The Pending Gift

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 30 July 2016

Resti Sellaria atau kerap dipanggil sella merupakan sosok perempuan yang cuek dengan gaya yang terkesan berantakan serta urak-urakan dan gaya bicara yang acuh, gadis 24 tahun itu tiba-tiba saja dijodohkan oleh ibunya dengan laki-laki yang tidak ia kenal dengan alasan lelaki pilihan ibunya itu adalah sosok yang dipercayai ibunya mampu menjaga sella dengan baik.

“Apa bu? nikah? sama siapa ibu?” sella terbalalak saat ibunya menyatakan ingin segera menikahkannya, “iya, ibu sudah punya lelaki pilihan ibu, ia sudah mapan, orangtuanya juga sudah setuju, malah mereka ingin kalian segera dinikahkan” jawab ibunya santai, “ibu jangan bercanda deh, aku aja gak kenal bu sama mereka”, “kamu tenang aja, nanti ibu kenalin kamu sama mereka kok, yang terpenting mereka udah kenal sama kamu” bujuk ibu sella, “mereka kenal sella dari mana?” Tanya sella kebingungan, “Ayahnya itu dosen kamu waktu kuliah, pak harno, inget gak? Nah, kalo ibunya itu bu wina temen SMA ibu dulu yang sering mampir ke rumah. O iya, nama anaknya itu Arianda artama, biasa dipanggil arian, umurnya 28 tahun, anaknya baik kok, ramah, ganteng juga, kamu tenang aja pilihan ibu gak salah” papar ibu sella, “kok bisa mendadak gini sih bu?” Tanya sella, “gak mendadak kok, ibu sudah merencanakan ini sejak lama, ibu gak bermaksud memaksa kamu nak, ibu cuma ingin kamu segera punya pendamping hidup, ibu ini sudah tua, gak selama-lamanya ibu bisa nemenin kamu, kamukan juga udah dewasa nak” jelas ibu sella. Sella hanya bisa diam termenung, sella sebenarnya punya satu adik laki-laki namun telah meninggal bersama ayahnya dalam sebuah kecelakaan lalu lintas 10 tahun silam dan sekarang sella hanya tinggal bersama ibunya, sella bukanlah seorang anak pembantah walaupun ia gadis yang acuh ia tetap tidak bisa menolak apapun permintaan ibunya, “rencananya besok ibu mau bawa kamu ke rumah keluarganya, bisa gak besok kamu ambil cuti dulu? Karena kebetulan juga besok itu mereka mau ngadain syukuran di rumah baru mereka” pinta ibu sella, “nanti aku coba tanya bos dulu” balas sella acuh.

Keesokan harinya…
Sella sedikit ragu menapakkan kakinya di rumah pak harno, ibu sella mengatakan jangan takut karena ibu dan ayah arian itu sangat baik. Sesampainya disana rumah pak harno memang terlihat ramai, mereka pun dipersilahkan untuk duduk sambil berbincang, “apa kabar wina? Pak harno juga apa kabar? ini loh anak saya sella” sapa ibu sella memperkenalkan anaknya, sella hanya tersenyum tipis kemudian mencium tangan kedua orangtua arian, “kami baik kok sara, o iya tunggu ya, arian masih di kantor, katanya dia pulang lebih awal hari ini, anak itu masih aja ngotot kerja, padahal aku udah suruh cuti” papar ibu arian, “oh gak papa win, bagus dong anakmu pekerja keras” puji ibu sella, “ah ada ada aja kamu, ayo duduk dulu”.

1 jam kemudian…
Arian pulang dengan tergesa-gesa, sesampainya di rumah ia sedikit kaget melihat ibu sella dan sella sudah berada di rumahnya, ia kemudian datang menghampiri mereka menyapa dan bersalaman, “kenalkan nak, ini sella yang ibu ceritain sama kamu dan ini ibunya bu sara temen ibu” tukas ibu arian memperkenalkan sella dan ibunya, arian hanya membalas dengan senyuman.

1 minggu kemudian…
Sella terlihat tidak begitu bersemangat kerja hari ini, ia terlihat begitu malas, moodnya benar-benar jelek 7 hari terakhir, bagaimana tidak? Di pertemuan pertamanya dengan keluarga arian, ibunya beserta keluarga arian secara terang-terangan langsung menetapkan tanggal pernikahan, walaupun arian setuju tapi ia dapat mengoreksi raut wajah arian yang terlihat sangat tidak suka pada waktu itu, apalagi setelah ia bertukar nomor handphone, tidak pernah sekalipun arian menghubunginya untuk sekedar menanyakan hal-hal tentang dirinya. Sella sebenarnya tak peduli arian tak menghubunginya yang ia khawatirkan lelaki itu benar-benar membencinya. Tanggal pernikahan yang telah ditetapkan hanya tinggal menghitung hari kurang lebih dalam kurun waktu 3 minggu lagi, sella semakin penat dengan pikirannya, ia tidak memikirkan bahagia atau tidaknya setelah ia menikah nanti, tapi yang ia pikirkan adalah banyak hal yang harus ia lakukan setelah menikah nanti dari mengurus suami hingga mengurus rumah tangga, sella memang cuek tapi ia tidak bisa cuek dalam berbagai macam kewajibannya sebagai istri nanti, sella merasa kebingungan karena mengurus diri sendiri saja ia masih belum benar apalagi untuk mengurus suaminya nanti.

3 minggu kemudian…
Hari yang tak pernah ditunggu sella itu pun datang, hari dimana sella merasa ingin menenggelamkan dirinya di dasar laut, ibunya mengatakan jangan memikirkan soal cinta karena cinta akan tumbuh seiring waktu. Sella tak memikirkan soal cinta yang ia pikirkan adalah sekelumit perjalanan hidup rumah tangga yang harus ia arungi.

Akad nikah pun berlangsung dengan lancar dan resepsi pernikahanpun langsung dilaksanakan pada hari itu juga, sella dan arian bersanding sebagai sepasang pengantin pada umumnya, namun yang sedikit berbeda mereka terlihat begitu minim berbicara.

Keesokan harinya…
Setelah menginap semalam di rumah ibu arian, sella dan arianpun pindah di rumah mereka yang memang telah dibeli oleh arian beberapa tahun lalu. “Kamu istirahat aja dulu, biar aku yang kemasi barang-barang” kata arian, “nanti aja, aku bantu dulu” balas sella.

Hari demi hari sella menjalani hidupnya sebagai seorang istri, ia yang dulunya selalu dibangunkan ibunya kini ia yang membangunkan suaminya, ia yang dulunya disiapkan sarapan oleh ibunya kini ia yang menyiapkan sarapan untuk suaminya, setelah sarapan mereka berangkat kerja bersama, sella selalu pulang lebih dulu dari arian, setelah pulang sella langsung mengurusi rumahnya beranjak sore ia mulai memasak untuk makan malam arian, begitulah hidup yang ia jalani setiap hari, sella tak pernah mengeluh sedikitpun karena ia tahu inilah kewajiban menjadi seorang istri, sella dan arian memang terkesan cuek sebagai sepasang suami istri, mereka berbicara seadanya dan seperlunya, bercanda pun hanya sekadarnya saja, berbicarapun selalu arian yang memulai, sella terkadang hanya membalasnya dengan senyuman.

Suatu hari arian mengajak sella untuk makan di sebuah restoran untuk pertama kalinya, arian ingin mengungkapkan semua perasaannya pada sella, ia mulai mencintai sella, dengan menyiapkan cincin permata di sakunya serta sebuket bunga yang disembunyikannya di balik kursi ia ingin memberikan sebuah moment romantis untuk sella, beberapa saat setelah menunggu, sella pun datang. “Udah selesai ngantornya?” Tanya arian basa basi, “iya, ada apa ngajak kesini?” Balas sella, “enggak, pengen aja kita makan berdua di tempat kayak gini, biasanyakan di rumah aja”, sella hanya tersenyum simpul mendengar arian, “emm.. Aku mau ngomong hal penting sama kamu, dengerin ya”, sella hanya mengangguk dengan wajah penasaran, arian dengan lembut memegang tangan sella, sella agak terkejut dengan perlakuan arian namun ia sedikit menyungingkan senyum mendapat perlakuan itu, “aku mencintaimu sella” kata arian dengan lembut penuh tatapan cinta, tiba-tiba handphone sella berdering memecah suasana romantis itu, sella yang awalnya tersenyum manis mendengar penuturan arian berubah datar kemudian mengangkat teleponnya, “halo… iya pak, saya sudah mengirim berkas-berkasnya… apa yang salah pak?… Baiklah saya kesana” ujar sella mengangkat telepon dari bosnya, “mas, aku ke kantor dulu ya ada urusan mendadak” sella pun segera berlari beranjak dari restoran tersebut, arian yang merasa belum menyelesaikan pembicaraannya pun segera beranjak untuk mengerjar sella, tanpa diduga kaki arian tersandung kursi saat akan beranjak ia pun jatuh tersungkur dan kepalanya membentur sudut meja, arian pingsan tak sadarkan diri.

Di kantor sella mendapat telepon dari ibunya bahwa arian masuk rumah sakit, sella terkejut dan segera ke rumah sakit setelah menyelesaikan urusannya, sella masih bingung apa yang terjadi dengan suaminya. Sesampainya di rumah sakit ibunya menceritakan menurut pelayan resto arian jatuh tersungkur saat akan mengejar dirinya dan arian harus menjalani jahitan di kepalanya, sella begitu terpukul saat mendengar penuturan ibunya, baru saja ia merasa bahagia satu jam lalu, kini ia begitu sesak mendengar musibah arian, ia merasa begitu bersalah atas kejadian itu.

Beberapa jam kemudian arian pun siuman, ia bertanya bagaimana ia bisa berada di rumah sakit, ibunya pun menjelaskan panjang lebar tentang yang ia alami, ia lupa apa yang telah terjadi, saat sella masuk untuk melihat arian, tiba-tiba arian bertanya “siapa dia bu?”, satu kalimat yang begitu menusuk relung hati sella, bagaimana tidak suaminya sendiri tidak mengenal siapa dirinya, seluruh keluarga begitu kaget mendengar arian, ibunya segera memanggil dokter menanyakan keadaan arian, dokter mengatakan amnesia seperti itu biasa dialami oleh seseorang yang mengalami kecelakaan seperti arian, ingatannya akan segera pulih beberapa bulan ke depan, jika sering dilatih. Sella hanya menunduk meneteskan air mata mengetahui kenyataan itu, ibu arian mengatakan kepadanya untuk jangan bersedih karena arian pasti akan sembuh, sella hanya tersenyum getir mendengar penuturan ibu mertuanya.

Arian yang diketahui amnesia ternyata tidak melupakan keluarganya serta dirinya sendiri, ia pun ingat pekerjaan kantornya, namun yang ia lupakan peristiwa 4 bulan terakhir dari pertama ia bertemu sella hingga ia berumah tangga, sella benar-benar terpuruk menghadapi kenyataan bahwa ia adalah satunya-satunya orang yang tidak diingat arian, sosok laki-laki yang telah mengisi relung hatinya itu.

“Kamu istriku? Sella? Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan perempuan sepertimu? Aku ini masih waras, mataku belum rabun, kok bisa ya aku menikah sama perempuan kayak kamu? Ini pasti ada yang salah nih!” Tutur arian saat menginjakkan kaki ke rumahnya, “aku ingat ini rumahku, aku memang membelinya untuk kehidupan rumah tanggaku, tapi bukan sama kamu seharusnya” lanjut arian, sella hanya dapat menahan perasaan mendengar perkataan arian, “tapi kenyataannya akulah istrimu” balas sella dengan tenang.

Hari-hari ia jalani kembali seperti biasa, namun yang berbeda adalah arian, ia tak berubah sejak pertama pulang dari rumah sakit, ia selalu mencerca sella di segala keadaan, seolah olah sella makhluk paling bersalah di dunia ini, sella dengan sabar menghadapi suaminya itu, tak pernah terbersit sedikitpun diotaknya untuk meninggalkan arian, ia justru lebih perhatian dari sebelum arian kecelakaan, ia selalu mengingatkan arian makan dan minum obat, menelepon arian saat di kantor menanyakan keadaannya, dan melakukan segala permintaan arian yang aneh-aneh, sella benar-benar berubah dari dirinya dulu yang terkesan cuek, ia lebih cerewet terhadap arian yang suka malas makan, dan lupa minum obat, ia juga cerewet saat arian susah dibangunkan, dulu ia hanya membangunkan arian tanpa sepatah kata pun.

Tak terasa sudah berbulan-bulan semenjak kecelakaan itu, namun arian tak kunjung sembuh, ia masih seperti biasa tak sedikitpun ia mengingat tentang sella. “Mas, kamu benar-benar gak ingat sedikitpun tentang aku” ujar sella dengan mata berkaca-kaca, ia sudah tak bisa menahan perasaannya, “untuk apa aku ingat perempuan kayak kamu, gak penting! Udahlah jangan ngerusak selera makanku! Aku bisa gak selera makan gara-gara kamu!” Balas arian cetus seperti biasa, sella hanya tertunduk berusaha menahan air mata di pelupuk matanya. Saat setelah selesai sarapan arian segera beranjak untuk pergi ke kantor, “kamu lupa mas dulu kamu bilang mencintai aku”, arian berhenti mendengar penuturan sella, “kamu ngajak aku makan di restoran, terus kamu bilang mauk ngomong hal penting, tapi ternyata kamu bilang mencintaiku, kamu tahu gak mas, aku bahagia banget hari itu, itu adalah hari pertama kamu bilang cinta sama aku, hari pertama kamu megang tangan aku dengan lembut, hari pertama kamu menatap aku penuh arti mas, dan hari itu.. hari itu juga hari pertama kamu ngelupain aku mas” sella tak mampu menahan air matanya ia menangis melampiaskan isi hatinya, “aku belum sempet bilang kalau aku mencintai kamu mas, tapi kamu udah ngelupain aku, gimana caranya aku mauk mengungkapkan isi hatiku mas, sedangkan orang yang mencintaiku hilang dan berganti dengan orang yang membenciku di tubuh yang sama” sella kemudian menunduk melepaskan tangisnya, tak terdengar jawaban arian, setelah sella mengangkat kepalanya ia melihat arian sudah tidak berdiri lagi di tempatnya tadi, ia sudah pergi. Sella hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, tatapan penuh penderitaan, tatapan penuh kesedihan, dan tatapan yang penuh pengharapan.

Siang hari ternyata arian pulang lebih awal dari biasanya, sedangkan sella ia minta cuti hari ini untuk tidak kekantor karena perasaannya kurang baik semenjak peristiwa yang ia alami tadi pagi. Sella hanya berbaring lesu di kamarnya, saat arian pulang dan masuk ke kamar sella menanyakan kenapa pulang awal, arian hanya berkata seadanya kalau pekerjaan kantornya sudah kelar. Tiba-tiba arian duduk di pinggir tempat tidur tempat sella berbaring, sella agak heran melihat arian yang tidak seperti biasanya, sella pun bertanya ada yang arian inginkan, “kamu selalu bertanya tentang kebutuhanku, aku ini sudah dewasa sella” kata arian, “lalu kenapa kamu duduk disini mas, kalau kamu gak minta sesuatu terus apa?” Tanya sella geram, “coba bangun dulu, duduk sini” arian menepuk-nepuk sisi tempat tidur di sampingnya, sella pun bangun dan duduk di samping arian dengan posisi mereka saling berhadapan, “kamu bilang tadi pagi kamu ingin mengungkapkan perasaan kamu sama aku, kenapa kamu gak pernah ngungkapin? Walaupun aku lupa ingatan toh aku orang yang sama kan?”, “gimana aku mau ngungkapin perasaan aku sama kamu mas, aku aja di mata kamu gak pernah bener, iya kamu orang yang sama, tapi jiwa kamu itu berbeda mas, berbeda sama kamu yang dulu” tutur sella dengan berkaca-kaca, “enggak, aku gak beda, aku tetep orang yang sama, suami kamu”, sella hanya menatap arian penuh arti, “sekarang aku cuma minta kamu ngomong apa yang ingin kamu ungkapkan, seenggaknya aku masih bisa meyakinkan diri aku, atau seenggaknya aku lebih bersemangat untuk berjuang mengingat kamu, mengingat kenangan kita, mengingat tentang kamu dan aku” ujar arian seraya memegang tangan sella seperti saat ia memegang tangan sella di restoran waktu itu, sella menunduk melihat tangan arian memegang tangannya, kenangan itu kembali terlintas, setidaknya ia punya satu kenangan bahagia yang membuat ia tersenyum selama menjalani kehidupannya yang pahit, “mas, waktu kamu bilang kamu mencintai aku, aku sebenernya juga ingin bilang kalau aku mencintai kamu juga mas, tapi itu semua gagal saat bosku menelepon tentang masalah kantor, aku gak berniat sedikitpun meninggalkan kamu mas, aku udah berencana untuk ngungkapin semuanya setelah aku pulang dari kantor, tapi semuanya lagi-lagi gagal mas, kamu kecelakaan, dan itu semua gara-gara aku” sella kemudian tertunduk menangis, arian lalu mengangkat dagu sella mengusap air matanya lalu tersenyum, mengisyaratkan agar sella melanjutkan pembicaraannya, “dari awal kita menikah, aku emang gak pernah punya perasaan sama kamu mas, tapi seiring waktu aku mulai mencintai kamu dan semakin mencintai kamu, aku gak tau kenapa aku bisa mencintai kamu. Aku mulai khawatir kalo kamu pulang kemaleman, aku mulai khawatir kalo kamu lupa makan, semuanya berubah seiring waktu, aku sebenernya sangat ingin ngungkapin perasaan aku mas, tapi aku gak berani, aku takut kamu gak punya perasaan apa-apa sama aku, tapi semua itu berubah di restoran itu, kamu mencintaiku, dan hari itu adalah hari paling bahagia yang pernah aku rasakan mas” sella tak henti meneteskan air matanya seraya menatap arian, tiba-tiba arian memeluk sella dengan lembut, sella sedikit kaget dan membelalakkan mata, “happy anniversary sayang, gak terasa kita udah satu tahun menikah, i love you” ujar arian dengan lembut kemudian mengecup kening sella. Sella tak tahu harus bagaimana ia hanya diam mematung, menatap arian penuh arti, arian pun mengeluarkan sebuket bunga dari dalam tasnya yang dulu tak sempat ia berikan pada sella beserta cincin permata yang ingin ia berikan, “ini adalah bunga yang dulu belum sempat aku berikan pada istriku” ujar arian seraya menunjukkan sebuket bunga dan tertawa, sella pun ikut tertawa, “mana tanganmu?” Kata arian meminta sella menyodorkan tangannya, “ini juga cincin yang belum sempat aku berikan pada istriku, karena ia keburu pergi ketemu bosnya” ujar arian mendelik serta memasangkan cincin itu dijari manis sella, sella sedikit tertawa melihat tingkah arian, “sebenernya waktu itu aku masih mauk ngomong sama kamu, tapi kamunya keburu pergi, kamu mau tau gak?” Sella kemudian mengangguk sambil tersenyum manis, “sella, aku mencintaimu, terimakasih sudah mauk menjadi istriku, menjadi istri yang luar biasa, istri yang selalu ada untukku, walaupun aku baru bisa bilang sekarang tapi kamu harus tahu kalo aku mencintaimu jauh dari sebelum aku mengungkapkannya hari ini, aku mohon untuk tetap menjadi satu-satunya istriku sampai nanti” arian kemudian memeluk sella yang tersenyum bahagia, ” kamu udah ingat mas, kok gak bilang aku sih” kata sella dengan wajah cemberut, arian kemudian mencubit dagu sella, “aku udah ingat semuanya sebulan yang lalu, aku cuma ingin ngelihat perjuangan kamu sampai hari ini, hari satu pernikahan kita, dan ternyata aku gak salah pilih istri” balas arian tertawa, “jadi kamu sengaja mas?” Tanya sella kembali cemberut, “iya maafin aku sayang udah nyusahin kamu” balas arian kemudian mengecup kembali kening istrinya, sella hanya tersenyum simpul sambil mencubit perut arian geram.

“Kebahagiaan itu bukan terletak pada apa yang kita inginkan, tapi pada apa yang kita jalankan, sesuatu yang kita jalani dengan ikhlas dan penuh rasa syukur akan berakhir pada kebahagiaan yang abadi” (SELLARIA)

Cerpen Karangan: Meli Susilawati
Facebook: Meli Susilawati
Assalamualaikum…
Nama saya Meli Susilawati, menulis dan mengarang adalah cara saya mengisi waktu luang, saya berharap cerpen karangan saya dapat menghibur dan bermanfaat untuk para pembaca.
Terimakasih

Cerpen The Pending Gift merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sorry, I Love U

Oleh:
Tit….Tit…Tit…. Terdengar suara klakson yang mengagetkan Icha dari lamunannya. “itu pasti adit” batinnya dalam hati. Ichapun mengambil tasnya dan berlari kedepan,,, tapi Icha lebih kaget lagi saat tiba di

Ternyata Dia

Oleh:
“Huh. Hampir saja aku telat.” Sambil terengah-engah aku masuk kelas dan duduk di bangku yang biasa aku tempatin, hari sabtu, jam pertama adalah pelajaran Biologi, Bu Lia guru pengampunya,

Akhir Cerita Sabtu Senja (Part 3)

Oleh:
Penampilan tak kalah mengesankan dari peserta lomba tari lain, namun penentuan kemenangan ada di tangan para juri yang duduk di urutan kursi paling depan. Semua rombongan menangis saat tidak

Dunia Mimpi

Oleh:
“Di mana aku?!” Senyap dan Hening yang aku rasakan.. Sekarang Yang aku dengar hanya suara detakan jarum jam. Tak beberapa lama suara itu menghilang. Bagai di tengah malam yang

Cinta dan Pengorbanan

Oleh:
Cinta dan pengorbanan. Hidup harus penuh dengan pengorbanan. Begitu pun dengan cinta. Tanpa pengorbanan hidup tidak akan berarti apa-apa. Tanpa pengorbanan cinta tak mungkin bisa bersatu. Seorang gadis tengah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *