The End (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 18 March 2013

Tak terasa, ujian semester pertama dimulai. Aku, Richard, dan yang lainnya tengah menjalani ujian. Sering tertangkap oleh mataku Richard terlihat pucat. Terkadang ia memegang bagian perutnya. Itu membuatku cemas.

Sejujurnya, aku tengah jatuh hati padanya. Tapi aku enggan mengatakan. Pernah terlintas sesuatu dalam pikiranku, ‘Aku tidak boleh suka padanya. Bagaimana jika suatu hari nanti dia pergi untuk selamanya. Aku hanya akan menjadi hati yang hancur dan kesepian.’

Tapi akhirnya aku membuang pikiran itu. Aku merasa terlalu egois jika harus membunuh perasaanku, hanya kerena merasa takut jika suatu waktu, ia akan pergi meninggalkanku. Maka aku memutuskan menjaga hatiku untuknya, meski mungkin ia tidak menaruh hati padaku. Tapi pikirku ‘itu tak masalah’. Bisa mencurahkan perasaanku sebagai seorang teman yang baik untuknya saja, sudah lebih dari cukup.
___

Seminggu lebih kami menjalani ujian. Dan kini kami tengah menikmati masa-masa santai di sekolah.

Siang itu, Richard sedang bermain basket bersama teman-temannya di lapangan. Aku memperhatikannya dari atas. Ia terlihat keren sewaktu menjebolkan bola ke ring.

Tak lama, akhirnya aku merasa bosan dan kembali ke kelas dan di kelas. Hanya aku seorang yang ada di sana. Suasana di luar kelas begitu ramai, tapi entah kenapa aku tak terusik olehnya. Aku menikmati suasa hening di dalam ruangan itu. Aku duduk di bangkuku, meletakkan kepala di atas lipatan kedua tangaku, lalu memejamkan mataku. Aku mulai bermain dengan alam khayalku.

Tapi kemudian terdengar satu suara memanggilku. Suara yang tidak bisa kuacuhkan. Suara yang begitu akrab di telingaku.
“Jeslyn?!”
Segera aku menoleh ke pintu, ke arah datangnya suara itu. Sempat aku terkejut, tapi kemudian aku tersenyum menyambut kehadiran Richard.
“Kenapa kamu sendirian di sini? Kenapa tidak bersama dengan yang lainnya di kantin?”
“Tidak suka.. Aku lebih senang sendirian seperti ini?” jawabku gugup, sambil melihat wajahnya yang terlihat agak pucat.
“O, kamu menyukai keheningan?”
“Ya, aku suka sekali suasana yang tenang dan hening. Kamu sendiri, kenapa berhenti main?”
“Tadi aku sedikit pusing. Tapi sepertinya sudah membaik. Kalau begitu aku pergi dulu, ya!” ucapnya dengan samangat, meski sebenarnya ia kelihatan tidak begitu baik.

Richard mulai berjalan menuju pintu keluar. Tapi, tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia memegang perutnya. Ia segera duduk di bangku terdekat dan menenggelamkan kepalanya dalam lipatan tangan kirinya. Aku segera bangkit dan mendekatinya.
“Richard!! Kamu kenapa?” tanyaku cemas.
“Eh..” Richard tak mengatakan apa-apa. Ia hanya menunduk dan memegang bagian perutnya.

Air mataku mengalir. Aku tidak kuasa melihatnya menahan sakit. Aku takut kehilangan ia.
Ia menoleh padaku dengan wajah seputih kapas.
“Jeslyn.. Tolong, jangan menangis.”
“Aku akan memanggil guru!”
Belum lagi aku beranjak, Richard sudah tak sadarkan diri. Aku menjadi panik. Aku buru-buru berlari memanggil bantuan, dan Rinchard segera dilarikan ke rumah sakit.

* * *

Tiga hari berlalu. Aku belum juga melihat Richard hadir di kelas. Aku begitu gelisah. Aku sangat ingin melihatnya.
___

Keesokan pagi, seperti biasa aku selalu datang lebih awal dari yang lainnya. Aku berjalan memasuki ruangan kelas, berharap hari ini melihat Richard hadir di kelas.

Saat aku memasuki kelas..
“Jeslyn.”

Suara itu, pikirku. Aku menoleh ke suduk kelas. Richard. Ia berdiri dan berjalan cepat ke arahku. Sedetik kemudian, aku sudah berada dalam pelukannya. Aku sempat bingung dan terkejut, tapi aku senang bisa melihatnya.
“Senang bisa melihat kamu.”

Ia diam untuk beberapa saat.
“Aku takut..” ucapnya. “Jeslyn aku sangat takut. Aku tidak suka berada di rumah sakit. Aku takut saat mataku terpejam, aku tidak dapat membukanya lagi. Aku takut.. takut tidak bisa melihatmu lagi!”
Aku merasakan air menembus lengan bajuku.
“Richard.. jangan menangis. Tangisanmu terasa menyayat hati..”
“Maaf. Tapi aku benar-benar takut. Sangat takut, Jes! Aku takut menjalani hari demi hari.”

Richard melepas pelukannya. Kutatap wajahnya yang memancarkan kesedihan dan ketakutan yang amat jelas.

Aku mengajukan protes kepada Tuhan, “Tuhan, kenapa cobaan seberat ini harus Kau berikan padanya? Dia masih sangat muda. Tidak bisakah Kau biarkan dia hidup lebih lama, setidaknya untuk menjalani masa remaja bersama teman-temannya. Tuhan, kenapa tidak Kau berikan saja penyakit ini pada orang-orang yang berhati dengki dan kepada para penjahat yang tak beradab di negeri ini?! Kenapa harus pada Richard..”

Kuambil sehelai tisu dari saku rokku, dan menyeka air matanya. Kuajak ia duduk.
“Richard, tolong jangan menangis terus.”
“Aku sangat cengeng, ya? Padahal aku laki-laki, tapi cengeng setengah mati.. Tapi, bukannya aku memang sudah setengah mati?..”
“Bukan?! Bukan itu maksudku?! Andai kata aku di posisi kamu, mungkin aku pun akan berlaku demikian, menangis dan menangis. Dan mungkin akan lebih dari ini. Aku mungkin akan mengurung diri, menjauh dari orang-orang di sekitarku. Memberontak pada Tuhan. Menyesali kenapa aku harus hidup kalau akan berakhir seperti ini. Dan mungkin aku akan mencari jalan mempercepat proses kematianmu.
Tapi.. Tapi kamu berbeda. Kalau boleh jujur, aku sangat kagum padamu.. Aku kagum pada keberanianmu, meski sebenarnya kamu takut.
Banyak orang, ketika mengetahui hidupnya tidak akan lama lagi, mereka akan benar-benar menikmatinya namun dengan cara yang salah. Tapi kamu berbeda, sangat berbeda..”

Ia diam. Matanya menatapku.
“Tapi.. kamu tahu, beberapa hari yang lalu, akhirnya pikiranku terbuka.. Aku menyerah pada buku kehidupan yang ada di tangan Tuhan. Tapi bukan berarti aku merasa kalah. Aku akan tetap tersenyum, menikmati sisa hidupku. Meski sebenarnya tidak mudah untuk menjalaninya tanpa ari mata.
Tapi air mata menandakan kalau aku hanya manusia biasa, yang punya rasa takut terhadap kata ‘kematian’.” Jeda sesaat.

“Aku berpikir, mungkin ini semua sudah dicatatkan menjadi jalan kehidupanku.. Inilah novel kisah kehidupanku yang sudah diselesaikan Tuhan setiap babnya. Sekarang mungkin Ia sedang membacanya ulang, untuk memberi sedikit pengeditan, dan mungkin sekarang Ia sedang membaca bab-bab terakhir dari novel-Nya. Dan bab itulah yang tengah kujalani saat ini.
Dan sekarang, aku hanya bisa menanti kata The End dari novel itu.”

(Ucapannya sangat dewasa.. Aku percaya, dia pasti kuat!..) Aku benar-benar menyukainya.
“Dan satu lagi, Jes! Awalnya aku juga tak sebaik yang ada di pikiranmu? Sejujurnya beberapa hari yang lalu aku berpikir untuk mengakhiri hidupku. Tapi, ada sesuatu yang menahanku.. Tepatnya ada seseorang yang membuatku tak mampu melakukannya..”
“Benarkah?! Boleh aku mengetahuinya?” Aku senang mengetahui ada orang yang membuatnya termotivasi. Aku senang, meski nanti orang itu bukan aku.
“Dia ada di depanku..” ucapnya seraya menatapku diiringi senyum lembut.

Bagai disambar, sekejab itu juga jantungku berdetak, bergemuruh bagai ombak. Aku hampir tak percaya dengan ucapannya, namun aku begitu senang.
Dan begitu cepat, sampai-sampai aku tak bisa menghindar dari ciuman hangat Richard yang mendarat di dahiku.

Aku merasa malu. Wajahku merona merah. Darah seakan naik-turun di tubuhku. Aku bergegas lari dari ruangan itu. Aku tersenyum bagai orang yang kehilangan kewarasannya.

Sampai aku tidak menyadari telah menabrak bahu seseorang. Untungnya orang itu adalah Leon, sahabat terbaikku.
“Leon?! Maaf!”” ucapku masih tersenyum-senyum.
“Jes, kenapa kamu senyam-senyum begitu?!”
“Ahh, tidak. Tidak ada apa-apa!”
“Aku tidak percaya?!”
“Benar?! Tidak ada apa-apa?!”
“Baiklah?.. Jes, bisa kita bicara?” ucap Leon dengan wajah sedikit serius.
“Ya, tentu saja.”
“Jes, sebenarnya aku sudah lama menyimpan perasaan ini..
“Jes, apa kamu menyayangiku?”
“Iya, tentu saja!”
“Apa kamu juga menyukaiku?”
Aku bingung, tapi aku menjawab, “Tentu saja!”.
“Kalau begitu, maukah kamu menjadi kekasihku?”

Detik itu juga aku diam. Mematung. Terkejut. Leon salah mengartikan maksud dari kata-kataku.
“Jes?”
“Maaf. Leon.. Maaf sebelumnya. Tapi sepertinya kamu salah mengerti maksudku. Aku memang menyayangi kamu, tapi sayang itu untuk seorang sahabat. Dan bagiku, kamu sudah seperti saudara.”
“Jadi.. kamu tidak memiliki perasaan itu padaku?”

Ia terlihat Kecewa. Aku jadi merasa bersalah.
“Aku sangat minta maaf, Leon. Aku tidak bermaksud mengecewakan kamu. Tapi untuk saat ini, sepertinya bukan perasaan itu yang aku rasakan terhadap kamu. Aku minta maaf..”

Ia diam. Sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
“Baiklah, tidak apa-apa. Aku ‘tidak akan’ mungkin dan ‘tidak akan pernah’ memaksa kamu untuk menyukaiku. Karena aku berhak untuk itu.”
“Aku benar-benar minta maaf..”
“Hei, sudahlah! Aku tidak marah! Tidak apa-apa! Ayo tersenyum!”
Aku tersenyum untuknya. “Aku sangat mengagumi sahabat seperti kamu. Kamu pandai memahami seseorang. Kamu berpikir lebih dewasa. Yah, meski terkadang penampilan luarmu terlihat kasar dan keras, tapi sebenarnya kamu mempunyai hati yang lembut. Aku beruntung bisa mendapatkan sahabat seperti kamu?”
“Jes, cukup, cukup! Jangan terlalu memujiku. Rasanya telingaku sudah memanjang!? Aku tidak sebaik itu?!.. Kalau begitu, apa ada seseorang yang kamu sukai?”
“Ada.” Aku tersenyum.
“Oh yaa?! Siapa? Apa aku mengenalnya?!”
“Mungkin kamu kenal. Dia teman sekelasku, namanya Rinchard.”
“Rinchard. Emm..” Ia mencoba mengetahui. “Oh dia?! Ya, aku mengenalnya!”
“Aku menyukainya.”
“Aku yakin, cepat atau lambat dia pasti akan menyatakan perasaannya pada kamu!?”
“Kenapa kamu bicara seyakin itu?”
“Tentu saja! Laki-laki mana yang tidak tertarik dengan gadis semanis dan selembut kamu! Kecuali, jika ia buta.”
“Hahaha! Aku tidak sebaik itu! Tapi, terimakasih atas pujiannya. Kalau begitu aku pergi dulu, ya. Semalam Carla meminta tolong untuk mengambilkan buku absen di kantor.”
“Ok?!.. (Jeslyn.. Sangat manis, seperti namanya. Tapi sayang, gadis manis ini belum membuka pintu kecil di hatinya untukku.. Tapi aku yakin, suatu saat pintu kecil itu akan terbuka)”.

Cerpen Karangan: Puspita Sandra Dewi
Blog: http://worldartsandra.blogspot.com

Cerpen The End (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Dan Romantis itu Seperti Apa

Oleh:
Tampak seorang lelaki berdiri di pinggiran reruntuhan tembok benteng yang mengingatkan kenangan pahit penjajahan bangsa belanda, Berhembus angin dari pantai yang tepat berhadapan dengan reruntuhan benteng, lelaki itu coba

Cara Tuhan….

Oleh:
Ketika kau ucapkan kata cinta itu hatiku terasa seakan terbang tinggi kelangit,dan enggan jatuh lagi.Ketika kau ucapkan kata rindu itu degup jantungku berubah menjadi lebih cepat.Ketika kau ucapkan kata

Tak Seindah Cinta Drama Korea

Oleh:
“Ada film baru gak?” Tanyaku saat mengunjungi toko kaset langganan. “He is beautifull” jawab si penjual sambil memberikan selembar CD (compact disk ya maksudnya, awas jangan ngeres) drama korea

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *