Tentang Kisahku dan Dia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 May 2015

Malam itu aku duduk termenung di meja belajarku saat terdengar dering sms di handphoneku. Tertera nama mantanku di sana.
“Huhh ngapain sih dia masih sms lagi kan gue juga udah mau ngelupain”, desahku seraya membuka sms darinya.
Malam itu pun aku menghabiskan malamku dengan berbalas sms dengannya. Tak bisa kupungkiri aku memang belum benar-benar melupakannya tetapi aku sudah berusaha keras melupakannya hanya saja belum dapat terwujud.

Kini dia telah memiliki penggantiku. Ya berbeda sekali denganku. Sampai saat ini aku masih saja dihantui kenangan tentangku dan dia saat beberapa bulan lalu.
Aku sering kali merasa tidak enak hati terhadap Cika, kekasihnya yang sekarang karena Revin lebih memperhatikanku. Sampai malam itu aku menegaskan padanya sekali lagi dalam percakapan kami di telepon.
“Kamu harus tegas, aku gak mungkin kaya gini terus. Sekarang kamu jauhin aku dan kamu fokus aja sama pacarmu. Aku cuma teman kamu sekarang.”
“Tapi aku sayangnya sama kamu”
“Nggak. Kamu sayang kan sama pacar kamu? Jadi sekarang kamu fokus aja ke dia aku gak mau ngancurin hubungan kalian. Aku perempuan sama kaya pacar kamu jadi aku tau rasanya jadi dia, nggak enak banget”
“Aku emang sayang sama dia tapi aku lebih sayang sama kamu”
“Kamu egois. Kamu nyaman kan sama dia? Kalo kamu ngerasa nggak nyaman sama dia, nggak mungkin kamu bertahan sampe selama ini. Sebentar lagi kalian 4 bulan kan?”
“Iya aku nyaman tapi nggak senyaman kalo aku ada di dekat kamu”
“Kalo kamu nggak nyaman nggak mungkin kamu bakal bertahan selama ini dan kalo kamu nyaman sama aku nggak mungkin 5 bulan lalu kamu mutusin aku dengan alasan kamu nggak mau bikin aku susah karena kamu”
“Ya udah lah percuma bahas tentang kita sama kamu toh kamunya juga udah nggak peduli sama aku dan sekarang udah nggak ada lagi yang peduli sama aku”
“Aku peduli sama kamu, peduli banget malah tapi kamu udah punya pengganti aku apa pantas kalo aku tetep nunjukin kepedulian aku ke kamu? Mulai sekarang aku mohon berhenti kaya gini, fokus ke pacar kamu yaa”
“Sebentar lagi aku bakal putus kok dari dia. Kamu lihat aja nanti ini demi kamu”
“Aku gak mau jadi penghancur hubungan kamu, jangan putusin dia cuma karena cewek kaya aku itu gak adil buat dia”
Baru saja Revin ingin menjawab perkataanku, terdengar ketukan di balik pintu kamarku.
“Dek udah malam, tidur besok kesiangan loh,” tegur kakakku dari balik daun pintu kamarku.
“Aku udah disuruh tidur sama kakak, kamu jangan tidur larut malam ya” ucapku di telepon seraya menutup telepon.
“Iya ini sebentar lagi tidur kok,” jawabku sambil merebahkan tubuhku di kasur.

Tak lama setelah aku merebahkan tubuhku, mataku pun sudah mulai terpejam. Keesokan paginya aku terbangun lalu mengecek handphoneku. Ada beberapa pesan singkat dari Revin tapi aku mencoba mengabaikannya karena aku tidak ingin menjadi penghancur baginya.

Hari-hariku pun berjalan seperti biasa lagi tapi itu tak berlangsung lama karena 3 hari setelah percakapan kami di telepon, aku mendengar kalau Revin telah putus dengan Cika. Aku merasa tak enak hati, aku merasa kalau akulah penyebab mereka menyudahi hubungan mereka. Tapi Revin menegaskan padaku kalau bukan aku penyebab retaknya hubungan mereka. Revin memang sudah merasa tidak nyaman dengan Cika.

Hari demi hari pun berlalu, sebulan setelah kejadian itu aku dan Revin menjadi semakin dekat tetapi di hari ini dia menghilang tanpa kabar. Aku cukup merasa kehilangan.
“Masa Revin ngilang deh udah seharian nih dia nggak ngabarin gue,” ucapku kepada 4 teman dekatku.
“Dia lagi sibuk kali makanya dia nggak ngasih kabar ke elo. Positive thinking aja lah,” Thalita menenangkanku.
“Atau jangan-jangan lo cuma diphpin sama Revin?!” Ucap Lia yang cukup membuatku berfikiran negatif.

Bel pun berdering. Kami menyudahi percakapan ini lalu menyiapkan buku pelajaran selanjutnya. Fikiranku kini bukan lagi terfokus pada pelajaran yang sedang dijelaskan Pak Kinto. Tanganku sibuk membuat coret-coretan tak bermakna di atas kertas.

Sesampainya di rumah aku langsung menghempaskan tubuhku ke kasur. Kesal. Itu yang ku rasa. Aku merasa dipermainkan. Aku merasa seperti keledai bodoh yang jatuh untuk yang kedua kalinya ke lubang yang sama. Tiba-tiba handphoneku berdering lagi. Kulihat terpampang nama Revin disana. Aku mengangkat teleponnya dengan malas. Aku sudah tak bersemangat lagi bila harus berbicara dengannya.
“Haloo, kenapa?”
“Aku minta maaf ya udah seharian nggak ngasih kabar ke kamu, aku lagi nggak mau diganggu aku kangen mama,” ucapnya lesu dari ujung telepon.
Aku mulai melunak lalu menanggapi pembicaraannya di telepon dengan riang.

Tetapi perasaan senang yang menghinggapi hatiku tak berlangsung lama. Esok harinya sikapnya padaku berubah lagi. Dia bersikap seperti aku tidak ada. Aku kebingungan apa yang menyebabkan sikapnya berubah lagi. Ah mungkin dia tidak benar-benar serius denganku.

Cerpen Karangan: Eva Agustiarini

Cerpen Tentang Kisahku dan Dia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tanda Tanya

Oleh:
Saat itu aku masih kelas 6 SD. Seperti biasa di sore hari sebelum adzan magrib anak-anak sudah harus berkumpul di musala untuk belajar membaca Al-QUR’AN. Pada hari itu aku

My Love Story

Oleh:
Pagi ini terasa cerah dan hati ku juga senang sekali karena akhirnya aku sudah selesai melaksanakan mopdb di sebuah smp negeri di daerah ku. Dan hari ini kakak kelas

Liliput (Part 1)

Oleh:
Kata siapa MOS harus dijadiin sesuatu yang scary? Biasa aja tuh! Asal bisa jaga sikap dan nggak sok di depan kakak kelas, kita bakalan aman. But, sayangnya kebanyakan orang

Rain

Oleh:
Hujan! Aku suka hujan. Bagaimana denganmu? Hujan itu indah ia tak pernah marah jika dijatuhkan aku ingin sepertinya. Tapi bisakah? “Rainnn…” Suara itu mengagetkanku, Jika saja aku di depan

Bandung In Love

Oleh:
Semenjak kejadian itu aku tak pernah menangis lagi, hanya tersenyum yang bisa aku lakukan. Saat itu aku sedang duduk di taman bunga di kampus indahku, ya ITB. “Hai Lili?”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *