The End (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 19 March 2013

Keesokan pagi, di sekolah, lantai tiga tempat ruangan kelas mereka, Richard sedang berdiri di pinggir pembatas sambil memandangi ke bawah. Tiba-tiba Leon datang mengejutkannya.
“Heyy?!” Leon setengah berteriak sambil menepuk pundak Richard.
“Dasar kau!”
“Pagi-pagi begini, kau melamun apa? Yang jorok-jorok, ya?!”
“Hahh..” Richard menghela nafas, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Maaf?! Kau ini tidak bisa diajak bercanda, ya!?”
“Bukannya tidak bisa diajak bercanda. Tapi candaanmu itu cocoknya ketika waktu tengah malam! Pagi-pagi begini tidak seru memikirkan hal-hal seperti itu! Ha! Ha! Ha! Ha!” Richard tertawa.
“Ha! Ha! Ha! Ha!” “Ternyata kau cukup gila!!”
___

Akhirnya aku tiba di lantai tiga, dan aku merasa cukup heran dengan kedua teman baikku itu. Kenapa mereka bisa sedekat itu, padahal mereka tidak begitu saling mengenal.

Aku segera menghampiri mereka.
“Richard? Leon? Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian kelihatan dekat sekali?”
“Kami baru jadian semalam?!” jawab Leon sambil merangkul bahu Richard.
“Jadian? Maksudnya?!” Aku mengerutkan alis dalam-dalam.
“Jeslyn, sebaiknya kamu jangan mendengar ucapannya?! Semalam tak sengaja kami bertemu di kafe, dan dari situ kami mulai dekat. Dia cukup asik diajak ngobrol.” jawab Richard tersenyum dengan wajah yang meyakinkan.
“Oh, begitu?! Leon memang asik diajak ngobrol. Dia sahabatku yang paling baik. Meski terkadang dia terlihat sedikit tidak waras!? Hihihi!” aku tersenyum nakal.
“He-‘m! Aku setuju!.. Oh ya, Jes, apa pulang sekolah nanti kamu ada waktu?” Richard berkata sedikit gugup.
“Sepertinya, ada. Kenapa?”
“Bisa kita bertemu di taman belakang?”
“Ehm.. ya, tentu?! Tapi kemungkinan aku sedikit telat, karena ada rapat organisasi.”
“Aku akan menunggu.”
“Ok! Kalau begitu aku ke kantor dulu, ya!”
Aku beranjak ke ruang kelasku, meletakkan tas, kemudian pergi ke kantor untuk mengambil peralatan kelas.
___

“Apa yang ingin kau bicarakan dengan Jeslyn?”
“Aku yakin kau sudah tahu.”
“Kalau begitu, semoga sukses!”
“Apa kau tulus mengatakannya?”
“Bodoh!!” ucap Leon sambil mendorong pelan bahu Richard.
“Aww!!” Richard menyentuh bekas dorongan tangan Leon. “Bisa tidak, jangan membunuhku sekarang?”
“Jangan berlebihan! Aku mendorongmu pelan!”
“Aku rasa tanganmu itu punya sentuhan ajaib! Soalnya sentuhan tanganmu terasa sakit meski kau menyentuhnya pelan!”

Leon menatap kedua telapak tangannya dengan wajah serius. “Apa tanganku sehebat itu?”
“Kau percaya, ya?! HA! HA! HA! HA!”
“Hahhh!! Kau memang bajingan kecil!!”
___

Bunyi yang dinanti-nantikan setiap siswa akhirnya tiba. Dering bel pertanda sekolah usai, bergema nyaring di setiap sudut sekolah. Leon pulang terlebih dahulu, sedangkan Richard menungguku di taman belakang sekolah, seperti yang sudah dijanjikan. Sementara aku sedang mengikuti rapat organisai.
___

Dua puluh menit yang membosankan di ruangan rapat akhirnya selesai. Aku tak mengira jika rapatnya akan selama itu. Aku begegas, berjalan secepat mungkin, tak sabar ingin menemui Richard.

Aku tiba di depan gerbang taman. Dari tempatku berdiri, aku dapat melihat Richard yang sedang duduk menungguku di bangku taman di bawah sebuah pohon besar. Ia tersenyum. Aku membalas senyuman itu.

Sesaat kemudian aku sudah duduk di samping Richard.
“Maaf telat! Soalnya ada banyak hal yang harus dibicarakan.”
“Tidak apa-apa.”

Rasa gugup sepertinya menghampiri kami berdua. Masing-masing diam. Kulirik Richard yang memandangi langit biru. Sekarang kualihkan pandang ke sekitarku. Dan kini aku tak kuasa menikmati cantiknya alam yang disajikan di taman sederhana sekolahku. Kunikmati keindahan dan ketenangan di taman itu. Di sekelilingku terlihat bentangan rumput hijau, dihiasi bunga-bunga nan indah. Kupandang ke atas, terlihat langit biru yang bersih disinari cahaya matahari yang cerah. Angin sejuk mengalun lembut, meniup helaian rambutku dan menyejukkan sekujur tubuhku. Aku merasa sangat nyaman.

Kemudian Richard memecah keheningan.
“Di sini sangat tenang.”
“He-‘m” Aku mengangguk.
“Jeslyn?”
“He’m?” Aku beralih menatapnya.
“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan kamu.”
“Apa?” Aku sedikit gugup.
“Sebenarnya.. Aku..” Jeda sesaat. “Aku suka kamu..”

Aku diam. Hening. Jantungku berirama. Irama itu membuatku ingin melompat, menari, berteriak. Aku begitu bahagia.
“Jeslyn.. Apa kamu menyukaiku?”

Aku masih diam.
“Eh.. Tidak apa-apa jika kamu tidak suka. Tidak masalah. Aku tidak akan memaksa..”

Aku tersadar. “Tidak! Bukan itu..” Aku kembali diam. Ingin menangis, karena begitu bahagia. Kucoba menguasai diri, dan berusara. “Sebenarnya, aku juga menyukai kamu.”
“Benarkah? Kamu yakin? Bukan karena kasihan ‘kan?” ucap Richard mengerutkan dahinya.
“Aku menyukai kamu.” Aku memperjelas ucapanku.
“Kalau begitu, bersediakah kamu menjadi kekasihku?” ucap Richard kemudian menarik keluar setangkai bunga mawar putih yang sedari tadi ia sembunyikan di balik punggungnya.
Aku tersenyum. “Kamu mengatakannya terlalu formal?! Tapi.. aku bersedia. Dengan senang hati.” ucapku dengan senyum paling manis.
“Benar?!”
“Ya!” Aku mengangguk.
“Terima kasih! Boleh aku peluk kamu?!”

Aku mengangguk. Dan tangan Richard segera memelukku. Aku membalas pelukan. Dadanya yang hangat. Aroma farfumnya begitu khas. Aku merasa nyaman bersamanya.

Cerpen Karangan: Puspita Sandra Dewi
Blog: http://worldartsandra.blogspot.com

Cerpen The End (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kau Terindah

Oleh:
Di pagi yang cerah ini, tiba-tiba hp ku bergetar “selamat pagi kiting, kamu ngasi kado apa besok buat ku?” ya Ismail nama seseorang yang saat ini dekat dengan ku,

Hargai Aku

Oleh:
“kapan sih dia peduli sama gua?” tanya ku pada nana. “lo sabar aja kali ra mungkin dia sibuk” nasehat nana “tapi na, dia itu gak pernah ada waktu buat

Aku Mawar

Oleh:
Namaku Warda, tapi kau sering kali memanggilku Mawar. Katamu, Warda itu bahasa arab yang artinya bunga mawar. Aku pun hanya bisa mengiakan saja dan tersenyum perlahan saat kau memanggilku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *