Tetangga Jadi Pacar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 5 August 2016

Aku tidak begitu percaya dengan karma, namun aku percaya bahwa semua pasti ada balasannnya, walaupun bukan kita yang membalasnya bisa jadi orang lain yang jadi pelantaranya. Seperti yang sering orang katakan, bahwa “orang akan memuai apa yang ia tanam” itu memang benar menurutku. Sekian lama aku dan Reyhan bersama, namun dia meninggalkanku demi wanita lain. Rasanya seperti terbuang sia-sia. Tidak, aku tidak akan mendoakan hal buruk untuknya, karena pasti doa itu akan berbalik kepadaku. Aku hanya menyakini bahwa akan ada balasan atas perbuatannnya itu. Reyhan menganggap masalah ini sepele, memang benar meninggalkan seorang perempuan soal biasa namun alasan meninggalkannya lah yang menjadi masalahnya.

Tidak, aku tidak sampai gila seperti mereka yang kehilangan kekasih. Aku hanya menunggu, menunggu melihat dia merasakan akibat dari perbuatannya. Apa yang aku tunggu sepertinya terjadi. Aku mendengar tentang reyhan dari teman-temannku, kalau dia ditinggalkan kekasihnya karena pria yang lebih tampan dan kaya darinya. Aku rasa reyhan akan mencoba mendekatiku, memang benar sekali, dia datang ke rumahku. Ibuku tidak mengetahui aku dan reyhan sudah putus, sehingga dia mempersilahkan masuk. Ibu memanggilku turun dari lantai atas.

Aku menghampiri lelaki itu, ibu pergi meninggalkan kami.
“Bela, aku ingin minta maaf. Aku menyesal” ujarnya memandangiku
“Aku sudah memaafkanmu.”
“Syukurlah, aku sangat menyesal bel. Aku ingin kita sama-sama lagi.”
“Maaf aku tidak bisa.”
“Kenapa bel? Apa ada laki-laki lain?”
“Aku hanya tidak ingin mengulang hubungan yang membuatku terluka.”
“Tapi bel.”
“Aku ingin berkata, perempuan selalu setia kepada satu laki-laki tapi kenapa laki-laki tidak bisa setia kepada satu perempuan?” Ucapku memotong pembicaraannya
“Aku minta maaf bel”
“Sudahlah, kamu pulang saja. Kamu hanya ingin minta maaf kan, sudah aku sudah memaafkanmu.”
Reyhan pun pulang tanpa berkata, aku juga bisa melihat kekecewaan dan penyesalan di wajahnya.

Aku masuk salah satu unversitas di daerah Bandung. Hari-hariku menyenangkan karena punya banyak teman. Waktu itu dosenku tidak masuk, namun asistennya yang masuk. Dia sangat tampan dan yang pasti dia pintar. Dia bernama tedi atau pak tedi atau kak tedi. Dia pendiam, memang dosen atau asisiten dosen sifatnya dingin menurutku, begitu juga dia. Aku mulai menaruh rasa padanya, karena berkaca pada pengalaman. Bahwa mantanku yang bernama Reyhan itu orangnya mudah bergaul, begitu juga dengan perempuan. Jadi mudah untuk mendua dan meninggalkan kekasihnya. Tapi, tipe orang seperti kak tedi ini rasanya tidak mungkin menyakiti seorang perempuan.

Tidak sengaja aku mendengar pembicaraan mahasiswa lain
“Kau tau pak tedi itu, masih semester 4 namun sudah menjadi asisten dosen. Hebat yah dia, sudah tampan cerdas lagi.” Mendengar itu aku semakin tertarik kepadanya. Aku selalu berdoa, semoaga dosenku itu jarang masuk, sehingga kak tedi yang masuk. Keberuntungan berpihak kepadaku, hari itu kak tedi lah yang masuk. aku tersenyum kepadanya ketika tak sengaja dia melihat ke arahku. Jam nya berakhir, kak tedi keluar. Kami pun keluar dari kelas. Aku berjalan di kampus menuju kantin, karena aku lapar. Brukk, aku tertabrak seorang laki-laki. Kacamataku terlepas aku tidak bisa melihat dengan jelas, karena minusku besar. Aku mencari kacamataku, ada tangan berkulit putih dan memakai jam tangan menyodorkan kacamata ku. Aku memakainya, “terimakasih” terlihat kak tedi yang di depanku. “Maaf aku sedang buru-buru” ujarnya. Aku hanya tersenyum.

Aku sedang menunggu taksi di jalan, karena kakakku tidak bisa menjemputku karena ada urusan yang mendadak. Mobil sport berwarna merah terang menepi ke arahku. Kacanya terbuka, ternyata kak tedi yang ada di dalam mobil itu. “Kau sedang apa?” Ujarnya
“Aku sedang menunggu taksi kak.”
“Naik sini, sepertinya akan hujan”
“Tidak usah kak”
“Tidak masalah ayo, disini taksi jarang lewat. Naik saja.”
“Makasih kak”
Aku segera membuka pintu belakang mobil
“Di depan saja”
Aku hanya menunduk.

“Aku minta maaf, tidak sengaja menabrakmu tadi di kampus” kak tedi mengawali pembicaraan
“Tidak apa-apa kak, saya juga salah terlalu terburu-buru.”
“Oh iya, siapa nama kamu?”
“Saya Bela kak.”
“tidak usah terlalu resmi, aku hanya beda satu tahun denganmu. Jadi santai saja.”
“Iya kak” tersenyum tipis kepadanya

“Itu, rumah aku di depan kak” ujarku
“Oke”
“Makasih kak, maaf sudah membuatmu repot.”
“Santai saja, aku tidak merasa repot kok. Lagian rumahku di sini.”
“Dimana kak?”
“Di sebelah rumahmu”
“Ya ampun, kita tetanggaan. Tapi aku jarang melihat kakak.”
“Aku jarang ke luar rumah, tapi aku sering melihatmu.”
“oh iya kak, ayo masuk dulu ke rumah”
“Tidak usah, lain waktu saja.”
“oh gitu, makasih ya kak”
Kak tedi hanya mengangguk dengan tersenyum.

Aku masuk ke kamar, untung saja ibuku tidak ada di rumah. Jadi aku tidak perlu malu, karena dia tidak melihat laki-laki yang mengantarku pulang. Aku bahagia, sangat bahagia. Untuk pertama kalinya aku merasa nyaman dengan sosok laki-laki setelah reyhan.

Sejak dia mengantarkan ku pulang, hampir setiap hari dia mengantarku pulang. Aku sudah sangat nyaman bersamanya. Ibuku sudah mengetahui kedekatanku dengan kak tedi, jadi aku tidak menjelaskan kepada ibuku itu ketika kak tedi datang ke rumah. Yap, dia datang ke rumah. Bukan untuk makan, bukan untuk main, melainkan untuk mengajarkanku. Tapi aku pun tak tahu apa yang sebenarnya ia pikirkan, entah tujuannya apa dia mengajarkanku, padahal aku sudah bilang kepada kak tedi kalau aku sudah faham dengan materi yang ia sampaikan. Tapi tetap saja dia berkata kalau dia harus mengajarkanku di luar jam kuliah. Menurut ibuku, kak tedi punya maksud lain datang ke rumahku. Entah untuk main atau apa, “kenapa hanya bela yang belajar di luar jam kuliah, kenapa yang lain tidak?” Begitulah kata ibuku. Entah aku yang terlalu kegeeran atau bagaimana, tapi aku merasa asisten dosenku itu menyukaiku.

Aku sedang makan siang di sebuah pusat perbelanjaan, kebetulan kami merasa lapar saat itu. Kami habis membeli sebuah novel terbaru karya penulis terkenal. Hobi kita sama, yaitu membaca.
“Udah makannya?” Ucapnya menaikan alis. Aku hanya mengangguk
“Boleh ngomong serius?” Ucapnya yang lagi-lagi menikan alisnya tetapi kali ini dia tersenyum miring.
Aku hanya mengangguk, dan tersenyum miring.
“Bel, sudah 1 bulan lebih kita kenal. Bukan hanya sekedar teman, tapi rasanya aku menganggapmu lebih dari itu. Untuk pertama kalinya aku suka sama cewek, yaitu kamu. Baru kali ini aku berbicara seperti ini kepada cewek. Bel, kamu mau enggak jadi pacar aku?”
“Seperti ini kak. Aku nyaman berada di dekat kakak. Tapi mungkin kalau untuk menjadi pacar perlu waktu untuk berfikir, kenapa? Karena aku punya pengalaman buruk tentang pacaran.”
“Ya sudah kalau begitu. Kakak tunggu jawabannya besok ya bel. Bisa kan?” Ujarnya tersenyum.
Aku mengangguk.

Malam yang sunyi dan dingin. Otakku masih bekerja, berfikir mengenai pertanyaan kak tedi tadi siang. Tidak bisa dipungkiri, aku juga sangat mencintainya. Namun tak bisa dipungkiri juga, ada rasa takut akan dikhianati seorang laki-laki. Aku rasa memang kak tedi tidak akan melakukan itu, tapi bisa saja itu terjadi kan? Pikiranku sudah matang, aku akan menerimanya. Jika memang pengalaman buruk itu lagi-lagi terjadi, insyaallah aku bisa tabah menghadapinya.

Seperti biasa, kak tedi menungguku di taman. Dia duduk memakai kacamata miliknya dan membaca sebuah novel, novel yang baru saja kemarin dia beli bersamaku. Aku menghampirinya,
“Mmm maaf, lama ya kak?”
“Enggak kok, sini duduk dulu sebentar.” Menyentuh bagian kursi taman yang kosong. Aku pun segera duduk.
“Bel, udah ada jawabannya?”
“Mmm, udah kak.”
“Apa?”
“Tapi jangan marah ya kak. Aku tidak bisa, aku minta maaf.” Aku mulai berkaca-kaca.
“Ya sudah tidak masalah, kita masih bisa berteman kan?”
Aku mengangguk.
“Kak, maksud bela. Tidak bisa nolak.” Aku pun tertawa tebahak-bahak. Dia mencubit pipiku dan segera memeluku.
“Dasar belaaa, bikin kakak jadi sedih tadi.” Ucapnya tertawa
“Mmm, maaf ya kak.”

Pacar itu tak harus jauh, tetangga pun bisa jadi pacar kita. Tidak usah khawatir dengan masa lalu yang kelam, karena ada masa depan yang insyaallah lebih terang dari masa lalu.

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita melviany

Cerpen Tetangga Jadi Pacar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


When You Love Someone

Oleh:
When you love someone Just be brave to say That you want him to be with you Mengakulah hal yang tersulit dalam cinta adalah sebuah pengakuan. Pengakuan tentang perasaan

Mas Tegas, Hanya Untuk ku

Oleh:
Pagi itu, Aku berangkat dengan sepeda matic ku, dari rumah menuju sekolah pertamaku tingkat SMA, masih dengan seragam putih-biru ku dan cara dandan yang masih kanak-kanak, maklum lah.. baru

Sebatas Kenangan Terindah

Oleh:
Hai.. perkenalkan namaku Ika, hari ini adalah hari pertamaku mengikuti masa pengenalan kampus, kebetulan Aku adalah peserta calon mahasiswa salah satu universitas di kotaku. Seperti biasa dalam sebuah kegiatan

This Is Us

Oleh:
Sebelumnya gua gak mau cerita, tapi karena loe mau baca yah sudah lah gua juga gak akan memaksa. Kenalin nama gua feri gua anak pertama dari 1 saudara… maksudnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *