Terserah Wenna

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 31 December 2016

“Ayo Mas!” ajak Wenna pada seseorang yang sedari setengah jam lalu stand by di atas ‘motor gede.’
Mereka pun melintasi banyak desa.
“Dek, rumahnya masih jauh?” tanya lelaki itu -Mas Gagas.
“Bentar lagi kok, itu ada janur kuning,” Wenna menunjuk ke arah 200 meter ke depan.
Ini sudah ke-5 kalinya Wenna mengajaknya Mas Gagas ke resepsi pernikahan.
Kapan ya Wenna nikah? tanya Wenna dalam diam. Seperti Sisri, Tari, Ning, Reni, Siti, Wenna menerawang.

“Dek Mas ke Jakarta ya?”
“Buat apa? kenapa?”
“Mas mau cari uang, untuk kita nikah Dek.”
“….” Wenna tarharu.
“Setelah uangnya cukup. Mas akan lamar Adek, dan bikin resepsi pernikahan,” imbuh Mas Gagas.
“Tapi…?” Wenna terhanyut, berkaca-kaca.
“Mas akan sering telepon Adek, Mas akan selalu ingat tujuan kita, impian-impian kita.”
Wenna benar-benar terbawa suasana. Mas Gagas yang selalu di dekatnya akan jauh.
“Bagaimana rasanya nanti?” Wenna menatapnya lekat, Wenna takut, Wenna tak mau rindu, Wenna tak mau menunggu, menunggu dan menunggu.
‘Wenna tak mau!’ jerit batin Wenna pilu.

Wenna memandang iri ke arah Luna, tetangga sekaligus teman sekampusnya. Luna begitu bahagia bersama pujaan hatinya.
“Aku rindu Mas Gagas,” keluh Wenna.
Untuk puluhan ribu menit Wenna memendam rindu, ingin rasanya menjerit dan katakan “Mas Gagas!!!”

Masa itu Wenna lalui dengan separuh semangat, seakan ada yang hilang. Selalu ingin seperti orang-orang yang leluasa dapat berjumpa dengan yang dicintai.
“Kapan Mas pulang?” pesan itu Wenna kirim ke ID ‘soulheart’.

Hingga sepuluh bulan yang menyesakkan berselang, setelah sekian lama menderita kerinduan akhirnya terobati dengan pertemuan. Mas Gagas pulang.
Gagas kembali menjadi tetangga Wenna yang hanya berjarak lima rumah. Kembali bekerja di tempat teman ayah Wenna dan kembali lagi dengan kesibukannya -menjemput Wenna pulang kuliah.

Wenna benar-benar bahagia, tak ada lagi rasa iri pada Luna, tak ada lagi kerinduan.
Hidupnya penuh semangat, selalu memasang gigi empat, Wenna benar-benar menikmati.
Hingga akhirnya, “Apa…?!” Wenna terperanjat kaget tatkala Gagas memberinya dua pilihan.
“Nikah atau kuliah?” Wenna sungguh tak menyangka kalau Gagas memposisikannya pada pilihan sulit.
“Dek, nikah sama Mas! Tapi, berhenti kuliah ya?”
“Kita akan hidup bersama.”
“Biar Adek bisa total ngurus Mas”
Semua kata-kata itu membuat Wenna bimbang.
‘Cita atau cinta?’ tapi, Wenna sangat menginginkan keduanya. Pilihan itu terasa sangat menyesakkan

“Mana undangannya?”
“Ciye… yang mau nikah.”
“Wenna, kamu kenapa gak bilang kalo ada rencana nikahan?”
“Kamu pesan bridal di tempatku aja ya!”
Aneka ucapan itu membuat Wenna bingung. Benar-benar heran kenapa teman-teman selalu menodongnya dengan pertanyaan dan pernyataan bertipe nikah.
“Mengapa mereka semua begitu?” Wenna berpikir sejenak, menebak siapa dalang di belakangnya.
“Siapa…?”
Seketika pandangan Wenna tertumbuk pada Luna yang tengah ber-hot spot-an di bawah mading kampus. Seseorang yang paling pas dicurigai.
“Luna? Kamu…” suara Wenna tertahan, Luna menatap.
“Sorry Wenna, waktu itu Aku emang pernah bilang sama temen sekelasmu, tentang rencana nikahmu. Tapi, Wenna… tapi Aku, gak tahu kenapa bisa jadi seheboh ini.” Suara Luna lirih, lambat dan pelan -Luna menyesal.
Dan Wenna benar-benar stres tatkala gosip itu tidak hanya tersebar di kampus namun, di lingkungan tempatku tinggal pun, topik itu sedang hangat.

“Dek ayo kita nikah! Mas gak enak sama para tetangga, mereka sudah tahu tentang rencana kita.”
“Mas juga gak enak sama ortu.”
“Umur Mas dah 29 Dek.”
“Adek nikah sama Mas ya…!”
Dan Wenna mendelik ketika Mas Gagas sampai pada kalimat, “Mumpung baru semester dua Dek…, tinggalin aja!”
Wenna hanya diam mendegar semua kalimat-kalimatnya. Sebuah dilema. Antara kuliah atau Mas Gagas?

“Maaf, tapi Adek pengen kuliah,” Wenna berkata berat di hadapan Mas Gagas tatkala waktu telah berselang dua minggu semenjak gosip-gosip itu beredar.

“Maaf…” Wenna menundukan kepala.

Cerpen Karangan: Kunti Zakiyah
Blog / Facebook: Kuntized.blogspot.com / fia Afiaa
Tinggal di tanjungmeru, kutowinangun, kabupaten kebumen

Cerpen Terserah Wenna merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


A Series of Ropes

Oleh:
Ini adalah awal dimana kita tidak saling mengenal. Dan butuh waktu lama untuk kita saling mengenal. Masih terlintas memori saat aku mengirimi kalimat dalam sebuah pesan. Tentu, untuk seorang

Solena

Oleh:
“Dia lewat!” Teriak Jeje sembari mengguncang-guncangkan lenganku. Aku menoleh ke arah yang sama dengan Jeje. Mataku terpaku pada sosok yang telah kudambakan selama ini. Dintar. Ya, Dintar lah nama

Pria Yang Sangat Ku Cinta

Oleh:
Pagi yang cerah 20 maret 2014, sebut saja nama ku iva, aku memiliki kekasih fodi. Kita berpacaran 15 bulan lebih 7 hari. Awal pertemuan kita 1 desember 2012 saat

Dulu

Oleh:
Ini tanggal dua puluh dua di bulan september, tahun dua ribu tiga belas pastinya… Dulu, dalam ruang lingkup waktu yang telah berlalu, kita pernah bersama.. Walau tidak pernah berdua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *