The Power of Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 6 December 2016

Namaku Riana Chelyn Putri. Aku menjadi seorang anak tunggal setelah kematian adikku yang bernama Riana Mila Putri. Kurasa hidupku sangat sempurna, memiliki kedua orangtua yang begitu menyayangiku, dan seorang pacar yang sangat mencintaiku.
Sampai suatu saat, seseorang datang dari masa laluku. Dia Doni seseorang yang dulunya sangat aku cintai, tapi malah meninggalkanku begitu saja. Selama tiga tahun aku menunggunya tanpa ketidak pastian. Sampai akhirnya aku menemukan Reno Aldiansyah. Seseorang yang sangat sabar menuntunku untuk bangkit dari keterpurukan. Dan sudah 2 tahun ini kami menjalin hubungan dengan sangat baik.

Sudah beberapa hari ini Doni menguhubungiku lagi. Ia mengirim beberapa pesan pendek, untuk menemuiku. Sifatnya tak pernah berubah, ia tak akan pernah menyerah sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Aku pun memutuskan bertemu dengannya malam ini di sebuah cafe tempat dimana kita sering datangi dulu.

“Cheryl, mau kemana kok rapi banget?” Tanya ibuku yang sedang duduk santai di depan tv. “Cheryl mau keluar bentar bu, boleh kan?” Sambil mencium tangan ibu, dan tak lupa pipi kanan dan kirinya.
“Mau kemana sih?”
Pertanyaan ibu tak sempat aku jawab karena aku telah menghilang dari balik pintu.

15 menit berlalu, aku telah sampai di tempat yang telah kami sepakati. Ternyata dia datang lebih awal dari pada aku.
“Cheryl..”
Aku mendengar seseorang memanggil namaku. Kucari dari mana sumber suara itu. Ya, Donilah yang memanggilku. Dia memilih duduk di sudut cafe yang berlantai dua itu. Aku pun segera berjalan ke arahnya.
“Hai, apa kabar?”
Aku hanya tersenyum.
“Aku sudah memesankan minuman kesukaanmu. Choky choocies kan?”
Ternyata dia masih ingat minuman kesukaanku.
“Terima kasih” jawabku singkat.

Beberapa menit berlalu, kami hanya diam, ada rasa canggung di antara kami. Wajar saja, sudah lima tahun kami tak berkomunikasi.
“Cheryl” dia kembali memanggil namaku. Aku yang dari tadi hanya diam, kini sudah berani menatapnya. Doni mencoba untuk menggenggam tanganku, tapi aku menolak.
“Cheryl, maafkan aku. Aku telah bersalah meninggalkan kamu. Aku tahu, aku egois. Tapi kamu harus tahu, aku masih mencintaimu”
Tak ada jawaban, aku hanya diam.
“Cheryl, maukah kau kembali padaku? Kita mulai lagi cerita kita yang dulu sempat hilang”
Aku masih diam.
“Cheryl, jadi ini yang kamu lakukan di belakangku?”
Aku mengenal suara itu, tapi itu bukan suara Doni. Bukan. Itu suara Reno pacarku. Benar saja, Reno sudah ada di belakangku. Entah sejak kapan dia ada disana. Tapi sepertinya dia sangat marah.
“Pantas saja, kamu tak menjawab teleponku. Ternyata kamu ada disini.” Reno tersenyum kecut.
“Reno, tolong jangan salah sangka dulu. Kamu salah paham sayang.” Aku mencoba menjelaskan, tapi terlambat Reno sudah berlalu meninggalkanku. Dan Doni hanya mematung melihat kepergian Reno. Sementara aku sibuk mencari handphone yang ternyata memang tidak ada di dalam tasku. Aku mencoba mengejar Reno, karena tergesa-gesa kakiku terpeleset saat menuruni anak tangga. Tubuhku berguling-guling sampai anak tangga yang terbawah. Dan masih setengah sadar, samar-samar ada seseorang yang berteriak memanggil namaku. Entah siapa, aku sudah tak mengenali suara itu. Sampai akhirnya aku tak sadarkan diri.

Mataku terbuka, aku terbangun di sebuah kamar yang didominasi cat tembok berwarna putih. Tapi ini aneh, aku melihat tubuhku sendiri tengah tertidur dengan dengan selang oksigen di hidungku, selang infus di pergelangan tangan kananku, dan juga beberapa kabel yang menempel pada tubuhku. Apa aku sudah mati? Hanya pertanyaan itu yang ada dalam benakku sekarang. Sekejap, aku teringat dengan Reno. Dimana dia sekarang? Apa dia masih marah denganku? Aku mencari-cari sosok Reno. Berteriak memanggil nama Reno, walaupun aku tahu tak ada yang bisa mendengar suaraku disini. Aku terus berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit, mencari seseorang yang teramat aku cintai. Tapi nihil, Reno tidak ada disini. Aku sadar semua ini salahku, aku mengkhianati kepercayaannya. Kenapa aku menemui Doni?? Bodoh, Harusnya aku tak melakukan kebodohan ini.
Aku terus menyalahkan diriku sendiri. Akhirnya aku kembali ke kamar tempat tubuhku berada. Tak kusangka Reno sudah ada di samping tempat tidurku. Tangisan bahagia, mengalir dari pelupuk mataku.
Ingin sekali aku bangun, lalu memeluknya. Menjelaskan tentang kesalah pahaman yang terjadi tadi, tapi aku tak bisa.
“Cheryl, bangunlah. Maafkan aku” katanya sambil menggenggam tanganku. Tapi tubuhku tak merespon apa-apa. Hingga akhirnya Reno tertidur, dengan masih menggenggam tanganku.

Keesokan harinya, ayah dan ibu datang ke rumah sakit.
“Nak Reno, pulang saja. Kasihan kamu pasti sudah lelah menunggu cheryl semalaman. Biar ayah dan ibu saja sekarang yang menjaga cheryl.” Kata ayah.
“Tidak apa-apa pak, saya sudah janji sama cheryl jika saya akan selalu menjaga dia. Biarkan saya tetap disini menjaga cheryl.”
Ayah dan ibu sudah tak berkata apa-apa lagi.

Satu dua tiga hari berlalu, badanku masih tertidur di tempat tidur, juga Reno yang tetap setia menungguku. Tiba-tiba cahaya silau datang dari arah pintu, dari sana muncul seorang gadis kecil dengan gaun putih cantik sekali. Aku tidak asing dengan wajah gadis kecil itu. Ya, itu Riana Mila Putri adikku.
“Dedeeek” Aku pun segera memeluknya. Wajar saja, aku sangat merindukannya. Sudah setahun ini kami tidak bertemu. Tapi bukannya dia sudah meninggal? Kenapa dia disini?? Apa yang dia lakukan disini? Aku sudah tak peduli dengan berbagai pertanyaanku. Yang pasti aku bahagia karena saat ini aku bisa memeluknya.
“Kakak, aku kangen sama kakak.” Katanya manja. Masih sama dengan nada-nada manja yang dulu sering ia ucapkan.
“Kakak juga kangen banget sama kamu sayang.”
“Kakak ikut aku yuukk, main sama aku”
Aku terdiam sejenak. Aku pun mengiyakan ajakannya. Tapi, ada seseorang lagi di tempat ini. ternyata bukan seseorang, tapi beberapa orang. Mereka adalah ayah, ibu, dan juga Reno. Mereka menangis dan memanggil-manggil namaku. Aku tak tega melihatnya.

“Dedek, kita mau kemana? Ayo kita kesana. Disana ada ayah, ada ibu juga. Yukk dek.” Ajakku.
“Enggak kak, tempat dedek udah gak disana lagi”
“Apa maksud kamu dek?” Aku heran dengan apa yang ia ucapkan barusan.
“Kakak, tempat dedek udah gak disana lagi. Tempat kakak seharusnya juga enggak disini. Kakak pulang aja. Salam sayang buat ayah sama ibu. Dedek disini udah bahagia kak.” Setelah itu dia menghilang bersamaan dengan sosok ayah, ibu, dan juga Reno. Aku terduduk, menangis sendirian. Rasanya ada sesuatu yang terjadi, dadaku terasa sesak, sakit sekali. Beberapa saat aku masih bisa menahan rasa sakit itu. Tapi akhirnya aku kalah, aku tak sadarkan diri lagi.

“Cheryl, bangun sayang. Sudah tiga hari kamu enggak bangun. Maafkan aku sayang, aku salah tak mendenggarkan penjelasanmu dulu. Aku sudah tahu semua ceritanya. Doni sudah cerita semuanya padaku. Maafkan aku. Maafkan aku. Aku mencintaimu Cheryl. Bangunlah.” Bisikan Reno di telinggaku seperti kekuatan baru bagiku untuk bisa membuka kembali mataku. Mataku perlahan terbuka, samar-samar sampai akhirnya menjadi sangat jelas. Reno terbangun dari tempat duduknya. Ia menangis tapi tersenyum. Lalu dia mencium keningku. “Syukurlah kamu sudah sadar sayang, aku sangat mencemaskanmu sayang. Sebentar aku panggil dokter dulu ya” dia berlari menginggalkan aku. Aku hanya bisa tersenyum bahagia melihatnya.

Beberapa hari kemudian, aku sudah diizinkan dokter untuk pulang. Reno yang terlihat sangat semangat menyambutku untuk pulang. Dari kejadian itu, cinta kami berdua semakin kuat. Hingga 3 bulan kemudian kami memutuskan untuk menikah. Dan akhirnya bahagia selamanya.

Cerpen Karangan: Nita Nurjana
Facebook: Nita Ituk
Ini memang bukan cerpen pertama yang saya tulis. Tapi ini menjadi cerpen pertama yang berani saya publikasikan. Mohon kritik dan saran untuk perbaikan tulisan tulisan saya selanjutnya. Terima kasih 😀

Cerpen The Power of Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Loser (Part 1)

Oleh:
Tesan. Apa seseorang akan menjadi lebih baik setelah dia jatuh cinta? apa benar yang orang-orang katakan? kalau cinta bisa merubah segalanya! apa itu benar? ada banyak penyataan tentang cinta

Cinta Sejati

Oleh:
Saat itu aku masih duduk di kelas 3 SMP, dan Aku masih nggak kenal Yang namanya “cinta”. Bagiku “pendidikan” itu nomor 1 daripada “cinta”. Hingga akhirnya Aku bertemu dengan

Nada Nada Cinta

Oleh:
Terlahir sebagai orang tak berbakat seni itu menyebalkan. Seperti aku ini, tidak ada profesionalisme sama sekali dalam bidang nyanyi-menyanyi, tari-menari, apalagi ngegambar-menggambar. Tapi mau nggak mau aku harus hidup

Green Tea Latte

Oleh:
Secangkir green tea latte dan dua buah donat dengan topping green tea pun menemani sudut kesendirianku yang mengingatkan aku pada dirimu. Terik cuaca di luar terasa begitu menyengat. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *