The Elementer’s Games

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 9 December 2016

“Yak! Latihan hari ini cukup sampai di sini. Kerja bagus semuanya!” Seru Petra, pelatih di Elementers Academy.
“hei kau!”
Seorang gadis bertubuh mungil berbalik.
“Aku?” Tanyanya.
“Iya kau! Latihlah kekuatanmu lebih baik! jika ini adalah pertarungan sungguhan, kau sudah berada di kamar mayat saat ini!” tegur Petra dengan keras. Gadis itu menciut beberapa senti.
“Iya, Ma’am. Akan kuusahakan,” ujarnya.

“Yo, Ryn! Ayo cepat, sekarang jam makan siang!” Panggil seorang gadis bertubuh tinggi kepada Ryn, gadis yang tadi ditegur pelatih.
Ryn tersenyum kecil. “Iya, Larisse.”
Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang makan.

Elementers Academy adalah sekolah bagi para Elementer, sebutan bagi anak-anak yang memiliki anugerah atas 9 unsur alam. 9 unsur ini dibagi menjadi 2, yaitu unsur dasar dan unsur upgraded. Unsur dasar terdiri dari unsur Water, Air, Lightning, Solar, Fire dan Earth. Sementara unsur upgraded terdiri dari unsur Ice, upgraded dari unsur Water, unsur Thunderbolts, upgraded dari unsur Lightning, dan unsur Nature, upgraded dari unsur Earth. Masing-masing Elementer memiliki tanda berupa tato. Edelweiss untuk Ice, Gardenia untuk Nature, Red Rose untuk Thunderbolts, Sunflower untuk Solar, Water Lily untuk Water, Marigold untuk Fire, Crocus untuk Air, Dandelion untuk Earth, dan Orchid untuk Lightning. Setiap anak yang berada di Elementers Academy berada di bawah pengawasan khusus para mentor yang sudah senior. Seluruh Elementer memiliki seorang mentor dan setiap mentor hanya boleh “mengadopsi” 1 orang siswa.

“Lar, apakah menurutmu aku pantas memiliki kekuatan es ini?” Tanya Ryn dengan murung. Makanan di piringnya tidak ia sentuh sama sekali.
Larisse tersedak. “Tentu saja kau pantas! Kalau tidak, Edelweiss itu tidak akan ada di lenganmu.” Dia menengak jus jeruknya lalu melanjutkan, “jangan sedih hanya karena Petra menegurmu, aku sering sekali ditegur seperti itu dulu.” Petra adalah mentor Larisse (itulah mengapa Larisse lihai sekali dalam bertarung).

“Jangan murung terus, Cantik…” tiba-tiba seorang laki-laki berambut merah terang yang acak-acakan duduk di samping Ryn dan merangkulnya.
Ryn menoyor kepala laki-laki itu, “Gil, jangan ganggu aku makan!”
Gil hanya sumringah pada Ryn, “sebagai mentormu aku kan harus memastikan kau tidak stress.”
Yah… entah kesialan macam apa yang saat itu menghampiri Ryn. Saat Ryn menjadi satu-satunya murid yang tidak memiliki mentor, Gil berlagak menjadi pahlawan dan menjadi mentor Ryn.

“Jadi, kapan kau ingin latihan lagi, Sayang?” Gil menaikkan sebelah alisnya dengan senyum khasnya yang menyebalkan yang sebenarnya membuat wajah tampannya semakin memesona. Tapi sepertinya Ryn tidak akan pernah terpesona oleh Gil.
Ryn sekali lagi menoyor kepala Gil, kali ini cukup keras. “Saat aku mendapat mentor baru yang cukup waras untukku,” jawab Ryn sekenanya. Cepat-cepat ia melahap makanannya.

“Hei, Gil, sudah dengar tentang Elementer’s Games?” Tanya Larisse demi mencairkan suasana.
Gil mencomot sepotong kentang goreng dari piring Ryn. “tentu saja sudah, kau pikir aku ini siapa?” Ah ya, Gil adalah salah satu kakak kelas mereka yang menjadi anggota ‘OSIS’ di Elementers Academy, jadi dia selalu tahu tentang acara-avara semacam itu.
“Jangan sombong. Lagipula aku heran mengapa orang sepertimu mendapat izin menjadi mentor,” sahut Ryn. Memang seharusnya Gil baru mendapat izin menjadi mentor setelah lulus dari Elementers Academy. “Tapi.. apa itu Elementer’s Games?”
“Ah.. aku baru ingat, kau kan belum lama berada di sini. Jadi, Elementer’s Games adalah acara tahunan di sekolah ini. Semua Elementer kelas 5, 6, dan 7 akan dieliminasi untuk menentukan siapa yang akan lulus ke tingkat selanjutnya. Masing-masing dari kita akan berkelompok dengan Elementer yang berbeda dengan kita…”
Belum selesai Larisse menjelaskan, Gil buru-buru menyela, “permainan itu hanya memiliki 1 peraturan. Gagal, berarti mati. Permainan ini terdiri atas 3 permainan. Labirin, Hutan Terlarang, dan Kastil. Pertama, kau harus berhasil melewati labirin menuju Hutan Terlarang tanpa ditangkap oleh penjaga di sana. Setelah kau berhasil mencapai Hutan Terlarang, kau harus mencari jalan keluar untuk menuju kastil. Tapi, kau tidak akan pernah tahu isi Hutan Terlarang. Ketiga, setelah mencapai kastil, sebisa mungkin kau harus membebaskan teman satu tim yang tertangkap saat di labirin maupun di Hutan Terlarang. Waktu kalian hanya 1 jam setelah mereka ditangkap. Jika kalian terlambat, tawanan akan mati.”
“Dan bukan hanya menyelamatkan tawanan, kau harus merebut kristal barrier kastil musuh. Bila kau berhasil mendapatkannya, kau menang. Begitu juga sebaliknya. Tapi, bila tidak ada tim manapun yang mendapatkannya, pemenang akan ditentukan dengan jumlah anggota yang tersisa. Semakin sedikit anggota yang tersisa, semakin tinggi peluang untuk kalah. Jika kau kalah, kau mati,” imbuh Larisse.
Ryn agak bergetar. Permainan macam apa ini? Jika gagal, kau mati.

“Tenang saja, Sayang, aku yang akan melindungimu. Kita berada di dalam tim yang sama,” Gil kembali menggoda Ryn.
“Tidak. Aku tahu kau berbohong,” tanggap Ryn tidak peduli.
Gil tersenyum santai. “Lalu ini apa?” Dia melambai-lambaikan sehelai kertas berisi pembagian kelompok. Ryn merebut kertas itu dan benar saja, dia sekelompok dengan Gil. Memang di dalam setiap kelompok akan ditaruh 1 Elementer Lightning dan 1 Elementer Thunderbolts untuk bagian penyelamatan. Untungnya, Gil adalah salah satu dari Elementer Thunderbolts.

Bel tanda jam makan siang berakhir berbunyi.
“Kita bahas ini nanti, Sayang!” Seru Gil sambil berlari menuju kelas.
Larisse membereskan peralatan bertarungnya. “Maaf aku harus buru-buru, Ryn. Petra mengadakan ujian panahan secara tiba-tiba.”
Ryn hanya memberi isyarat pada Larisse untuk tidak mempedulikan dirinya. Dengan lesu, Ryn pergi ke Ice Spike Area untuk melatih kekuatan esnya. Di sana sudah ada Elementer Ice yang lain beserta pelatih mereka, Holly.

Berminggu-minggu kemudian, Ryn sudah dapat mengendalikan kekuatannya. Berkat latihan ekstra yang diberikan oleh Gil, Ryn kini pandai dalam bela diri. Dan seiring dia bertambah kuat, waktu pelaksanaan Elementer’s Games semakin dekat. Para Elementer berlatih keras. Hingga akhirnya, hari yang paling ditakuti oleh Ryn tiba.

“Selamat datang, semuanya. Pada hari ini, kita akan melaksanakan acara eliminasi tahunan Elementer’s Games….” Kepala Sekolah Elementers Academy memulai pidato pembukaannya.

Ryn mondar-mandir di ruang ganti. Dia merasa panik dan takut serta sedikit penasaran. Larisse yang juga sekelompok dengannya sibuk mengasah anak panahnya. Dia tampak tidak terlalu panik seperti dirinya, karena dia sudah terbiasa menantang maut.

Setelah Kepala Sekolah selesai berpidato, permainan dimulai. Kelompok yang terdiri dari 3 kelas itu berjumlah 4 kelompok dengan anggota masing-masing 10 Elementer. Ryn dan teman-temannya adalah kelompok 2. Keempat tim memasuki labirin dengan pintu masuk yang berbeda. Begitu memasuki labirin, pintu masuk mereka dihalangi oleh dinding laser. Kelompok yang dipimpin oleh Gil itu berjalan perlahan mengikuti insting cahaya Elementer Solar bernama Nodd. Elementer Solar memang memiliki kepekaan yang besar terhadap keberadaan cahaya. Setiap penjaga dapat Larisse kalahkan dengan mudah. Mereka berhasil keluar dari labirin dengan selamat. Seluruh anggota lengkap. Kini mereka menyusuri Hutan terlarang.

“Ada banyak jebakan di sini,” lapor Elementer Earth, Maggie. Elementer Earth dapat merasakan apa yang berada di dalam tanah.

“Ryan! Di belakangmu!” Seru Gil kepada Ryan, Elementer Wind. Terlambat, seseorang menembakkan sesuatu pada Ryan. Seketika Ryan tumbang.

“Ikuti arah angin utara…” dengan sisa tenaganya, Ryan menunjuk arah utara, dan setelah itu badannya pecah menjadi segerombolan kunang-kunang.

Gil segera memimpin kelompoknya ke arah utara, kali ini dengan lebih hati-hati. Mereka mengandalkan Rossie, Elementer Nature untuk mencari jalan ke luar lewat pepohonan dan Flo, Elementer Wind.

Karena Hutan Terlarang jauh lebih berbahaya, satu persatu anggota kelompok Gil berkurang. Yang tersisa hanya Gil, Ryn, Larisse, Nod, Rossie dan Nick, Elementer Lightning.

“Baiklah, waktu kita hanya tinggal beberapa menit untuk menyelamatkan Flo,” ujar Gil sambil melihat arlojinya. “Sekitar 37 menit 12 detik dan Flo akan mati.”

“Ryn, menunduk!” Seru Larisse tiba-tiba. Anak panahnya mengenai seorang menjaga yang akan menembak Ryn. Untuk memastikan penjaga tidak akan mengejar mereka, Ryn membekukan mereka. Tatapan Gil menjadi lebih waspada. Dia pegang erat tangan Ryn.

“Sayang, sebentar lagi kita akan sampai di kastil,” ujar Gil dengan penuh semangat. Namun tidak ada sahutan dari Ryn. “Ryn?” Dia berbalik ke belakang.

Ryn beserta Rossie berhasil diseret oleh penjaga. Ryn menatap Gil dengan penuh harap serta ketakutan.

“Ryn!” Tangan Gil mulai mengeluarkan percikan listrik. Sebelum sukses menghantam sang penjaga, Larisse menahan Gil.

“Semakin cepat kita sampai di kastil, makin cepat pula kita menyelamatkan Flo, Rossie, dan Ryn,” ujarnya.

Akhirnya, mereka berhasil mencapai jalan menuju kastil. Kastil itu besar sekali, terbuat dari batu. Baru saja mereka melangkah ke anak tangga pertama, pintu kastil yang besar terbuka dan beberapa Elementer berlarian keluar sambil menjerit-jerit.

“LARI!! mereka punya senjata yang akan membuatmu gila!!” Teriak seorang Elementer.

“Mereka siapa?” Gil menahan Elementer itu.

“Entahlah. Yang aku tahu, seharusnya tidak ada yang seperti ini. Kurasa ada yang ingin membunuh kita semua!” Jawabnya. “Semua yang terkena senjata itu adalah Elementer Upgraded! Hati-hatilah! Para tawanan dalam bahaya!” Dia kembali berlari ke dalam hutan.

Mata Gil membulat. Dia, Ryn, dan Rossie adalah Elementer Upgraded.

“Kita harus menyelamatkan mereka, sebelum semuanya menjadi gila!” Ujar Gil.
“Bagaimana? Kau sebagai Elementer Thunderbolts pasti akan menjadi target utama!” Sergah Larisse.
“Aku akan masuk untuk mengalihkan perhatian mereka. Kau dan Gil selamatkan yang lain,” sahut Nick.
Gil menoleh pada Nick dan menepuk pundaknya. “Jangan korbankan nyawamu, Nick. Kau adalah adikku satu-satunya.”
“Aku tahu Ryn sangat berharga bagimu. Selamatkan dia!” Tanpa basa-basi lagi, Nick melesat masuk ke dalam kastil.

“Sekarang bagaimana?” Tanya Larisse.
“Kita selamatkan mereka dan mengakhiri permainan ini,” jawab Gil. “Kau cari tahu di mana para tawanan dikurung dan selamatkan mereka lewat bawah tanah. Aku akan mencari lewat atas.”
Untuk sejenak, Larisse terdiam dan kemudian mengangguk. “Grill!” Seketika tanah di bawahnya berlubang. Larisse melompat masuk dan lubang itu langsung tertutup.

Gil melesat masuk. Di dalam kastil, mayat Elementer yang gugur berserakan. Semuanya dalam keadaan yang mengenaskan. Gil tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada adiknya. Terlebih Ryn. Suasana di loby kastil sepi. Gil melesat kembali untuk mencari Ryn.

“Jangan!!!!” Terdengar pekikan Ryn dari lantai 3. Gil segera melesat menuju arah suara Ryn.

Ryn menatap Rossie di depannya. Setelah ditembak oleh entah siapa, Rossie tiba-tiba menggeram pada Ryn dan menyerangnya habis-habisan. Seluruh Elementer Upgraded yang ia kenal turut memojokkan dirinya. Mata Ryn menangkap sesosok tubuh tinggi di kejauhan. Ia mengenali sosok itu walaupun di kegelapan.

“Larisse! Tolong!” Teriak Ryn. Sedari tadi ia sudah berusaha membekukan mereka, tapi mereka selalu dapat membebaskan diri.

Larisse berjalan mendekati Ryn dengan busur dan anak panah yang siap ditembakkan. Senyum sinis tersungging di bibirnya. Seketika harapan Ryn sirna.

“Astaga… Elementer Ice sepertimu tidak dapat melawan mereka semua? Payah sekali..” ujarnya dengan nada sinis. “Lebih baik kujadikan kau seperti mereka!”
“Jangan!!!” Teriak Ryn. Dia semakin terpojok. Di sekelilingnya, para Elementer gila sudah bersiap untuk membunuh Ryn.

Tiba-tiba, sebuah petir menghanguskan seluruh Elementer gila itu. “Tidak secepat itu, Pengkhianat!”

Ryn kembali mendapat harapan. “Gil!”

“Dan datanglah si penyelamat konyol ini,” Larisse menurunkan busurnya.
“Untuk apa kau melakukan ini, hah?!”
“Untuk apa? Yah.. aku sudah lelah melihat kalian, para Elementer Upgraded yang selalu diistimewakan oleh para senior. Padahal kalian semua lemah! Sejujurnya aku sangat menyukaimu, Ryn. Sayangnya kau adalah Elementer Ice,” tutur Larisse.
Gil membantu Ryn berdiri. “Jadi sekarang kau akan membunuhku? Begitu?” Kini suara Ryn bergetar. Ia tidak menyangka, sahabat karibnya ternyata hanya berpura-pura menjadi sahabatnya.
Larisse tersenyum licik. “Untuk apa aku mengotori tanganku jika dia bisa melakukannya untukku?” Secepat kilat Larisse memanah Gil. Panah itu mengenai perutnya. Gil ambruk ke lantai. Dia mengerang kesakitan.
“Bertahanlah Gil! Lawan!” Ryn memegangi tangan Gil dengan erat.

Larisse tertawa puas. “dia tidak akan bisa melawan rasa hausnya akan membunuh!”

Tiba-tiba, tangan Gil yang kekar mencekik Ryn dengan kuat.
“G..Gil.. sadar… i..ni.. aku!” Ryn meronta-ronta.

“Tontonan yang menarik. Setelah ini pasti akan ada berita tentang siswi yang dibunuh oleh mentornya sendiri,” Larisse tersenyum puas.

“Sepertinya kau salah,” sahut Gil.
Raut wajah Larisse berubah. “bagaimana bisa..”

Dengan mudah, Gil mencabut anak panah di perutnya serta memapah Ryn. “kau mungkin lupa, aku bukan Elementer biasa. Aku juga seorang Mentor, dan senjata milik Elementer biasa tidak akan mempan padaku.” Giliran Gil yang tersenyum puas.
“Jadi kau hanya berakting?” Tanya Ryn.
“Ya. Ini semua aku lakukan untukmu, Sayang,” dasar Gil. Sepertinya dia benar-benar tidak tahu malu.

Gil mengulurkan tangan. “Larisse Howthorn, secara resmi kau akan ditangkap dan dihukum penjara seumur hidup.” Dari tangan Gil muncul sebuah kurungan yang mengurung Larisse. Kurungan itu menyengat Larisse jika ia menyentuh jeruji-jerujinya.

“Kak!! Aku berhasil menemukan Flo beserta seluruh tawanan yang selamat!” Seru Nick.

Air mata bahagia mengalir di wajah Gil. Ryn dan adiknya selamat dari maut.

“Kau keluarlah duluan,” perintah Gil. Nick menurut dan segera pergi dari situ. “Nah Sayang, setelah ini aku akan lulus dan kau naik ke kelas 6. Kau bersedia mengakui bahwa aku adalah Mentormu?”
“Tentu saja, Gil. Kau menyelamatkan nyawaku. Maaf jika selama ini aku bersikap kasar padamu,” sesal Ryn. “Aku benar-benar tidak tahu terima kasih.. kau telah baik sekali bersedia menjadi mentorku..” Ryn terisak.
Gil memeluk Ryn dengan erat. “Jangan khawatir tentang itu, Sayang. Aku akan selalu melindungimu hingga kapanpun.”
Gil menggendong Ryn dan tersenyum. “sekarang, ayo kita dapatkan kristal barrier itu!” Gil melesat menuju ke jantung kastil dan mencabut kristal barrier.

“Dengan ini, kunobatkan kau, Gilliam Grissom, sebagai lulusan terbaik tahun ini sekaligus pahlawan yang telah menyelamatkan para Elementer,” kepala sekolah memasangkan jubah kelulusan pada Gil. Gil menunduk pada kepala sekolah.

“Dan untuk Nicholas Grissom yang telah menyelamatkan seluruh tawanan, mulai detik ini kau adalah salah satu dari Elementer Upgraded Thunderbolts,” Kepala sekolah menyentuh tanda Orchid di dada kanan Nick. Tanda itu berubah menjadi Red Rose. Gil tersenyum bangga pada adiknya.

Setalah Gil turun dari panggung, Ryn menyambutnya dengan gembira. “Akhirnya mentorku tersayang lulus juga.”

Gil memeluk anak didiknya itu dengan perasaan bahagia. “akhirnya.. aku lulus dari sekolah ini dan mendapat anak didik yang amat cantik,” bisik Gil di telinga Ryn. “Aku akan menikahimu setelah kau lulus nanti.”
Wajah Ryn memerah. “jangan bercanda.”
Gil melepaskan pelukannya dan mengangkat wajah Ryn. “Aku tidak bercanda, Sayang.” Sambil menyunggingkan senyum khasnya, Gil mencium bibir Ryn dengan lembut.

“Karena aku mencintaimu.”

Tamat

Cerpen Karangan: Chacha
Facebook: Choco Caramella

Cerpen The Elementer’s Games merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi terakhir

Oleh:
“Ariiiinnn!” teriak mamah membangunkanku, “Ayo, bangun nanti kamu terlambat,” dengan malas ku angkat tubuhku dan berjalan menuju kamar mandi. Aku putri kedua dari tiga bersaudara, kakak pertamaku bernama Indra,

Lembaran Manis Sang Diary

Oleh:
“Dear diary, Radian, sampai kapan aku harus menahan rasa ini? Aku sudah lama memendam rasa ini. Aku ingin mendekatimu, ingin sekali. Tapi aku takut diary, aku takut kalau dia

Katalis

Oleh:
Eza masih tak habis pikir mengapa Rina menolak cintanya. Padahal ia yakin ada perasaan yang kuat yang terjalin di antara mereka, bersama begitu banyak cerita yang sudah mereka lalui

Imprecnable (Part 1)

Oleh:
Angin bertiup kencang menerpa pohon-pohon besar di malam yang amat gelap itu. Seorang wanita berlari dengan menggendong seorang bayi perempuan. Sementara bayinya terus menangis wanita itu tetap meneruskan pelariannya

Antara Tangis dan Tawa

Oleh:
“Lunaaaa, lunaa!” ku dengar teriakan Lina memanggil saudara kembarnya yaitu aku, sontak aku yang sedang asyik baca majalah pun kaget dan langsung menemui Lina yang amat cerewet “Apaan sih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *