That Can’t Be Guessed

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 5 August 2013

Aku tidak pernah berpikir panjang tentang keputusanku satu tahun yang lalu. Aku kira kalimat ‘penyesalan selalu datang terlambat’ tidak akan pernah masuk dalam kehidupanku. Ternyata pemikiranku salah.
Satu tahun tentu bukan waktu yang lama, namun bukan waktu yang sebentar juga untuk hidup bersama dan menimbulkan kebiasaan baru. Sayangnya, hanya aku yang merasakan itu semua…

“Mari kita bercerai.”

… tidak dengan dia, Lu Xian, suamiku.

Terjalinnya hubungan kami maupun berakhirnya hubungan kami memang sudah di tentukan sejak awal – perjodohan dan sebuah pernikahan kontrak. Keputusan orang tua kami tidak pernah terduga sebelumnya, namun keputusan aku dan Lu Xian memperparah hal yang seharusnya bisa tidak terjadi. Kenyataannnya, tidak pernah ada akhir yang baik untuk sebuah awal yang buruk. Kini aku sadar betapa bodohnya aku dulu… bahkan sekarang.

Aku tidak bisa melarangnya jatuh cinta pada orang lain. Aku bahkan tidak bisa melarang apapun padanya, atau menentukan apa yang harus dia lakukan. Hidup kami masing-masing selama bersama. Namun di balik itu, kami juga bekerja sama sebagai partner selama hidup bersama. Dalam benakku saat ini,
“Bisakah kita kembali seperti dulu?

“Kau datang?”
“Kau berharap aku tidak datang?”
Lu Xian tertawa renyah. “Bukan seperti itu maksudku,” katanya sembari mencibir. “Ayah dan ibu datang?”
“Siapa yang kau maksud? Ayah ibumu atau ayah ibuku?” aku sedikit menggodanya, dan dia sekali lagi mencibir.
“Tentu saja ayah ibumu,” sahutnya agak sedikit kesal.
Aku tertawa kecil, lalu menggelang. “Sepertinya mereka masih marah,” kataku agak tidak enak.
“Aku minta maaf,” kata Lu Xian menyesal.
“Bukan masalah,” aku mengibas-ngibaskan tangaku. “Mereka itu seperti anak kecil, nanti juga hilang ngambeknya.”
“Kau ini!” dia tertawa lagi kemudian menyentil dahiku. “Bagaimana penampilanku.”
“Cih, kau ini… Jangan seperti perempuan!” kini giliranku yang mencibir.
“Memangnya aku kenapa?”
“Hanya wanita yang menanyakan itu saat pernikahan,” kataku nampak bosan. “Kau ini, kan, laki-laki.”
“Aku, kan, Cuma ingin meminta pendapatmu,” Lu Xian malah mencubit hidungku.
“Tetap saja,” kataku tak mau kalah, segera menghindar.
“Berarti kau juga menanyakan itu saat kita menikah dulu, ya?” tanya Lu Xian tersenyum jail.
Aku mengelak dengan pertanyaan itu. “Siapa bilang? Itu tidak benar.”
“Masa, sih?”
“Ck, berisik!” ujarku cemberut. “Sudah, sana keluar. Kau harus segera ada di altar.”
Dia mendengus, namun menuruti perkataanku. Dia berdiri dan menghembuskan nafasnya beberapa kali. Apa dia gugup? Pikirku saat itu.
“Aku serius. Apa penampilanku sudah oke?” tanya Lu Xian sekali lagi, wajahnya sedikit berkeringat. Dia sepertinya benar-benar gugup.
Aku berusaha tersenyum. “Kau sangat tampan,” ucapku jujur. “Sudah, sana keluar.”
“Terima kasih,” Lu Xian tersenyum.
“Er… Lu Xian?” panggilku sebelum dia menyentuh gagang pintu.
“Ya?” dia menoleh.
“Itu…” aku sedikit ragu. “Apa kau…?
“Hmmm?” dia menunggu.
“Apa kau sudah memakai parfum?”
“Hah?” dia melongo. “Kau sedang mengejekku, ya?”
Aku tertawa kecil. Dia dengan kesal keluar dari ruangan, dan saat itu tawaku menghilang.
“Apa kau segugup itu saat kita menikah dulu?”

Dan aku pun mendapatkan jawabannya atas pertanyaanku yang dulu. Kita tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu. Kau menyayangiku dengan baik. Tapi aku malah mencintaimu dengan sangat bodohnya.
“Mari kita bercerai.”
“Ya, mari kita bercerai.”
Tapi tahukah kau? Bercerai denganmu adalah satu dari sekian hal yang paling tidak aku inginkan.
Jika kembali denganmu adalah hal yang tidak mungkin. Aku harap bisa kembali menjadi orang yang memiliki perasaan biasa kepadamu, agar ketika nanti kita bertemu lagi aku bisa mengatakan,
“dulu aku pernah mencintaimu.”

“Aku bersedia.”
Dan saat pendeta menyatakan mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri, aku bangkit dari kursi dengan satu tiket pesawat tujuan New York.
Lu Xian, aku tidak bermaksud untuk menjadi pengecut tentang perasaanku. Tapi hanya dengan melarikan diri seperti ini perasaanku (mungkin) akan membaik.
Selamat tinggal, dan maaf karena aku tidak bisa bahagia hari ini, di hari bahagiamu.

END

Cerpen Karangan: Fami Andrias T
Facebook: Shymi Hayom Rumbaka

Cerpen That Can’t Be Guessed merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Misterius Untuk Zahra

Oleh:
Zahra berdiri di teras rumah sambil menunggu Fai sahabatnya, lama ia menunggu, Fai tak juga datang. Zahra memutuskan untuk pergi ke sekolah sendirian. Ketika di tengah perjalanan Fai memanggilnya.

Pahit

Oleh:
Jalan berliku telah ku lalui, namun tak pernah kutemukan sosok lelaki seperti dirimu. Sosok yang membuatku merekah layaknya bunga anggrek yang putih dan terlihat suci. Bukannya aku menyerah. Aku

Antara Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Mentari dan rembulan, mereka tak pernah bertengkar, mereka tak pernah bertabrakan saat muncul di langit, mereka tak bersahabat tapi saling melengkapi. lalu bagaimana dengan persahabatan di bumi? mereka selalu

Ketika Hidayah Melambaikan Cinta

Oleh:
Kicau burung merpati mulai terdengar ditelingaku. Tak sedikitpun aku bergerak dari tempatku berbaring. Tubuhku bagaikan terpaku di atas tempat tidurku. Namun suara adzan yang berkumandang membuatku terpaksa bangun. Walaupun

Dilema Hati Seorang Perempuan

Oleh:
Entahlah sudah berapa lama aku termenung di sudut kamarku, akau masih tak habis pikir mengapa semua ini terjadi, sejak pertemuan denganmu seminggu yang lalu membuat aku semakin gundah gulana,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *