Tersisa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 6 October 2017

Matamu memandangku seperti orang yang sedang menonton adengan klimaks. Berkediplah, matamu perih nanti. Kita masih terpaku satu sama lain, mencoba menganalisa apa yang terjadi selama ini.
Ada yang aneh darimu. Kau tidak berubah, maupun itu mata, hidung atau mulutmu. Kau seperti album berjalan.

Dua kata pun keluar dari mulutmu, kata yang kutau pasti kan kau ucapkan, tapi tak secepat ini. Dengan matamu yang berusaha untuk tenang dan mulutmu yang sedikit bergetar “kau berubah”. Tanpa kusadari kerutan di keningku pun muncul. Entah apa yang terjadi dengan syaraf-syaraf tubuhku. Aku lumpuh.

Sedang terjadi medan perang di dalam tubuhku. Keinginan yang ingin mengalahkan logika. “maaf, aku tidak sopan”. Jangan! Jangan bicara sepatah kata pun! Tolong. Kau hanya menambah minyak ke dalam api! Keringat melewati kulitku satu persatu, tak terlalu terlihat tetapi terasa. “kamu sakit? Mau aku antar pulang? Sejak tadi kamu diam saja.” cukup, aku tak kuat lagi.

Air mengalir di pipiku, hangat. Kamu terlalu baik, kesabaranmu membuat mulutku terkunci rapat. Aku takut kata yang keluar dari mulutku menyakitimu lagi, kamu terlalu suci untuk ada, kamu bukan manusia. “aku tidak apa-apa” ucapku pelan, sepelan awan yang berjalan mengikuti angin. Kau kaget bercampur senang, bukan karena jawabanku, tetapi karena aku menjadi rekan obrolanmu.

“kamu yakin?” Kamu bertanya seperti anak kecil yang bertanya apakah benar satu tambah satu itu dua. Tidak, aku tidak yakin, malah aku tidak tahu apa aku yakin atau tidak. Aku sakit, tidak ada satu orang pun yang bisa menyembuhkan penyakit ini. Penyesalan ini terlalu besar.

Tapi kamu tahu apa? Kamu bagaikan satu-satunya bunga di padang rumput. Banyak yang ingin menodaimu dan aku tak menyangka aku menjadi yang pertama. Kamu adalah alasan untuk penyesalanku. Air mata ini semakin banyak, aku menahan semampuku, manampung lautan di kantong mata kecil ini. Tapi kamu menghancurkan rencanaku, kamu curang.

Kamu berjalan ke arahku dengan ringannya, dan dengan lugu memegang tanganku yang sudah mempunyai tanda kepunyaan. Kamu meratapinya, tapi tidak ada kulihat kesedihan di matamu, melainkan kelegaan, dan aku tahu apa yang akan terjadi.

Dengan ciri khasmu sebelum berbicara kamu seperti menelan sesuatu, “aku memaafkanmu, bahagialah, agar aku pun juga bahagia”.

Semua keraguan dalam tubuhku hilang, tubuh ini kaget dengan suasana ini, api yang selalu ada selama ini tiba-tiba hilang disiram oleh hujan yang deras. Pertahananku hancur, kukeluarkan semuanya, kamu hanya memelukku dan aku pun bisa merasakan rintik hujan terjadi pada dirimu, aku mengerti, kamu sudah melalui badaimu.

Aku tidak menunggu hujan ini reda, karena ada kamu menjadi tamengku. Dan setelah itu, semuanya hilang hanyut dibawa arus.

Tanpa ada yang tersisa.

Spring, 2017
AS

Cerpen Karangan: Angel S
Hobi untuk Membuat karangan yang dapat menghibur dari segi hati ataupun pikiran.

Cerpen Tersisa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Do, Nata!

Oleh:
Aku tersadar dari kegelapan yang entah berapa lama mengedap di mataku. Dan saat itu ketika pusing menyerangku, tiba-tiba jemari seseorang membuka kelopak mataku, dan memeriksannya dengan sebuah senter kecil

Cinta Datang dan Pergi

Oleh:
Hari itu, adalah hari paling buruk yang dimiliki lala. Dia menyaksikan orang yang dia suka menembak sahabatnya sendiri. Dengan hati hancur dia pulang ke rumah, mengunci diri di kamar

Askar

Oleh:
Untuk masalah cinta, kita bisa memilih siapa orang yang ingin kita cintai, siapa orang yang ingin kita jadikan teman hidup. Tapi pada kenyataannya kita tak bisa mengelak ketika si

Selalu (Part 1)

Oleh:
“Jangan beri pupuk atas cinta yang tak pantas ini. Jangan beri harapan kepada rasa yang tak wajar ini,” – Keena untuk Nubie. Gadis itu duduk termangu di seberang sungai

Ketika Rasa Dipertemukan

Oleh:
Waktu… seperti sungai, selalu mengalir, meskipun kita menyentuh air sungai tersebut, tak akan sama dengan air sungai yang pernah kita sentuh sebelumnya. Air sungai itu akan terus berlalu dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *