Tentang Sebuah Penyesalan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 3 March 2019

Terkadang..
Terkadang tak semua yang kita anggap benar itu benar. Dan terkadang tak semua yang kita anggap dapat dipercaya itu dapat dipercaya. Mungkin kita pernah menganggap sesuatu benar adanya, bahwa apa yang dikatakannya itu benar sehingga kita mempercayainya begitu saja. Ya, aku merasakan akan hal itu. Aku terlanjur mempercayai kata-katanya yang kala itu telah diucapkan. Padahal awalnya aku sama sekali tak percaya dan dari awal aku sudah mewanti-wanti karena aku takut terperangkap oleh sesuatu yang tak diinginkan. Bahkan aku selalu mengatakan bahwa hal yang telah ia katakan dan ia sampaikan itu bohong dan menganggap hal itu sebagai hal yang biasa saja. Namun, seiring berjalannya waktu karena ia selalu mengatakan dengan hal yang sama, aku mulai mempercayainya karena aku menganggap bahwa ia adalah orang yang konsisten dan ia tak sedang melakukan canda. Nah, disinilah awal kebodohanku akan cerita ini.

Awal dia memasuki kehidupanku.
Berawal dari kedatangannya. Dia yang memulainya. Dia masuk dalam kehidupanku. Aku mulai merasakan kedekatan dengannya. Tak jarang setiap pagi ia menyapaku dan mengatakan “Good Morning”, pun ketika malam ia mengatakan selamat malam dan tak jarang kami berkomunikasi melalui ponsel. Kami saling berbagi cerita, tak jarang pula kami melakukan canda bersama. Hingga suatu ketika ia mengajakku pergi untuk sekedar nongkrong malam dan makan bersama atau hanya menemaniku makan. Ya, tak hanya sekali saja ia mengajakku. Suatu ketika aku diajak makan bersama lagi. Kita saling berbagi cerita, ia bercerita tentang dirinya. Ya, aku jadi lebih tahu tentangnya. Bahkan sesuatu yang menjadi kekurangannya aku jadi tahu. Disaat itu aku masih menganggap kedekatanku merupakan hal yang biasa, tapi seiring berjalannya waktu aku mulai merasakan hal yang tak biasa.

Tentang rasaku.
Ya, aku mulai menyukainya. Ia masih saja sering menyapaku dan mengucapkan selamat pagi. Terkadang jika aku tak membalas pesannya karena kesibukanku, ia mengirim pesan berkali-kali. Dan tak jarang ia juga mengatakan bahwa ia merindukanku. Ia juga menyemangatiku ketika aku butuh semangat. Ya, intinya dia mengatakan hal yang terkadang bisa membuatku terbang. Ia yang seringkali memulai pembicaraan dengan chat terlebih dahulu dan melakukan sapa hampir setiap pagi. Tapi, meskipun begitu dalam hati ini aku tetap mewanti-wanti bahwa “jangan sampai aku menyukainya semudah itu.” Ingatlah, “hati-hati dengan rayuan, bisa saja itu tipu daya. Atau HOAX.”

Waktu terus berlalu, tapi ia masih sama seperti yang dulu. Bahkan aku merasa lebih dekat dengannya. Tak jarang ia juga menawariku makan mersama atau sekedar untuk menemaninya, bahkan menawarkan kepadaku untuk mengantarku ke stasiun jika aku ingin pulang. Tapi aku selalu menolaknya dan memberikan berbagai alasan jika ia ingin mengantar karena aku tak mau merepotkannya karena kediamannya cukup jauh dari tempatku berada. Tapi sebenarnya yang aku takutkan adalah jika aku semakin dekat dengannya. Ya, aku takut akan hal itu. Aku terus membatasinya karena aku takut merasakan kekecewaan. Karena masih belum pasti.

Hari demi hari pun berganti, cukup lama aku mengenalnya. Ya, sudah beberapa bulan aku mengenalnya. Hingga suatu ketika aku benar-benar merasa dekat dengannya. Ia juga masih seperti biasanya, tapi status kita masih sama. Ia sering mengungkapkan kerinduannya dan menunjukkan perhatiannya tapi ia tak pernah mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan. Hal itu yang membuatku ragu. Dalam hatiku berkata, “Apakah ia hanya main-main saja? Ataukah aku hanya pelampiasannya saja?”. Itulah yang membuatku selalu membatasi persaanku. Namun suatu ketika karena aku merasakan bahwa aku dan dia semakin dekat, aku pun memberanikan diri untuk menanyakan statusnya. Ini memang bukan yang pertama kalinya, karena sebenarnya sebelumnya kami sudah pernah bertanya dan membicarakan status kita masing-masing. Tapi untuk kali ini aku sengaja untuk menanyakannya karena aku sudah greget, kami sudah kenal cukup lama dan semakin dekat sementara status tetap sama. Niatanku bertanya hanya untuk memastikannya saja.

Ia pun seketika bertanya, “Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu?”. Tanpa pikir panjang aku pun menjawab, “Aku hanya ingin memastikan saja. Seandainya kamu lagi deket sama yang lain aku akan melepaskan, lebih baik mengalah tak apa. Dari pada aku terlanjur menyukaimu,” kataku dengan sedikit canda tapi serius. Dan intinya sebenarnya aku sudah lelah dengan hal ini, dalam hatiku mengatakan bahwa aku akan benar-benar pergi darinya jika tak ada kejelasan apapun dan hanya main-main saja. Ia pun mengatakan bahwa ia sedang dekat dengan beberapa orang lain, namun hanya sekedar dekat. Ya, intinya ia masih sendiri. Status kita sama. Sama-sama dekat dengan yang lain tapi masih sendiri. Dan ia juga mengatakan, “Lha ini aku lagi deket sama kamu.” Seketika aku merasakan lega karena aku menganggap jika ia mengatakan hal itu berarti ia tak main-main. Aku pun menaruh harapan padanya.

Suatu ketika disaat aku merasa sudah berada dipuncak kedekatan dengannya, sesuatu terjadi. Entah kenapa kami jarang berkomunikasi lagi. Mungkin karena kami sama-sama disibukkan dengan aktivitasnya masing-masing. Hanya sesekali kami melakukan komunikasi, itu pun hanya pesan singkat saja. Hingga suatu hari aku mendapat pesan singkat darinya namun ketika aku membalas pesannya malah hanya di read. Sejak saat itu aku merasakan hal yang berbeda. Aku pun mencoba untuk chat namun tak dibalas, bahkan tak di read. Aku merasa ia semakin berbeda. Selama berhari-hari kami tak saling berkomunikasi. Aku pun tetap menjalankan aktivitasku yang padat.

Suatu ketika aku merasakan ada yang kurang dengan hari-hariku, aku mengalami kerinduan hingga hal itu menjadi candu. Ya, aku rindu pada padanya. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Ia pergi di saat aku butuh semangat karena saat itu aku sedang disibukkan dengan urusan kuliah persiapan pendadaran. Itulah alasanku tak menghubungi dia, dari pada nanti chat tapi tidak nyambung pembicaraannya karena aku sedang fokus dengan urusan kuliah atau aku tak ada waktu untuk membalasnya, lebih baik jangan dulu. Aku pun mencoba untuk fokus dan menghilangkan bayang-bayang darinya. Tapi terkadang aku tak bisa hingga aku pun berusaha menyembunyikan statusnya dari timeline media soasialku supaya aku tidak mengingatnya lagi. Aku rasa ia sudah lupa dan tak peduli lagi denganku

Namun suatu ketika setelah sekian lama tak saling berkomunikasi, dia chat seperti biasa, seperti dulu kala bahwa dia menyapaku dan mengucapkan selamat pagi. Aku pun dengan senang hati dan semangat membalasnya. Karena hal itu menandakan bahwa ia masih mengingatku. Namun, lagi-lagi ia tak membalas lagi balasanku bahkan ia tak di read. Awalnya aku tetap membiarkannya tapi ternyata di timeline muncul update statusnya. “Dia update status, tapi dia tak membalas balasan chat-ku, padahal dia yang lebih dulu nge-chat. Ini maksudnya apa?” Aku pun seketika nge-chat dia menanyakan maksud dari sesuatu yang telah dilakukannya padaku. Dan tak lupa bahwa aku menanyakan kesalahanku serta meminta maaf jika ada kesalahan dariku. Seketika ia pun menjawab bahwa aku tak memiliki kesalahan apapun. Aku mengatakan aku ingin meluapkan ini semua dari dulu hanya aku sedang sibuk dengan urusan kuliahku dan fokus untuk pendadaranku sehingga aku pendam dan aku tahan, tapi pada hari itu rasanya ingin sekali kuluapkan semuanya. Aku juga mengatakan dengan memancingnya dengan kata-kata bahwa mungkin dia sudah memiliki yang baru (teman atau kekasih) sehingga ia asyik dengan dunianya sendiri. Namun umpanan dari pacinganku tak membuat ia menjawab bahwa ia sudah memiliki yang seseorang spesial atau belum. Ia mengatakan bahwa ia sedang sibuk pula dengan pekerjaannya. Aku pun tak menanyakannya lebih detail. Kami pun mengobrol biasa dan saling tanya kabar, sama sekali tak ada yang spesial. Aku mencoba bercanda seperti biasa karena aku menyukai candaan meskipun aku type orang yang sering menganggap serius akan sesuatu. Percakapan kami berlangsung hanya sekejap saja.

Mungkin hanya sampai disini.
Sejak saat itu tak ada komunikasi lagi. Aku pun berusaha untuk fokus dengan urusan kuliahku, sempat membuatku buyar, tapi aku berusaha melupakannya. Cukup berat memang, tapi aku berusaha menguatkan diri. Karena aku tak kuat melihat statusnya di timelineku sebab hal itu cukup mengingatkanku padanya apalagi comment-nya bersama dengan wanita lain, aku pun tak segan memblockir-nya. Aku ingin sejenak melupakannya.

Setelah cukup lama aku mengurus urusan kuliahku, aku pun pendadaran dan “Yeah!”, Selesai. Aku mencoba melakukan unblock dan mencoba untuk berkomunikasi dengannya lagi. Karena memang aku ingin fokus dulu ke kuliahku yang aku prioritaskan dan mencoba berkomunikasi lagi setelah pendadaran. Lagipula sebelumnya aku jarang sekali memegang ponsel dan chat dengan orang lain yang tak ada kaitannya dengan urusan tugas akhir karena aku benar-benar ingin fokus dengan kuliahku.

Ternyata, bukan sampai disini. Aku ingin memulainya lagi.
Aku ingin memulainya. Ya, memulai berkomunikasi dengan menge-chat dia, tapi aku tak bisa. Hingga suatu ketika aku kenal dengan seseorang yang ternyata merupakan sahabatnya. Akhirnya aku memberanikan diri untuk iseng menitipkan salam untuknya. Ya, sekedar lucu-lucuan saja. Salam pun tersampaikan namun kata sahabatnya ia seperti sedang tak fokus dan aku pun akhirnya menge-chatnya. Mengatakan kalau salam itu dari aku. Aku menceritakan tentang kebetulannya kenal dengan sahabatnya itu dan sesekali aku mencoba untuk bercanda. Tapi rasanya sama sekali tak ada feel lagi seperti dulu. Ia sangat berbeda dan terasa asing. Aku mencoba meledek dan bercanda malah ia seperti salah maksud dan membawanya kedalam keseriusan. Yang membuat aku kaget adalah ketika ia mengatakan bahwa ia menyuruhku untuk mencoba kenal lebih dekat dengan sahabatnya. Padahal sama sekali bukan itu yang kumaksud. Ia seolah tak memaknaiku sama sekali dan membiarkan aku pergi begitu saja. Aku pun tetap mencoba mendramatisir keadaan dengan bercanda. Dan aku mengatakan bahwa aku ingin bertemu dia. Ya, aku sangat ingin bertemu dengannya untuk sekedar makan bersama seperti dulu ditempat biasa. Ini memang tujuanku yang sebenarnya. Tapi, ternyata ia tak bisa. Dan yang paling menyakitkan adalah ia mengatakan bahwa ia sudah mempunyai wanita lain yang berstatus sebagai pacar. Seketika dadaku seolah sesak. Aku merasakan sakit hati yang teramat sangat. Aku pun mencoba meresponnya tanpa emosi tapi rasanya aku ingin meluapkan sesuatu. Akhirnya meledak, aku pun meluapkan apa yang ada di benakku. Tapi itu tak seberapa, karena aku masih mencoba bersabar.

Tanpa sadar, bulir air mataku jatuh. “Gila! Gue nangis! (Jangan nagis, jangan nangis!). Kamu itu sebelumnya gak pernah nangis karena cinta. Jangan bodoh!” Speechless, rasanya lemas sekali. Aku sangat menyesal telah menaruh harapan padanya. Aku sakit hati karena ia pergi disaat aku sudah benar-benar memiliki perasaan yang lebih padanya. Dan yang paling aku sesalkan dan kecewakan adalah dia tidak mengatakan dari awal bahwa dia sudah memiliki pacar baru. “Kenapa kamu gak ngomong dari awal. Kenapa?” Seandainya dia mengatakan dari awal pasti aku akan mundur, aku akan pergi darinya dan menghindar. Dan yang pasti aku tak terlajur memiliki perasaan seperti ini. Ya Allah.. Aku benar-benar sakit hati. Padahal sebelumnya aku ingin bertemu dia karena aku sudah merencanakan sesuatu bahwa aku ingin memberikan sesuatu untuknya sebagai simbolis terima kasih karena telah menyisihkan waktu padaku meski itu atas nama pertemanan karena ia sudah menjadi temanku di tanah rantau tempat kuliahku ini. Setidaknya aku ingin menyampaikannya. Padahal aku sudah menyisihkan waktu di kala aku kesibukanku dalam urusan kuliah yang masih belum kelar. Aku juga sudah menyiapkan rangkaian kata untuknya sebagai ungkapan yang terbesit di hati dan fikiranku. Seandainya aku tahu dari awal pasti aku takkan menaruh harapan padanya dan aku takkan menyiapkan ini semua. Bagaimana mungkin aku memberikannya jika bertemu saja tak bisa, dan aku pun sudah tak memiliki kepantasan untuk memberikan sesuatu yang ingin kuberikan ini. Aku takut hal ini mengenang sementara keadaan seperti tak mendukung untuk memberikan suatu yang kenangan. Meskipun simbolisku untuk pertemanan saja, aku juga bermaksud bertemu meskipun satu kali saja untuk yang terakhir kalinya sebelum aku singgah dari tanah rantau tempat kuliahku ini. Tapi ternyata keadaan berpihak lain dan membuat semua harapanku pupus dan semua yang aku rencanakan kacau. Ya, aku hanya ingin bertemu meskipun satu kali lagi (untuk yang terakhir kalinya). Tapi, ya sudahlah.

Cukup sampai disini.
Ia membalas pesan yang aku luapkan dari benakku. Aku tak membacanya karena kala itu aku juga diajak pergi oleh seseorang untuk ngopi bersama. Saat aku berada diatas dua roda dengan seseorang itu, aku masih teringat akan kejadian yang telah terjadi. Lagi-lagi bulir air mataku jatuh. Aku mencoba menahan dan menyekanya. “Jangan nangis!” seruku dalam hati. Beberapa jam aku bersama seseorang itu untuk ngopi dan ngobrol bersama. Tak jarang kami melakukan canda. Hal itu cukup mengobati rasa sakitku dan melupakan kejadian itu. Aku juga mencoba untuk tidak membuka ponselku supaya aku tak mengingat kejadian itu.

Beberapa jam berlalu, akhirnya aku pulang. Sesampainya di kost, aku kembali membuka ponselku dan membalas chat-nya. Aku mencoba membalas dengan segala kesabaranku, dengan kepala dingin dan tanpa emosi. Meskipun balasan itu bukan sebenarnya yang ingin kuungkapkan. Sungguh itu hanya sebuah kepura-puraan untuk menutupi rasa sakitku. Beberapa saat kemudian ia membalasnya dan meminta maaf karena ia tak mengatakan sebelumnya. Ya, cukup sampai disini.

Percuma saja datang ke kehidupan orang lain jika pada akhirnya pergi dengan cara konyol.
Maaf? Segampang itukah menebus dengan kata maaf? Kata maaf yang ia lontarkan tak dapat menebus kekecewaan dan rasa sakitku ini. Bahkan sebelumnya ia seperti tak ada rasa salah apapun dengan mengatakan, “Memang aku melakukan apa sama kamu?” Bodoh! “Selama ini caramu memperlakukanku itu apa? Apa maksudnya? Kamu seolah memberi harapan dan memberikan perhatian terhadapku tapi kamu ternyata pergi gitu aja.” Bahkan ia tadinya pergi dengan cara konyol dengan tak ada kabar darinya dan tanpa memberi tahu yang sebenarnya. Ia datang dan pergi sesuka hati. Ingatlah bahwa, “Jangan pernah datang ke kehidupan orang lain jika pada akhirnya pergi dengan cara konyol” dan “Jangan pernah datang ke kehidupan orang lain jika pada akhirnya mengecewakan”. “Untuk apa kamu masuk ke dalam kehidupan jika kamu pergi dengan cara konyol dan berakhir mengecewakan? Untuk apa?” Percuma saja.

Ternyata..
Segala perlakuan dan perahtianmu terhadapku hanyanya sebuah drama, ya drama. Bukan dongeng, karena biasanya dongeng akan berakhir bahagia. Seperti seorang pangeran dan putri yang pada akhirnya hidup bersama dalam kebhagiaan. Ya, happy ending. Tapi ini adalah drama. Ya, drama. Segala yang dikatakannya bahwa tentang kerinduan, pujian dan kata-kata manisnya terhadapku adalah bullshit!

Aku sakit hati. Aku merasa dipermainkan olehnya. Aku merasa tertipu olehnya. Ya Allah.. Maafkan aku karena aku telah membenci salah satu makhluk ciptaan-Mu itu. Maafkan aku. Aku menyesal pernah mengenalnya. Seandainya dia mengatakan dari awal pasti aku takkan merasakan kekecewaan dan sakit hati seperti ini. Aku menyesal mengenal dia.
Sesungguhnya hatiku bukan tercipta dari besi dan baja. Hatiku bak sebuah kayu yang mudah rapuh. Maka, aku bisa merasakan sakit hati. Lagipula aku adalah seorang perempuan melankolis yang memiliki hati sensitif. Ya, mudah tersentuh.

Ya Allah.. Engkau pasti tahu apa yang telah terjadi dan engkau pasti mengerti tentang perasaan hamba-Mu ini. Ya Allah.. Engkau Maha Adil. Aku mohon, tunjukkan keadilanmu. Aku mohon, Ya Allah..

Pesan:
– Jangan mudah mempercayai orang lain.
– Jangan terlalu menaruh harapan pada orang lain.
– Ketika seseorang sudah tahu kekurangan orang lain dan ia masih tetap bertahan dengan orang itu berarti sudah bisa dilihat seberapa besar ketulusannya dalam menjalin suatu hubungan (arti hubungan memiliki arti yang luas, bukan hanya soal cinta tapi persahabatan juga).
– Jadikanlah hal yang membuatmu kecewa, sakit hati dan jatuh sebagai pelajaran dan semangat supaya kamu lebih kuat dan kokoh.
– Bangkitlah dari keterpurukan!

Cerpen Karangan: Setia Rahayu
Blog: tinta-elektronik.blogspot.com

Cerpen Tentang Sebuah Penyesalan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Hati

Oleh:
Kita bertemu waktu itu, kamu adalah murid baru yang sangat cuek menurutku. Namun, saat perkenalan di depan kelas mengubah semua analisaku yang tidak-tidak tentangmu mulai dari ini dan itu.

Mengantarmu

Oleh:
Siang itu, di koridor yang sama setiap minggunya. Aku terhanyut lagi dalam masa lalu. Memandang ubin yang selalu bersih ditemani aroma alkohol yang berseliwir. Tempat ini, cukup menyeretku ke

Seberkas Cahaya (Part 1)

Oleh:
Cinta monyet kyky Semua itu berawal saat kyky masih SD dan kedatangan guru baru memang dia g begitu gantheng tapi berhasil membuat para siswi kelas 6 terpesona olehnya. Mungkin

Ara Forever Love

Oleh:
Tring……..tring………tring……… suara jam weker berbunyi sambil bergetar diatas meja, jarum jam telah menunjukkan pada angka 5. rahma selalu menyetel wekernya pada pukul 5 agak dia bisa bangun pagi. ”astaga

Jerrot Makin Melorot (Part 1)

Oleh:
GAGAL MOVE ON Awan hitam yang mulai perlahan menutupi awan putih, aku dan Widya yang sedang duduk berdua di puncak tetapi bukan sedang romantis-romantisan melainkan mengatakan putus seperti film

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Tentang Sebuah Penyesalan”

  1. Cantika says:

    Keren kak

Leave a Reply to Cantika Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *