The End (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 19 March 2013

Saat Leon akan berjalan menuju kelasnya, Richard berjalan keluar dari ruangan kelas. Tapi tiba-tiba saja, langkahnya goyah.

Karena merasa heran, Leon menghentikan langkahnya. Ia melihat Richard yang sempoyongan dengan expresi wajah yang kesakitan.

Richard tidak menyadari keberadaan Leon. Ia terus berjalan semakin mendekati Leon. Tetapi Leon hanya diam tak bergeming. Terlihat acuh, tetapi menunggu.

Akhirnya Richard menabrak tubuh Leon. Leon masih diam dan tetap tenang.
“Eh.. Maaf..” ucap Richard dengan kesadaran yang tak lagi penuh.

Richard masih berdiri di depan Leon, memandang wajahnya yang tampak samar-samar. Ia bingung akan melangkah ke mana. Rasa sakitnya benar-benar tidak tertahan.

Akhirnya Richard kehilangan keseimbangan. Ia akan roboh. Namun, beruntung Leon menahan tubuhnya, dan meletakkan tangan kiri Richard di atas bahunya. Ia membantu Richard berjalan ke kelas, dan membantunya untuk duduk.

Leon duduk tak di jauh darinya. Ia menunggu Richard berhenti merintih. Boleh dikatakan, Leon tipe laki-laki yang dingin dan tenang. Ia sedikit misterius. Ia dapat membaca isi pikiran seseorang, meski terkadang tak sepenuhnya benar.

Beberapa menit kemudian, Richard mulai tenang. Rasa sakitnya mulai berkurang.
“Bagaimana, apa kau sudah merasa cukup baik?” tanya Leon dengan ketus.
“Ya.” Rinchard menjawab singkat dengan suara pelan.
“Kutunggu kau sepulang sekolah di taman belakang. Kalau kau tidak datang, aku kuhajar kau!!”

Richard hanya mengangguk pelan. Kemudian Leon beranjak meninggalkan ruang kelas, dengan menyembunyikan kepalan tangannya.
___

Akhirnya sekolah pun usai. Seperti janji, Richard menemui Leon di taman belakang sekolah. Ketika Richard tiba di sana, sudah terlihat Leon menuggu di bangku taman. Richard menghampirinya, dan duduk di sampingnya.
“Terima kasih kau sudah menolongku tadi.”
“Hh!! Kau tak perlu berterima kasih dulu!! ucap Leon sinis. “Itu sama sekali tidak penting buatku! Asal kau tahu, sebenarnya aku ingin membiarkanmu tergeletak di situ, atau pura-pura tidak melihat! Kalau bukan karena Jeslyn menyukaimu, mungkin aku sudah menghajarmu meski kau sudah hampir mati sekalipun!”
“Kenapa tidak kau lakukan? Aku bisa menerimanya.”
“Aku kasihan, melihat orang lemah sepertimu!”
“Kalau memang kau keberatan menolongku, kenapa tidak meminta pada orang lain saja? Atau seperti yang kau katakan tadi, kau bisa meninggalkanku di sana. Jadi kau tak perlu repot.”
“Kau ini bodoh, ya?! Aku tahu, kau tidak mau membuat orang lain mencemaskanmu. Dan aku juga tahu, tadi kau mau bersembunyi di tempat sepi, agar tidak ada yang melihat seandainya kau mati.”
“Benar.”
“Hh?! Pikiranmu sangat mudah terbaca. Tapi ada alasan lain kenapa aku ingin kau ke sini. Ada hal yang ingin kubicarakan?!”
“Apa?”
“Tapi, jangan pernah kau berpikir untuk berbohong, karena aku bisa membaca pikiranmu.”
“He-‘m..” Richard mengangguk.
“Kau sakit apa?”

Richard terdiam. Ia bingung. Ia tidak habis pikir, dari mana Leon mengetahui hal itu.
“Jawab!”
“Kerusakan hati.. level akhir.”
“Berapa lama lagi kau akan hidup?!” Leon mulai geram.
“Tak lama lagi. Hanya dalam hitungan bulan dan beberapa minggu..”
“Begitu, ya? Aku mau tanya.. kau tidak menyukai Jeslyn ‘kan?!”
“.. Kalau boleh jujur.. Aku sangat menyayanginya..”

Leon tidak bisa menahan kegeramannya lebih lama lagi. Ia benci pada Richard yang dianggapnya sangat egois. Akhirnya ia melepaskan kegeramannya. Ditariknya kera baju Richard, lalu mendaratkan tinjunya di pipi kanan Rinchard.
“Bajingan kau! Berani sekali orang yang sudah mau mati sepertimu menyukai Jeslyn?!”

Leon berdiri, mengangkat kera baju Richard, mendorong hingga punggung Rinchard menghantam tembok pembatas taman. Richard terduduk, ia merasa tubuhnya begitu lemah, dan tiba-tiba rasa sakit itu kembali. Wajahnya segera berubah memucat. Ia menenggelamkan kepala dalam lipatan tangan kanannya yang terpangku di atas lipatan kaki kanannya. Tangan kirinya mengepal di atas perutnya. Ia mencoba menahankan sakit.

Leon menghampirinya dan berjongkok di depannya.
“Angkat kepalamu?!!”
“Eh..” Richard merintih. “Bisa.. tunggu sebentar?”

Leon diam. Sesaat ia merasa takut, merasa bersalah, merasa kasihan, tapi juga masih merasa kesal terhadap Richard.
“..Rinchard? Kau kenapa? Apa sakit lagi?!” nada suara Leon melunak.
“H.. sakit..” Suara Rinchard hampir tak terdengar.
“Tunggu! Aku akan memanggil bantuan?!”

Saat akan beranjak, Richard menarik tangan kanan Leon. Richard mengangkat kepalanya dan menghadapkan pandanganya pada Leon.
“Jangan.. Duduklah..”

Leon menurut, ia duduk di depan Richard.
“Satu hal.. bisa jangan panggil aku Rinchard? Cukup Richard saja. Tiga kata di depan namaku itu terdengar seperti nama perempuan..” ucapnya dengan senyum tak utuh.
“Kau masih bisa bercanda di saat-saat begini?”
“Hehe..”

Richard kembali menenggelamkan kepalanya. Rasa sakitnya belum juga berkurang, dan sialnya ia lupa membawa pil-pilnya yang hampir mirip seperti pil ekstasi itu.

Leon mengangkat kepalanya. Melayangkan pandangan ke langit. Menikmati gumpalan awan-awan putih yang bergerak perlahan di langit biru.
“Sebenarnya aku benci kau menyukai Jeslyn.. Tapi aku juga kagum pada keberanianmu menghadapi semua ini. Kau tahu.. sebenarnya sudah lama aku menyukai Jeslyn. Dulunya aku dan dia hanya sahabat, dan aku tak pernah berpikir akan menyukainya. Entah sejak kapan aku jatuh hati padanya.
Aku sangat suka sisi keibuan yang ada padanya. Dia begitu pandai merawat orang sakit. Dulu aku pernah sengaja hujan-hujanan dan tidak makan seharian agar ia datang ke rumahku dan merawatku.
Dia juga seorang pendengar yang baik. Aku sering datang padanya dan memuntahkan semua masalahku. Dia selalu memberiku semangat ketika aku gagal dalam melakukan sesuatu, atau saat aku sedang putus asa.
Dia dapat menemukan jalan keluar ketika aku hanya menemukan jalan buntu. Satu nasihat darinya yang selalu aku ingat, ‘Jalan buntu itu seperti tembok besar yang mengahalangimu. Hanya ada dua cara untuk melaluinya.. berbalik arah atau melompati tembok itu dengan siap menghadapi resiko yang ada di baliknya.’”

Richard sudah merasa sedikit lebih baik. Ia mengangkat kepalanya, melihat Leon.
“Mungkin kau berpikir kalau aku ini orang yang tak berperasaan. Dan mungkin kau juga mau mengatakan, apa aku tidak tahu betapa sedihnya Jeslyn jika suatu waktu nanti aku akan meningal.
Kau salah jika berpikir seperti itu, dan kau juga salah jika mengira aku ini orang yang kuat. Sejujurnya, beberapa hari yang lalu aku berniat bunuh diri. Tapi aku tidak berani melakukannya. Bukan karena aku masih takut mati, tidak.. aku sudah sama sekali tidak peduli dengan kematian. Buatku kematian adalah kewajiban yang harus kujalani dan hidup adalah hak yang kuterima.
Aku tidak melakukannya, karena aku ingin meninggalkan suatu kenangan yang manis pada Jeslyn. Menitipkan kenangan tentang diriku padanya.
Aku ingin membuatnya merasa bahagia bersamaku, meski hanya beberasa saat lagi.”
“Maafkan sikapku tadi. Tak kusangka, ternyata kau sangat berbeda dengan apa yang ada dalam bayanganku sebelumnya.”
“Tak masalah. Aku juga minta maaf, karena sudah berani menyukai cinta pertamu.”

Leon cukup terkejut. “Dari mana kau tahu Jeslyn cinta pertamaku?”
“Baru saja kau mengakuinya. Hahaha! Hanya cinta pertama yang sulit untuk terkikis waktu di hati seseorang. Cinta pertama mempunyai kesan yang berbeda. Biasanya orang yang mengalami cinta pertama akan berkata ‘aku akan setia menantinya’. Dan itulah yang bisa kutangkap dari perkataan-perkataanmu tadi. Meski tidak kau ucapkan, tapi tersirat dari kalimatmu.”
“Apa kau sudah merasa cukup baik?”
“Lumayan..”

Sejenak suasana sepi, meraka saling diam. Kemudian..
“Apa Jeslyn tahu tentang penyakitmu?” Leon memecah keheningan.
“He-‘m, dia sudah tahu..”
“Kau janji akan membuatnya bahagia sebelum kau pergi ‘kan?”
“Janji..”
“Ingat! Kalau sampai kau tak menepati janji, akan kukejar kau sampai ke neraka?!”
“Kau tak perlu khawatir, aku pasti akan membuatnya bahagia. Dan aku akan berusaha membuatnya dapat melepas kepergianku dengan ikhlas.
Dan satu lagi, kau tak perlu repot-repot mengejarku sampai ke neraka. Buang-buang waktu kau mencariku di sana, karena aku yakin, tempatku pasti di surga.” ucap Rinchard dengan senyum.
“Ck! Dasar kau!? Ya sudah, apa kau bisa berdiri? Ayo kita pulang.”

Leon berdiri.
“Bisa tolong bantu berdiri orang yang hampir mati ini?” ucap Richard mengulurkan tangan kanannya. Dan Leon segera menarik tangan Richard.
“Terimakasih.. Oh iya, ternyata pukulanmu cukup mengerikan. Selain membuat memar di pipi dan di bibirku yang seksi ini, ternyata juga bisa membuat penyakitku kambu. Sepertinya aku harus waspada dengan kedua tanganmu itu?!” ucap Richard sambil memijat pelan sisi pinggir bibir sebelah kanannya.
“Aku sudah minta maaf!” ucap Leon sedikit berteriak.
“Iya! Aku tahu. Kau tidak perlu harus berteriak ‘kan?”
“Apa perlu kau kubantu berjalan sampai ke depan gerbang?”

Richard tersenyum geli. Ia berpikir, ternyata Leon tidak sekeras yang ia banyangkan. Laki-laki yang satu ini memiliki sisi lembut dalam dirinya. Dan lagi, ia membayangkan bagaimana jika Leon memapahnya berjalan sampai keluar gerbang. Bisa-bisa mereka dianggap pasangan..Ya, seperti itulah.
“Hmm.. tidak. Terima kasih.” Richard tersenyum.
“Aku tahu yang kau pikirkan! Dasar kau! Aku juga tidak sudi memapahmu di depan orang-orang!”
“Tapi di belakang orang-orang, kau bersedia menggendongku, ‘kan?”
“CIH!”
HAHAHAHA!

Mereka tertawa bersama, kemudian meninggalkan taman itu, dan pulang dengan rute perjalan yang berbeda.

Cerpen Karangan: Puspita Sandra Dewi
Blog: http://worldartsandra.blogspot.com

Cerpen The End (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senja Kelabu

Oleh:
Angin menepuk kesunyian senja ini… merintis mega kelam di langit biru. Sampai saat ini, segulung ombak perasaan menghantam batu hatiku. Apa itu yang dinamakan cinta? Mengapa begitu tega permainkan

Pertemuan Musim Dingin

Oleh:
Musim dingin. Lagi-lagi ia datang. Kenapa musim dingin tahun ini begitu membosankan seperti tahun-tahun yang lalu?. Tak ada yang spesial. Tak ada yang dapat membuat deretan gigi putihku terlihat.

Beda

Oleh:
Betapa indah jika kita bisa menyayangi dan memiliki orang yang kita cintai. Tanpa sebuah penghalang. Namun, lain halnya dengan kisah Salma dan Saka yang harus terpisah karena dinding kokoh

Jodoh Ku (Part 3)

Oleh:
Sudah seminggu sejak kejadian Justin menyebarkan suratnya. Semenjak itu keduanya tidak saling bertemu. Untuk Rachel, selain ia fokus pada sidang untuk kelulusannya, ia juga berusaha untuk menghindar dari Justin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *