Terpleset Cinta di Lapangan Hijau (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 25 April 2017

“Assalamu’alaikum” aku dan Egi mengucap salam bersama. Kita saling pandang karena tak menyangka akan mengucap salam bersama. Kemudian aku membuka pintu.
“Wa’alaikumsalam.” Terdengar suara ayahku menjawab salam. “Eh, Nak Egi akhirnya main ke sini juga.” Sapa ayah pada Egi yang membuatku tercengang tidak menyangka jika ayah mengenalnya. Aku bingung memandang sikap ayah yang begitu akrab dengan Egi. Namun, Egi memandang bingung melihatku dan ayah bergantian. Ayah hanya tersenyum melihatku dan Egi seperti orang bodoh yang ditanya tidak tahu apa-apa. “Egi adalah anak teman ayah, Om Ripto. Ayah sering ke rumahnya jadi ayah tahu dan ayah Egi sangat sibuk jadi jarang main ke sini. Sudah tahu rumah Om kan, Gi? Besok jangan sungkan-sungkan main ke sini, ajari anak Om ini biar pinter kayak kamu.” Lanjut ayah sambil merangkulku dan menepuk bahuku. Egi hanya tersenyum dan melirik ke arahku. Tatapannya penuh tanda tanya.
“Yah, aku masuk dulu.” Pamitku pada ayah dan melempar senyum pada Egi. Ayah mengerti maksudku masuk ke dalam. Sudah menjadi kebiasaanku saat ada tamu menyegerakan untuk membuatkan minuman. Aku masuk memandangi seluruh sudut rumah. Aku mencari kakakku, dia kenal Egi pasti dia mau keluar jika tamunya ia kenal. Namun tak ada tanda-tanda kakakku ada di rumah. Entahlah.
“Silakan diminum biar nggak kehausan ngobrolnya.” Aku meletakkan minuman dan sepiring kue. “Yah, Mbak Fria ke mana kok nggak ada di dalam?” aku bertanya pada ayah sambil mengatur posisi dudukku di samping ayah.
“Tadi pamit ke rumah nenek setelah beres-beres rumah. Jangan ngambek, kamu kan udah nonton bola. Temani tamunya jangan keluar, ayah mau pergi dulu.” Ayah memang paling tahu jika aku ditinggal kakakku ke rumah nenek pasti ngambek dan nggak mau keluar kamar.
“Siap bos.” Ucapku sambil hormat seperti seorang militer yang diberi tugas oleh seniornya.
“Hati-hati Om. Besok main ke rumah ajak Ety.” Egi ikut nimbrung saja dan hanya disambut senyum ayahku. Kemudian ayah pergi dan hanya aku dan Egi. Aku benar-benar bingung mau mengawali pembicaraan karena aku memang tak bisa membuka pembicaraan. Seperti yang pernah kakakku katakan, aku sulit bersosial.

“Besok jadi latihan sepak bolanya?” Egi membuka pembicaraan.
“Pasti. Aku udah pengen nendang bola.” Jawabku singkat.
“Ty, mending kamu gabung aja sama tim cowok pas latihan biar lebih mudah dalam mempelajari. Kamu kan termasuk anak pinter, pasti bisa mempraktekkan setelah melihat.” Jelasnya mengajakku bergabung. Namun, aku bingung dan hanya garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Aku bingung karena jika aku bergabungpasti ada pacarnya. Dan jika aku latihan dia mengajariku. Apa ini tidak membuat pacarnya kebakaran jenggot?
“Mikirnya lama amat sih?Aku sama temanku nggak bakal ngerjain tenang aja.” Lanjutnya yang melihatku berpikir keras seperti menentukan hidup dan mati seseorang.
“Gini ya, Gi. Kamu kan punya cewek, kalo aku gabung latihan otomatis kita kan dekat. Apa nggak cemburu pacarmu?” aku menjelaskan keraguanku untuk ikut latihan timnya. Tapi, dia hanya tertawa mendengar kejujuranku. Ini menyebalkan.
“Tenang aja dia baik kok, dia bukan tipe cewek pencemburu.” Jawabnya sangat enteng dan tenang seperti tak punya dosa. Ternyata dia tak peka dengan wanita. Mungkin dia bukan tipe cowok setia. Dia playboy seperti pemain bola atau cowok pecinta bola lainnya. Seketika jawabannya membuatku mencoreng dia dari daftar cowok yang membuatku terkagum-kagum. Aku hanya mengangguk-angguk tanda mengerti dan menerima tawarannya untuk masuk. Jika dia putus, bukan masalahku karena aku sudah mencoba untuk menanyakannya. Setelah dua jam berdiskusi, dia berpamitan pulang. Aku mengantarnya sampai depan rumah dan menatapnya hingga ia tak terlihat.

Bel tanda pulang berbunyi. Aku dengan malas merapikan buku dan bersantai terlebih dulu di kelas. Aku ragu. Benar-benar ragu untuk mengikuti latihan sepak bola di lapangan futsal sekolah. Tapi, aku mengiyakan tawarannya. Tidak mungkin aku tak datang. Lagipula aku juga lupa membawa baju ganti. Aaarrggg menyebalkan.
“Et, kamu nggak pulang?” Tanya Rahma yang memperhatikanku sejak tadi dan diikuti April. Mereka adalah teman dekatku. Namun, aku jarang bercerita tentang cowok dengan mereka. Aku tak pernah bercerita pada siapapun tentang cowok yang kukagumi, terkecuali buku diary.
“Aku pulangnya nanti. Lagi males di rumah masih betah di sekolah.” Jawabku dengan tenang dan tersenyum dengan terpaksa.
“Seorang Ety masih betah di sekolah nggak salah dengar? Kamu kan pelor, bahaya kalau kamu tidur di sini.” Lanjut April yang khawatir dengan kebiasaanku yang suka tidur.
“Nggak akan.” Aku menekan kalimatku agar mereka percaya denganku dan segera pulang.
“Baiklah. Kita duluan, ya. Daaaaa.” Rahma dan April pergi meninggalkanku dengan mencubit pipiku kanan kiri sampai wajahku memerah. Aku memegangi pipiku. Tiba-tiba Egi datang kekelasku. Untung saja di kelas hanya ada aku.
“Ty, katanya mau latihan. Udah ditunggu sama teman-temanku, tadi aku blang sama mereka. Kamu diterima kok tenang aja.” Teriaknya di ambang pintu kelasku.
“Aku lupa bawa baju ganti.” Jawabku dengan malas dan memegangi pipiku yang memerah.
“aku bawa baju dua. Sudh kuduga kamu lupa bawa. Kamu kenapa pipinya kok merah?” ternyata dia kepo juga dengan pipiku. Dia meletakkan sepasang baju futsal berwarna biru di depanku.
“Nggak papa kok. Tadi dicubit temanku.” Jawabku dengan cemberut. Dan tiba-tiba dia duduk didepanku yang sebelumnya berdiri dihadapanku. Dia menatapku sambil senyum-senyum, aku tak tahu apa arti tatapan itu. Dan…
“Aaaaauuuu sakiiiiitt!!!” teriakku keras yang disambut tawanya. Dia mencubit pipiku yang masih merah.
“Kamu cantik kalo pipinya merah. Udah sana ganti baju. Aku tunggu di lapangan.” Teriaknya meninggalkannku sambil senyum-senyum. Aku merasa sangat jengkel karena paling tak kusuka saat pipiku dicubit. Tapi, ada rasa senang dicubit olehnya. Dia adalah cowok pertama yang mencubit pipiku, selain ayah dan saudaraku. Jantungku berdebar kencang serasa akan mendobrak tulang rusukku.
Aku tak mengganti bajuku. Dengan percaya diri penuh karena pipiku merah aku datang ke lapangan. Dengan tanpa dosa aku duduk di bangku penonton paling belakang. Di depan terlihat cewek yang kemarin. Mungkin dia yang namanya Septi, pacar Egi.
“Ty, kok nggak ganti katanya mau ikut latihan?” salah satu teman Egi bertanya padaku. tapi, malah Septi yang menanggapi karena hanya ada aku dan dia di bangku penonton. Sedangkan Septi tidak tahu jika di belakang ada aku. Septi menunjuk dirinya dan bingung merasa ditanya seperti itu. “Bukan kamu, Sep. aku kan panggil Ty bukan Sep. Aku Tanya Ety, itu di belakangmu.” Lanjutnya yang melihat Septi bingung ditanya seperti itu. Septi menoleh ke belakang dan kuberikan senyum termanisku sambil memegangi pipiku yang masih merah karena ulah Egi.
“Hari ini aku nonton. Nggak bawa baju.” Teriakku memegangi pipi yang di tertawakan Egi. Meskipun dia menahan tertawa tapi, aku tahu dia menertawakanku karena ulahnya tadi. Aku menutup muka dengan baju yang diberikan Egi.
“Itu baju siapa? Katanya nggak bawa baju.” Teman Egi lainnya mulai memojokanku. Aku bingung jawab apa. Bodoh sekali aku, baju ini malah kugunakan menutup muka bukannya dimasukkan dalam tas. Kulirik Septi melihat jam tangannya. Seperinya dia ada urusan lain.
“Aku duluan, ya!! Udah dijemput ayahku.” Teriaknya pada Egi dan teman-temannya. Mereka hanya tersenyum, mengangguk dan mengacungkan jempol. Kasihan sekali dia tidak dijawab. Setidaknya kata iya sudah membuatnya lega.
“Hati-hati, ya!” ucapku sok kenal dan melambaikan tangan. Dia hanya tersenyum. Setelah dia pergi Egi dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Aku bingung.
“Udah buruan ganti ayo kita latihan, katanya mau latihan!”
“Jarang-jarang kita baik hati!!!”
“Nggak usah takut!”
“Ayooo!!”
Mereka bergantian memojokanku untuk ikut latihan. Egi dengan santainya senyum-senyum sendiri. Ya, kali ini dia menang dan aku kalah dengannya. Aku berdiri dan melangkah menuju toilet wanita. Dengan gaya berjalan orang yang malas dan wajah merah kusut.

Aku bergabung dengan mereka. Ternyata mereka asyik dan benar-benar mengajariku dengan serius, terutama kapten. Ya, kapten Egi. Baru sehari aku latihan bersama mereka tapi, aku sudah sangat dekat dan akrab seperti keluarga. Kadang canda mereka membuatku kesal tapi, itu sementara. Aku tak bisa memasang wajah kusut terlalu lama di depan mereka karena mereka pasti akan menggodaku hingga aku tertawa. Itu menyebalkan, namun aku suka teman seperti ini. Aku merasa nyaman bersama mereka. Pantas saja Egi betah bersama mereka. Mungkin aku juga akan betah bersama mereka. Ini bukan lagi teman, ini adalah sahabatku, keluargaku.

Tak terasa sudah sebulan aku berlatih sepak bola bersama Egi dan teman-temannya. Sudah dua minggu ini Septi tak terlihat ikut nonton latihan. Yang ada Rahma dan April yang ikut nimbrung bersamaku. Dua temanku itu juga ikut bermain dan mereka juga memiliki rasa nyaman sepertiku. Tim ini bukan lagi pertemanan tapi, keluarga. Hari ini tidak ada latihan karena teman-teman Egi ada acara sepulang sekolah. Dan siang ini aku malas pulang lebih awal sehingga aku menyengajakan untuk mengerjakan tugas di perpustakaan agar aku bisa tidur lelap nanti malam. Setidaknya aku pernah mengisi absensi di perpustakaan.

Aku duduk di bangku pojok agar sepi. Kusiapkan handphone dan headset, kupasang di telinga kiri. Kukeluarkan buku-bukuku. Sebelum kubuka buku kulirik kanan kiri dan belakangku. Mataku berhenti setelah memergoki dua orang yang sedang berbincang serius dan sepertinya ada masalah. Mereka adalah Septi dan Egi. Saat aku menoleh ke arah mereka, Egi memergokiku melihatnya. Aku langsung saja mengalihkan pandangan dan memulai mengerjakan tugasku karena tujuanku ke perpustakaan adalah mengerjakan tugas, bukan untuk memata-matai Egi dan Septi. Tenang sekali aku mengerjakan tugas tanpa ada yang mengganggu. Matematika terselesaikan, meski tersisa satu nomor yang tak bisa kukerjakan. Saatnya tugas fisika yang kukerjakan. Lolos. Semua soal aku bisa kukerjakan. Dan terakhir adalah tugas Bahasa Indonesia, melihat bukunya sudah membuatku enggan mengerjakan. Kubuka tugasnya dan kubaca soal yang diberikan oleh guruku. Membuat cerita pribadi dari bangun tidur hingga tidur lagi dan minimal satu lembar. Aku benar benar malas mengerjakannya. Aku lebih memilih berjalan mencari novel. Tapi, tak satu pun kutemukan novel yang bagus. Aku kembali ke kursi pojok yang kutempati tadi. Ada lipatan kertas di atas bukuku. Siapa yang menaruhnya? Aku menengok kanan kiri dan tak ada orang yang kuakrabi. Kubuka lipatan kertas itu.

“Dibuat kerangka dulu. Bangun jam berapa? Apa yang dirasa? Kemudiang ngapain? Seterusnya hingga kamu tidur lagi. Pasti bisa kamu membuat cerita, masa sih anak pandai nggak bisa Cuma bikin cerita gituan kan mudah.”
“Sok tahu!! Bukan masalah nggak bisa atau bisa tapi, masalahnya aku nggak suka mata pelajarannya. Ihh… payah ni orang.” Aku mengoceh sendiri setelah membaca tulisan itu. Benar-benar memancing kemarahanku.
“Dicoba dulu, apa salahnya, Ty?” ternyata ada orang yang mendengar ocehanku. Aku membalikan tubuhku. Dan…
“Aku yang nulis. Sini, aku kasih contoh.” Dia mengambil bukuku dan menyobek kertas yang tengah. Kemudian menuliskan kerangka cerita dirinya dari bangun hingga siang ini dan mencontohkan satu paragraf dari kerangka terakhir.
“Oh, gitu ya. coba aku menulis kerangkanya dulu sama mengembangkan satu kerangkanya. Nanti kamu beri komentar ya!” aku memintanya menungguku mengerjakan dan sebenarnya aku ingin minta ajari dia mengerjakan tugas matematikaku yang tadi belum terselesaikan. Dia hanya mengangguk dan mengambil handphone dan headset-ku. Dia mengetik di handphone¬-ku dan memasang headset. Terlihat sangat menikmati lagu yang ia dengarkan dan aku menikmati tugasku yang menurutnya mudah.
“Ini sudah kukembangkan satu kerangka. Mohon tinggalkan komentar secara lisan!” ucapku menunjukkan bukuku seperti murid yang sedang les privat. Dia membacanya dan sesekali menanyakan tulisanku apa karena sulit dibaca. Sengaja tulisanku jelek karena nanti akan kuperbaiki lagi.
“Udah bagus kok hanya tulisannya saja yang jelek. Bahasanya juga sudah bagus. Ternyata kamu puitis ya, Ty?” menghina tulisanku dan memuji bahasaku. Sebenarnya aku ingin protes tapi, karena sudah diajari tak mungkin aku memarahinya.
“Sebenarnya tulisanku bagus, hanya saja karena ini masih latihan jadi, aku buat jelek saja.” Aku membela diri. “Kamu setelah ini mau ngapain, Gi?” lanjutku memastikan jika dia tidak akan pergi terburu-buru.
“Masih betah di perpustakaan. Mungkin sama sepertimu, mengerjakan tugas.” Dengan santai dan tanpa dosa dia menjawab pertanyaanku.”Kenapa? Mau ngajak futsal?” lanjutnya.
“Enggak kok cuma mau minta ajari ngerjain matematika kurang satu nomor. Aku nggak bisa.” Kupasang wajah kusut karena aku merasa tidak dianggap jadi anak yang rajin.
“Mana? Eh aku juga punya tugas matematika. Bantu aku mengerjakan ya!” dia tak mau rugi mengajariku. Padahal dia kakak kelasku. Aku heran mengapa aku harus membantunya? Apa aku bisa? Mengapa dia begitu percaya denganku? Apa dia tidak sadar bahwa aku adik kelasnya? Ternyata dia mengerti apa yang aku pikirkan. “Tugasku mudah, kalau kamu nggak bisa aku yakin kamu nggak rengking semester kemarin.” Lanjutnya enteng. Aku hanya menurutinya dan kuberikan tugas matematikaku. Dia membaca soalnya dan dengan telaten menjelaskan padaku. Ternyata hanya aku belum selesai mengerjakannya. Masih satu kali lagi mengalikan. Aku tertawa sendiri karena aku sebenarnya bisa hanya saja aku tak teliti membaca soal.
“Karena lapar mungkin jadi nggak teliti.” Aku membela diri. Tapi, memang benar aku lapar sekali. Kejujuranku ternyata membuatnya tertawa karena dua jam yang lalu waktu istirahat. Tak biasanya aku kelaparan. Padahal aku istirahat tadi tak jajan karena aku diminta guru matematika mengajari April hingga dia bisa. Aku kembali memasang wajah kusutku. Kemudian dia pergi ke loker tempat dia menaruh tas dan mengambil sekotak roti.
“Ini aku bawa makanan, biasanya aku makan sama Eko dan Yudi sebelum latihan. Berhubung nggak latihan jadi, kita aja yang makan. Kasian cacing di perutmu.” Ledeknya dengan menyodorkan sekotak roti padaku setelah ia mengambilnya. Ternyata dia juga lapar hanya saja aku sangat lapar. Dengan lahap aku dan Egi memakan roti yang dibawanya. Setelah habis, aku disuruh mengerjakan tugas matematikanya dan dia mengerjakan tugas Kimia.
“Gi, kenapa kamu tak meminta Septi yang mengerjakan tugasmu kan sekalian ngajarin dia biar bisa.” Aku memecah keheningan setelah mengerjakan lima nomor. Ternyata Egi kaget dengan pertanyaanku. “Maaf, bukan maksudku untuk..”
“Aku baru putus tadi. Dan selama aku pacaran dengannya sekalipun aku belum pernah belajar bersamanya.” Ucapnya memotong kalimatku. Aku hanya bisa diam mendengar penjelasannya. “Kamu tahu, kenapa aku putus dengannya?” aku hanya diam dan menatapnya mencari jawaban. Namun, nihil. “Sejak kamu, April, dan Rahma ikut latihan dia merasa tak dipedulikan lagi. Jadi, dia tak pernah datang saat aku latihan. Padahal, kamu tahu sendiri, teman-temanku sejak awal tak menyukai dia. Namun, dia tetap menyalahkanku karena cuek dengannya. Jadi, lebih baik aku memutuskannya. Toh, aku sadar tak ada untungnya aku berpacaran dengannya. Belajar bersama tidak pernah, karena dia cantik juga tidak. Mungkin aku saat itu khilaf menyukai dia. Aduh, kenapa aku curhat?” Tak sadar ternyata dia sudah menceritakan semuanya. Aku mengangguk-angguk tanda mengerti dan melanjutkan mengerjakan tugas matematikanya.
“Kamu udah pernah pacaran belum? Sepertinya aku belum pernah melihatmu seperti orang pacaran.” Dia mulai menyelidikiku. Ake sedikit kaget, tak kusangka dia menanyakan hal itu padaku. karena biasanya saat cowok menanyakan hal itu, tandanya ia akan mengungkapkan cinta padanya. Itu hanya dalam cerita yang sering kubaca sih.
“Belum pernah. Belum ada cowok yang membuatku tertarik padanya.” Jawabku asal-asalan yang membuat dia tertawa. Aku bingung. Apa yang lucu?

Cerpen Karangan: Ety Wahyuningsih
Facebook: Ety Wahyuningsih

Cerpen Terpleset Cinta di Lapangan Hijau (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senja Di Sudut Kota Jogja

Oleh:
Terdengar suara azan magrib berkumandang, mengajak kita umatnya untuk meluangkan waktu dan mendekatkan diri pada sang pencipta. Kala itu aku berjalan sendiri menyusuri kota jogja, dengan sebuah sarana transportasi

Butiran Dandelion

Oleh:
“Faizal, bunganya sudah Ibu siapkan di meja!” “Iya! Makasih, Bu!” segera pemuda itu melangkahkan kakinya dengan cepat ke luar kamar, lengannya menyambar sebuket bunga berkelopak mungil warna kuning cerah

Tangisan Pilu Dukaku

Oleh:
Ilalang malam membingkis kegelapan membentangkan mimpi di dekapan jiwa, Menyisahkan puing-puing duka yang terselip di balik doa. Lagu sendu menjelma dalam muara tangis, celoteh buih jeritan sakal musnah tenggerai

Selamanya

Oleh:
Aku membuka mata dengan perlahan-lahan tapi entah mengapa berat sekali rasanya membuka mata ini. Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur di ranjang ini tapi yang kuyakini adalah aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *