Terima Kasih Shisil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 June 2015

“aku masih ingin di sini” kataku bersikukuh tanpa bergerak sedikit pun dari tempat aku duduk.
“haha… apa kamu gila, come on Ge… move on, kamu masih mau nunggu orang itu” kata Shisil sambil menunjuk orang yang sedang membawa kamera, dia memang aku suka.
“kalau emang iya kenapa?” kataku menentang
“ayolah pulang… mau kamu nunggu sampai besok pagi pun orang itu enggak akan sadar kalau kamu ada di sini” kata Shisil setengah membujuk.
“sudahlah kalau kamu mau pulang pulanglah sana, aku tidak butuh sahabat sepertimu yang tidak pernah mendukungku” kataku acuh tak acuh
“apa, kalau memang itu maumu aku akan pergi dari sini, bukannya aku tak mendukungmu aku hanya mau kamu tidak menyia nyiakan waktu hanya untuk ini, ya sudah aku pulang dulu assalamualaikum” kata shisil sambil melangkah meninggalkan gedung sekolah.

Kenalkan namaku Genny Zoela Bhramasatya aku anak tunggal dari keluarga yang berkecukupan tetapi tak ada satu pun orang yang peduli pada ku, kecuali bibi yang tidak lain dan tidak bukan adalah baby sisterku sejak kecil dan sekarang menjadi pembatu rumah tangga karena aku sudah besar. Umurku 13 tahu dan aku sekolah di SMP Islam besar di kota Semarang. Aku ini memang sudah bersahabat dengan Shilly Dewi Mannunggal sejak TK. Entah mengapa akhir akhir ini Shisil melarangku untuk berlama lama di sekolah untuk menunggu orang yang aku suka, namanya Yukara Adi Putra dia itu kakak kelas satu satunya yang berketurunan Indonesia Japannes tapi asal kamu tahu, dia memiliki wajah original asli Indonesia dengan kulit sawo matang yang menyempurnakan fisiknya, saat aku pertama melihatnya aku sama sekali tidak ada fikiran bahwa dia itu keturunan jepang, ditambah lagi dengan ketenarannya di sekolah karena memiliki prestasi prestasi yang baik dan dia adalah Good Boys yang dikanal semua tingkatan sekolahku ini, coba siapa yang tidak kenal dengan Yuka? dari tingkat SD sampai SMA aku jamin pasti bilang kenal, oh… ya aku dan kak Yuka satu tingkatan lho… aku kelas 7 dan kak Yuka kelas 9 kita tingkat SMP. Ah… sudah.

Seminggu kemudian
“Eh… Gege kamu kok enggak sama Shisil kenapa, lagi berantem ya?” tanya Do’o sambil duduk di bangku sebelahku.
“Eh… Do’o udah ngerjain PR Bahasa Inggris belum?” kataku mengalihkan pembicaraan.
“Ah… Gege jangan mengalihkan pembicaraan deh” kata Do’o sambil cemberut sok imut.
“Idih… Do’o sok imut males ah…” kataku sambil mengayun kaki kaki kecilku ke meja guru untuk izin ke belakang.
Sambil menyusuri ruang ruang kelas aku terus memfikirkan bagaimana nasib persahabatanku dengan Shisil aku baru sadar sepertinya perkataanku waktu itu terlalu kasar, tidak seharusnya gadis berkerudung sepertiku berbicara kasar seperti itu kepada sahabatnya sendiri “ah.. aku ini memang bodoh”

Hari ini adalah hari ulang tahun Shisil, aku berniat untuk meminta maaf kepada Shisil siang ini sekalian memberikan kado untuk Shisil. Mau tahu isi kadonya? isinya adalah sepatu yang ditunjuk Shisil saat ia menemaniku di toko sepatu, karena orangtuanya sedang dalam masa masa sulit dan dia saat ini tinggal di Semarang bersama tantenya dia tidak bisa membeli sepatu itu dulu, tapi dia bilang jika uangnya sudah terkumpul katanya mau buat beli sepatu ini.

Sepulang sekolah aku lihat Shisil ada di gerbang sekolah seperti menunggu seseorang. Em… karena aku mau meminta maaf jadi aku harus terlihat rapi saat di depan Shisil, aku lihat tali sepatuku lepas aku akhirnya jongkok untuk mebetulkan tali sepatuku “sudah rapi, ayo semangat semoga Shisil memaafkanku” kataku dalam hati kemudian bangkit berdiri dan “ya Allah” aku pun berlari menghampiri Shisil dan segera menjabat tangannya
“Shil ini buat kamu sebagai kado ulang tahunmu dan tanda maafku, kamu memaafkan aku atau tidak itu terserah kamu, aku pulang dulu assalammualaikum” kataku terburu buru meninggalkan Shisil dengan seribu langkah menghindar, aku mengatakan itu tanpa memberikan kesempatan Shisil untuk berbicara, aku tidak mau melihat moment itu lagi. Itu adalah down moment buat aku itu benar benar down.

Pagi ini aku benar benar malas untuk berangkat ke sekolah. Aku terlihat sangat kacau, aku hanya terus melamun melamun dan melamun, sampai sampai aku tidak mau sarapan padahal sekali saja aku tidak sarapan itu akan berdampak buruk untuk tubuhku.
“Ge… kamu kenapa? aku udah maafin kamu kok” kata Shisil duduk di sampingku
“eumm… tidak, terima kasih” kataku malas dengan seedikit senyum dan kembali mengalihkan pandanganku pada novel yang sebenarnya tidak aku baca.
“apa kamu marah tentang kemarin?” tanya Shisil penasaran
Belum sempat aku menjawab untung saja sudah didahului Bu Gelis “Shisil diam! bicara terus, orang Gege lagi serius baca kok kamu ganggu, udah punya buku sendiri kan ya udah jangan ganggu temennya” Shisil hanya bisa pasrah mendengarkan Bu Gelis yang enggak ada gelis gelisnya sama sekali.
“Ge kamu belum jawab pertanyaanku tadi?” tanya Shisil sambil berjalan di sampingku
“pertanyaan yang mana sih?” kataku sok lupa
“yang tadi itu lho… sebelum aku dimarahi bu gelis”
“ah… maaf aku tadi tidak dengar, aku terlalu konsentrasi pada bukuku” kataku dengan santainya
“ah.. lupakan” katanya malas.

Bel pulang pun berbunyi disusul gemuruh suara siswa yang meninggalkan sekolah satu per satu, aku berniat ke perpustakaan untuk meminjam beberapa novel anak anak karena hanya dengan membaca aku dapat melupakan semua masalah yang ada. “ah… sudah tidak perlu banyak banyak” aku merasa cukup dengan buku yang ku pegang kemudian aku berjalan keluar dari perpustakaan sekolah. Tapi saat aku ada di lobby sekolah, tiba tiba ada yang menarik tanganku
“shil ada apa sih narik narik tanganku, awas aku mau pulang” kataku dengan nada tinggi dan berusaha melepaskan cengkraman tangan shisil di pergelangan tanganku.
Shisil tidak berkutip sama sekali dia hanya terus menyeretku ke lantai 5
“ah… jangan jangan shisil dendam padaku dan dia ingin menjatuhkan aku dari lantai 5 agar aku mati mengenaskan” batinku ketakutan dalam hati
“shil kalau kamu dendam padaku hukum saja aku, tapi jangan dorong aku dari lantai 5, aku masih mau hidup, aku janji deh enggak akan nunggu atau suka sama kak Yuko” kataku merengek padanya di sela teriakan minta tolong.
“sudah diam” kata shisil mempojokan aku di tembok, tembok ini adalah satu satunya tameng agar aku tidak jatuh
Kemudian Shisil mencengkeram kuat pundaku dengan tatapan mematikannya, dia seakan akan benar benar ingin membunuhku, kemudian dia membalik tubuhku. Karena aku phobia ketinggin aku hanya bisa menutup mataku sambil berdoa agar Allah menolongku. Kemudian…
“buka matamu atau aku akan lebih cepat mengakhiri hidupmu” kata shisil mengancam
“i… iya…” jawabku gemetar dan membuka mataku, tetapi aku masih tidak mau melihat ke bawah
“lihat bawah” teriak Shisil menghardik
“SUBBAHANALLAH” gumamku dengan mata berbinar binar, menarik garis lengkung di bibirku, meperlihatkan gigi gingsulku.
“hei… kamu yang di atas, kamu Genny Zoela Bhramasatya. Kamu yang enggak pernah peka sama Yukara Adi Putra. Asal kamu tahu waktu aku melihat kamu pertama kali, waktu aku pertama kali melihat garis lengkung bibirmu, waktu aku melihat gigi gingsulmu yang lucu itu. Percayalah, aku sudah suka pada kamu, tapi rasa gengsiku untuk mendekatimu yang telah membuat semuanya seperti ini. Sahabatmu bilang kalian bertengkar gara gara aku, aku minta maaf. Apa kamu mau jadi pacarku?” teriak kak Yuko panjang lebar.
“hei kamu… kakak kelas yang enggak pernah peka…”
“aku masih mau mengejar cita citaku…”
“jalan kita masih panjang…”

“untuk jawaban pertanyaan tadi akan terjawab saat aku dan kamu sudah sukses nanti, untuk sekarang jadilah sahabatku yang selalu menjagaku dalam keadaan apapun”
“Oke…”
“kalau boleh tahu, sepatu berapa anak yang kamu pakai buat nyusun namaku di lapangan sebesar itu”
Aku hanya menjawab pertanyaan kak Yuko dengan patah demi patah teriakan yang cukup membuat tenggorokanku sakit.
“teman teman jangan sembunyi lagi… apa kalian masih mau sembunyi sampai Genny bilang iya, yah kalau mau gitu mungkin ya… 10 tahun lagi” kata kak Yuko menyuruh semua temannya keluar.
Aku pun turun menghampiri kak Yuko di bawah, sepanjang menuruni tangga aku gantian memarah marahi Shisil.
“kamu jahat sil” kataku cemberut
“tapi kamu suka kan” kata shisil menggoda
“tapi ngomong ngomong kok kak Yuka bisa tahu, pasti kamu yang kasih tau ya?”
“iya, aku tahu kalo kak Yuko suka sama kamu juga, soalnya aku lihat foto kamu jatuh dari tangan kak Yuko, terus aku dilihatin di kamera SLRnya ada foto kamu banyak banget, aku kemarin itu sebenernya masih ngerencanain ini semua” kata shisil cengangas cengenges
“sumpah kamu jahat banget sil” kataku mensenggol senggol shisil dengan bahuku
Sampai di lantai satu aku lari ke tengah lapangan menyusul ka Yuko
“kak traktirnya gimana nih? tetep jadi kan?” tanya Do’o sambil mengusap usap perutnya.
“diterimanya aja kalau aku udah sukses nanti, jadi traktirnya mungkin 10 tahun lagi” kata kak Yuko cemberut dan beberapa teman kak Yuko melempari kak Yuko dengan sepatu, tawa mereka pun pecah seketika, mereka seakan akan tidak masalah dengan itu mereka melakukan perang sepatu.
“teman teman pesanan kalian sudah datang… “ teriak shisil menunjuk pengantar pizza
Keadaan hening sedetik dan…
“ayo serbu…” kata teman teman serempak
“haha… kak Yuko baik amat sih” kataku pada kak Yuko.
“haha… yah nyenengin temen sekali kali nggak papa lah” kata kak Yuko nyengir kemudian menghampiri si Do’o dan merebut pizza yang akan dilahap Do’o
“kak Yukoooooo…” teriak Do’o kemudian berlari mengejar kak Yuko yang terlihat lari menghindari amukan Do’o

Cerpen Karangan: Idfia Mireda
Facebook: Idfia Mireda

Cerpen Terima Kasih Shisil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Anu

Oleh:
Hari ini seperti biasa, aku bertengger di tempat dudukku sambil membaca novel, aku malas mengoleksi eh maksudku mempunyai banyak teman, cukup mereka yang menjadi temanku. Novel Sherlock Holmes sedang

Rencana Allah itu Indah

Oleh:
“Nis dipanggil tu sama kepala sekolah, ditunggu di ruangannya”. “Oh iya Ra makasih ya infonya”. Aku pun bergegas menuju ruang kepsek dengan perasaan cemas. Ada masalah apa sampai aku

Sahabat Yang Terlupakan

Oleh:
Sewaktu SD aku dan temanku selalu bersam tertawa bersama. Kita bermain bersam kita berbagi suka duka bersama. SD ku tempat aku bergembira sahabatku alasan aku bahagia, sahabatku orang yang

You Are My First Potion

Oleh:
“Panggil General Manager dari departement pernikahan!,” ucap Arka kepada skretarisnya Rio. “Baik, Pak!,” kata Rio dengan meninggalkan ruangan kerja Arka. Kemudian, laki-laki itu duduk di kursi putarnya. Mengarakan kursinya

Lupa Cara Menangis (Part 2)

Oleh:
Langkah kaki menggeser waktu lebih cepat dari perpaduan putaran jarum pengarah waktu yang melingkar di tanganku. Balok beroda empat ku tancap melaju begitu cepat tak peduli apa yang menghalangiku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *