Terpaksa Kupacari Saja (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 23 June 2016

“Joshua, maukah kamu menjadi pacarku?”

Tangannya gemetaran, jantung berdebar-debar, keringat makin deras mengucur dari balik seragam putih abu-abu yang dikenakannya. Nafas memberat. Ia pun berusaha mengaturnya. Hirup. Hembuskan, hirup.

“Siapa lo?” tegur cowok bernama Joshua– tak disangka-sangka. Ia terlihat tenang namun tatapannya mengandung unsur selidik yang kental.

Andrea menelan ludah, “Aku Andrea Ayudia Smith. Panggil saja Dea.”

Sial! Ia lupa memperkenalkan diri sebelum langsung menembakan kata-kata memalukan tadi. Ini awalan yang buruk, batin Dea galau.

Joshua menatapnya dalam, sebelum pandangannya mulai menyusuri setiap jengkal tubuh Dea. Dari ujung sepatu hingga helai rambut, tanpa berkedip. Dea kembali menelan ludah.

“Kayaknya gue pernah liat lo, tapi di mana ya…,” jidatnya berkerut, tampak sedang berpikir keras. Seketika Dea memajukan bibir. Kesal. Mengutuknya dalam hati. Cowok keterlaluan! Ketemu dimana muke lu songong! Jelas-jelas, setiap hari kita ketemu. Secara, satu kelas! Dan lagipula kadang-kadang Aku sering nongkrong bareng geng mereka. Dasar cowok arogan! sungut Dea dalam hati.

Sebenarnya Dea sama sekali tidak naksir secuil pun pada mahluk arogan di hadapannya itu. Namun, hal ini terpaksa ia lakukan. Ia harus menjadi pacar seorang Joshua pratama, demi sahabatnya tercinta.

“Oh yah! Gue inget,” pekiknya tiba-tiba, “lo yang sering ngintil-ngintil Tania, bukan?”

Ngintil?

Oh yah, jelas saja dia hanya memandangnya sebagai buntut Tania (sahabat Dea). Karena dari awal, memang mereka tak pernah saling kenal. Walaupun satu kelas dan sering nongkrong bareng. Tetapi, momen ini adalah kali pertama mereka bicara secara tatap muka. Walaupun Dea merasa sedikit kecewa, Ia mengangguk pelan.

Bibir Joshua menyeringai,”hmm.. lo tahu kan gue sering ngadepin situasi yang kaya gini. Maklum…,” ia berdehem, matanya juring(jungkir-miring), “anyway, kalo lo segitu ngototnya pengen jadi pacar gue. Lo, tentunya harus ngasih gue sesuatu… alasan menarik, kenapa gue harus nerima lo” terangnya panjang lebar.

Ingin sekali rasanya Dea angkat kaki dan sudahi saja ide konyolnya ini. Ia tidak yakin dapat menahan amarah terdalamnya pada cowok kurang ajar, manja, sok kegantengan! Ast#g*qm&jj! cih!

Lagi-lagi, Ia menghela nafas dalam-dalam. Hasratnya Ia kubur lebih dalam lagi, sambil memaksa senyum termanis. Ia berkata, “karena gue suka sama lo dari dulu. Dan gue pengen banget jadi pacar lo”

Pahit!… huek…!! pahit banget kalimat itu terasa di lidah Dea. Namun, ia terus memasang senyum palsunya, berharap cowok kepala sebesar jam ‘Big Ben’ itu mau percaya akan sandiwaranya.

Joshua tertawa. Orang gila itu tertawa. Dan Dea hanya mampu menatapnya pasrah. Ini lebih sulit dari yang ia kira. Ia tahu, rencananya tak akan pernah terwujud.

Setelah tawanya reda, Joshua mendekatkan wajahnya ke wajah Dea, hanya tersisa satu jengkal saja maka hidung mereka pasti bersentuhan. “baiklah gue mau. Tapi, ada dua syaratnya.” katanya menyeringai.

Mata Dea membulat, “syarat?”

Sungguh ia tak pernah menyangka Joshua bakal menerima tawarannya tersebut. Apapun syaratnya, ia akan berusaha menyanggupinya, ikrar Dea dalam hati.

“Pertama, Lo harus ada buat gue 24/7, tanpa protes ataupun menolak kemauan gue. Dan, well… syarat berikutnya hm… gue belum kepikiran. So, nanti aja lah,” katanya santai, “gimana, setuju?”

Dea menggigit bibir, “Gue emang pengen jadi pacar lo. Tapi jangan kira gue mau nurutin kemauan lo yang macem-macem ya,” mekanisme naluri seorang cewek muncul, “dikira gue cewek apaan!”

Sudahlah! Gugur sudah misinya sebelum beraksi. Apa mau dikata, cowok ini player dan benar-benar tak punya otak. Dasar kepala balon!

“Hei… hei… mau gue yang macem macem, maksud lo…” joshua menatap tanya raut Dea. Dea balik menatapnya sinis.

“Woah…. woo…” ia tertawa, “gue nggak nyangka pikiran lo ngeres juga yah, gile.. Eh, lo itu bukan tipe gue kali. Jadi tenang aja, gue nggak bakal ngapa-ngapain lo. Kaki aja pendek, body standar kebawah, muka pas-pasan, pake kacamata pula,” ia kembali tertawa nyaring.

Rasanya aliran darah Dea naik drastis ke ubun-ubun. Apa katanya?!

“But, kebetulan sekarang gue lagi pengen ber-title pacaran. So, gue putusin nerima pernyataan cinta lo. Itu pun kalo lo masih mau jadi pacar gue, ngeliat muka lo yang merah kepanasan gitu, kayaknya…” wajahnya dan nadanya sangat kentara meledek. Dea sadar itu. Dalam hatinya ingin berteriak, “persetan!”.

Ia jengkel, marah, jijik, kesal, bercampur menjadi satu. Namun, sekali lagi ia paksakan senyum semanis madu, seraya berkata, “ya tentu, gue setuju.”

“De, lo kemana aja sih? Dari kemarin dicariin nggak ada batang idungnya sama sekali,” tegur Tania, “bikin kawathir aja” lirihnya cemberut.

“Gu-”

“Trus kenapa handphone lo nggak aktif, he?” lanjutnya memotong Dea yang hampir aja nyeritain semua kejadian hari kemarin.

“Sorry, gue ketiduran. Kalo Hp-ku mungkin lowbet aja. Nggak gue non-aktifin kok,” Dea membela diri.

“Beneran?” selidik Tania. Dea mengangguk berkali-kali, meyakinkan.

“Hm.. okelah. kita ke kantin yuk, gue laper.” ajak Tania menarik tangan Dea, tepatnya menyeretnya yang sempat menolak gencar.

Saat Dea, Tania dan teman-temannya duduk di meja kantin. Dea menghembuskan nafas lega. Orang yang ia kira tidak ada disana. Tapi itu tidak berlangsung lama.

“Hei, jelek. Ambilin gue minum dong, haus nih” senggol suara yang sangat dihapalnya, pada pundak Dea sembari tangannya lincah mencomot french fries miliknya.

Dea mendongak, “Oi…,” plak. Refleks ia menampik tangan cowok kurang ajar itu.
“itu punya gue.” gerutunya melotot kesal pada Joshua yang kini sudah duduk manis di sebelahnya.

“Ambilin gue minum geh.” Joshua tak menggubris teguran Dea. Malah asyik menyender pada lengan Dea, sambil terus mencomot makanannya tanpa raut dosa sedikitpun.

Seperdetik, semua mata tertuju pada mereka (Dea dan Joshua). Tania dan teman-teman satu meja, menatap bisu. Segala aktivitas yang mereka lakukan tadi, seketika terhenti. Mulut mereka melongo dengan pasang mata penuh tanya. Sedang pasangan itu masih sibuk bertikai seolah suami-istri saja.

“Guys, lo liat apa yang gue liat kan.” celetuk Rey. Salah seorang teman Joshua.

Serempak, teman-teman lain ber-hem menanggapi arti dari maksud ungkapannya tersebut.

Joshua menghentikan tangannya. Dan mendongak pada wajah-wajah penasaran di depannya itu. Raut mereka persis seperti kucing hilang. Mengenaskan.

Tak tahan, Joshua tertawa sejenak, “Oh guys, kenalin ini Dea. Pacar gue.”

Ia mengenalkan Dea yang akrab dirangkulnya, tapi segera Dea menepis tangannya, melotot ke wajahnya.

“Gue rasa, semua indera tubuh gue eror. Mata gue ngliat hal yang mustahil. Dan sekarang, kuping gue denger hal yang lebih lebih mustahil lagi.” gumam Rey yang kembali disambung dengan “hemm,” oleh teman-teman lainnya.

“Mereka kenapa sih?” Joshua menaikkan sebelah alisnya.

“Tau.” Dea menimpali. Menggerutu. Tak nyaman dengan lengan berat Joshua yang tak mau nyingkir dari pundaknya itu.

Sesaat suasana menjadi hening. Hanya terdengar ingar-bingar kantin sekolah yang sibuk dengan urusannya masing-masing.

“Dea, temenin gue ke toilet yuk,” ajak Tania tiba-tiba. Kemudian tanpa menunggu respon Dea, ia langung menyeretnya keluar kantin.

“Jelasin.” hunus Tania pendek.

“Oh, eh… jelasin apa, Tan?” tanya Dea pura-pura bego.

“Udah. Akting lo nggak mempan ama gue. Sekarang jelasin atau gue nggak bakal lepasin lo sampe lo mau ngejelasin semuanya.” Lubang hidung Tania kembang kempis. Matanya tanpa berkedip menatap Dea seolah sahabatnya itu seorang kriminal yang seolah baru saja ketangkep basah ditengah aksinya.

Sepertinya kali ini, Tania bersungguh-sungguh. Dan kalo Tania sudah begini, apalah daya Dea tak punya pilihan, selain menceritakan semuanya. Ia mengenal sahabatnya itu.

Setelah Dea menceritakan kejadian hari kemarin juga mengiyakan kejadian barusan dengan sedikit polesan-polesan dusta dalam setiap baitnya. Akhirnya Tania tersenyum girang menyelamati Dea. Cewek itu bilang “Joshua memang ditakdirkan untukmu, De”

Sejujurnya Dea tak mengerti apa maksud kalimatnya itu. Tetapi, ia tanggapi pula dengan senyuman getir dan wajah sumringah (terpaksa). Ia juga merasa buruk. Ia tak jujur pada sahabatnya itu.

“De, gue mau ngomong bentar. Ada waktu?” tutur Dimas, salah satu sahabat terdekat Joshua.

Dea mendongak, mengangguk, lalu menyusul langkah Dimas yang sudah berjalan di depannya. Mereka lumayan akrab.

“De, kenapa lo lakuin semua ini?” tanya Dimas tho the point.

“Lakuin apa?”

“Gue nggak ngerti maksud lo, Dim.” Kening Dea mengernyit.

“Maksud gue. Kenapa lo pacarin Josh. Apa karena perkataan gue yang kemarin, yang ngebuat lo ngelakuin semua ini.” Dimas menatap Dea. Nadanya tegas, penuh keseriusan.

Glek. Dea menelan ludah. Apa Dimas sudah mengetahui rencananya? Karena memang benar, akar dari keputusannya ini adalah hasil dari info yang diraupnya dari Dimas, Seminggu lalu. Dimas tak sengaja menceritakan keadaan sahabatnya Tania yang tak dapat lepas dari jerat Joshua. Itulah mengapa Tania sering curhat, kadang sedih oleh hubungan rumit persahabatan di antara Josh dengan dirinya. Tania mengaku ia lelah dengan sikap Josh yang over protektif dan suka mencampuri urusannya. Tapi, ia juga sangat menyayangi Josh layaknya kakaknya sendiri. Dan mau tak mau dirinya hanya mampu menurut dengan sikap Josh yang kadang kelewat batas. Bahkan Josh membatasi cowok yang mencoba mendekati Tania.

Disitulah ide Dea muncul. Tanpa sengaja Dimas pula yang nyeletuk, “seandainya saja Josh punya pacar. Mungkin ia tak akan terlalu ngurusin Tania. Otomatis, perhatiannya bakal sibuk terhadap pacarnya, ya kan De.”

“Tania memang sobat gue, tapi Josh juga sobat karib gue, De. Gue nggak mau suatu hari Josh terluka. Karena lo cuma macarin dia dengan alasan tertentu.”

Jantung Dea semakin memacu. Lidahnya kaku tak mampu digerakkan.

“Please De. Bilang lo nggak punya niat buruk kan sama Josh.”

Niat buruk? Tentu saja-

“Tidak. Aku tak punya niat buruk terhadap siapapun.” Dea menjawab sejujurnya.

Memang ia tak berniat menyakiti siapapun. Ia hanya ingin sahabatnya bahagia. Mendapatkan seorang pria yang tulus cinta padanya, tanpa harus takut Josh mencampuri urusan mereka. Apa itu salah?

“Tapi, ini nggak masuk akal. Bukannya lo nggak suka sama Josh. Lalu, tiba-tiba kalian pacaran gitu aja. Sedangkan gue tahu siapa Josh. Dia nggak pernah pacaran sekalipun. Dan lo… dia… pokoknya hati gue nggak sreg aja, De.”

“Lo nggak mmm… jangan tersinggung ya. Gue cuma mastiin aja. Lo nggak mainin Josh, iya kan?” Selidik Dimas.

Otak Dea blank. Rasanya ia tak dapat berpikir apapun. Hatinya penuh tanda tanya. Sebenarnya apa yang sedang ia lakukan. Dan apa pula yang dibicarakan cowok di depannya ini. Ia tak mau berpikir, ia tak mau merasa. Pikirannya kacau, hatinya goyah. Ia merasa sangat buruk. Semakin buruk.

“Ya gue serius.” jawab Dea.

Dan berdosa.

To be continued….

Cerpen Karangan: Mella Amelia
Facebook: Mella Memey Seyy
Twitter: @SeyyMeasyha

Cerpen Terpaksa Kupacari Saja (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Yang Didambakan

Oleh:
Panggil saja Vea. Wanita kecil ini menyukai seorang pria yang kebetulan satu sekolah dengannya, yaitu Reno. Perasaannya mulai tumbuh kala masa MOS berlangsung, karena MOS itulah kali pertama mereka

10 November (Part 2)

Oleh:
“Aku membenci hal itu karena saat aku merayakan ulang tahunku pertama kali pada umur 14 tahun, di hari itu aku…” aku menghentikannya sejenak dan menahan air mataku agar tidak

Tak Harus

Oleh:
Ratusan buku tertata dengan rapi, begitupun dengan meja kursi yang sengaja dibuat untuk singgahan para pembaca. Terukir beberapa tulisan di dinding dinding yang membangun jiwa. Gadis itu masih terfokus

Serabi Layla

Oleh:
Seperti kaca cermin, air laut itu memantulkan sekawanan awan putih di antara gelombang-gelombang birunya yang menderu menuju bibir pantai. Sedangkan birunya langit di waktu sore itu seakan tak mau

Cinta Dan Kebohongan

Oleh:
Tepat tanggal 04 April 2016 nanti usiaku genap 22 tahun. Sebut saja namaku Allam asal yang entahlah saya sendiri pun bingung pasalnya kedua orangtuaku berasal dari Jawa Timur, aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Terpaksa Kupacari Saja (Part 1)”

  1. Jenny Ria Hartiwi says:

    Huah … bagus bgt ini cerpen , ayo kpn ada lanjutannya ?? kalau udah ada please kasih tau aku ya .. fb ak jenny ria hartiwi 🙂

  2. Iva says:

    Kok smpe skrg blum ada part 2-nya? Apa gak dimuat di cerpenmu.com lagi? Pdhl pgen bgt tw klanjutanx. Klo ada infox tlg dishare ya. Thanx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *