Tetaplah Bersamaku (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 7 April 2016

“Assalamualaikum.” ucapku sembari mengayunkan tangan, membuka pintu. Betapa kagetnya aku saat mendapati ada Kak Danang beserta keluarga besarnya di sana. Ibu dan bapakku pun tersenyum kala menjemputku di depan pintu. Sempat terjadi kontak mata antara aku dan Kak Danang, namun tiba-tiba ibu menarikku lalu berkata, “Cepat mandi nduk, ganti baju. cepet.” aneh, tak biasanya ibuku tergesa-gesa seperti itu. Meski sebenarnya hatiku telah menerka apa yang sedang terjadi, namun rasa tidak percaya menutup semua terkaanku. “Ayo nduk, cepet. Udah kedepan sana.” sekarang jadi bapak yang panik, apa sebenarnya semua ini.

Ketika aku telah duduk di tengah kedua orangtuaku, aku menatap sekeliling dan berpikir tentang terkaanku tadi hingga tiba-tiba lamunanku buyar saat dengan bijaksana dan berwibawa Kak Danang berkata, “Bapak dan Ibu Mansur yang saya hormati, kedatangan kami sekeluarga kemari tak lain adalah dengan tujuan silaturahmi dan dengan sangat rendah hati kami sekeluarga juga hendak menyampaikan maksud untuk meminang putri Bapak dan Ibu Mansur yang bernama Nia Fikri Tsabitta. Mohon dengan keikhlasan hati Bapak dan Ibu Mansur kiranya menjawab maksud dan tujuan kami sekeluarga.” saat itu tak kuasa ku menahan air mata haru, kaget dan bahagia berbaur menjadi satu.

“Kami sekeluarga mengucapkan selamat datang kepada Nak Danang sekeluarga, juga terima kasih atas maksud dan tujuan baiknya.” Saat itu tangan bapak memegang erat tanganku, menunjukkan bahwa bapak tahu gejolak hatiku. “Kami, sebagai orangtua hanya akan memberikan pertimbangan kepada Nia, keputusan akhir tetap pada tangan Nia karena kami yakin, Nia sudah mengerti tentang apa yang harus ia putuskan.” Bapak dan ibu mencoba mengenal lebih jauh Kak Danang beserta keluarga sedangkan aku sibuk dengan menjaga perasaan, pasrah kepada Allah atas apa yang sedang terjadi.

“Nia, bagaimana? Siapkah dengan jawabanmu hari ini nduk?” pertanyaan ibuku yang halus namun begitu membekas.
Sebelum sempat ku jawab, bapak membelaiku seraya berkata, “Tawakkal nduk.”
“Bismillah, insya Allah saya siap dengan jawaban saya.” seketika semua mata tertuju padaku pun juga kedua orangtuaku. “Bismillah, khitbah Kak Danang saya terima.” di tengah kesyukuran kami, air mata ibuku menetes tanda bahagia. “Tapi saya mau Nia selesaikan dulu S2-nya.”

Bukan aku yang meminta, justru Kak Danang yang ingatkan aku untuk menyelesaikan kuliahku terlebih dahulu. Ya Allah terima kasih untuk segala limpahan karunia-Mu. Dan aku kembali ke Jogja berjangka waktu hingga wisuda, kemudian mengabdikan diri untukNya dalam ikatan yang halal. Insya Allah sekembalinya aku ke kota pelajar, ku bagi kebahagiaanku kepada sahabatku Nadine, ia pun merasakan apa yang saya rasakan.

“Iih, Alhamdulillah deh Ni.. aku ikut seeneng.” Sambut Nadine setelah mendengarkan ceritaku.
“Iya, doain ya Dine.. semoga kuliahku cepet selesai terus pulang. Hehe.”
“Aih, doain aku pula biar cepet nyusul.”
“Saling doain deh pokoknya, udah yuk tidur.. besok harus ngampus kan.”

Aku menjalani hari-hariku penuh semangat, berpacu dengan waktu demi cita-cita dan cinta. Ku pikir dengan jaminan khitbah Kak Danang padaku akan menjamin segalanya, tapi ternyata jalanku tak semudah apa yang ku bayangkan. Masalah demi masalah datang bertubi-tubi, mulai dari teman-teman yang datang menyampaikan maksud hati mereka padaku, padahal sebelumnya aku bukanlah mahasiswi idaman di kampus. Tak main-main, yang mendekatiku pun adalah top kampus seperti Kak Irwan, ketua senat, Kak Ilham ketua rohis, bahkan Pak Anwar, yang disebut sebut sebagai dosen termuda di UGM pun tak ketinggalan mendekatiku.

“Nia, aku boleh minta tolong?” Ungkap Kak irwan kepadaku, namun karena aku belum tau maksud hatinya kepadaku, aku pun menanggapinya dengan wajar.
“Iya, kak. Ada apa?”
“Ikut saya ke perpustakaan kota ya?”
“Sekarang?”
“Iya, sekarang.”
“Baiklah.”

Tak ada kecurigaan sedikit pun saat itu, karena aku pun sama seperti mahasiswa lainnya yang menaruh hormat kepada sosoknya yang berwibawa sebagai pimpinan senat tetapi yang terjadi sungguh di luar dugaanku, dengan lugas ia mengungkapkan isi hatinya padaku di tempat di mana teman-temanku sering berkumpul di sana, meskipun jawaban yang ku layangkan padanya adalah tidak, namun kabar burung beredar di seantero kampus bahkan sampai kepada Kak Danang.

“Apa kabar kamu? Katanya pacar baru ya? Ciyee.”
“Kakak apaan sih, siapa yang bilang?”
“Alah, tahu kok.. yang nembaknya di perpus kan? udah lah nggak apa-apa, pacar doang asal nggak ditinggal nikah aja aku.. hahaha.” Aku tahu ia sedang bercanda namun itu sangat menyakitkan bagiku, maka jawabanku pun seolah penuh rasa sakit padanya. “Haha. Aku ya? Kakak kali yang nikah duluan. Udah ah, cape. Assalamualaikum.”

Hari-hariku semakin sibuk jelang 2 semester terakhir. Aku berharap semua akan baik-baik saja, namun kenyataannya yang terjadi tak semulus apa yang ku harapkan. Mulai dari Nadine yang baru saja menyelesaikan S1-nya kemudian bertolak ke Dubai guna belajar ilmu bisnis di sana. Alhasil aku tinggal seorang diri di kamar, tak ada lagi tempat untuk berbagi cerita untuk mengisi ulang tenaga atau hanya sekedar melepas penat, seiring berjalannya waktu aku hanya bergelut dengan SKS yang bertumpuk tumpu, dan di saat saat seperti itu beberapa kali aku menghubungi Kak Danang berharap ada celah di kesibukannya untuk mendengarkan kepenatanku atau mendengarkan kisah sibuknya namun hal itu jarang sekali terjadi, kalaupun terjadi waktu yang ada hanya cukup untuk menanyakan kabar saja.

Tetapi semua itu tidak lebih parah dibanding dengan kegilaan Kak Irwan dan pak Anwar mendekatiku. Pak Anwar sempat membicarakan tentang pernikahan kepadaku, namun aku tak menanggapinya sama sekali dan alhamdulillah tak lama berselang, beliau pun menikah dengan orang lain, aku lega sekali. Begitu pun dengan Kak Irwan yang pernah berkata, “Aku akan melamarmu dalam waktu dekat.” Aku tak menunjukkan respon apa pun, ku pikir yang terjadi akan sama dengan pak Anwar, namun tak pernah ku duga bahwa hal itu akan menimbulkan petaka.

Beberapa hari setelah peristiwa itu terjadi, tanpa sepengetahuanku kak Irwan dan keluarganya datang ke rumahku dan di saat yang sama, Kak Danang beserta keluarga juga tiba di rumahku. Wajah Kak Danang menampakkan rasa gusar saat dengan lantang kak Irwan mengutarakan maksud dan tujuannya bertandang ke rumahku, suasana semakin meruncing saat kak Irwan berkata, “Saya sudah pernah bilang kepada Nia, bahwa saya akan melamarnya dalam waktu dekat, dia tak memberikan jawaban atau bantahan apa pun sehingga saya menganggap hal itu sebagai legalisasi. Apakah Kak Danang sudah lebih dahulu melamar Nia?”

Tanpa sepatah kata pun, Kak Danang bergegas pergi meninggalkan semua yang ada di sana, termasuk orangtuanya yang masih berbincang dengan orangtuaku. Entah apa yang terjadi selanjutnya, aku tak kuasa membayangkannya. Aku yang kala itu tak berada di rumah hanya mendengar kabar dari ayahku, beliau marah besar dan aku hanya bisa terisak saat itu. “Piye to nduuuk, kamu itu mbok ya kalau sudah ambil keputusan yang konsisten. Bapak isin nduk, isin. Sudahlah terserah kamu toh Bapak ngomong panjang lebar tetep kamu yang jalani.” Bapak mengakhiri cerita panjangnya dengan kekecewaan mendalam. Belum kering air mataku, Kak Danang menelepon dan aku berharap bisa menjelaskan sedikit apa yang sebenarnya terjadi, tetapi yang terjadi justru membuat kesedihanku semakin menjadi-jadi.

“Aku nggak pernah ya curiga sama kamu, aku selalu memprioritaskan kejujuran di antara kita. Tapi kamu kenapa? Malu ngaku jadi calon istriku? Seharusnya aku sadar dari awal bahwa aku emang nggak pernah pantes buat kamu.” Ia berbicara bertubi-tubi tanpa memberiku kesempatan sedikit pun, semakin dalam luka yang ku rasakan. Kak Irwan yang menjadi sumber dari semua ini justru tak menampakkan rasa bersalah, ia justru gencar mendekatiku hingga aku benar-benar tak tahan. “Kak, asal kakak tahu ya.. Saya hampir saja bahagia, tapi kakak hancurkan semuanya. Apa sih yang kakak cari dari aku? Apaa? Akan ku penuhi lalu ku mohon kakak pergi dari hidupku selamanya.”

Aku meluapkan emosiku hingga terisak dalam tangis. Tak ayal semua ini membuat nilaiku jeblog, aku begitu panik dengan semua ini, untunglah kak Irwan memahami apa yang ku katakan dan ia benar-benar menjauh dari kehidupanku namun hal itu tak banyak merubah apa yang sudah terjadi, ip semesterku yang biasanya di atas 3 kini hanya tersisa 2.5 saja. Aku bagai daun kering yang tak jelas arahnya. Tak berhenti sampai di sini, di semester terakhirku, aku justru mendengar kabar keberangkatan Kak Danang ke malaysia, kabar itu pun ku dapat dari televisi karena sejak saat itu aku tak pernah lagi berkirim kabar dengannya. Aku tak tahu apakah ia telah melepaskan khitbahnya padaku atau belum, hingga suatu saat ku dengar kabar ia tengah dekat dengan seseorang di malaysia, dan itu secara tak langsung membuktikan bahwa ia telah melepaskan khitbahnya padaku.

Tak ada lagi yang ku kejar kini selain wisuda S2, aku menjalani semester terakhirku dengan sepenuh hati karena memang hanya ini satu-satunya harapanku. Lembar demi lembar tesis ku kerjakan hingga sampai pada halaman terakhir yang membuatku menitikkan air mata, entah mengapa aku merasa usahaku tak begitu memberikan ketenangan tetapi apa pun yang terjadi aku bertekad untuk mempresentasikanya sekuat tenaga. Namun belum juga ku presentasikan tesisku, aku mendengar kabar pesawat jatuh dari kualalumpur menuju jakarta dan salah satu penumpang yang belum ditemukan adalah Kak Danang. Seketika mataku gelap, kepanikanku semakin pekat saat diperkirakan korban yang hilang meninggal dunia. “Ya Allah, aku rela tak bertemu dia selamanya asalkan kau beri aku satu kesempatan saja untuk meminta maaf padanya.”

Hanya kalimat itu yang mampu ke luar dari mulutku, semua terasa begitu menusuk. Entah apa yang mendorongku berangkat ke kualalumpur, aku menjadi tim sar dadakan bersama teman-teman KSR Jogja. Sambil menangis sesenggukan aku melakukan pencarian, 2 korban yang ku temukan telah terbujur kaku. Kekhawatiranku semakin menjadi saat aku menemukan sebuah ransel hitam bertuliskan “Dania”, aku terus mencari sambil berharap menemukan Kak Danang di sana. Hidup atau Mati sekalipun. Berjam-jam sudah tim gabungan melakukan pencarian, di saat aku mulai berputus asa dan pencarian hendak dihentikan aku menemukan seseorang yang bersimbah darah dan wajahnya tertutup topi, aku mendekatinya kemudian langsung memeriksa denyut jantungnya.

Begitu aku tahu bahwa ia masih hidup aku mengerahkan tim untuk membawanya ke rumah sakit, saat tubuhnya diangkat aku memindahkan topi dari wajahnya dan ternyata ia adalah Kak Danang, rasa hatiku bercampur baur antara sedih dan bahagia menjadi satu. Setibanya di rumah sakit tim yang lain kembali ke indonesia sedangkan aku memilih tinggal bersama Kak Danang di sini. Aku mengamati perkembangannya, ada rasa lega saat denyut jantungnya kembali stabil. Aku berusaha menghubungi kedua orangtuanya tetapi hasilnya nihil, mengingat keluarganya juga tengah panik di sana. Akhirnya aku memutuskan untuk memberi kabar orangtuaku, barangkali orangtua Kak Danang akan menghubungi mereka.

“Assalamualaikum Bu,”
“Waalaikumsalam. Ini siapa ya?”
“Ini Nia Bu. Nia cuma mau kasih kabar Bu, Nia lagi di malaysia dapat tugas jadi tim sar gabungan. Dan Alhamdulillah Kak Danang selamat dari kecelakaan, kalau nanti Ibu ada kesempatan kabarkan pada keluarga Kak Danang ya Bu,”
“Alhamdulillah. Iya nduk, kamu baik-baik ya di sana,”
“Nggeh Bu, insya Allah. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam. wr. wb,”

Hari ketiga aku menunggui Kak Danang dirumah sakit, aku mendapat kabar bahwa hari ini aku harus presentasi tesis atau aku harus mengulang, akhirnya dengan sangat terpaksa aku meninggalkan Kak Danang seorang diri, namun aku meninggalkan surat berharap setelah sadar ia bisa membacanya. Isi suratku adalah sebagai berikut..

“Assalamualaikum. Wr. Wb. Kalau kakak baca surat ini artinya kakak sudah sehat, alhamdulillah. Aku tulis surat ini tak ada tujuan lain selain meminta maaf, maaf aku meninggalkan kakak sendirian di rumah sakit karena aku harus presentasi. Maaf juga atas luka hati yang pernah aku ukir, tak perlu rasanya ku jelaskan panjang lebar karena aku yakin kakak pasti tahu bahwa aku tak pernah main-main tentang kita, tetapi apa pun yang terjadi aku tidak pernah malu untuk mengakui apa pun tentang kita, bahkan jikapun kau batalkan khitbahmu padaku pun aku siap. Kedatanganku ke sini tak lain memang hanya untuk meminta maaf dan aku janji tak akan mengganggu kakak lagi. Lekas sembuh ya. Sincerly, Nia.”

Aku kembali ke kampus untuk presentasi tesisku, harapanku sederhana, hanya ingin lulus saja. Sejenak ku lupakan apa yang baru saja terjadi dan segera mempelajari tesisku beberapa menit sebelum presentasi. Aku usahakan segalanya di depan dosen semampuku dan tak terasa 3 jam berlalu, yang kata teman-temanku merupakan presentasi terlama, aku cemas kalau kalau tesisku banyak kekeliruan dan harus mengulang tetapi ternyata esok hari aku mendapat kejutan istimewa berupa lulus cumlaude lagi, meski kini tak mendapat ipk sempurna. Setelah ku rasa selesai semuanya, aku kembali ke kotaku dan bertekad mengabdikan diri di sana, tapi betapa terkejutnya aku saat hendak pulang, ku dapati Kak Danang dengan kursi rodanya tepat di depan pintu kamar kostku.

“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam warahmatullah.” Jawabku dengan gugupnya.
“Aku nggak pernah melepaskan khitbahku padamu, bahkan kepulanganku ke indonesia adalah untuk dirimu. Tapi sekarang aku mulai ragu, masihkah wanita seindah dirimu mau menikah dengan orang cacat sepertiku.”
“Kak, aku sudah pernah bilang bahwa aku siap dengan keadaan apa pun tentang kita, mengetahui bahwa kau tak pernah melepaskan khitbahmu pun aku begitu bahagia. Dengan penuh kehormatan aku menerima jika kakak masih mau menikah denganku.”

Akhirnya kami benar-benar menikah dan 3 tahun setelah aku menikah dengan Kak Danang, kaki Kak Danang sembuh dan kami telah dikaruniai 2 orang anak. Di tengah kesibukan kami yang padat, selalu kami sempatkan untuk keluarga. Orangtua, anak anak, fans bahkan kita berdua. Kisah kami masih terus dikenang oleh cucu-cucu kami hingga kini, dan mungkin selamanya. Harapan kami hanya satu, agar mereka tak pernah menyerah atas apa yang mereka impikan. Dania.

Cerpen Karangan: Fatimatuz Zahra
Blog: goresanzahra99.blogspot.com

Cerpen Tetaplah Bersamaku (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Saat Bidadari Juga Ingin Dicintai

Oleh:
Hujan malam ini begitu deras mengguyur ibukota Jalanan dibasahi remang cahaya lampu taman menerpa Dingin dan sunyi hanya suara deras bercampur gejolak sang malam Cahaya hitam putih redup padam

SMS Harapan

Oleh:
Sore ini hari tidak begitu bersahabat, selepas asar, tiba-tiba aku dan muhayir tak bisa pulang ke rumah karena hujan. Sehingga kami menunggu di masjid hingga hujan reda, Alhamdulillah tidak

Antara Sahabat Dan Cinta (Part 2)

Oleh:
Semenjak kejadian itu, fanny belum bisa ngobrol sama lisa, dia masih sangat kecewa sama lisa dan menggap lisa lah penyebab andre menolak dia, dan lisa sangat dilema, antara bahagia

Rani Menanti

Oleh:
Hari ini Rani Berdiri di depan kaca, senyumnya selalu terpancar pagi ini. Mulai dari dia bangun tidur hingga mengenakan setelan seragam sekolahnya yang baru. Tentu saja, sekarang di akan

Hujan Hari Jumat

Oleh:
Hujan, hujan itu berkah dari yang Maha Kuasa, hujan patut disyukuri. Hujan memberi berkah tersendiri bagi dunia ini. Tak terkecuali denganku. Sore itu aku duduk di koridor sekolah menanti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *