The End (Last Part)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 20 March 2013

Leon membawa Richard keluar dari rumah sakit dan membantunya berjalan ke mobil. Keadaan Richard semakin melemah. Dua puluh menit di perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumahku.

Sebelum mengetuk pintu, Leon melihat Richard. Sesaat kemudian matanya berkaca-kaca dan segera dipeluknya erat sahabatnya itu.
“(..Selamat jalan sobat.. Aku tidak akan pernah melupakanmu..)” ucap dalam hatinya.

Richard membalas pelukan Leon seraya menepuk punggungnya. Kemudian Leon melepas pelukannya.
“Senang bisa bersahabat denganmu, Richard?”
“Aku juga sangat beruntung bisa bertemu dan memiliki sahabat sepertimu?” ucapnya dengan senyum.
“Sekarang, selesaikan tugasmu sebagai seorang lelaki dan seorang kekasih, kawan!”
“He-‘m.” Richard mengganguk pelan.
Leon mengetuk pintu.
“Jeslyn! Jes?!”

Aku mengenali dengan baik suara Leon. Segera aku berlari menuju pintu rumah dan membukanya.
“Oh? Kalian berdua! Ayo masuk? Kebetulan sekali, orangtuaku sedang di luar kota. Aku bosan sendirian di rumah.”

Richard berusaha menunjukkan tidak terjadi apa pun.
“Jeslyn? Bisa kita bicara di luar saja? Aku rasa malam ini akan ada banyak bintang?! Pasti menyenangkan kalau kita bicara-bicara sambil memandangi bintang.”
“Ehm.. Ok?!” ucapku tanpa merasa curiga sedikit pun.
“Aku menunggu di dalam saja, ya! Ada acara televisi yang tidak bisa kulewatkan?!” ucap Leon dengan senyum kaku. Dipandangnya untuk terakhir kali sahabatnya itu, sebelum akhirnya ia masuk ke dalam rumah.
“Ayo kita duduk di situ!” ucapku menggandeng tangan Richard menuju bangku yang ada di taman sederhana di samping rumahku. “Tumben kamu dan Leon main ke rumah. Ada apa?”
“Ah tidak? Tadi di jalan tak sengaja aku bertemu dengan Leon. Katanya ia mau main ke rumah kamu, jadi aku ikut.”

Wajahnya terlihat sangat pucat.
Entah kenapa, tiba-tiba ia meletakkan kepalanya di bahuku. Ia memandang ke atas langit. Di sana tampak satu bintang yang cahayanya cukup terang.
“Kamu bisa lihat bintang yang ada di atas sana?”
“Ya.” jawabku saat melihat ke langit. “Dia sendirian.. tanpa bulan.. dan tanpa bintang yang lainnya..”
“Salah.. dia tidak sendirian. Itu karena dia adalah bintang yang cukup besar dibanding bintang yang lainnya dan ia bintang yang paling dekat dengan bumi. Jadi ia muncul lebih dahulu dari bintang yang lainnya. Sebentar lagi akan ada bulan dan berjuta bintang yang akan menemaninya di sana.. Hanya tinggal menunggu waktu saja..”

Hening sesaat.
“Kamu tahu.. saat ini aku seperti bintang itu..” ucapnya.

Detik itu juga, darah seakan naik turun di tubuhku. Bulu di belakang leher dan di sekujur tanganku berdiri. Aku merinding. Bukan karena angin yang terasa dingin, tapi karena aku merasakan ada jiwa yang tak lagi utuh dalam raga seseorang. Dan aku harus siap untuk mengantar jiwa itu pergi.
Air mataku mengalir. Aku tahu Richard akan pergi. Untuk selamanya.
“Lihat.. Bulan sudah mulai muncul di sana, dan sekarang bintang yang sendirian itu berada tepat di sampingnya. Sebentar lagi pasti akan muncul bintang-bintang yang lain..”

Aku tak mampu berkata apa pun. Hanya sedih. Sedih yang teramat sedih. Tapi aku berusaha kuat.
“Jeslyn.. kamu tidak akan melupakan janjimu ‘kan?”
“Tidak.. Aku berjanji..”

Detik itu juga, kurangkul tubuh Richard yang terasa dingin. Aku ingin memeluknya sampai detik itu berhenti.
“Kamu ingat tidak? Kamu pernah berkata, kalau Tuhan pasti punya sebuah rencana yang indah di balik ini semua?”
“Ya.. Aku ingat.. Sangat ingat..” ucapku dengan menahan isak tangisku.
Aku tidak ingin Richard mendengar suara tangisku.
“Kamu tahu? Ternyata kamulah rencana indah yang sudah Tuhan hadiahkan untukku. Tak pernah terpikir olehku sebelumnya, kalau aku akan mendapatkan seorang kekasih yang baik sebelum aku mati. Tuhan memang adil, hanya saja kita selalu terlambat menyadarinya.
Ia memberikan aku kesempatan untuk bertemu denganmu..
Ia akan membawaku pergi, tapi Ia tidak membiarkanku merasa sendirian di akhir menuju perjalananku..
Jeslyn.. terima kasih banyak..”

Ia melepas pelukannya. Menatap wajahku, menghapus air mataku, menyentuh lembut kedua sisi pipiku dan untuk terakhir kali ia memberikan ciuman lembut di bibirku. Kemudian kembali didekapnya tubuhku, segera kurangkulkan erat kedua tangaku di punggungnya.

Kudengar tarikan nafasnya yang panjang..
(Inilah akhirnya.. Aku sudah siap..)
“Pergilah.. Pergilah dengan tenang..
Cintaku abadi untukmu..”

Tangisku mulai pecah.
“.. Aku mencintai kamu, Jeslyn..”

Ia tersenyum manis di balik punggungku. Merasa sangat puas dengan perjalan hidup yang telah dilaluinya. Kudengar bisikan kecil yang keluar dari mulutnya. Samar-samar namun terdengar..
“The End..”
Selesai..

* * *

Setahun telah berlalu, setelah kepergian Richard. Kini Leon menjadi kekasihku, menepati janjinya pada Richard setahun yang lalu. Ia sahabat sekaligus kekasih yang baik.

Siang itu kami berdua berdiri di samping tempat peristirahatan terakhir Richard. Mengantarkan bunga untuk memperingati genapnya satu tahun ia menjadi penghuni alam surgawi.

Kulayangkan pandang ke langit biru yang cerah. Samar-samar tampak gambaran wajah dan senyuman kecil Richard yang dibentuk oleh awan-awan putih yang menggumpal di langit sana. Seakan mengisyaratkan suatu pesan yang hangat ..
“Tersenyumlah.. karena hanya senyummu yang mampu membuatku bahagia..”

The End

Kehidupan layaknya sebuah bintang yang muncul lebih dahulu di langit..
Kau, aku, atau mungkin orang lain yang kita kasihi akan pergi terlebih dahulu meninggalkan dunia ini..
Mereka seperti bintang itu, awalnya terlihat kesepian..
Tapi sebenarnya ia sedang menanti..
Menanti bintang lain yang akan menemaninya di langit..
Menanti sang bulan yang dicintainya..

-P. Sandra. D

Cerpen Karangan: Puspita Sandra Dewi
Blog: http://worldartsandra.blogspot.com

Cerpen The End (Last Part) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


D, Tinta Merah (Part 1)

Oleh:
‘Jangan kau pikirkan apa yang telah terjadi. Jangan pernah. Karena itu hanya akan membuatmu terpuruk pada masa lalu.’ 10 tahun yang lalu … Hidupku berbalik 180 derajat akibat tinta

Pertemuan Kembali

Oleh:
Kali ini acara diklat yang kesekian kalinya aku ikuti. Bukan di dalam kota seperti biasanya, pemerintah daerah mengutusku mengikuti diklat di Jakarta. Tentu saja kesempatan ini tidak ku sia-siakan.

Teriakkan Diujung Takdir

Oleh:
Ketika sebuah rindu melebur di dalam hati, akankah logika ini masih berkata bahwasanya aku tak cinta dia? Aku benci dia? Aku tak butuh dia?. Sedangkan disini aku hanya meradang

Bukan Cinderella

Oleh:
“Dan mereka hidup bahagia selamanya. Tamat.” Hmm selalu aja kata-kata itu yang aku baca dari sebuah dongeng sejak aku kecil. Heran, kenapa penulis dongeng suka banget sama kata-kata itu.

Cinta Datang Terlambat

Oleh:
Langit sedang menangis membasahi kehidupan yang ada di bumi seperti halnya dengan apa yang kurasakan saat ini, Aku menikmati secangkir teh manis di depan rumahku sembari menatap begitu derasnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

9 responses to “The End (Last Part)”

  1. hernita says:

    keren banget ceritanya, jadi ikutan sedih 🙁

  2. Syariffah says:

    sumpaaaahh..
    bgus plus sedih bnget crta.a..
    trus berkarya yy.. 🙂

  3. Yuliana says:

    Nggak tau ceritanya yg terlalu bagus apa akunya yg cengeng , tp ceritanya dari awal sampai akhir NGENA banget :'(

  4. Terima kasih untuk waktu teman-teman membaca karangan ini. Jujur, bukan hanya teman-teman saja, sy jg menangis swaktu mnulis cerita ini. Ini memang cerita berdasarkan pengalaman saya pada beberapa tahun silam. Cerita ini saya tulis untuk mengenang dia.
    Terima kasih.
    ^_^

  5. Nony says:

    Bagus bgt critanya kak, smpe nangis aku bacanya.. Terus brkarya ya kak..

  6. Adriana says:

    Baguuuuussssss bgtttt kaa ceritanyaa.
    Sukses terus yaa kaak

  7. Lusi Febriani says:

    asli! ceritanya bener2 keren 🙂 bkin nangis, bkin terharu bngt.. sukses buat kamu yang nulis cerpen ini! 🙂 asli keren banget!! 🙂

  8. Terima Kasih buat komentar teman2 juga dukungannya. Cerpan The End sudah terbit dalam bentuk buku,, boleh dilihat di Nulisbuku.com, kategori kumpulan cerpen, dengan judul buku “TUTS”. Silahkan dilihat ya,, ^_^

  9. Ainun Afni says:

    kerenn banget ceritanya .
    sampe buat aku nangis.
    terus berkarya, yah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *