu ku Anna umur ku 14 tahun sekarang aku masih duduk di bangku SMP. Bermula dari seorang teman ku yang satu angkatan dengan ku, sebut saja nama nya Risma

Her Password

Oleh:
Hei passwordmu apa? Aku hanya penasaran. Apakah nama Adikmu? Yura mulai menyumpal telinga dengan earphone Tosca favoritnya, kemudian tenggelam dalam semua lagu yang ada di playlist. Langkahnya perlahan saja,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *