Ternyata Dia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 August 2015

“Huh. Hampir saja aku telat.” Sambil terengah-engah aku masuk kelas dan duduk di bangku yang biasa aku tempatin, hari sabtu, jam pertama adalah pelajaran Biologi, Bu Lia guru pengampunya, guru yang paling rajin dan super disiplin.

Hari itu aku masih beruntung bisa datang tepat waktu, tidak seperti biasanya. Aku satu-satunya cowok di kelas yang tidak pernah datang tepat waktu.
Kring! Kring! Tanda bel masuk, tak lama kemudian Bu Lia datang tetapi masih ada dua bangku yang kosong di sebelahku, yang satu memang tidak ada yang nempatin, yang satunya milik temenku yang sama bandelnya seperti kayak aku.

Tok! Tok! Tok! “permisi.” Aku yakin itu adalah Fika temanku yang setia nemanin aku lari keliling sekolah kalau ketahuan satpam saat terlambat.
“Masuk.” jawab Bu lia, tetapi ternyata itu bukan dia, itu adalah Bu Ina petugas piket kantor di hari itu, tapi siapa yang bersamanya ya?
“Maaf Bu mengganggu, ini ada murid baru dia akan belajar di kelas ini.” Katanya.
“Oh. murid baru ya, ya sudah perkenalkan dulu dirimu pada teman-temanmu.” Kata Bu Lia
“Kalau begiu saya permisi dulu bu..” Bu Ina kemudian kembali ke kantor.

“Perkenalkan nama saya Widha saya baru saja pindah dari Kalimantan, saya..”
“Sudah cukup, silahkan duduk.” Bu Lia langsung memotong perkenalan dari Widha, memang dia paling gak mau kalau waktunya kepotong untuk masalah yang kurang penting. Dia duduk di bangku sebelahku yang biasanya ditempatin Fika, kalau dilihat-lihat dia itu cantik, wajahnya bersinar, senyumnya manis berjilbab lagi, tapi cara dia perhatiin pelajaran, kayaknya dia anak yang rajin, pinter dan disiplin.

Tok! Tok! Tok! “Permisi bu..” itu dia cewek yang malesnya gak karuan.
“Maaf Bu terlambat” ucapnya denagan wajah santai.
“Saya sudah tahu, ya sudah duduk, gak mungkinkan saya suruh pulang, tapi kamu tidak saya anggap masuk di pelajaran saya.” Kata BU Lia dengan nada yang menyebalkan.
“Makasih, bu.”

Kring! Kring! Akhirnya pelajaran Bu Lia selesai.

“Eh Widha. Kenalin aku Rendy, kamu..”
“Murid baru ya kenalin aku Fika.”
“Uhhh.. dasar gunting rumput, gak tahu aku lagi ngomong ya, main potong aja.” Kataku, dengan sebal.
“Bodoh amat..”
“udah-udah kok rebut gitu sih, kayak anak kecil aja..” kata Widha dengan suara yang lembut.

Tak terasa semua pelajaran telah selesa. Akhirnya tiba waktunya pulang.
“Rumah kamu mana?” Tanyaku pada Widha.
“Deket kok, di perumahan Mawar Indah” jawabnya.
“Oh.. kalau begitu, kita..”
“Ren, temenin aku ya!” lagi-lagi si gunting rumput motong obrolanku.
“ke mana?”
“ke mini market, kenapa? kamu sebel banget kayaknya..”
“Ya udah aku pulang dulu ya.” Widha bergegas pulang, dan gagal deh.. pulang bareng dengan dia.

Malam itu, rasanya sangat aneh, wajahnya benar-benar tidak mau hilang dari pikiranku, mungkin ini namanya cinta pandangan pertama, tidurku sangat gelisah tak henti-hentinya memikirkannya.
Hari minggu, saat ujung timur masih berwarna jingga aku pergi untuk lari pagi menyusuri komplek perumahan di sekitarku, dari kejauhan kulihat seorang gadis, kalau dilihat-lihat kayaknya itu Widha, lalu kupercepat lariku untuk mendekatinya, yipss tidak salah dia benar Widha.

“hai Wid lari pagi juga ya?” Tanyaku.
“Eh kamu, iya ni, sambil lihat-lihat daerah sekitar sini”
“Sendirian aja?”
“Iya, biasanya sama kakak aku tapi dia lagi ada urusan”
“Ya udah, bareng ya..”
“Oke”

Setelah cukup lama kita berlari, kita berhenti sejenak di depan warung.
“Aku belin minum ya..” kataku sambil mengambilkan minum yang ada di dalam referigator.
“boleh..”
Setelah beberapa sasat,
“Nih minumnya.”
“Makasih ya..”

Benar–benar tidak disangka bisa dapat momen kayak gini, huh sumpah jantung ini berdebar tidak sepeti biasanya.
“Oh.. ya Wid kamu kapan pindah dari Kalimantan?”
“Seminggu yang lalu, sekeluarga, hah ninggalin semuanya deh.. teman-teman aku, sekolah, pokoknya banyak deh.”
“Termasuk pacarmu. Ya..”
“Ah kamu.. aku mana punya pacar”
“kalau gitu. Kamu mau jadi pacar aku?”

Huh.. sumpah aku benar-benar tidak sengaja ngucapin itu.
“Apa. kamu bener mau jadi pacar aku?” Tanyanya dengan wajah memerah.
Mending aku jawab iya aja deh.. lagian aku memang suka sama dia, tidak tahu mau di terima apa ditolak.
“Iya.. aku serius mau jadi pacar kamu”
“Euu.. aku..”
“Enggak apa-apa kok kalau kamu tidak mau jawab sekarang”
“Aku mau, aku mau jadi pacar kamu, tapi..”
“Tapi.. apa?”
“tidak apa-apa, kita coba jalanin aja..”
Tenyata, aku bisa jadian dengan cewek yang baru aku kenal.

Hari Senin, bisanya jam 07.00 lebih aku baru berangkat, tapi sekarang baru jam 06.00 aku sudah berangkat berdua dengan Widha. Setelah upacara, kita semua masuk ke kelas, seperti biasa Fika belum kelihatan batang hidungnya mungkin dia sedang dihukum di pos satpam, tapi pelajaran sudah lewat 30 menit dia belum juga datang.

Tiba-tiba, Tok! Tok! Tok! seorang siswa datang.
“Maaf Bu.. ada titipan surat dari orangtuanya Fika katanya dia sakit.” Sasat mendengar itu pikiranku jadi tidak tenang kepikiran dia terus.
Sepulang sekolah aku mengajak Widha untuk menjenguk Fika. Sesampai di rumah Fika.

“Fik.. gimana keadaanmu?
“enggak apa-apa kok cuma kecapean”
“Sudah minum obat belum?” tanyaku.
“Belum.” Dari pintu kamar datang Kakak Fika yang merawat Fika selama sakit.
“iya ni.. Fika enggak mau minum obat, katanya sih. Dia cuma mau ketemu Rendy” kata Kakak Fika sambil melirik ke aku.

Aku jadi bingung, takutnya dia punya perasasan yang lebih ke aku padahal aku baru saja jadian dengan Widha.
“Ya udah sekarang kan ada Rendy.. jadi diminum ya obatnya.” Kata Widha sambil mengambilkan segelas air putih yang ada di meja.
“Minum tuh obatnya, jangan bandel-bandel makanya..” kataku, lalu kuberikan obat yang akan diminum Fika.
“Sepertinya udah sore ni, kita pulang dulu Fik sampai jumpa besok di sekolah.” Kata Widha sambil mengajakku untuk pulang.
“Aku pulang dulu ya Fik” lalu akau dan Widha pulang berdua.
Selama perjalanan tak sepatah katapun yang terucap dari Widha begitupun aku, aku masih kepikiran dengan perkataan Kakaknya Fika tadi.

Paginya di sekolah aku masih belum melihat Fika, mungkin dia masih belum sanggup untuk berangkat.
Setelah beberapa hari Fika belum juga hadir ke sekolah aku semakin khawatir, sementara itu hubunganku dengan Widha terasa kurang harmonis, aku sering tidak memperhatian dia ketika bicara kepadaku, aku malah sering melamun sendiri.

Saat jam istirahat Widha memberiku sesuatu.
“Ren nih.. undangan ulang tahunku, nanti malam acaranya, datang ya..” kata Widha sambil memberiku undangan ulang tahunnya.

Malam itu aku sudah siapkan kado spesial dan berdandan sekeren mungkin, tapi tiba-tiba Ibuku datang.
“Oh ya.. Ren tadi ada yang datang nyari kamu katanya dia Kakaknya Fika dia minta kamu untuk pergi ke rumah sakit Kasih Kita, dia bilang ini penting banget.” Kata Ibuku.
Aku jadi bimbang, aku harus menemui Fika atau prig ke ulang tahun Widha, tapi aku putuskan untuk pergi ke ulang tahun Widha, di sana aku bertemu dengan Widha, saat dia ngajak aku ngobrol aku malah seperti orang bingung.

“Kamu enggak apa-apa kan Ren?” Tanya Widha padaku.
“Enggak kok, aku cuma kepikiran.”
“Fika..”
“Iya.. tadi Ibuku bilang kalau Kakaknya Fika datang ke rumah, katanya Fika masuk rumah sakit”
“Pergilah Ren aku enggak apa-apa kok, aku yakin saat ini dia lebih butuh kamu daripada aku.”
“Makasih Wid..” Lalu tanpa pikir panjang aku langsung pergi ke rumah sakit tempat Fika dirawat, di sana aku melihat Fika dalam kondisi yang sangat buruk, dan aku menghampirinya.

“Ren.. jangan tinggalin aku” kata Fika dengan suara yang lemah. Aku tidak tahu harus bilang apa.
“aku enggak akan ninggalin kamu kok.. tenang aja, yang penting kamu sembuh dulu ya”

Kemudian dokter datang dan menyuruh semua yang ada di ruangan untuk keluar. Handphone-ku berbunyi, ternyata itu dari Widha.
“Halo Ren makasih banget ya.. kadonya, itu bener bener spesial..” Katanya.
“Iya. Oh ya Wid aku mau ngomong sesuatu tapi kamu jangan marah ya..”
“Iya emang apaan?”
“Mungkin kita tidak bisa nerusin hubungan kita, ada sesuatu yang mungkin..”
“Aku tahu kok Ren, aku ikhlas jika itu memang lebih baik untukmu dan untuknya, kita bisa jadi teman, kan..”
“Makasih Wid, udah mau ngertiin..”

Akhirnya cewek yang selama ini tidak pernah datang di pikiranku telah terlebih dahulu tercatat di hati. Mungkin ini adalah cerita yang sudah ditakdirkan dari Tuhan, rasa suka tidak akan bisa menghentikan rasa cinta yang telah ada untuk bersatu.

Cerpen Karangan: Rosydin Ma’ruf
Facebook: ElRosydien de AlMa’ruef

Cerpen Ternyata Dia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ajari Aku Teori Cinta (Part 2)

Oleh:
Aku adalah sosok yang dikenal dengan imej baik tanpa skandal apapun walaupun satrio selalu menggangguku tapi biasanya aku hanya diam tak peduli. Tapi entah kenapa rasanya sudah tak tahan

Kebersamaan Yang Tenggelam

Oleh:
“Terimakasih kuucapkan…” usai sudah kelompok paduan suara menyanyikan lagu dalam acara perpisahan sekolah. Kami langsung pergi ke kelas masing-masing untuk mengganti kostum yang tadi dipakai. Sesudahnya kami mengganti pakaian,

Takkan Percaya

Oleh:
“Dokter!,” panggil seseorang saat Felly hendak memasuki mobilnya. “Iya?,” tanya Felly. “Anda ada jadwal dengan pasien hari ini.” “Pasien? Saya free hari ini.” “Iya saya tahu. Awalnya, memang begitu.

He

Oleh:
Pagi ini aku menatap ke luar jendela, butir-butir salju membuat pagi ini terasa dingin sangat dingin. “Syna, jangan melamun!” Tegur Sir Sam guru matematika di sekolahku. Aku tidak menghiraukan

Ganda

Oleh:
Namaku Reyhan. Lengkapnya kau tidak perlu tahu. Hanya seorang mahasiswa biasa di sebuah Universitas biasa. Begitulah kehidupanku, terdengar membosankan. Memang, aku selalu merasa jenuh dengan apa yang ku lakukan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *