The Magic of Time (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 January 2016

Pagi mulai menusuk tulang-tulangku, aku terbangun dan aku terlambat. “Oh tidak, mereka semua sudah bangun dan aku, ouuh!” Ucapku menggerutu. Aku langsung bergegas ke luar tenda dan semua menatapku. “Dasar hamster tukang tidur!” ucap Ken dengan nada cuek.
“Sudah sana kamu pergi ke sungai dan bersihkan dirimu” ucap dila serentak Syifa. Aku harus menuju sungai seorang diri, ya ampun kenapa aku bisa seperti ini. Apakah gara-gara semalam.
“oh hiyoyo apa yang ku pikirkan ini” dumelku dalam hati.

Sesaat selesai dari sungai. Kesalku tak hilang-hilang karena aku harus menuju sungai seorang diri. Tapi… Tapi.. Sepertinya aku tersesat, ya ampun kenapa aku bodoh sekali. Aku tidak tahu arah ke mana aku harus melangkah. “Tolong..!! tolong!! Adakah yang mendengarku!” teriakku sambil menangis. Tetapi tiba-tiba ada seseorang yang memegang pundakku dan terkejutnya aku.

“Bisakah kau tidak bertingkah bodoh seperti ini?” ucap seseorang yang memegang pundakku. Dan aku membalikkan badanku dan… “Hamster aneh sepertimu bisa tersesat juga” ucapnya.
“Ken…” Jawabku terkejut. Dan tidak ku sadari aku memeluknya dan Ken membalas pelukanku dengan erat.
“Aku takut Ken, aku takut..” Ucapku ketakutan. Lalu hatiku tiba-tiba berdenyut kencang.
“Apa yang terjadi, apa yang ku rasakan ini?” Ucapku bertanya-tanya dalam hati dan aku melepaskan pelukan itu.

“Ma..maafkan aku, aku tidak sengaja.” ucapku gugup. Senyum kecilnya menyinari wajahnya.
“Baiklah ayo kita balik ke perkemahan sebelum orang-orang di sana mencarimu dan aku” jawabnya dan menarikku.

Di perjalanan aku berbicara padanya, “bagaimana kau tahu aku tersesat di sini?” tanyaku.
“Aku mengikutimu, karena aku tahu kau akan seperti ini” jawabnya.
“Berarti kau mengintipku ya! Ayo jawab!” Tanyaku menekan, dan aku memukulnya dengan tanganku.
“Hey! Hentikan! Aku tidak melihatmu sedang mandi di sungai, karena aku datang ke tempat ini dalam keadaan kau sudah selesai.” Jawab dia menjelaskan.
Aku pun tersipu malu, “ku pikir kau melihatku” jawabku ragu.

Sesampainya di perkemahan semua orang melihatku karena Ken yang memegang tanganku. “Aduuh, aduuh! So sweet sekali kalian berdua.” Ucap Allina mengejekku.
“Atau jangan-jangan kalian berdua menjalin hubungan ya?” Sambar Dila.
“Tidak!!” Serentak jawabku dan Ken.
“Cie cie… Bisa kompak gitu.” Jawab Rasya yang sepertinya mendukung.

“Sudah ah! Tadi aku tidak sengaja tersesat dan bertemu Ken, jadi apa salahnya aku bersama dengannya?” ucapku menjelaskan.
“ketemunya sih tidak salah, tapi yang menjadi pertanyaan kita semua kok bisa pegangan tangan seperti itu?” Jawab Syifa yang sepertinya mempropokatorkan. Aku dan Ken langsung melepaskan pegangan itu. “Sudahlah! Aku lapar.” jawabku mengalihkan pembicaraan. Dan Ken, dia hanya berdiam diri saja di tempat, huft sebal.

Aku yang sibuk mengambil makanan, Allina yang sedang sibuk mengurus para senjatanya dan Rasya yang sibuk menjahili Allina dan membuat Allina terkejut.
“Mbaaak..” Rasya mengejutkannya.
“huaaa, kau lagi! Bisakah kau tidak mengacauku lagi!” Sentak Allina.
“Huu… aku takut…” Jawabnya mengejek.
“Jangan sampai para senjataku menghampirimu, Rasya!” Ucap Allina mengancam.
“Oh yaa! Aku lupa, aku sedang berhadapan dengan seorang psycho atau alien bersenjata” jawabnya meledek.
“Rasyaaaa! Awas kau, ya!!!” Allina mengejar Rasya dan meninggalkan para senjata Allina tergeletak di tanah.

Aku melihat tingkah mereka berdua sangat lucu, di hutan saja masih bisa berkeliaran seperti serigala mengejar mangsa sampai-sampai batang hidung mereka tidak terlihat lagi. Malam menghampiri, Allina dan Rasya belum juga kelihatan. Aku khawatir, “ke mana dua kucing itu berkelahi?” ucap Ken yang juga mencemaskannya, dan beberapa menit kemudian dari sebelah utara perkemahan kami berpijak seperti ada bayangan seseorang dan mereka adalah Allina dan Rasya dengan manusia tak berbentuk lagi. Mereka berdua kotor kumel dekil rambut mereka seperti manusia purba.

“Apakah kalian bermain di kubangan kerbau?” Tanyaku menahan tawa melihatnya.
“Diam Irene! Aku sebal dengan kembaranmu ini, mengapa dia sangat berbeda denganmu, Irene. Kau baik dan pendiam, sedangkan dia! Menyebalkan dan selalu membuatku jengkel!” Ucap allina kesal.

“Apa kau bilang! Hey! Kau! Aku ini tampan dan berkharisma, enak saja kau bilang seperti itu” tindas Rasya.
“Hello! Tampan? Lihat wajahmu yang penuh lumpur itu” balas Allina.
“kau juga ya!” Balas Rasya. Mulai lagi dan terjadi perang mulut.
“Aduuh kalian! Sudahlah, berkelahi terus kalian ini. Memang tidak bisa akur sedikiit saja, aku pusing mendengarkannya.” ucap dila mencoba mengakurkan mereka.
“Sudah sudah! Lebih baik kalian bertengkar besok pagi saja ya, waktunya kita makan. Dan kalian lebih baik bersihkan diri kalian, bau tahu” jawabku agak meledek.
“Irene!” Serentak Allina dan Rasya.

Malam makin menusuk relungku dan mereka semua sudah tidur terkecuali aku dan bintang itu. “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau belum tidur? Apakah kau ingin menjadi hamster kecil kesepian di sini.”Ucap simanusia cuek itu.
“Apa katamu! Sudah! Aku ingin tidur, ada kamu mataku pedih.” Jawabku meninggalkannya sendiri.

Pagi menjelang, dan waktunya kami untuk pulang ke alam kami. Tapi sepertinya Allina dan Rasya masih saja bertengkar. Haduuh! Aku pusing melihat mereka berdua.
“Bisakah kau tidak dekat-dekat denganku, Rasya!” Ucap allina sebal.
“Apa! Kau yang dekat-dekat denganku” balas Rasya. Tak ada orang satu pun yang memisahkan mereka berdua karena mereka berdua sedang asyiknya berkelahi.
Kami sudah sampai rumah masing-masing, dan aku langsung membaringkan badanku ke tempat tidurku, “huuh! Rasanya lelah sekali.” ucapku dan aku pun tertidur

Pagiku kali ini, aku harus pergi ke sekolah dan aku turun dari mobil sudah ada Allina dan Dila yang berada di depan gerbang, dan Allina berlari menghampiriku dan.. Degubraak!! terjadi insiden kecil, “aduuh, kepalaku!” ucap Allina. “aduuh… Ya ampun! Alien, kau memang alien bersenjata always you! Bosan aku!” Jawab Rasya.
“apa!!” Ucap Allina yang kesal dan tidak bisa terima perkataan itu, dan Allina berlari mengejar Rasya yang ternyata kacamatanya berada pada Rasya, dan aku.. Selalu ditinggalnya, huuh! Tak apalah masih ada Dila. Aku dan dila memasuki sekolah bersama.

Waktu istirahat tiba. Aku tidak nampak teman-temanku, ke mana ya. Aku yang menunggu di taman sekolah seorang diri, tiba-tiba seseorang menghampiriku dengan membawakanku kotak makanan berwarna biru, “makanlah, aku tahu kau belum makan kan.” Ucapnya.
“tapi kau sendiri.” Jawabku sambil melihat ke arahnya.
“tapi kau lebih membutuhkan dariku” balas Ken.
“Kalau begitu kita makan bersama sama ya, karena aku tidak ingin orang lain sengsara karenaku” bujukku.
“baiklah, kita makan bersama.” ucapnya sambil tersenyum. Dan kami menikmati bersama.

Satu bulan berlalu, kami berenam sudah berkawan lama ternyata dan Ken yang cuek tiba-tiba berubah menjadi perhatian padaku. Apakah Ken menyimpan rasa yang sama? Tapi tidak mungkin seorang Kenzho emerald menyukaiku. Hanya mimpi. Sekolahku mengadakan pesta, tapi aku tidak menyukainya karena aku tidak menyukai kemewahan dan keramaian, tapi mau diapakan Rasya selalu memaksaku. Dan aku baru ingat Rasya dan Allina ternyata sudah menjadi couple sejati, waah! Aku ikut senang. Mereka berdua telah menjadi pasangan, ciee.

Tapi di kesenangan itu, aku sendiri masih sendiri, lagi pula siapa yang mau denganku. Sudahlah aku tidak ingin memikirkan hal itu. Di malam pesta sekolah, aku yang memakai gaun rancanganku berwarna biru awan dengan kesendirian, tiba-tiba Ken menarikku ke suatu tempat di mana aku suka menyendiri. Dan aku melihat ini semua sangat indah, indah sekali.

“Indah bukan, kau masih ingat bintang itu, satu bulan yang lalu waktu kita kemah di hutan” ucap Ken.
“iya aku ingat, memang kenapa?” Tanyaku.
“Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu” ucapnya.
“apa?” Tanyaku kembali.

“Sebenarnya aku menyukaimu diam-diam tapi rasa gengsi ini mungkin menahanku untuk mengungkapkannya padamu” ucapnya, dan aku pun terkejut mendengarnya.
“aku.. aku juga menyukaimu tapi…” Jawabku yang terputus karena dadaku sangat sesak dan sakit sekali. Dengan paniknya Ken dia menghentakan tubuhku.
“Irene kau kenapa? Irene?” tanyanya selut. “Irene.. sadarlah… Irene!!” ucapnya penuh kegundahan. Aku yang sudah tidak sadarkan diri, Ken dengan paniknya menggendong dan membawanya ke rumah sakit. Rasya yang melihat Ken membawaku sangat panik dan mereka semua ikut Ken ke rumah sakit membawaku.

Sesampainya di rumah sakit Ken sangat gelisah, dan Rasya memperhatikannya, “sabarlah Ken semoga saja tidak terjadi apa-apa” ucap dila yang berusaha menenangkan Ken. Allina yang melihat Rasya yang hanya bisa mengigit jari dan ikut gelisah seperti Ken, Allina berusaha menenangkannya, “Rasya, tenanglah kita berpikir positif saja semoga tidak akan terjadi apa-apa pada Irene”. ucap Allina lembut, dan Rasya hanya mengangguk saja.

“Rasya, apakah hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya?” tanya Ken agak mendesak, dan Rasya hanya terdiam.
“Jawab Rasya!” Ucap Ken membentak.
“sebenarnya 2 minggu yang lalu hal seperti ini pernah terjadi padanya, karena Irene mempunyai penyakit mematikan dan ia didiagnosa selama 3 bulan yang lalu” jawab Rasya memperjelas.
“Tapi, Irene baik-baik saja ia tidak ada kata mengeluh sedikit pun” ucap Syifa.
“yaa, karena Irene tidak ingin orang-orang di sekitarnya mengetahuinya, sampai aku tahu sendiri karena aku curiga dengan obat yang dikonsumsinya” jawab Rasya menjelaskan.

Beberapa saat Rasya menjelaskan, dokter dari ruanganku ke luar dan menjelaskan serincinya. “Dok, bagaimana keadaan Adik saya dok?” Tanya Rasya gegas.
“Adikmu kemungkinan tidak akan lama lagi untuk menghembuskan napasnya, kamu yang sabar ya, berdoalah yang terbaik untuknya” jelas dokter dan pergi meninggalkan mereka semua. Ken yang mendengarnya terbujur lemas dan tak berdaya, lalu Ken segera bangkit untuk melihat keadaan Irene.

“Ken..” Ucapku lemas.
“Irene, kau..kau jahat Irene” ucap Ken menangis. “Mengapa kau sembunyikan hal ini kepada kita semua, kau jahat Irene” ucap Ken mendesak.
“Aku tidak ingin kalian semua ikut merasakan kesedihan yang kumiliki Ken” balasku mengelus pipinya.
“Kau tahu, aku mencintaimu Irene, aku tidak akan pernah meninggalkanmu” ucap Ken.
“aku juga Ken, tapi aku tidak akan menikmati hidupku untuk lebih lama lagi, cobalah kau cari yang lebih baik dariku karena aku tidak sesempurna yang lain Ken” ucapku.

Rasya hanya bisa menangis di pelukan Allina karena tidak kuat melihat semua ini, “aku takut Allina, aku takut Irene pergi meninggalkan semuanya” ucap Rasya di pelukan Allina.
“Jangan berbicara seperti itu Rasya, percayalah keajaiban akan datang” balas Allina mengelus Rasya. Dila dan Syifa hanya bisa menangis satu sama lain, dan tiba-tiba dadaku kembali sesak dan semua pandanganku kabur menjadi gelap.

“Irene… Kau kenapa Irene, dokter! Dokter tolong!” Ucap Ken panik, dan semua orang yang ada di ruanganku menjadi gelisah dan bertambah panas. Dokter segera melakukan pemeriksaan dan langsung menggunakan alat denyut, Rasya semakin ketakutan dan Allina berusaha menenangkannya, “tenanglah, tenang.. Aku di sini di sampingmu” ucap Allina. Rasya yang semakin erat memeluk Allina dan bertambah mengeluarkan air mata dan…

“Tiiiiiit..”
“Tidaaaak!!!!” Teriak Ken dan langsung menghentakkan tubuhku, dan semua orang berlinang air mata.
“Tidaaak!! Mengapa ini terjadi Tuhaan!!! Mengapa…” Ucap Ken seperti penuh penyesalan.
“berikan keajaibanmu Tuhan berikanlah” Allina memohon.

Dengan hati penuh berat hati untuk melepaskan Ken menggunakan alat denyut itu berkali-kali, “bangunlah Irene, bangunlaah!!” ucapnya sedang menggunakan alat denyut. Dokter pun mencoba mengahalangi tapi semua sia-sia, dan Rasya hanya berdiam diri. “Bangunlah Irene, demi aku demi kita semua! Bangunlaah..” Ucap Ken berkali-kali.

Berkali kali Ken menggunakan alat denyut itu dan Rasya geram mendengarnya dan melihatnya. “Hentikan Ken!!!! Kau menyiksa adikku!” Ucap Rasya kesal dan menyingkirkan dariku.
“aku hanya ingin bahagia bersama dia sedetik saja! Kenapa tidak ada yang mengerti aku!!” Balas Ken tertekan.
“Ken, hidup seseorang sudah diatur oleh Tuhan, tinggal kita saja yang harus tegar menerima keadaan” ucap Allina bijak. “Kita hadapi ini bersama, mungkin suatu saat akan ada keajaiban datang Ken,” jelas Syifa yang berusaha menegarkan.

Akhirnya semua pasrah, dan mungkin ini memang jalannya, dan kebahagiaan tidak akan datang untuk sekali dua kali bahkan suatu keindahan akan menyertainya. Dan saat waktu keajaiban datang, Ken yang masih yakin Irene masih bisa berhembus, kembali ke tempat tubuhku berbaring dan memelukku seakan tidak ingin melepaskanku.
“jika kau dengar aku, kau bangunlah Irene aku mencintaimu sepenuh hatiku, tolong! Bangun Irene demi orang yang kau sayangi” ucap Ken berbisik di telingaku, dan tiba-tiba saat Ken melepaskan pelukan itu, tangan Ken tertarik oleh seseorang dan ternyata..

“Irene!” Ucap Ken terkejut dan lalu memelukku kembali.
“Ken.. Kau membunuhku, aku sulit bernapas!” ucapku dengan nada lemas. Dan semua orang sangat terkejut dan bahagia, Allina dan Rasya yang selalu bersama berlinang air mata kebahagiaan, dan mereka semua percaya bahwa keajaiban itu ada, asal siapa yang ikhlas merelakan dan tabah untuknya, kembalilah ia ke sisinya.

Dan akhirnya mereka semua bahagia dan bersahabat 4 sekawan. Allina yang masih suka dengan senjata tajam ternyata bisa meluluhkan hati Rasya, tetapi aku aneh dengan mereka berdua sudah menjalin hubungan masih saja bertengkar karena Rasya yang masih suka menjahili Allina. Akhirnya tawa canda ini masih bisa ku nikmati, semoga saja masih bisa ku rasakan sampai Dila dan Syifa tidak menjones lagi. Hehe.

TAMAT

Cerpen Karangan: Tri Lestari
Facebook: Tri Lestari

Cerpen The Magic of Time (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jangan Pernah Meragukanku

Oleh:
Namaku Liana Nisa panggil saja Na. Aku kebetulan sedang bosan hari ini aku juga sedang bingung hari ini dan aku juga sedang tidak ada kerjaan karena hari ini aku

Skenario Tanpa Rencana

Oleh:
Antares keluar dengan wajah masam dari ruang pasien di mana Bella dirawat. Pria berpostur atletis itu mengambil posisi duduk berjarak 2 bangku dari tempat Carina duduk. Suasana sepi ruang

Indahnya Cinta

Oleh:
Pagi yang cerah, dengan bersemangat Dera berangkat sekolah. Tak lupa dia berpamitan dengan orangtuanya. “Ma, pa.. Dera berangkat dulu ya” ucapnya sambil mencium tangan kedua orangtuanya. “Hati-hati ya” ucap

Membuang Lembar Kelabu

Oleh:
Dicky “… dia… gadis yang baik” tertatih, “aku yakin dia yang terbaik, dan… dapat menjadikanmu lebih baik…” itulah kata-kata terakhir dari Syira untukku. “Tit……….” “sayang…” bisikku dengan mengelus rambutnya.

Keep Friends

Oleh:
Disebuah sekolah yang cukup megah, tepatnya Seoul Internasional High School. Terlihat Dua orang dengan senyum yang terpampang di wajahnya memasuki gerbang sekolah tersebut, sesekali keduanya tertawa dengan riangnya ditengah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “The Magic of Time (Part 2)”

  1. Intan says:

    Ih… bagus banget….. semangat terusya.. buat cerpennya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *