The Loss Word

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 26 December 2013

Kau bagaikan cahaya yang berkilauan
Seperti putri dari sebuah kerajaan yang sangat jauh
Kau ada disini, aku bisa melihatmu
Tapi aku tetap tidak bisa menyentuhmu
Kau seperti udara yang brgelimang di sekitarku
Bergerak sesukamu tanpa takut dimarahi
Kau seperti kincir angin
Berputar dan terus berputar
Ingin rasanya aku menggapaimu
Tapi aku terlalu takut dan terlalu pengecut

“Huft..” Aku menghela napas, ini sudah kesekian kalinya orang bernama facebook tsubasa blue itu mengirimkan pesan di dindingku. Entah apa yang ingin dia sampaikan padaku, yang aku tahu setiap kali aku membaca tulisannya, aku selalu merasa ada kesepian di setiap pilihan kata yang dia gunakan. Rasanya seperti dia menginginkan sesuatu yang saaangat jauh.
“Woi.., main aja! Udah waktunya kerja nih, Neng!” Trya, sahabat sekaligus partnerku di SPRING, menepuk kedua pundakku dari belakang.
“Iya-iya, masih lima menit ini istirahatnya, kan?!” belaku
“As.., artikel yang buat kolom cuap-cuap udah belum?” teriak mbak Sesil dari ruangannya.
“Ya ampun, Mbak, gue lupa!” aku menepuk dahi. “Masih di flash, Mbak. Tapi Flashnya dibawa Gana.”
“Lho?” Mbak Sesil menongolkan kepalanya dari balik pintu. “Ya udah cepet cari Gana sekarang, minta flashnya terus kasihin gue! Sebelum jam sebelas, ya!”
“Eh?! Sekarang kan jam sebelas kurang sepuluh, mampus gue. Try, nitip barang-barang gue ya..” Aku bergegas meninggalkan ruanganku, membiarkan mejaku berantakan.
“Dasar!” Trya cuma bisa bilang begitu. Sudah paham betul dia pada sifatku yang seperti ini.

Aku berlari sekuat tenaga, berusaha secepat mungkin sampai di lapangan tengah, tempat dimana Gana sedang meliput berita sekarang. Gak perduli sudah berapa ratus orang yang aku tabrak, yang penting aku bisa bertemu Gana secepatnya, mengambil flashdiskku dan menyerahkan tugasku tepat waktu. Sebelum mbak Sesil, pimred majalah sekolahku – SPRING meledak dan menghujaniku dengan lahar panasnya.

“Bruk.. buk.. prang..” tapi sepertinya aku tidak bisa untuk tidak mempedulikan tabrakanku kali ini. Pasalnya, ada benda lain yang menjadi korban tabrakan itu. Benda itu terjun bebas menyapa tanah. Membuatnya berpisah jadi bagian-bagian kecil. Benda itu… Kamera SLR milik RAMA!!! – shock.

Rama memperhatikan kameranya yang sudah berantakan, lalu pelan-pelan menatapku “Ello…” Rama melotot, bola matanya tajam seolah ingin menelanku.

“So…sorry.. gue gak sengaja..” aku menggigit bibir, ciut melihat ekspresi Rama yang menyeramkan seperti itu.
“Sorry? Loe pikir kamera gue bisa balik dengan loe bilang sorry?” bentaknya.
“Gue kan, gak sengaja!”
“Heh.. gak sengaja? Jelas-jelas di koridor segede ini, loe masih bisa nabrak orang dan loe bilang gak sengaja?” katanya sambil melentangkan tangan seolah mengukur lebar koridor sekolah.

Aku yang tadinya bersungguh-sungguh minta maaf jadi jengkel juga “Ahk.. bilang aja minta ganti rugi! Gak usah khawatir, deh! Kamera udah butut gini, gue ganti yang seratus kali lebih baik dari pada ini.” aku ikut-ikutan emosi. Entah kenapa, sejak dulu, aku tidak pernah bisa santai kalau berurusan dengan orang ini. Pasti selalu berantem.

Mata Rama semakin membelalak. Di mataku sekarang, dia lebih terlihat mengerikan daripada vampaneze (vampire jahat yang menghisap habis darah manusia sampai meninggal dalam cerita Darren shan). Tangan Rama tiba-tiba terangkat, dia hampir saja mendaratkan sebuah tanparan di pipiku.

Aku bergidik, sedikit mundur. Ku pejamkan mataku erat-erat. Sepuluh detik, tidak ada yang terjadi. Kemudian aku mendengar desahan darinya, dia.. tidak jadi menamparku.

“Heh! Loe denger, ya! Gue nggak peduli loe itu siapa dan anak siapa! Tapi sekali lagi loe menghina kamera gue, gue nggak akan segan-segan ngasih loe pelajaran! NGERTI?” bentaknya tepat di depan wajahku. Aku sedikit terpental ke belakang.

Aku mengangguk, lalu menunduk. Rama memunguti bagian-bagian kameranya yang berserakan. Dan berlalu, menyisakan aura kemarahan yang menyuruh dadaku berdetak lebih kencang dari biasanya. Tubuhku gemetar. Ini kali pertama aku melihat Rama semarah itu. Memang, sudah lama kami menyandang gelar sebagai rival. Tapi, ini pertama kalinya dia menunjukkan wajah segarang itu.

Belakangan, aku baru tahu kenapa dia bisa semarah itu padaku. Tante Raya -mama Rama- bilang, kamera itu adalah kamera peninggalan papa Rama. Hadiah ulang tahun Rama yang terakhir sebelum papanya meninggal.

“Glek!” pernyataan tante Raya itu seperti meng kick off perasaanku dan mengoper-operkannya. Perasaan bersalah langsung bermekaran di hatiku. Mambuatku semakin larut dalam dekapan malam sepi ini.

Belum selesai aku memikirkan masalah ini, masalah lain seenaknya masuk dan memaksaku memikirkannya. Pernikahan papa dengan tante Caterin. Aku benci wanita itu! Serigala berbulu domba yang memanfaatkan segala cara untuk mendapatkan hati papa. Sudah berkali-kali aku memergoki wanita itu berkencan dengan pria lain selain papa. Tapi aku tak bisa apa-apa. Pengaruh wanita itu terlalu besar untuk dihancurkan.

“Asti kan, udah bilang, Pa! Pokoknya Asti gak setuju Papa menikah sama orang itu!” protesku sore itu waktu aku tidak sengaja menemukan undangan pernikahan papa dan tante Caterin di meja kerja papa.
“Sayang, undangan sudah di sebar, tempat sudah di pesan, semua persiapan juga sudah selesai di lakukan. Tidak mungkin kalau dibatalkan begitu saja.”
“Ugkh.. terus kenapa Papa dulu gak minta pendapat aku dulu sih, Pa? Aku kan udah bilang, aku gak mau orang itu jadi ibu tiri aku!
“Asti! Memangnya kenapa sih, sama tante Caterin? Dia baik, dia sayang sama kamu, dia…”
“Pokoknya NGGAK! Sampai kapanpun, aku gak akan rela kalau Papa menikah sama orang itu!” aku berlari ke kamar.
“Asti!” Teriakan papa tidak aku hiraukan.

Sudah puluhan kali aku bertengkar dengan papa gara-gara masalah ini. Dan di saat-saat seperti ini bayangan kak Ello yang selalu saja muncul di kepalaku. Orang yang telah menawan hatiku sejak satu tahun yang lalu. Andai saja sekarang dia ada di sini, pasti rasanya gak akan sesakit ini.

“Kak Ello lagi apa sekarang?” aku mengamati senja yang sudah hampir selesai. Terakhir kali aku mendapat kabar dari kak Ello, dia ada di Jepang. “Aku butuh kakak sekarang. Kenapa kakak gak dateng?” desahku.

Aku menuju jendela. Menikmati angin yang berhembus lembut. Tiba-tiba segurat pikiran aneh menghampiriku. Pernikahan papa dengan orang itu tinggal tiga hari lagi, dan aku gak bisa apa-apa. Kecuali… aku menuruti pikiran aneh yang baru saja singgah di kepalaku.

Burung-burung camar terbang ke barat
Venus berpijar bagai permata berlian
Tapi dimana kau sekarang?
Awan-awan menari membentuk wajahmu
Angin berhembus membisikkan suaramu
Daun-daun melambai, menanti senyummu
Kemana perginya, kupu-kupu rupawan itu?
Begitu bunyi postingan baru di wall ku, hari ini. Tsubasa blue, siapa sebenarnya orang itu?

Satu bulan semenjak Asti meninggalkan rumah. Semua orang di buat kalang kabut olehnya. Tak terkecuali orang yang dia sebut rival, Rama. Cowok itu baru menyadari, ternyata selama ini, sosok Asti lah yang memenuhi hari-harinya, keceriaan gadis itulah yang membuatnya kadang-kadang kesal dan marah, walaupun memang lebih sering marah. Meskipun selama ini mereka cuma bertengkar dan bertengkar lagi, tapi entah bagaimana pertengkaran itu menimbulkan rasa yang berbeda di hati Rama. Perasaan yang semakin membuatnya risau.

“Ya Ampun, Rama! Dari mana kamu? Kenapa basah kuyup begitu?” tante Raya yang tadi sudah cemas menunggu kepulangan Rama, bertambah cemas waktu melihat bagaimana keadaan Rama.
“Aku.. tadi nyari Asti, Ma..” aku Rama. Dia kelihatan kusut, lesu, cemas dan panik. Semuanya terasa bercampur jadi satu, seolah sudah lama menghiasi wajah elok pemuda itu.
Tante Raya mengelus punggung anak lelaki satu-satunya. “Sabar ya, Sayang. Sekarang kamu mandi dulu gih! Mama siapan makan malam.”

Rama Cuma mengangguk. Lalu berjalan gontai menuju kamar. Dia merasa benar-benar kacau. Sampai-sampai guyuran air hujan yang tadi sudah membuat tubuhnya menggigil masih belum cukup. Rama masuk ke kamar mandi, menghihupkan shower dan memaksakan tubuhnya menikmati tikaman-tikaman air yang menusuk tulang. Entah sejak kapan, gadis bernama Lolyta Rayasti itu berhasil mencuri dan membawa kabur hati Rama. Membuat pemuda itu jumpalitan saat Rama menyadarinya dan Asti tak ada.

Tante Raya cemas melihat keadaan Rama yang seperti itu “Ram.. Rama..”
Rama keluar dari kamar mandi. Mukanya terlihat pucat. Tante Raya menatap pemuda itu sendu.
“Ma.. aku.. aku takut dia kenapa-napa, Ma.. aku…”
Tante Raya memeluk Rama, mengelus-elus punggung tegap yang sekarang terlihat sangat rapuh itu. Tanpa tahu harus berkata apa. Karena dia sendiri merasakan perasaan yang sama. Rasa cemas dan khawatir terhadap keberadaan Asti sekarang.

Keadaan papa Asti pun tidak jauh beda dengan mereka. Papa Asti menyesal. Kenapa dulu terlalu memaksakan kehendaknya pada Asti? Padahal dia tahu bagaimana keras kepalanya anak itu. Sekalipun Asti tidak pernah menentangnya sampai seperti ini, tapi tetap saja, anak itu keras kepala dan nekat.
“Sayang, maafin papa ya..” dipeluknya foto Asti erat, dia sekarang sedang berada di kamar Asti. “Papa kangen sama kamu. Papa janji, Papa akan menuruti semua keinginan kamu. Papa janji, Papa gak akan menikah dengan tante Caterin. Papa janji sayang. Tapi kamu pulang ya, sayang…” Rintihnya. Tapi rintihan itu tak kunjung membawa Asti pulang.

“Pemirsa, telah terjadi tawuran besar-besaran antara SMA K dan SMA M. Tujuh korban meninggal dan dua puluh tiga korban luka-luka. Salah satu korban yang mengalami luka cukup fatal karena pukulan benda tumpul di kepalanya adalah wartawan muda yang baru saja bekerja di media masa J. Koran sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit terdekat… bla.. bla.. bla..”

Kelanjutan berita itu menjadi tidak penting untuk Trya setelah melihat siapa gerangan wartawan muda yang menjadi korban amukan massa itu. Tubuh Trya langsung lemas, rasanya dia ingin berteriak dan berlari sekuat tenaga, tapi tak bisa. Tubuhnya lunglai terlebih dulu sebelum bisa melakukan apa-apa.

Reaksi seperti itu tidak hanya ditunjukkan oleh Trya. Om Galih pun tak kalah syok. Beliau langsung berlari menuju rumah sakit, meninggalkan segala macam meeting yang menunggu kehadiran beliau.

“Tut… tut.. tut…” banyak orang yang ada di ruangan ini, tapi hanya mesin di sebelah tempat tidur Asti yang bersuara. Mereka hanya berdiri dan diam. Menatap cemas ke sosok yang mendapat beberapa jahitan di kepalanya. Tidak ada yang bisa mereka lakukan, kecuali menunggu dan berdoa supaya gadis itu baik-baik saja.

Aku membuka mataku. Ya, kupikir aku sudah membuka mataku. Tapi, entah kenapa, aku tak bisa melihat apa-apa. Seperti ada sesuatu yang besar menghalangi pandanganku. Aku mengerjab-erjab, berharap benda besar itu segera menghilang dari pandanganku. Tapi, berapa kalipun aku mengerjab, benda besar itu tetap tak mau menghilang.

“Asti, sayang…” aku mengenal suara itu, itu suara papa! Benarkah suara papa? Bagaimana mungkin papa ada di sini? “Bagianmana yang sakit, Sayang?” suara papa terdengar bergetar di telingaku.
“Pa… pa?”
“Iya sayang, ini papa. Kamu tenang, ya. Papa ada disini.” Papa memelukku “Maafin Papa, Sayang.”
“Tes.” Ada sesuatu yang membasahi pundakku. Papa… menangis!
“Pa…” aku ingin banyak bicara, aku ingin protes, aku ingin berteriak, tapi… “gelap.” Cuma kata itu yang mau keluar dari mulutku.
“Maafin papa Sayang, maafin papa..” papa mengeratkan pelukannya.

Aku menempelkan tangan dan wajahku di kaca jendela. Bibi bilang, sekarang sudah jam sembilan malam, seharusnya bibi masih disini, tapi dia pergi begitu menyangka aku sudah tidur. Hujan. Aku… suka… tidak… bagiku sekarang, suara hujan itu lebih terdengar seperti jeritan menakutkan dari pada menenangkan. Seandainya ada tante Raya, rasanya pasti gak akan semenakutkan ini.

“Tuhan, apa aku boleh berharap, tante Raya mau jadi mamaku? Tapi Rama?”

“gluduk.. gluduk.. j’dier..”

“huh…” petir.. petir itu… mereka mengganggu acara melamunku. Aku takut. Tubuhku gemetaran, rasanya lemas, tapi aku tidak boleh lenggah.

“duaarrr…”

“akh…” reflek, aku duduk dan memeluk lututku. Aku menggigil. Ini pertama kalinya aku takut terhadap hujan dan petir. Hujan yang dulu ku anggap sebagai teman, sekarang berbalik menjadi hal yang menakutkan. Sial! Kenapa harus gelap seperti ini?! Mataku panas. Dadaku sakit. Tapi aku tak boleh menangis. Aku harus kuat. “Jangan menangis! Jangan menangis! Jangan…” getaran di seluruh tubuhku tak mau berhenti. Rasanya benar-benar menyakitkan. Sakit! “gue bilang jangan nangis!” aku memukul wajaku. “huh.. huh..” aku terenggah di antara ketakutan yang kuciptakan sendiri.

“srek… srek..” sampai suara langkah kaki itu mengusikku.

“Siapa?” aku menyeka air mataku yang baru mengendap keluar, sekuat tenaga mencoba untuk berdiri dan menahan tubuhku yang tak mau berhanti gemetar.
“Jangan sok kuat di depan gue!”
Suara itu… “Rama!” aku kaget. perasaanku yang tadi sudah berantakan bertambah amburadul setelah tahu siapa yang datang. “Se… Sejak kapan loe ada disini?”
Dia tidak langsung menjawab. Aku mendengar suara langkah kakinya semakin mendekat, lalu berhenti. “Sejak kapan gue ada disini, itu gak penting…”
“Deg.” Aku reflek mundur sampai tubuhku mengenai kaca. Suara Rama menggema lembut tepat di telingaku. “Ma… mau apa loe? Eh…” aku semakin tidak mengerti. Rama… dia tiba-tiba memelukku.
“Kalau loe takut, loe boleh nangis kok..” ucapnya lembut.
“Apa?” entah kenapa, ucapan lembutnya itu terdengar menyakitkan di telingaku.
“Bruk!” aku mendorong tubuh Rama. “Heh… loe tenang aja! Gue gak butuh di kasihani!”
Rama diam, dan memperhatikan gadis keras kepala yang sedang memaksakan senyumnya itu.
“Kalau gak ada urusan apa-apa, cepat keluar!” usirku. Perasaanku tambah tak enak. Aku bingung, aku takut. Aku bisa menerima keberadaan tante Raya -mama Rama-, tapi kenapa aku sulit berbaikan dengan cowok ini? Aku sebal. Aku gak mau terlihat lemah di hadapan musuhku.
“Gue tahu, gue gak pernah bersikap baik sama loe. Gue tahu, loe benci sama gue. Tapi buat kali ini aja, gue mohon, jangan berpikir gue berbuat baik cuma karena gue kasian sama loe.” Suaranya masih terdengar rendah.
“Terus karena apa kalau bukan kerana kasihan? Kalau bukan karena gue buta? Kalau bukan…” sebelum aku menyelesaikan kalimat itu, tubuhku sudah ada dipelukan Rama lagi.
“Sudahlah…” satu tangan Rama melingkar di punggungku, satu lagi mengelus kepalaku. “Sudahlah…”
“Hiks..hiks…” aku akhirnya terisak. Tapi tubuhku berhenti gemetaran “Gue benci sama loe!” aku memukul dada Rama. “Gue benci…” Rama mengeratkan pelukannya, lalu diam-diam mencium kepala gadis itu.

Dandelion menjerit
Sekuat apapun dia berusaha, angin tetap lebih kuat dari dia
Batu karang mendesah
Sebanyak apapun desahannya, Ombak tetap menerjangnya
Andai aku bisa menciptakan sebuah mesin
Akan kuciptakan sebuah mesin kebahagiaan untukmu
Agar kau tak perlu menjerit
Agar kau tak perlu mendesah
Agar kau tak perlu takut dan mengangis seperti mereka

Begitu bunyi postingan berikutnya di wall facebook Asti. Tsubasa blue.

Sore itu terlihat seperti sore-sore sebelumnya. Matahari tenggelam di ufuk barat dan benda-benda akan terlihat orange berkilauan dan cantik. Yang berbeda adalah perasaan Raya. Beberapa jam lalu, Galih mengakui kebenaran kata-kata yang hilang antara dia dan Raya 20 tahun yang lalu. “Aku masih sayang kamu, Ray.” Begitu katanya. Dan sekarang, pernyataan itu membuat Raya binggung. Ada dua kubu yang bersiteru dalam hatinya. Satu kubu bilang bahwa dia juga masih menyayangi laki-laki itu, sementara kubu yang lain bilang dia tidak boleh egois. Sebagai ibu, dia mencemaskan perasaan Rama. Bagaimana reaksi Rama kalau dia tahu ibunya menyukai ayah dari gadis yang dia sukai?. Waktu itu, Raya Cuma bisa mengelak dan bilang “maaf”. Seharusnya sih, Galih bisa sedikit lebih kreatif dengan menyusul atau minimal mencegah kepergian Raya, tapi itu tidak dilakukannya. Itu sebabnya, Raya sekarang bisa berada di taman ini sendirian. Mungkin tidak sendirian, karena ada Rama yang dari tadi mengamati mamanya.

Rama benci ekspresi mamanya yang seperti itu. Mama terlihat sangat capek dan bingung. Rama tahu, bagaimana sejarah kehidupan mama dam om Galih. Kemarin, Rama gak sengaja menemukan buku cokelat yang berisi cerita masa lalu mama. The loss word. Cerita tentang mama dan om Galih yang kehilangan kata-kata berharga yang mengubah total jalan hidup mereka. Buku itu juga yang membuat Rama ber kesimpulan bahwa mama dan om Galih masih saling menyayangi. Buku yang di tulis mama dua puluh tahun yang lalu. Buku yang sampai sekarang belum terselesaikan. Dan secara tidak langsung, Rama juga ikut berperan besar dalam keberlanjutan kisah itu. Rama sebal dengan dirinya sendiri. Kenapa dia harus menyukai gadis itu? Kenapa mama harus punya hubungan sama om Galih? Kenapa Asti menginginkan mama untuk menjadi mama barunya? Ah, kepala Rama sakit memikirkan hal itu. Tapi, dia tak tahu harus berbuat apa. Yang dia tahu, dia gak mau melihat keadaan Asti seperti tadi malam lagi. Makanya, dia memutuskan untuk bicara pada mamanya, disini.

“Sudah ku duga Mama di sini.” Rama menghampiri mama dan duduk disebelahnya.
“Rama? Tahu dari mana Mama ada disini?”
“Feeling.”
“Feeling?”
“Ya. Aku kan sudah 18 tahun jadi anak Mama, jadi feelingku gak mungkin salah.” Rama merebahkan tubuh dan menggunakan pangkuan mamanya sebagai alas kepala.
Raya tertawa mendengar pernyataan Rama. “Eh, tumben kamu manja sama mama?!” Raya menunduk, menatap wajah putra tercintanya.
“Ma..”
“Hem…?”
“Mama…, suka sama om Galih?”
Raya kaget, dia mengalihkan pandangan dari anak itu. “Kenapa kamu tiba-tiba…”
“Rama mau Mama menikah sama om Galih.”
Raya kaget mendengar penuturan putranya. “Kamu ini ngomong apa, sih? Mana mungkin mama menikah sama om Galih?
Rama memiringkan posisinya. “Siapa bilang gak mungkin?” Rama memejamkan matanya. “Dia… kalau gak ada yang jagain dia, dia pasti berbuat seenaknya lagi. Lagian, sepertinya dia juga suka sekali sama Mama, dan Rama gak bisa memaksanya menerima perasaan Rama. Jadi mungkin, Rama bakalan lebih seneng kalau Rama bisa terus berada di dekat dia dan menjaga dia sebagai saudara. Mama setuju kan?”
“Tapi…”
Rama berdiri. “Kalau Mama gak berani bilang sama om Galih, biar aku yang bilang..” kemudian melangkah pergi.
Raya terbelalak, wajah dan matanya panas. Dia menangis. “Makasih, Sayang…”
Rama masih sempat mendengar ucapan dan isakan mamanya. Tapi dia tersenyum. Entah kenapa, rasanya sangat lega.

Aku mengusap bingkai foto di tanganku, itu foto mama. Rasanya sudah lama sekali aku tidak berada di paviliun ini dan bercerita pada mama.

“Ma, sekarang Asti sudah benar-benar tidak bisa bertemu dan melihat Mama. Asti…” aku menghela napas, menahan rasa sesak yang menghujami dadaku, “Tapi Mama tenang aja, Asti pasti kuat. Asti gak akan cengeng! Oh ya, Ma, misalnya tante Raya itu jadi mama Asti, Mama setuju gak? Aku, entah kenapa selalu merasa nyaman tiap berada di dekat tante Raya. Rasanya seperti bersama Mama lagi. Tante Raya itu baiiikkk banget Ma, sama Asti. Asti bener-bener berharap kalau suatu saat tante Raya bisa jadi mama Asti. Tapi… Rama… Mama tahu sendirikan bagaimana hubungan Asti dengan cowok itu? setiap kali Asti bersama dia, Asti selalu saja bikin ribut dan buat dia marah. Makanya gak heran kalau dia jadi benci sama Asti.”
“Siapa yang bilang gue benci sama Loe?”
“Rama?!” aku benar-benar gak habis pikir, kenapa orang ini bisa tiba-tiba datang dan pergi sesuka hatinya dan selalu saja muncul ketika aku sedang tidak ingin ada yang melihat dan mendengarkanku. “Kenapa sih, Loe tuh selalu…”
Rama memotong kalimatku. “Gue mau minta izin buat jadiin om Galih sebagai papa gue.”
Aku kaget. “Apa?”
“Iya, Sayang… Kamu gak keberatan, kan?”
“Papa?” aku menoleh ke arah sumber suara.
“Tante boleh kan, jadi mama kamu, As?”
“Tante Raya?” aku tidak tahu apa yang terjadi. Kejadian ini membuatku sedikit syok. Beberapa detik aku hanya diam dan mencoba menerima keajaiban yang sedang aku alami ini.
“Gimana, Sayang?” pertanyaan itu langsung mengembalikan pikiranku.
“Boleh, boleh banget, Tante.” Anggukku senang. Aku merasa seperti anak kecil yang baru saja mendapat permen lolipopnya. Rasanya benar-benar senang sekali.
“Makasih, Sayang.” Tante raya memelukku. Aku membalas pelukannya.

Entah sejak kapan mama dan papa bersekongkol meninggalkan aku. Tahu-tahu tinggal aku dan Rama yang berada di ruangan ini.
“Mulai sekarang, loe harus manggil gue kakak!” aku mendengarnya mendekat. Sekarang sepertinya, dia berada di depanku.
“Enak aja, loe yang harus manggil gue kakak!”
“Eh, anak kecil mau di panggil kakak…”
“Kita seumuran tahu!”
“Pokoknya loe yang harus manggil gue kakak!”
“Gak bisa!”
“Pokoknya bisa!”
“Gak bisa!”
“Bisa!”
“Eh…” aku tersentak, suara Rama terdenar sangat dekat, sekarang aku yakin, dia berada tepat di hadapanku. ‘bug’ detik berikutnya, tanganku sudah melingkar di tubuh cowok itu. Aku memeluknya.
“Ah?” mata Rama membelalak kaget.
“Terimakasih…. Kakak.” Ucapku sambil mengembangkan senyum. Rasanya tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain keajaiban yang terjadi padaku sekarang. Tuhan boleh mengambil penglihatanku, tapi Dia memberiku hal yang tak kalah indahnya.

Mata Rama kembali membesar. Tapi kemudian ia tersenyum dan membalas pelukan Asti, menumpahkan seluruh perasaannya di sana. Perasaan yang mulai sekarang harus benar-benar dia abaikan. Perasaan yang sampai kapanpun tidak akan pernah mempunyai jawaban. Perasaan yang harus dia kubur dalam-dalam, harus dia buang jauh-jauh, supaya hanya dia dan heaven yang tahu perasaan itu.

The lost word. Kisah tentang Raya dan Galih dua puluh tahun lalu, sekarang kata yang hilang itu sudah berhasil mereka temukan. Tapi bagi Rama, kata yang hilang itu tetap menjadi kata yang hilang, kata yang tidak akan pernah ditemukan Rama dalam kamus kehidupannya untuk Asti, mulia sekarang dan untuk selamanya.

Aku menggenggam serpihan waktu di kedua tanganku
Dalam diam aku mencengkeram kenangan yang terlupakan
The loss word
Ketika aku mengingat satu persatu peristiwa yang terjadi
Ku pikir aku mengerti segalanya
Kata-kata yang menghilang secepat mereka mendekatiku
Arti kata-kata yang di ucapkan
Cinta yang tak diragukan
Perasaan yang tak terbalaskan
Andai saja kita bisa mengungkapkan segala hal
Hanya dengan saling memandang
The loss word
Aku akan menjaga rasa ini dalam hatiku
Aku kehilanganmu
The loss word
No regret live

Itu adalah potingan terakhir dari Tsubasa Blue di wall facebook Asti.

Cerpen Karangan: Seka Ageha
Facebook: Minna No Ewa

Cerpen The Loss Word merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dua Puluh Lima Juta (Part 1)

Oleh:
“Dua puluh lima juta?” Tanya Nina shock mendengar nominal yang disebutkan oleh dokter. “Benar sekali. Total biaya operasi Ibu anda adalah dua puluh lima juta.” Jelas sang dokter. Mendengar

Pertemuan Yang Singkat

Oleh:
Hari ini adalah hari ketujuh setelah kepergian orang yang sangat kusayangi, Sekarang aku hanya tinggal sendiri dan mengurus semuanya sendiri. Bagaikan dunia ini hanya ada aku saja. Namun pagi

Datanglah Malaikatku

Oleh:
Hallo.. Namaku Zhahyra Anindya Atasyana, kalian dapat memanggilku Zira. Malam itu, aku sungguh lelah, karena aku baru pulang dari tempat les. Aku langsung menaruh tas ku di kamar dan

Najwa

Oleh:
Aku terkantuk-kantuk disebelahnya, kuraba keningnya ah….panasnya sudah mulai berkurang setelah aku mengompresnya tadi. Sedikit lega hatiku, kurebahkan kembali tubuhku disampingnya, ia masih terpejam dengan nafas yang sedikit agak berat,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *