The Grondey: The History That Was Never Know

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 3 November 2013

Setelah Darwin masuk ke dalam Board of Death dua tahun lalu, mereka jadi diberi pengawasan ketat dan membuatnya tak bisa bermain atau pun keluar dari asrama. Tahun itu Mr. Eugene mendapatkan seorang teman yang tak jauh beda darinya. Mr. Nick. Mereka sama-sama ketat, keras dan mengerikan. Apalagi karena datangnya Minimolly yang mereka tunggu-tunggu. Setiap ke mana pun mereka pergi, Minimolly itu pasti akan terus mengikuti. Dan juga amat disayangkan, Minimolly milik Darwin ternyata sangat disiplin sekali dan mentaati peraturan. Hal itu benar-benar membuat Darwin pusing akan Minimollynya. Namanya Hipo. Entah dari mana dia mendapat ide untuk menamai Minimolly itu.

Sementara Minimolly milik Elizabeth namanya Kate. Minimolly itu sangat pintar. Bahkan lebih pintar dari Elizabeth, hal itu membuatnya semakin pintar saja. Sementara milik Edgar, namanya Sonny. Minimolly yang sangat malas dan meyebalkan. Dia hampir mirip saja dengan Edgar, namun Minimollynya lebih buruk dan sangat kurang ajar.

Memasuki tahun ke empat di Grondey, tepat Darwin berusia lima belas tahun. Saat seorang gadis dari Clawfrintclass yang terkenal cantik di Grondey menarik hati Darwin, dia sangat ingin memilikinya. Nama gadis itu Nathly. Nathly McProcter. Gadis yang merupakan teman sehotel dengan Verby. Memang awal Darwin mengenalnya adalah saat Verby mengajaknya mengunjungi hotel Verby. Saat itu dia baru melihat gadis secantik Nathly. Entahlah, tapi karena Darwin sering memperhatikannya, Elizabeth kadang-kadang kepergok sedang menatapnya sinis dan tiba-tiba tersenyum dengan akhir wajah muram. Diakui saja, Darwin memang menyukai Elizabeth. Bahkan dia mengaguminya karena kepintarannya yang luar biasa. Namun dia tak bisa melakukannya, Edgar. Edgar mencintai Elizabeth, dia tak akan tega menyakiti hati orang yang pertama kali mau berteman dengannya setelah Elizabeth.

“Hipo, aku mau keluar dulu sebentar. Kau di sini, ya! Di sini!” kata Darwin berbisik sambil menyuruh Minimollynya diam.

Hipo menggeleng dan langsung mengibarkan sayapnya dan mencibir pada Darwin. Dia terus menggeleng-geleng sambil melipatkan tangan di atas dadanya.

“No, no! Itu tak boleh Tn. Willy, Hipo harus melindungi Tn. Willy sesuai tugas Hipo,” katanya membantah.

“Hipo, aku Tuanmu! Mengapa kau lebih menurut pada peraturan daripada aku?” tanya Darwin sinis.

“Peraturan milik Prof. William, Hipo harus mematuhinya!” kata Hipo.

“Hipo, Prof. William adalah Kakekku, dia orangtuaku. Aku dan dia sama,” kata Darwin.

Hipo berpikir dan memutarkan bola matanya ke atas sambil menyimpan tangan kiri di atas dagu. Dia beberapa kali mondar-mandir sambil terbang dan menimbang-nimbang pemikirannya. Darwin duduk mencibir di atas kasurnya. Seharusnya Hipo cepat, sebelum dia kehabisan waktu istirahat.

“Ah! Anda benar, Tn. Willy, Hipo mengizinkan Tn. Willy pergi ke luar,” katanya riang. Darwin tersenyum.

“Ya, kau Minimolly yang baik Hipo,” kata Darwin. Hipo menyombongkan dirinya, “kau mau kan membantuku?” tanya Darwin lagi. Hipo mengangguk.

“Aku ingin ke luar sebentar, kau bisa kan mengecoh si Eugene?” tanya Darwin.

“Mr. Eugene. Oh! Dia keras, mengerikan dan amat buruk!” kata Hipo bergidik.

“Ya, kau kecoh saja dia agar meninggalkan pintu utama. Aku ingin keluar sebentar. Sebentar saja,” kata Darwin memelas pada Hipo.

Hipo mengangguk dan mulai terbang ke arah luar. Perlahan Darwin mulai berjalan menuju ke luar. Memang telah ditetapkan sekarang bahwa para pelajar tak boleh keluar dari asrama. Hal ini benar-benar membuat Darwin jengkel. Dia tak tahan jika harus dikurung di dalam penjara seperti Grondey bersama pelajaran-pelajarannya yang amat memusingkan.

Darwin melihat Hipo tengah menganggu Mr. Eugene dan membuatnya mengejar Hipo. Serentak Darwin langsung berlari menuju keluar dan amat merasa bahagia. Dia menatap ke belakang tanpa memperhatikan di depannya. Tiba-tiba sesuatu membuatnya tertarik dan jubahnya terasa panas pada bahunya. Darwin terlonjak kaget melihat sebuah Manusia Serigala yang akan memangsanya. Darwin kaget dan langsung memegang bahunya yang memanas dan cukup perih. Dia berusaha sebisa mungkin untuk melepaskan dirinya dari genggaman dan cakaran yang kuat pada bahunya. Dia menatap manusia serigala itu. Tiba-tiba saja dia merasa ada sebuah desiran di hatinya. Dia menatap mata manusia serigala itu. Serasa ada sesuatu yang tak berbeda. Serasa dia tak asing baginya.

Darwin sadar. Dia langsung menarik jubah dan berlari ke arah asrama. Dia memegang bahunya yang perih dan panas. Bahunya terus mengeluarkan darah. Dia tahu, pasti pelajaran mantra telah dimulai beberapa menit yang lalu. Dia pasti terlambat.

Darwin langsung berlari menuju hotel dan membawa buku mantra. Segera dia berlari ke ruangan pembelajaran. Prof. Greture. Oh, si bengis itu! Darwin dengan cepat terus berlari. Rasa sakit pada bahunya semakin menjadi-jadi. Apalagi setelah dia merasa pusing dan amat panas pada seluruh tubuhnya. Rasanya tak mau saja belajar mantra hari ini. Membuatnya semakin malas saja belajar.

Darwin terhenti ketika Prof. Greture sedang menghabiskan kapur di papan tulisnya dan langsung menatap Darwin. Darwin menunduk masih sambil memegang bahunya. Prof. Greture memalingkan pandangan pada bahu Darwin yang berdarah.

“Kenapa bahu kananmu?” tanya Prof. Greture menyelidik.

“Saya berlari dari ruang bawah tanah. Karena gelap dan sempit, bahu saya terkikis tembok batunya,” kata Darwin berbohong.

“Kau terlihat sedikit pucat. Kau boleh tak masuk. Kau bisa pergi ke Clawfrintclass. Panggil McProcter. Dia sangat pandai menggunakan mantra pengobatan,” suruh Prof. Greture.

Darwin mengangguk pelan sambil menunduk. Sementara Elizabeth menatapnya cemas. Darwin tak menatap kembali ke arah kelas dan segera berjalan menuju hotel Crawfrintclass. Saatnya bertemu Nathly McProcter. Gadis yang disukainya.

Darwin mengetuk perlahan pintu hotel yang dia tuju. Perlahan seseorang membuka pintunya. Dan dia langsung menatap Darwin terkejut.

“Ka-kau mencari siapa?” tanya gadis itu.

“Aku mencari Nathly McProcter.”

“Mau apa kau mencarinya?” tanya gadis itu sedikit sinis.

“Aku membutuhkannya. Prof. Greture menyuruhku untuk menemuinya. Luka. Aku perlu bantuannya,” kata Darwin menunjukan luka di bahunya.

“Oh, baiklah. Dia sedang menyendiri di kamarnya. Silahkan masuk, kau tinggal naik ke tangga,” katanya.

Darwin segera masuk ke dalam ruangan itu. Dekorasi dan hiasan di ruang itu masih sama seperti dia pertama kali ke sana. Juga sangat berbeda dengan ruangan di Drawsentclass. Tangga kayu di Drawsenclass hampir sama dengan di Clawfrintclass. Namun sepertinya dibuat dengan kayu yang berbeda.

Darwin mulai berjalan memasuki kamar McProcter dan menyapanya. Awalnya dia merasa sedikit gugup berada di dekatnya. Namun setelah dia tahu bahwa McProckter sangat ramah, dia tak merasa canggung lagi.

“Lukamu ini sangat mirip dengan cakaran. Tapi aku tak begitu yakin, lagipula mana ada Werewolves di siang hari, hahah,” katanya.

Darwin tersenyum padanya. Dia berpikir. Benar juga apa yang McProcter katakan. Mana mungkin Werewolves – manusia serigala – ada di siang hari. Lagipula mereka hanya akan berubah pada malam hari di bulan purnama. Dan itu akan terjadi beberapa hari. Namun kemarin atau pun beberapa hari lalu tak ada bulan purnama. Bulan purnama akan datang seminggu lagi, kira-kira.

“Apakah kau tak keluar asrama?” tanya McProcter.

“Err, tidak, Nathly,” balas Darwin memegang bahunya.

“Masih sakit?”

“Lebih baik,” kata Darwin mencoba tersenyum manis padanya.

McProcter membalas tersenyum padanya. Sejenak mereka bertatapan mata dan tak sama sekali berkedip. Namun Darwin membuyarkan semuanya hanya dengan satu kali kedipan dan memalingkan wajahnya.

“William,” kata Nathly.

“Panggil saja dengan nama depanku,” balas Darwin sedikit canggung.

“Ya, Darwin,” kata McProcter, “panggil juga aku dengan nama depanku,” kata McProcter.

“Baiklah, Nathly,” kata Darwin, “oh, ya! Aku ingin berbicara sedikit padamu,” kata Darwin sedikit canggung.

“Bicaralah,” kata McProcter sediki mendekatkan arah duduk pada Darwin.

“Sebenarnya, ehm, aku, ahh!” kata Darwin canggung, “kau mau, kan menjadi, menjadi kekasihku?” tanya Darwin serius pada McProcter.

McProcter sedikit kaget dengan ucapan Darwin. Dia terlihat tersenyum dan mengangguk pelan membalas pertanyaan Darwin. Darwin ikut membalas tersenyum dan menatap McProcter kembali. Tiba-tiba terdengar suara gebrukan pintu dan terlihat gadis yang tadi membukakan pintu pada Darwin berlinang air mata.

“Ternyata kau menyukai McProcter,”

“Darwin, Prof. Robert memanggilmu!” kata Elizabeth tiba-tiba.

Darwin langsung mengangguk dan melangkah pergi menuju ruangan Prof. Robert. Dia berjalan dan segera memasuki ruangan Prof. Robert. Ketika masuk, dia sedikit merapatkan jubah dan seragamnya agar luka cakaran tiga hari lalu tak terlihat oleh Prof. Robert.

“Profesor, apakah anda memanggil saya?” tanya Darwin masuk.

“Oh, duduklah, Darwin,” kata Prof. Robert. Di sana ada Kakeknya juga.

“Darwin, berapa umurmu sekarang?” tanya Kakeknya, Prof. William.

“Lima belas,” kata Darwin.

“Ya, kurasa kau sudah cukup dewasa untuk mengetahuinya,” kata Kakeknya lagi.

“Mengetahui, apa?”

“Orangtuamu. Sebenarnya Ayahmu adalah penyihir legendaris yang dicari-cari oleh para orang jahat. Maka dari itu, kau tak pernah melihatnya yang asli,” kata Prof. Robert.

“Maksud anda, Ayah saya? Saya tak pernah melihatnya?” kata Darwin.

Darwin berpikir. Pantas saja waktu tahun keduanya, saat dia naik kereta dan Elizabeth membacakan penyihir legendaris. Ayahnya, dia melihat potretnya. Dan potret itu tak mirip dengan Ayah yang dia kenal wajahnya. Jadi, sebenarnya dia tak pernah melihat siapa dan bagaimana orangtuanya?

“Lalu, orangtua saya di mana? Apa mereka masih hidup?” tanya Darwin.

“Sayang sekali, kami terpaksa tak bisa menolong mereka,” kata Kakek Darwin memotong perkataan yang sudah tersenggal di tenggorokan Prof. Robert.

“Lalu mengapa anda tak memberitahu saya?” tanya Darwin sedikit marah, “apa anda tak merasa kasihan pada saya yang selalu saja tersiksa dan, aw!” kata Darwin menggenggam bahunya yang tiba-tiba berdenyut keras.

“Maafkan aku, Darwin,” kata Prof. William.

Darwin menggeleng dan masih menggenggam bahunya yang berdenyut. Dia pergi meninggalkan kantor Prof. Robert dengan amarah yang dipendamnya. Entah mengapa, ketika dia merasa marah, luka di bahunya berdenyut-denyut dan terasa perih lagi. Ditambah bekas luka pada matanya pada saat terkena mantra yang meleset ikut sakit dan terasa mendengung di telinganya. Entah apa yang telah terjadi padanya.

Sementara di kantor Prof. Robert, Prof. William tengah sedikit berdebat tentang perkataan mereka tadi.

“Mengapa seperti itu?” tanya Prof. Robert sedikit bingung.

“Aku tahu, tapi dia tak boleh seperti itu,” balas Prof. William tenang.

“Ya, tapi itu tak bagus untuknya,” kata Prof. Robert tak mau kalah.

“Dia belum cukup dewasa, lihat sikapnya! Kau tahu, kan? Hampir semua kekuatan Ayahnya ada pada dia, aku harus bagaimana lagi? Seharusnya dia yang terlindungi dan tak harus seperti ini. Kau tahu, kejadian-kejadian mengerikan yang melibatkannya membuatku cemas dan khawatir jika dia akan terbunuh Kau tahu? Mereka sudah mengetahui rahasia itu, aku tak mau dia mengetahuinya, cukup kita yang melindungi dan membuatnya tetap aman,” kata Prof. William tegas.

“Ya, aku juga tahu bahwa kau sudah tak tahan untuk melihat cucumu dan mengatakan bahwa kau adalah Kakeknya saat dia pingsan. Benar, kan?” tanya Prof. Robert sedikit berang. Prof. William diam.

Malam itu bulan yang hampir sempurna menggantung di atas awan hitam. Entah mengapa dia merasa ada hubungannya dengan bulan itu. Entah hal apa yang membuatnya amat erat dengan bulan. Tiap kali dia melihat cahaya bulan bersinar terang, hatinya merasa tak tenang dan sedikit gundah. Dia juga terkadang sering merasa sedikit sakit pada mata dan bahunya jika menatap bulan. Entah apa hubungannya.

Darwin mengambil sebuah buku tebal. Itu adalah buku Elizabeth yang dipinjamnya. Selama itu dia membaca beberapa tentang Werewolves. Di buku itu diceritakan bahwa Werewolves itu akan menurun pada anak dan bisa ditularkan dengan gigitan atau cakarannya. Juga seorang Werewolves akan terus muda dan bisa dibilang abadi. Namun mereka bisa mati jika terkena tusukan atau pun sesuatu yang bisa membuatnya mati. Maksud dari abadi itu tak akan pernah tua. Namun setahunya Werewolves adalah makhluk terkuat yang pernah ada di dunia sihir karena tak akan mempan dengan mantra. Mereka juga sangat buas dan ganas. Sangat sulit caranya jika ingin mengontrol tubuh dalam kesadaran saat menjadi Werewolves. Dan itulah yang ingin Darwin pelajari. Juga ramuan yang bisa membuatnya tidak berubah saat malam purnama.

Malam itu Darwin melakukan pembelajaran cara untuk mengontrol tubuh saat menjadi Werewolves dan rencana untuk memutuskan Nathly. Dia seharusnya tak mencintai seorang pun walau dalam hatinya. Seharusnya dia tahu akibatnya jika mencintai dan menikah, pasti anak mereka akan terlahir sebagai Werewolves sebagai Ayahnya.

Darwin berusaha melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Siang itu dia habis meminum ramuan yang dia buat setelah memutuskan Nathly. Dia lalu mengusap bibirnya dan langsung menuju Elizabeth yang akhir-akhir ini terlihat buruk. Dia selalu berbicara singkat dan seperlunya jika Darwin bertanya atau menyapanya. Dia juga sering menyendiri dan tak begitu dekat dengan Edgar. Begitu pun Darwin, dia tak tahan berada di dekat Edgar karena Sonny yang amat menyebalkan.

“Kau tahu kenapa Elizabeth akhir-akhir ini?” tanya Darwin.

“Willy suka Eylizab!” kata Sonny tiba-tiba.

“Sonny, kau harusnya diam saat Tuanku sedang berbicara!” kata Hipo menegur Sonny.

“Suka-suka Sonny!”

“Sonny, kau harus diam! Kau harus menuruti segala yang aku katakan!” kata Edgar berang.

“Tn. Ferdy juga tak suka menuruti perintah!” kata Sonny membalikan fakta.

“Argghh! Mati saja kau!” geram Edgar berang.

“Bagaimana keadaanmu, Edgar?”

“Semenjak aku dapat dia, hidupku hancur!” kata Edgar mengeluh.

“Oh, itu Elizabeth, Elizabeth!” teriak Darwin.

“Ya, ada apa?” kata Elizabeth.

“Aku ingin mengembalikan buku ini,” kata Darwin sambil memberikan buku berjudul ‘Sejarah Makhluk Kuno dan Penyihir Legendaris’.

“Oh, terimaksih,” kata Elizabeth sambil sedikit berlalu.

“Tunggu!” kata Darwin. Elizabeth mendongak.

“Ada perlu apa lagi?” tanya Elizabeth.

“Aku mau berbicara sesuatu padamu.”

“Kumohon jangan lama,” kata Elizabeth.

“Aku sudah putus dengan Nathly.”

“Apa?”

Malam menjelang membuat matahari harus kembali ke persinggahannya. Darwin menatap sendu jendela kamarnya. Akhir-akhir ini dia selalu merasa sedih dan waspada. Entah karena dirinya, atau pun hatinya. Tapi seberkas rasa menyayat selalu timbul di dalam tubuh kuatnya.

“Darwin, ini gawat!” kata Elizabeth mendobrak pintu.

“Apa yang terjadi?” kata Darwin kaget dan langsung menatap Elizabeth.

“Nathly, dia diculik Troll. Kau tahu, siapa yang sudah mencoba mengalahkan Troll?”

Darwin berlari menembus malam bersama Elizabeth dan Edgar. Mereka telah mengurung Sonny dan membuatnya bisu dengan mantra yang menggunakan kata kunci oleh Elizabeth. Tapi memang ada mantra untuk cara membuatnya terbuka.

Elizabeth dan Minimollynya sedang berusaha untuk membereskan beberapa barang yang mereka perlukan untuk diperjalanan. Sementara Edgar dan Darwin masih berlari bersama angin malam yang menusuk keras dan bersama jubahnya yang berkibar-kibar. Mata Darwin mulai waspada dan terlihat tembus pandang. Dia bisa melihat jarak beberapa kilo meter ke depan yang sudah terlihat seorang yang ditangkap oleh Troll jahat yang raksasa. Darwin tak salah lagi, kemampuannya merasakan sihir hitam telah hilang dengan timbulnya mata tembus pandang benda dan jarak jauh. Dia cukup suka dengan kelebihannya yang satu ini. Tanpa dia ketahui, semua yang ada pada dirinya adalah warisan terbesar dari Ayahnya yang dia punya. Hampir semua kekuatan sihir yang dirinya punya adalah kekuatan milik Ayahnya juga. Tapi kini dia tak tahu Ayahnya ada di mana. Informasi tentang Ayahnya belum begitu jelas.

Darwin menembus pepohonan dan mencoba melacak perginya Troll jahat itu. Dia melihat Troll masuk ke sebuah gudang di dalam hutan yang terlihat sangat lusuh. Darwin sudah tahu bahwa jarak itu masih cukup jauh. Dan dia juga tak yakin akan kuat menempuhnya.

“Nathly berada jauh di sana, kita tak akan bisa untuk menempuh perjalanannya. Terlalu jauh, kurasa kau telah bisa menggunakan mantra untuk menuju gudang itu langsung, Elizabeth?” tanya Darwin.

“Oh, ya! Akan kucoba pakai mantra bergerak,” kata Elizabeth.

Elizabeth mulai mengucap beberapa kata. Dan dengan cepat mereka terasa tersedot dan berubah menjadi debu yang terbang dengan cepat juga melesat jauh dari tempat mereka berpijak. Serasa melayang dengan ringan di atas tanah dan berputar seperti angin. Beberapa detik kemudian pun mereka sudah berdiri di atas tanah dengan seluruh tubuh asli mereka.

“Berapa jauh lagi, Darwin?” tanya Elizabeth.

“Kurasa sudah dekat. Cepat, sebelum biji menghilang kita kehabisan waktu!” kata Darwin.

“Tenang saja, aku punya beberapa lagi. Prof. Robert yang memberikannya,” kata Elizabeth sambil berlari.

“Kukira Colin,” kata Darwin.

Mereka kembali berlari dan terus berlari. Sampai setelah tak terlalu lama berlari, mereka menemukan sebuah gudang kumuh yang berada di sana. Dan Darwin sangat yakin bahwa gudang kumuh itu adalah tempat yang mereka maksudnya.

“Kau yakin ini tempatnya?” tanya Edgar ragu-ragu.

“Aku yakin aku tak salah,” kata Darwin.

Perlahan mereka mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana. Darwin mulai merasa Deja Vu ketika dia akan memasuki gudang tersebut. Langkahnya terasa berat dan dia tampak tak mau bergerak sedikit pun. Dia merasa tak bisa untuk ke sana.

“Kau ragu, Darwin?” tanya Elizabeth.

“Entahlah, aku tak begitu yakin untuk masuk ke sana. Rasanya aku merasakan sesuatu yang tak jauh berbeda. Tapi entah apa yang kupikirkan, kupikir ini buruk,” kata Darwin tak begitu yakin dengan perkataan dan perbuatannya.

“Ayolah, kau yang bilang ini baik, kita akan baik-baik saja, aku yakin,” kata Elizabeth meyakinkan.

Darwin mengangguk pasrah dan mulai berjalan memasuki ruangan itu. Ruangannya gelap dan cukup berantakan. Terdapat banyak sarang laba-laba di sana yang membuat mereka tak begitu nyaman untuk memasuki ruangan itu. Debu yang menyelimuti dinding dan lantai ruangan itu semakin membuat mereka sesak dan pengap.

“Di mana Nathly?” tanya Edgar sedikit waspada sambil terus masuk ke sana.

“Di sana ada pintu, akan kah dia di sana?” tanya Elizabeth.

Elizabeth sekarang terlihat lebih ramah dari sebelumnya. Dia juga terlihat sangat lebih baik pada Nathly. Mungkin ini berhubungan dengan nyawanya, Elizabeth juga tak akan mau membiarkan temannya mati begitu saja walau Nathly telah menyakitinya.

Mereka mulai memasuki ruangan gelap dan sempit itu. Dan benar saja, Nathly tengah dikurung di sana. Elizabeth langsung terkejut dan membaca beberapa mantra untuk melepaskan Nathly. Namun sial, mereka gagal. Tiba-tiba terdengar seseorang berkerasak-kerusuk di luar. Dan tiba-tiba saja, Troll jahat itu membuka pintu dan mendapati mereka bertiga yang tengah berusaha membuka mantra. Elizabeth terkejut dan langsung gemetaran. Sama halnya seperti Edgar. Namun Darwin langsung menyeret mereka dan menyuruh mereka berlari.

Mereka berlari dan mencoba menghindari Troll itu. Tiba-tiba saja luka di bahu dan mata Darwin kembali berdenyut-denyut. Dia menatap langit dan terlihat bulan purnama tengah bergantung di sana. Darwin lupa tak membawa ramuannya. Dan tiba-tiba saja dia merasa sangat kesakitan.

“Kalian pergi cepat, biar aku selamatkan Nathly!” kata Darwin langsung berbalik arah bermaksud agar dia tak terlihat oleh Edgar dan Elizabeth ketika akan berubah menjadi Werewolves.

Elizabeth tadinya berusaha menolak Darwin. Hatinya sebenarnya tak rela jika Darwin menyelamatkan Nathly sendirian. Dia tak keberatan jika dirinya harus menyelamatkan Nathly berdua, bahkan bertiga dengan Edgar. Namun rasanya begitu janggal jika Darwin harus menyelamatkan Nathly sendirian.

Darwin terus berlari dengan rasa sakit dan perubahan di tubuhnya yang mulai terlihat. Dia mencoba beberapa kali menahan dan mengontrol tubuhnya agar bisa menyelamatkan Nathly tanpa mencakar atau pun menggigitnya. Dia berusaha sebisa mungkin agar tak akan ada seorang pun yang bisa dia sakiti.

Saat tubuhnya telah berubah drastis sebagai Werewolves, dia akhirnya bisa mengendalikan tubuhnya dan kesadaran yang masih sama seperti tadi. Darwin berlari. Dia tahu bahwa Werewolves bisa menembus mantra. Dan ini saat untuknya agar bisa menembus mantra dan menyelamatkan Nathly.

Darwin berlari semakin kencang. Ukuran tubuhnya yang membesar hampir mengimbangi Troll walau tidak sebesar Troll. Dia berlari dengan wujud Werewolvesnya yang baru beberapa menit lalu berubah. Dan dia pun segera membanting pintu gudang saat sampai di sana. Begitu dia masuk, Nathly terlihat menjerit melihatnya.

“Jangan berisik!” katanya dengan suara yang agak berbeda. Serak dan berat.

“Jangan sentuh aku! Jangan!” kata Nathly.

Darwin tak mendengarkannya. Dia langsung meraih tubuh Nathly yang menurutnya tak terlalu besar walau dia terus meronta dan menjerit-jerit.

“Kamu harus diam, atau nanti terkena cakaranku!” kata Darwin.

“K-kau siapa?” tanya Nathly mencoba diam.

“Apa kau tak akan memberitahukan keadaanku kepada siapa pun?” tanya Darwin. Nathly menggeleng.

Darwin sedikit berpikir. Apa kah Nathly dapat dipercaya? Dia terus memikirkannya secara masak-masak agar yang dia lakukan tak akan salah. Dan setelah dia pikir-pikir, rasanya Nathly cukup bisa dipercaya juga.

“A-aku, Darwin,” kata Darwin sedikit ragu. Nathly terkejut. “Kumohon jangan terkejut, maafkan aku. Luka di bahuku saat itu memang cakaran Werewolves, kau tak boleh banyak bergerak, atau kau akan terkena cakaran juga. Dan satu lagi, aku ingin kau merahasiakan ini. Aku tak bisa memberitahu keadaanku kepada siapa pun, mungkin kau satu-satunya orang yang tahu.”

Nathly terdiam. Setelah mereka sampai di ujung hutan, Darwin menyuruh Nathly pergi. Nathly terlihat menangis melihat wujud Darwin yang telah berubah menjadi Werewolves pergi mengembara ke dalam hutan. Dia masih menatap Darwin sampai bayangannya hilang ditelan pepohonan. Setelah itu, dia berjalan sedikit terpogoh ke dalam asrama dan sangat terkejut melihat segala kejadian yang terjadi selama dia hilang.

Sementara Darwin berlari menembus hutan. Dia bermaksud mencari Elizabeth dan Edgar. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat Werewolves yang masuk ke dalam gua. Tak salah lagi, itu pasti Werewolves yang waktu itu menggigitnya. Darwin pun segera ikut masuk ke dalam sana dan tampak seorang wanita lusuh dan kumuh yang tengah duduk bersama Werewolves itu. Wanita itu berambut hitam sama persis seperti dirinya. Wanita itu tengah membuat ramuan untuk diberikan kepada suaminya – Werewolves itu -.

“Ka-kalian siapa?” tanya Darwin.

Keduanya langsung terkejut dan menatap Darwin yang tanpa mereka ketahui sudah masuk dan menatap mereka.

“Kalian siapa? Mengapa ada di sini?” tanya Darwin lagi dengan suara serak dan berat yang bukan merupakan suara aslinya walau ada sedikit kesamaan antara suara aslinya.

“Minumlah, Nak!” kata wanita itu.

Darwin mengambil ramuan tersebut dan membagi dua ramuan itu dan memberikannya pada Werewolves yang lain. Ketika mereka sama-sama meminumnya, wanita kusam yang sedang duduk di sana terkejut seketika. Darwin langsung menatap seorang di sampingnya yang telah berubah ke wujud semula. Dan begitu dia melihat, dia terkejut dan langsung memeluk sosok yang ada di sana itu.

“Benar, kan kau Ayahku?” tanya Darwin masih sambil memeluk sosok itu.

“Oh, kau Darwin? Anakku?” tanya wanita yang duduk di sana yang tak lain adalah Ibunya.

Wanita itu langsung berjalan menuju Darwin. Sementara Darwin langsung memeluknya erat.

“Daniel, apa kau memberikan anakmu Werewolves?” tanya wanita itu, Ibunya yang bernama Sarah William.

“Tidak, aku mencakarnya waktu itu, aku tak tahu kalau yang aku cakar itu dia,” sesal Ayahnya.

“Tidak, ini lebih baik untukku, kita sama bukan? Oh ya, omong-o-”

“Aaaaa!”

Darwin terkejut. Sebuah suara teriakan yang sudah sangat dikenal olehnya masuk begitu saja ke gendang telinganya. Dia yakin, Elizabeth pasti telah tertangkap oleh Troll jahat itu dan mencoba melepas diri. Dan Edgar, dia pasti berusaha menyelamatkannya.

“Dia temanmu? Cepatlah selamatkan dia, dan tolong kau tak boleh memberitahukan keadaan kami kepada siapa pun,” kata Ayahnya Darwin.

Darwin hendak berbicara namun dia terpotong oleh menghilangnya kedua orangtuanya dari gua itu. Serentak Darwin mengambil langkah seribu untuk bisa menyelamatkan Elizabeth. Walau dalam benaknya masih terpampang jelas wajah tirus orangtuanya yang seperti hampir tak memiliki daging.

Darwin mencoba melacak dengan penglihatannya di mana kini Edgar dan Elizabeth berada. Dan beberapa detik kemudia, dia sudah tahu di mana Elizabeth dan Edgar berada. Sejenak dia mencoba berpikir tentang cara untuk mengalahkan Troll jahat itu. Dia sudah tahu bahwa caranya adalah dengan membuatnya pusing dan memilih dua cara. Karena mereka tahu, bahwa kelemahan Troll adalah bodohnya dia.

Darwin langsung berlari dan mendapati Elizabeth yang tengah dijadikan mainan oleh Troll itu. Sementara Edgar sedang berusaha untuk mengalahkan Troll itu. Ketika Darwin datang, Darwin langsung mengundang perhatian Troll dengan memantrainya. Dan langsung saja Troll itu berusaha mengejar Darwin. Entah darimana, tiba-tiba Darwin berpikiran untuk membuat bayangannya lebih dari satu. Dan tiba-tiba tubuhnya seperti membelah dan terus membelah sampai seperti mengelilingi Troll itu. Seketika, si Troll langsung pusing dan melemparkan Elizabeth. Ketika Elizabeth akan jatuh, Edgar memantrainya menjadi melayang-layang dan Darwin segera menyuruh Edgar untuk menyelamatkannya selagi Darwin mengecoh Troll.

Darwin berjalan gontai. Dia menahan agar air matanya tak turun. Sungguh sebuah duka yang sangat menusuk hatinya. Kakeknya, dia tak akan menyangka jika Kakeknya akan pergi secepat itu. Dia tak tahu bahwa selagi dia pergi, para penyihir jahat itu datang ke sekolah dan memporak-porandakan semuanya. Bahkan ketika dia pulang, mereka masih di sana dan menyerangnya. Sehingga kini dia mendapat beberapa luka yang belum kering di tubuhnya.

Darwin duduk di kamarnya sendirian sambil menatap matahari terbit yang bersinar dari ufuk timur keoranyean. Prof. Robert tiba-tiba datang dan membuka pintu sambil berjalan duduk di sampingnya.

“Aku tahu kau sangat bersedih,” kata Prof. Robert, “kau masih punyaku. Aku akan menjagamu sebagai pengganti Ayahmu,” kata Prof. Robert.

“Terimakasih, Profesor. Boleh kah saya bertanya sesuatu?” tanya Darwin.

“Tentu saja, silahkan,” kata Prof. Robert.

“Apa ada Werewolves yang bisa berubah tak hanya ketika sedang malam purnama?” tanya Darwin.

“Tentu ada, dia yang menyimpan cahaya bulan di tubuhnya begitu. Saat dia marah, cahaya bulan itu akan bersinar sama halnya seperti bulan purnama, jadi dia bisa berubah pada saat itu. Memangnya ada apa, Darwin?” tanya Prof. Robert.

“Tidak, aku hanya ingin diajari cara untuk menolak pembaca pikiran?” tanya Darwin.

“Tentu, siapa yang selalu membaca pikiranmu. Mau kah kau mengajariku?”

“Seseorang.”

Sore itu suasana kelam. Setelah Darwin mencoba belajar mantra penolak pikiran, dia berjalan keluar dan menatap matahari terbenam. Dia duduk sendirian bersama lembayung sore yang mulai timbul di awan. Juga bersama angin yang bergulir seirama dengan desahan nafas yang dihembusakannya.

“Darwin,” seru Elizabeth lembut dan ikut duduk di samping Darwin.

“Ya,” balasnya tanpa menatap Elizabeth.

“Boleh kah aku bertanya sesuatu kepadamu?” tanya Elizabeth sedikit serius.

“Tanyakan.”

“Apa kau menyukaiku?” tanya Elizabeth.

“Ya, aku suka caramu mengerjakan semua soal dengan kepintaranmu,” kata Darwin.

“Tidak, maksudku bukan seperti itu, maksudnya menyukaiku tak dengan segala yang aku punya. Menyukaiku apa adanya,” kata Elizabeth, “atau maksudnya mencintaiku,” lanjutnya lagi.

“Kupikir, tidak. Tapi aku berharap ya,” kata Darwin tenang.

“Tidak kah kau mencintaiku?” tanya Elizabeth kaget.

“Sepertinya tidak,” balas Darwin.

“Aku tak percaya!” kata Elizabeth. “Kau memblokku agar tak bisa membaca pikiranmu?” tanya Elizabeth.

Darwin terdiam. Sungguh sesuatu yang salah yang telah dia kerjakan. Mengapa dia sungguh munafik? Hatinya berkata bahwa dia memang mencintai Elizabeth. Lalu untuk apa berkata tidak?

“Edgar yang menyelamatkanmu, seharusnya kau mencintai dia,” kata Darwin.

“Lalu mengapa tak kau saja yang menyelamatkanku agar aku bisa mencintaimu? Seperti kau menyelamatkan Nathly!” kata Elizabeth.

“Setiap yang terjadi jarang bisa terulang dua kali,” kata Darwin.

“Aku mencintaimu, aku yakin kau juga mencintaiku! Aku tak percaya jika kau tak punya sedikit pun rasa padaku, kita sudah lama bersama!” kata Elizabeth sedikit terisak dan berteriak.

“Ya, sudah lama,” kata Darwin menatap Elizabeth.

Mata Darwin sedikit panas ketika melihat bibir Elizabeth yang bergetar mencoba menahan air mata yang hendak keluar dari matanya. Dia menggigit bibir dan tak menatap Elizabeth kembali. Pecundang! Dia hanya seorang lelaki pecundang. Tak punya keberanian untuk mengaku cintanya pada gadis yang dia cintai. Tapi bagaimana lagi? Dia tak bisa mencintai dengan dirinya yang lain. Dia harus mengakui bahwa dia sebenarnya tak pantas untuk dicintai. Jadi apa yang harus dia lakukan? Menyakiti hati gadis yang dia cintai?

“Maafkan aku Elizabeth, aku tak bisa memaksakannya. Aku takut aku tak bisa,” kata Darwin.

“Pengecut! Kau masih mencintai Nathly, kan? Begitu?” tanya Elizabeth.

“Entahlah, banyak hal yang tak aku ketahui, bahkan aku mengira telah mengenal diriku. Tapi ternyata tidak, banyak kemampuan yang tak aku pikirkan bisa kulakukan,” kata Darwin.

“Ya, jadi apa yang membuatmu bahagia? Apa yang bisa kulakukan untukmu? Demi orang yang sangat berharga bagiku?” tanya Elizabeth menyeka air matanya.

“Cintai Edgar,” kata Darwin.

Elizabeth menyeka air matanya. Dia lalu berjalan masuk ke dalam asrama. Beberapa menit kemudian, dia keluar sambil memeluk Edgar. Ketika Darwin melihatnya, dia memaksakan tersenyum walau terasa menyayat.

“Hy, Edgar? Kau telah jadian dengan Elizabeth?” tanya Darwin mencoba menyembunyikan wajah dan suaranya yang terlihat sedikit serak.

“Ya,” bisik Edgar.

Elizabeth diam melihat senyum Darwin. Dalam hatinya berbisik bahwa Darwin adalah orang yang hebat menyembunyikan sesuatu. Dia tak pernah mengenal Darwin yang seperti ini sebelumnya.

Darwin menatap Edgar dan Elizabeth yang berlalu dari hadapannya. Dia tahu, inilah yang dia inginkan. Edgar, dia tahu Edgar sangat mencintai Elizabeth. Tak ada hal lain yang bisa dia lakukan. Dia hanya berharap Elizabeth bisa bahagia bersama Edgar begitu pun Edgar dan dirinya.

Malam menutup kisah kelam yang telah datang. Lembayung pun sudah menghilang ditelam alam. Darwin masih menatap langit temaram dan menanti terbitnya bulan. Walau rasa perih yang menyayat masih menusuk di hatinya dengan tajam, setidaknya dia masih punya harapan untuk menjalani kehidupan yang layak dan seperti yang lainnya. Banyak yang mengira bahwa dia mempunyai hidup yang sempurna. Dia tampan, terkenal, pintar dan bebas memilih gadis yang menyukainya. Tapi bisikan dalam hatinya hanya berharap dia bisa seperti masa lalu saat dia pertama kali masuk Grondey. Tak banyak yang mengenal dan mengaguminya. Tapi takdir tetap takdir. Dia tak akan bisa mengubahnya.

Darwin masih menatap cahaya temaram rembulan. Seharusnya dia berubah malam ini. Tapi dia sudah minum ramuan, tak akan mengalami perubahan. Sebenarnya dia ingin sekali menjadi pria yang sederhana. Tak tampan, tak pintar, tak terkenal dan biasa-biasa saja. Keadaannya kini hanya membuatnya tak bisa berbuat seperti yang dia inginkan. Dia banyak musuh, seperti yang baru saja terjadi semalam. Para penjahat itu sengaja menculik Nathly agar Darwin tak bisa menyelamatkan sekolah. Bagaimana pun juga, mereka sudah tahu bahwa Darwin adalah orang yang baik dan pasti mengganggap mahal nyawa.

Akhir cerita, kini dia kehilangan segalanya. Kakek, orangtua, teman dan semua orang yang berharga baginya. Dia tak akan biasa-biasa saja. Kini dia adalah seorang pahlawan kesepian.

-SELESAI-

Cerpen Karangan: Selmi Fiqhi
Blog: https://selmifiqhi.blogspot.com

Penulis adalah seorang gadis yang tengah mengayam ilmu di sebuah Smp yang baru memasuki tahun keduanya. Lahir di Tasikmalaya, tanggal 21 September 2000. Bisa dihubungi via facebook, https://www.facebook.com/selmifiqhikhoiriah atau Twitter, @SelmiFiqhi dan email, fiqhiisheelmi@gmail.com .

Cerpen The Grondey: The History That Was Never Know merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sedikit Waktu

Oleh:
Banyak orang yang mengatakan bahwa cinta adalah anugerah. Mereka membangga-banggakan cinta sebagai sesuatu yang agung. Bahkan mereka rela mempertaruhkan nyawa mereka demi cinta. Orang juga berpendapat bahwa cinta tidak

Ada Cerita

Oleh:
Namaku neila aku mahasiswa perguruan tinggi di yogyakarta aku punya pacar namanya nicko. Dia baik bahkan sangat baik. Awal ketemu dengan nicko secara tidak sengaja. Awalnya aku dan keluargaku

Si Hitaf

Oleh:
Sunyi senyap ditemani dendangan melodi jangkrik seakan-akan mengisi kegelapan hatiku. Di sebuah kegelapan gubuk dengan berjuta kemalangan di dalamnya kisahku bermula. Tempat aku dan keluarga kecilku bertahta dan mengarungi

Dunia

Oleh:
Andai dunia tahu. Setiap detik kehidupan, terdapat beribu kemalangan. Setiap kemalangan menyimpan berjuta kesusahan. Hari demi hari telah berlalu. Kehidupan semakin memburuk. Rakyat kecil semakin terpuruk. Setiap tahun, jumlah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *