Terlalu Singkat Untuk Selamanya (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 October 2017

“Kenapa sih kita harus jatuh cinta kalau akhirnya kita harus nerima rasa sakit?”
“Karena gak semua yang kita impikan akan jadi kenyataan. Tidak semua yang kita harapkan akan tercapai semestinya. Karena Tuhan ingin kita belajar dari segala rasa sakit”
“Terus, kenapa kamu pergi?”
“Aku nggak pergi, aku cuma melakukan semua yang terbaik menurutNya. Dan mungkin ini jalan terbaik yang harus aku lalui.”
“Terus, kenapa aku gak bisa lupain kamu?”
“Aku selalu mohon sama Tuhan biar kamu gak ngelupain aku. Aku pengen lihat kamu selalu sayang sama aku walau kita udah jauh. Aku pengen lihat kamu kuat aku pengen lihat kamu tegar sampai akhirnya kamu bisa menghargai cinta yang nanti akan dateng ke kamu di masa depan”
“Apa dia akan seperti kamu?”
“Tentu enggak, aku gak ingin dia seperti aku. Aku ingin dia lebih baik segalanya dari aku. Aku ingin kamu bahagia meskipun aku gak bisa bahagiain kamu”

Wahai engkau sang penghidupan
Ku mohon kembalikan lagi sejuknya embun di pagi hari
Ku mohon kembalikan lagi hangatnya senja di sore hari
Ku mohon kembalikan lagi terangnya bulan di malam hari.
Wahai engkau pemilik dirinya
Ku mohon izinkan aku bertemu dengannya
Izinkan aku untuk selalu memandangnya
Walau aku tahu sampai kapanpun dia tidak akan pernah kembali
Wahai engkau yang mengetahui isi hatiku
sampai kapankah aku harus berteriak menyerukan namanya?
Apakah aku sudah kalah dengan kenyataan?
Apakah aku salah jika kulawan takdirku?
Wahai engkau yang maha melihat
Lihatlah tangisku di setiap malam
Sungguh begitu menyakitkan hidupku tanpa dirinya
Andai saja aku bisa menukar hidupku dengan waktu
Aku akan kembalikan waktu bersamanya walau hanya satu kecupan saja.
Oh Tuhan..
Aku tidak meminta lebih
Aku hanya ingin engkau kembalikan dia
Aku hanya ingin melihatnya tersenyum
Meskipun tidak untuk selamanya

Aditya berdiri tepat di depan kamar rumah sakit itu. Dia berjalan berlahan mendekati seorang lelaki yang kini terbaring lemas di ranjang itu. Di genggamnya tangan lemah laki-laki itu. Terlihat setetes air bening turun dari mata Aditya.
“Dit, lo baru dateng?” Seorang wanita mengagetkannya. Aditya segera menghapus air matanya dengan cepat.
“Iya, gue baru dateng”
“Temenin gue makan yuk” wanita itu menarik tangan Aditya keluar dari kamar itu.

“Rizky itu sahabat gue. Dari kecil kita sama-sama. Sekolah bareng, nakal bareng, tapi kenapa dia harus kayak gini?” Aditya tak mampu menahan air matanya. Dia menangis layaknya seorang perempuan yang baru saja diputuskan kekasihnya.

“Dit, lo tahu cinta kan? Cinta yang udah buat Rizky kayak gini. Dan lo tahu satu hal dit? Rizky itu gak pernah jatuh cinta sedalem ini. Gue kenal juga sama dia dit. Bahkan gue yang jodohin mereka berdua sampai semua kayak gini” wanita itu tertunduk menahan air matanya.
“Lin, gue ke toilet bentar ya” Aditya segera berlari menjauhi wanita itu.

2 years ago..
“Kring.. kring.” Bel sekolah sudah berbunyi sangat nyaring. Semua siswa siswi SMK Tunas Bangsa segera masuk ke kelasnya masing masing. Di tengah anak-anak yang sibuk mencari kelas, seorang gadis berbaju seragam putih abu-abu seperti siswi lainnya itu berlari menuju kelas. Sampai tiba-tiba dia tak sengaja mebarak seseorang.
“De! Ngagetin aja! Ngapain sih lo lari-larian gitu?” Ucap Alina panik.
“Lin, gue telat. Pak Tarjo udah masuk?”
“Belum. Buruan masuk”
“Iya”
Gadis itu pun masuk ke kelasnya dan segera duduk di bangkunya.

“Teng.. teng” bel istirahat berbunyi membahagiakan. Alina dan sahabatnya segera ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sedari tadi sudah keroncongan.

“De?” Alina memanggil sahabatnya.
“Apa?”
“Lo nggak lagi ngelamunin dia kan?”
“Dia siapa? Adit?”
“Ya iya lah siapa lagi cowok brengs*k yang udah bikin lo ngelamun kayak lagi selain dia?”
“Udahlah lin gue lagi males ngebahas tuh orang. Lo tuh bikin gue susah aja lupain dia!”
“De, sampe kapan sih? Udahlah lagian lo kan punya Fajar sekarang”
“Gue sayang Adit lin. Sampe kapanpun gue sayang sama Adit!”
“Walau pun Adit sama orang lain? De, lo inget dong! Gimana cara dia nyakitin lo! Lo gak faham faham ya sumpah”
Alina mulai kesal melihat sifat sahabatnya yang seperti ini. Memang, Aditya adalah sosok yang tampan, baik dan pintar. Pantas saja hal ini yang membuat sahabatnya sangat tertarik bahkan saat Aditya menjadikan nya pelarian, dia tetap saja mencintai Aditya.

Cinta itu aneh
Semakin dikejar semakin lari
Semakin dijauhi semakin mendekat
Semakin kita melupakan semakin sering pula dia hadir dalam ingatan
Jatuh cinta itu mudah
Di cintai juga amatlah mudah
Yang sulit adalah dicintai oleh orang yang kita cintai.

Mungkin, Dea pernah mendengar kalimat itu dalam sebuah quote. Tapi, baginya melupakan Aditya tidaklah sesimple tulisan itu. Dia benar-benar dibuat gila oleh pria yang usianya lebih muda 2 tahun darinya itu. Bahkan, gadis ini sibuk menghabiskan waktunya hanya untuk menangisi lelaki itu. Seperti hal nya malam ini. Rasanya, bayangan Aditya terus bersarang di fikirannya. Air matanya pun telah habis terkuras. Sudah 6 bulan Aditya pergi, namun Dea nnampak masih mencintainya walau kini dia sudah bersama orang lain. Baginya, Adit adalah sosok pria sempurna. Namun, dengan mudah dia meninggalkannya sampai akhirnya semua jadi seperti ini

“Teng..teng” bel istirahat berdering sangat keras. Semua siswa-siswi SMK Tunas Bangsa segera meninggalkan kelasnya dan bergegas ke kantin.

“De, duluan ya” ucap Alina sambil berlari ke perpustakaan.
“Iya”

Siang itu suasana sekolah sangat ramai. Dea mencari seseorang dalam kerumunan di depan kelasnya itu. Dia mencari Aditya yang pastinya berjalan ke kantin bersama teman-teman nya. Ketika dia sedang celingak celinguk mencari sosok sang mantan, seseorang lain malah menabraknya hingga dia hampir terjatuh.
“Eh maaf” seorang lelaki bertubuh tinggi baru saja menabrak Dea secara tiba-tiba.
“Iya, gak apa-apa”
Lelaki itu berlari dengan cepat dan membiarkan Dea terus mencari Aditya. Hingga akhirnya dia melihat orang yang dicarinya sedang bergandengan tangan dengan seorang wanita seusianya. Dea segera berlari ke kamar mandi. Dalam hati dia terus merasakan sakit yang teramat dalam.

Alina masih terlihat fokus memperhatikan seluruh koridor sekolah. Dia terus mencari sahabatnya yang sedari tadi belum terlihat.

“Lin, nyari apaan sih lo dari tadi?” Tanya seorang laki-laki yang sedang berdiri tepat di depan kelasnya.
“Lo liat Dea gak?” Tanya Alina.
“Sahabat lo itu kan? Kalo gak salah gue gak sengaja nabrak dia tadil”
“Terus ke mana sekarang?”
“Gak tahu gue”
“Ya udah, gue duluan ya”

Mengapa aku harus mencintaimu jika akhirnya aku harus terluka oleh cintamu?
Mengapa kau melepaskan cintaku ketika aku sudah berusaha menggenggam erat cintamu
Belum cukupkah air mataku selama ini?
Belum puas kah kau lukai hati sampai seperti ini?
Cinta..
Andai ada yang bisa kulakukan untuk bisa pulihkan rasa ini, aku akan lakukan apapun untuk sembuhkan luka ini.

Hujan kembali mengguyur kota dengan sangat deras. Alina terus mencari sahabatnya yang sampai saat ini tidak bisa dihubungi. Dia tahu, sahabatnya yang sudah dia kenal sejak lama itu bisa melakukan banyak hal
untuk Aditya.

“Di mana sahabat gue?” Alina menarik baju Aditya dengan keras.
“Apaan sih lin? Gue gak tahu”
“Dit, gue tanya sama lo di mana sahabat gue?”
“Apaan sih lin! Dia bukan cewek gue lagi dan gue gak tahu dia di mana!!”
Plak!
Alina menampar wajah laki-laki itu hingga memerah.
“Cowok macem apa lo dit? Lo udah hancurin hati cewek yang sayang tulus sama lo! Lo jahat dit! Jahat” Alina berusaha menahan tangisnya. Dan kali ini hampir saja Alina menampar Aditya untuk ke dua kalinya. Naamun, ada seseorang lain yang menahan tangannya.
“Alina, udah.”
“Riz! Lo bilangin sama temen lo ini, jangan suka nyakitin cewek! Lo denger baik-baik ya. Kalau sampe ada sesuatu terjadi sama sahabat gue, gue bakal cari lo bahkan sampe ke liang kubur!” Alina pergi meninggalkan Aditya dan teman nya itu.

Angin malam berhembus sangat merdu kala itu. Di sebuah pantai di selatan sana, Dea menghabiskan waktunya untuk menenangkan diri dan meluruhkan rasa sakitnya. Yang dia rasakan, kini semua laki-laki tidak ada yang menyayanginya. Semua rasa sakit itu berawal ketika ayahnya sering memukuli ibunya sampai akhirnya beliau menghebuskan nafas terakhirnya 2 tahun yang lalu. Setelah sang ibu meninggalkannya dan kakaknya, sang ayah justru harus meninggalkannya untuk sekian tahun. Ayah yang selama ini membesarkannya kini harus terkurung dalam penjara karena telah menganiaya istrinya hingga tewas. Dan semua bertambah parah ketika kakaknya harus putus sekolah dan mulai bekerja untuk hidup mereka. Dan sekarang, satu laki-laki baru telah melukai hatinya. Aditya, adalah sosok yang baik, pintar dan penyayang. Semua yang Aditya lakukan selalu berkesan di matanya. Tutur kata yang lembut dan candaannya yang khas berhasil membuat gadis berusia 15 tahun ini mencinta terlalu dalam. Aditya adalah cinta pertamanya, sosok pengganti ayahnya dan juga seorang penghibur untuknya. Namun kini semua berakhir menyedihkan ketika Aditya harus memilih wanita lain sebagai pelengkap hidupnya. Tak mudah memang, jika harus menerima kenyataan sepahit ini. Namun baginya, dia tetaplah gadis yang kuat. Dia masih punya seorang kakak laki-laki yang pasti tak akan pernah menyakitinya.

Tidak semua laut punya pantai
Tapi semua pantai pasti punya laut
Aku pernah bermimpi menjadi pantaimu
Mendampingimu
Tapi kenyataan berpihak lain
Aku adalah lautmu
Aku tak akan pernaah bisa menggapaimu
Aku harus menerima kenyataan
Seperti aku menerimamu untuk masuk ke dalam kehidupanku
Aku tahu, aku bukanlah batu karang yang tegar didera ombak
Aku mengerti cinta kita hanya tertulis di atas pasir pantai yang akan terhapuskan air laut.
Tapi cintaku padaamu akan selalu ada
Walau kau berulang kali menenggelamkan aku, namun aku akan tetap mengingatmu bahkan dalam tidurku sekalipun.

“De?” Seorang lelaki memanggilnya dari belakang. Dea berbalik dan melihat sosok itu adalah Fajar kekasihnya yang baru.
“Fajar? Kok kamu di sini?”
“Aku tahu kamu pasti ke sini. De, pulang yuk”
“Aku gak mau pulang. Aku masih betah di sini”
“Aku gak mau kamu sakit. Kamu pulang ya sayang”
“Nanti. Aku gak mau”
“Ya udah aku pulang duluan. Nanti kalau kamu mau dijemput kamu kabarin ya”
Dea hanya mengangguk dan akhirnya Fajar pun pergi dari pantai itu.

Seminggu berlalu. Semenjak kepergian Aditya, Dea tetap seperti dulu. Menjadi gadis yang ceria dan cerdas di sekolah. Tak banyak yang berubah darinya. Namun hanya satu yang berubah, kini. dia menjadi seorang yang lebih menutup diri untuk apapun. Ada satu hal yang berubah darinya. Dia selalu membenci siapapun lelaki yang berusaha mendekatinya. Maka dari itu, baginya semua lelaki adalah mainan. Aditya benar-benar berhasil merubah pribadinya. Bukan hanya memperbaiki dirinya namun juga merusaknya. Aditya berhasil membuat gadis ini terpuruk hingga seperti sekarang.

Siang itu semua siswa siswi kelas X jurusan musik sedang latihan band. Alina dan teman-temannya sedang sibuk merancang lagu untuk ujian akhir nanti.
“Lin, udah dapet lagunya?” Tanya Dea.
“Belom. Lo?”
“Sama”
“Ah kacau nih! Kita Nampilin pensi gimana coba?”
“Gue cari inspirasi dulu ya ke kantin. Laper hehe”
“Nyebelin lo de!”
“Ikut gak?”
“Nggak. Gue lagi ngafalin kunci gitar”
“Yaudah oke”

Dea berjalan ke luar ruangan itu. Tepat di depan pintu studio musik itu dia tak sengaja menabrak seseorang di depan nya
“Aduh hati-hati dong” ucap seseorang itu
“Sorry. Buru-buru” Dea berlari meninggalkan orang yang baru saja dia tabrak itu.

2 hari berlalu. Pentas seni pun di gelar denngan sangat meriah. Dea dan Alina sibuk mempersiapkan lagu untuk mereka tampil hari itu. Setelah acara selesai, Alina pamit pulang duluan karena ibunya mendadak minta di antar ke rumah temannya. Dea menunggu Fajar kekasihnya yang berjanji akan menjemputnya di sekolah.
Saat dia berjalan melewati koridor-koridor sekolah, dia tak sengaja bertemu seorang laki-laki yang sudah dua kali bertabrakan dengannya. Sepertinya itu adalah kakak kelasnya karena dia tidak pernah melihat laki-laki itu ada di kelaas X bersama teman-temannya yang lain. Dea memang orang yang mudah akrab dengan teman baru maka dari itu dia hafal siapa saja teman-temannya yang berada di kelas lain.

“Mau dibantuin beresin dekoran nya?” Dea berkata kepada laki-laki itu.
“Boleh.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Sorry ya. Aku udah nabrak kamu kemarin-kemarin”
“Iya, gak apa-apa. Lagian yang pertama nabrak itu aku”
“Iya gak apa-apa”
“Aku Rizky” lelaki itu menyodorkan tangan nya.
“Kamu pasti udah tahu nama aku, iya kan?”
“Kok gitu?”
“Iya, soalnya Alina pernah cerita kalo dia nanyain aku ke kamu”
“Oh, Iya, iya. Dea kan?”
“Iya. Bener”
“kamu kelas berapa?”
“Aku kelas X Musik. Kamu?”
“Aku kelas XI-Musik”
“Maaf kak”
“Ah, santai aja.”
“Aku bantu ya” Dea membantu membereskan dekorasi panggung itu bersama kakak kelasnya.

“Rumah kamu di mana?” Tanya Rizky
“Rumah aku di jalan melati”
“Oh ya? Rumah aku juga daerah sana. Aku anter pulang ya?”
Dea hanya terdiam tak menjawab perkataan Rizky.
“Udah, ayo”
Akhirnya Dea mengangguk. Rizky mengambil motornya di parkiran dan menjemput adik kelasnya itu di depan gerbang sekolah.
“De..” Teriak Rizky.
“I, iya” Dea segera mendekatinya dan akhirnya mereka pulang bersama.

Aku bisa mencintaimu dalam waktu singkat
Tapi aku belum tentu bisa melupakanmu untuk selamanya
Hadirmu adalah sebuah pelengkap
Di dalam setiap perjalanan hidupku yang kelam.
Pelukanmu adalah obat penenang untuk setiap rasa sakit dalam jiwa
Kamu adalah pelita disaat gelap jalanku
Penuntun disaat sesat arahku
Tapi mengapa semua berakhir begini?
Ketika kau harus menyerah
Kau menyerah dengan hidupku
Andai aku bisa kembalikan waktu
Tak ingin aku mengusik hidupmu
Maaf, jika aku telah mengganggumu
Hingga aku masuk ke dalam kehidupanmu
Aku terima segala luka ini
Mungkin ini tujuanmu selama ini
Terimakasih telah ajarkanku bahagia
Walau akhirnya aku yang harus mengajari diriku
Untuk mengikhlaskan kebahagiaan itu

“De, Rizky ganteng ya?” Alina mendekati Dea yang sibuk dengan buku sejarahnya.
“Gantenglah namanya juga cowok”
“Ya elah jawabnya simple amat sih.”
“Ya terus harus gue jawab apa?”
“Lo suka sama Rizky?”
Kini Dea menatap Alina sangat serius sampai dia menutup bukunya.
“Lo tahu kan? Di hati gue cuma Adit yang terbaik selamanya. Jadi ngapain gue harus suka sama orang lain”
“Fajar? Rian? Galang?”
“Mereka cuma selingan doang lin” Dea tersenyum kepada Alina.
“De, de. Gimana sih lo?”
“Ah udahlah lin. Daripada lo sibuk mikirin gue, mendingan lo mikirin tugas sejarah nih puyeng gue”
“Ah terserah lo deh. Susah emang ngomong sama lo” lagi-lagi Dea belum bisa membuka hatinya untuk orang lain. Meskipun dia sedang dekat dengan banyak lelaki, tapi hatinya tetap mencintai Aditya sepenuhnya.

1 bulan berlalu, kini keadaan hati Dea semakin parah. Gadis ini semakin menutup diri untuk siapapun yang mendekatinya bahkan dia selalu menyibukkan diri untuk melupakan Aditya.

Pagi itu Dea dan Alina sedang mengerjakan tugas di studio musik. Marena mereka tidak ikut upacara, mereka terpaksa tidak masuk kelas di pelajaran pertama itu. Dea dan Alina harus menerima hukuman dengan gurunya yaitu mengerjakan tugas di studio musik.

“De, gara-gara lo gue jadi di hukum sama bu Tias”
“Ah itu sih lo nya aja yang ngikut-ngikut gue. Lagian lin di sini adem dari pada di kelas. Sumpek”
“Tapi iya juga ya?”
“Iyalah lin. Emangnya lo mau terus-terusan dengerin celotehan bu Tias yang bawelnya kayak tukang kaos kaki di pasar kaget. Mampus lo”
“Iya juga sih de. Eh gue beli minum bentar ya”
“Iya lin. Beliin gue sekalian ya”
“Iya bawel”

Alina lalu pergi ke kantin meninggalkan Dea yang masih sibuk dengan tugasnya. Gadis ini terkejut ketika seseorang menepuk pundaknya dengan pelan. Dea segera menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang membuatnya terkejut.
“Siapa?” Ucapnya.
“Siapa coba?”
“Siapa? Sorry lupa”
“Ini aku, Rizky”
“Rizky? Kak Rizky? Eh maaf kak hehe”
“Ke mana aja nih?”
“Ada kok aku..” Ucapan Dea terpotong.

“De!! Sini ke kelas” teriak Alina.
“Duluan kak” Dea segera membereskan bukunya dan berlari menghampiri Alina di luar.

“Lo deket sama Rizky?” Tanya Alina.
“Deket sih enggak, cuma kenal. Udah ah ayo ke kelas” Dea menarik tangan Alina ke kelasnya.

Setelah kejadian itu, Dea dan Rizky jadi sering bertemu. Ditambah lagi karena ekskul mereka sama dan rumah mereka berdekatan.

Cerpen Karangan: Andrea Silvana Vilim
Facebook: Andrea Silvana Vilim

Cerpen Terlalu Singkat Untuk Selamanya (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tipe Ex Cinta

Oleh:
Cinta itu bagaikan angin tanpa bau, karena cinta yang seperti angin itu tidak akan memiliki bau tapi memiliki rasa yang menyentuh. Dalam kehidupan seorang manusia cinta antara laki-laki dan

Khayalan Masa Tua

Oleh:
Di kesunyiaan malam yang pekat tanpa bintang, tiba tiba secercah cahaya lewat di pandangan mata yang kini mulai menua. “ini masa laluku, ketika aku masih menjadi pemuda yang tangguh

Antara Sahabat dan Cinta

Oleh:
Aku memiliki sahabat mereka riza, muna, dan dewi pada suatu hari kami didalam kelas setelah bel jam pergantian pelajaran berbunyi kami ngobrol sementara, dewi dan muna selalu ngomongin cowok

Cinta Yang Salah

Oleh:
Cinta sejati?, apa itu cinta sejati? apakah cinta sejati itu benar benar ada? Aku tak mempercayai lagi yang namanya cinta sejati setelah aku dikhianati oleh seseorang yang sangat aku

Musik Cinta

Oleh:
Entah apa yang ada di pikiran Angga sejak melihat pertunjukan Band tadi siang di sekolah, pikiran Angga seakan tidak lepas dari drummer cantik yang tadi dilihatnya di sekolah, nama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *