The End (Part 5)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 20 March 2013

Esok pagi ketika aku tiba di lantai tiga, aku bertemu dengan Leon yang sedang berdiri di pinggir pembatas.
“Pagi Jeslyn!?” Leon menyapaku.
“Leon?!” Aku melangkah cepat menuju Leon, dan memeluknya.
“Sepertinya kamu senang sekali hari ini?!”
“Aku sangat bahagia?!” Aku melepas pelukkku.
“Ayo cerita?! Kenapa kamu sampai seceria ini?!”
“Aku dan Richard sudah menjadi kekasih!”
“Benarkah! Selamat ya! Richard pasti akan menjadi kekasih yang baik untuk kamu, aku sudah merasakannya semalam!” ucapnya, nakal.
“Merasakan apa?” alisku berkerut.
“Apa lagi, kalau bukan ciumannya! Dia pintar sekali berciuman!”

Seketika itu juga seseorang menjitak kepala Leon dari belakang.
“Dasar kau! Ini masih pagi! Jeslyn, sebaiknya kamu tidak mendengarkan perkataan sahabatmu yang sedikit tidak waras ini!”
Aku tertawa geli melihat sikap mereka berdua. “Ya sudah?! Aku permisi dulu, ya? Ada tugas yang harus kukerjakan di kantor.”
“Ok?!” jawab Leon.

Kemudian aku meninggalkan mereka di sana.
“Kau ini?! Pagi-pagi pikiranmu sudah po*no?!”
“Hehehe! Kau sudah mencium Jeslyn?”
“Bodoh!? Kau pikir aku segila itu?! Mana aku berani selancang itu!?”
“Kalau begitu, berikan ciuman pertamanmu untukku?!”

Richard berubah serius. Ekspresinya menjadi nakal. Ia merengkuh kedua bahu Leon dan menariknya mendekat.
“Mau apa kau!” Leon bergegas menarik dirinya dan menjauh dari Richard.
“Kau tidak waras!”
“Ha! Ha! Ha! Ha! Kena kau kawan!!”

* * *

Tidak terasa, ujian semester dua telah selesai. Liburan pun tiba. Sudah lima bulan lebih, kami menjalin hubungan.

Richard seorang yang penuh perhatian, ia begitu lembut. Ia tahu ketika aku tengah dilanda masalah. Dalam satu minggu, ada saja kejutan yang ia berikan untukku. Ia sering membawaku ke tempat-tempat yang mengagumkan. Di mana di sana hanya ada ketenangan dan kenyamanan. Dan bersamanya, aku merasakan hadirnya kedamaian. Aku benar-benar bahagia memiliki seseorang seperti Richard.

Satu hal lagi, Rinchard begitu pandai membuatku terhanyut dalam setiap kejutannya. Ia bisa membuatku lupa pada kondisinya. Setiap kali aku menanyakan keadaannya, dia selalu menjawab “Jangan khawatir?” dengan memasang senyum yang manis dan wajah yang meyakinkan.
___

Sabtu pagi itu, Richard lagi-lagi mengajakku ke sebuah tempat yang begitu indah. Sebuah sungai kecil yang ada di pinggiran sebuah hutan. Cahaya matahari pagi yang menembus pepohonan dan menyinari sungai, membuat suasana pagi sangat indah dan membuat hatiku terasa begitu tenang. Sampai akhirnya Richard mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
“Jeslyn, bisa berikan tangan kiri kamu?”
“Ada apa?” tanyaku sambil memberikan tangan kiriku.

Tak kuduga Richard menyematkan sebuah cincin kecil yang manis di jari manisku.
“Richard, kamu tak perlu repot-repot memberikan cincin ini untukku!” ucapku, meski di sisi lain aku sangat senang menerimanya.
“Cincin adalah lambang pengikat. Cincin diberikan untuk seseorang yang memang sangat berarti bagi kita. Dan aku memberikan cincin ini, karena kamu adalah seseorang yang sangat berarti bagiku.. Bisa tolong kamu pejamkan matamu?”

Aku menurut. Menanti kejutan apa lagi yang akan ia berikan. Tiba-tiba jantungku berdebar kencang. Dan kemudian aku merasakan sentuhan bibirnya yang mendarat lembut di bibirku. Hanya sesaat, tapi begitu hangat, dan sangat berarti. Kemudian ia memelukku.
“Jeslyn, kamu sudah tahu kalau aku tidak akan hidup lebih lama lagi ‘kan? … Karena itulah, aku selalu berusaha memberikan kejutan untuk kamu. Aku ingin kamu mengenang kenangan manis bersamaku.” ucapnya seraya melepas pelukannya dariku. “Kamu tahu, tidak ada satu pun jiwa di dunia ini yang ingin dilupakan saat mereka tiada nanti. Dan hanya orang bodoh dan tak berperasaan yang berusaha melupakan semua kenangan tentang seseorang, untuk melenyapkan kesedihan dan rasa kehilangannya.
‘Jangan pernah lupakan aku.. meski aku tahu suatu saat nanti akan ada seseorang yang menggantikan posisiku. Tapi sisakanlah satu ruang kecil di hatimu untukku..” lanjutnya.

Ucapannya begitu menyayat hatiku, sangat perih. Saat itu juga, tiba-tiba aku merasa sangat takut kehilangan dirinya. Meski aku tahu, aku tidak punya hak untuk memiliki hidupnya.
“Aku berjanji.. tidak akan melupakan kamu..” ucapku seraya mendekapnya kembali, sangat erat.

Tak terasa hari menjelang sore. Richard mengantarku pulang ke rumah.
___

Hampir tiga hari aku tidak mendengar kabar Richard. Ia tidak mengunjungiku ke rumah, juga tidak meneleponku.

Ternyata pagi dihari ketiga itu, Richard kembali ke tempat terakhir kami bertemu. Ia merenung sendirian di pinggiran sungai itu.

Saat ia tengah tenggelam dalam suasana indah di tepi sungai itu, tiba-tiba rasa sakit itu menyerang lagi. Ia memegang bagian perutnya, merintih kesakitan. Ia tak bisa bergerak, sangat sakit, begitu menusuk. Ia merasa mual. Ia menutup mulutnya, tapi itu tak cukup untuk menahan darah yang mengalir keluar. Ia ingin berteriak minta tolong, tapi mengeluarkan suara pun ia tidak mampu.

Seketika itu juga rasa takur menghantuinya. Ia belum siap untuk mati sekarang. Tapi tiada daya, ia hanya bisa pasrah dan berharap akan ada yang melihatnya di sana. Ia tak mampu lagi untuk tetap terjaga, dan akhirnya ia roboh di sana.
___

Saat itu entah kenapa dan bagaimana, Leon sedang melukis tak jauh dari tempat itu. Dan tak sengaja ia melihat seseorang yang sepertinya sedang tiduran di tepi sungai. Tapi ia merasa ada yang salah. Ia melangkah cepat menuju orang tersebut, untuk memastikan bahwa orang itu baik-baik saja.
Saat ia tiba, betapa terkejutnya dia mendapati Richard tak sadarkan diri dengan darah yang bersebaran di mulut dan di tangannya.

“RICHARD?!!” Leon segera mengangkat bahu Richard. Tanpa pikir panjang, ia menggendong Richard di punggungnya dan membawa Richard ke mobilnya. Leon melaju cepat ke rumah sakit terdekat, dan setibanya di sana, Richard segera di bawa ke IGD.

Leon menunggu di luar ruangan. Ia mondar-mandir cukup lama di depan pintu ruang, sampai akhirnya dokter keluar dari ruangan itu.
“Dokter?! Bagaimana keadaan teman saya?!”
“Maaf, teman kamu tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Kami sudah melakukan semampu kami. Tapi sepertinya, penyakit ini sudah sangat parah.”

Leon segera masuk ke ruangan Richard. Ia duduk di samping ranjangnya.
Ia menungu. Menunggu. Hari menjelang sore. Leon masih menunggu. Danakhirnya Richard sadar.
“Leon?” ucap Richard dengan nada lemah.
“Richard?!”
“Kenapa wajahmu sedih sekali?”
“Richard.. kata dokter kau..” Leon tak mampu menyambung kalimatnya.
“Hei! Sudahlah, kau tak perlu sedih begitu. Aku saja yang menjalani ini tak kelihatan sedih sepertimu. Dokter itu pasti mengatakan kalau aku tak bisa bertahan lebih lama lagi ‘kan?”
“Richard..” Jeda saat. Tenggorokannya terasa berat. “Kenapa kau bisa sampai sekuat ini menghadapi masalah yang sebenarnya begitu berat untuk dijalani. Kau tahu, kurasa kalau sekarang ini aku ada di posisimu, aku akan menangis setiap hari.. karena aku takut menjalani hari-hariku menuju kematian..”
“Jeslyn..”ucap Richard tanpa ragu. “Jeslyn yang membuatku sekuat ini. Dia yang menjadi semangatku.. Melihat senyumnya yang manis, rasanya satu hari seperti satu minggu bagiku.”
“..Richard.. Terima kasih, kau sudah menepati janjimu, untuk membuat Jeslyn bahagia?”
“Bodoh! Kau pikir aku melakukannya untukmu? Aku melakukannya karena memang aku mencintai Jeslyn. Aku mencintainya dengan sepenuh hatiku..”
“Aku tahu..”
“Leon.. aku tahu waktuku akan tiba..”
“Jangan bicara bodoh?!”
“Tapi memang itulah kenyataannya, bukan?.. Sebenarnya aku iri padamu. Kau sangat sehat, beda denganku.. Aku hanya jiwa yang berdiam dalam raga yang akan menemui ajalnya.
Aku iri, karena aku tidak punya waktu lebih lama sepertimu untuk menemani Jeslyn..
Karena itu.. aku titipkan cinta yang ada dalam jiwaku pada ragamu. Kau yang akan menggantikan aku untuk menjaga, mencintai, dan menyayangi Jeslyn. Mungkin itu permintaan terakhirku.. bisa tolong kau kabulkan?” ucapnya dengan senyum.

Leon mengangguk. “Pasti sobat! Aku berjanji!”
“Terima kasih.. Sekarang, bisa tolong kau bawa aku keluar dari rumah sakit ini? Aku bosan dengan rumah sakit. Rumah sakit membuatku merasa kalau aku benar-benar sudah mau mati.. Bisa tolong kau antar aku ke rumah Jeslyn?”
“Tentu. Aku akan membawamu pada Jeslyn?”
“Terima kasih..”

Cerpen Karangan: Puspita Sandra Dewi
Blog: http://worldartsandra.blogspot.com

Cerpen The End (Part 5) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semua Berakhir Bersama Senja

Oleh:
Kriingg… kriiingg… kriiinggg… jam weker di kamar Clarissa berbunyi. “huaaahhmm… pagi yang cerah.” ucap Clarissa yang masih setengah mengantuk. Ia pun bergegas mandi dan bersiap-siap pergi sekolah. Setelah bersiap-siap,

Retak Yang Utuh

Oleh:
Hari ini aku terlalu lelah menghadapi hiruk pikuknya kegiatan sekolah hingga akhirnya aku tertidur dari pulang sekolah sampai jam 20.00 malam. Aku lelah karena semua apa yang aku inginkan

True Love (Part 1)

Oleh:
Cuaca pagi yang cerah menghiasi taman sekolah SMK itu, terlihat seorang gadis yang tengah membaca buku di Taman sekolah. Gadis itu bernama Rere, tidak jauh dari tempat Rere membaca

Ketidaksengajaan Rasa

Oleh:
Hari minggu adalah hari yang dinanti-nanti oleh semua pelajar di indonesia, karena hari weekend merupakan hari bebas dari pelajaran yang memabukkan itu menurut Tasya Anggraini, seorang siswa SMAN 1

Hidupku Dalam Bayang Bayang Cinta

Oleh:
Pagi ini cuaca terlihat sangat mendung. Sangat cocok sekali dengan suasana hatiku sa’at ini. “lira, cepet turun yang lain udah nunggu di bawah?” suara yang terdengar memanggilku dan tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “The End (Part 5)”

  1. Lusi Febriani says:

    next. ceritanya seru banget. saya baca dari part 1, bener2 keren.. terharu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *