The Prince, Double Princess, and I (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 30 August 2017

“Halo, Larissa. Hari ini aku baru melihatmu sekarang, dari mana saja kamu seharian ini adikku?” tanya Putri Laluna terasa penuh kepalsuan.
“Kak Laluna… Ini… Gaun ini… Dari mana kau mendapatkannya?!” ucap Putri Larissa sembari menggenggam erat salah sebagian sisi gaun yang dikenakan oleh kakaknya.
“Oh, tentu saja ini dari lemari pakaianku. Kenapa? Kau iri dengan gaun yang kupakai ini? Dan kau, menginginkannya?” tanyanya dengan memasang senyum licik, lalu mengambil tiga langkah kakinya.
“Kakak bohong! Gaun ini milikku. Kau yang mengambilnya dariku!” kini Putri Larissa sedikit berani demi mendengar pengakuan Putri Laluna. Ia pun sama, mengambil tiga langkah kakinya dan keduanya kembali berdiri sejajar.
“Aku berbohong? Maksudmu, aku mencuri? Hahaha lucu sekali! Lalu bagaimana dengan dirimu, apakah tidak sama sekali merasa bersalah atas yang kau lakukan terhadapku?! Jawab Larissa!”
“Kenapa kakak kurasa belakangan ini membentakku dengan hal yang tidak bisa kumengerti? Sebelumnya, kau tidak pernah bersikap seperti ini. Kak, Kumohon hentikan.” pinta Putri Larissa. “Oh, apakah semua ini karena kau masih mengira kalau aku yang mencuri kalung itu. Iya?” lanjutnya.
“Ya, ini semua karena kalung itu dan kaulah penyebabnya!” bentaknya lagi untuk kesekian kalinya.
“Harus kukatakan berapa kali Kak kalau aku tidak melakukannya. Sungguh. Aku cukup lelah menghadapimu sekarang ini.” ujar Putri Larissa tampak menyerah.
“Kau memang tidak mencuri kalung itu, Luna,” kata Putri Laluna. Itu membuat putri yang satunya lagi tak berpaling untuk menatap ke arahnya.
“Tapi kau, mencuri kebahagiaanku.”

“Hey, ada keributan apa yang terjadi di sini?” tanya seorang pria asing yang muncul dan menghampiri kedua putri yang -hampir- selesai beradu argumen.
“Siapa kau?” tanya kembali Putri Larissa yang terdengar sopan.
“Pengawal, cepat usir pemuda asing ini dari istana ini!” perintah Putri Laluna. Namun, tak satupun para pengawal yang ada menghiraukannya.
“Mereka tidak mungkin menuruti perintah Anda, Tuan Putri. Karena aku, adalah tamu terhormat di sini. Perkenalkan, Pangeran Gervin dari Kerajaan Flatyra,”
Ia menjulurkan tangannya, tetapi tak satupun putri itu ada yang menyambutnya. Karena setelah mendengar jawaban pemuda itu barusan, keduanya justru kompak langsung dalam hal menatap tajam objek yang sama, dan memiliki pola pikiran yang sama.

“Wah, wah. Kalian tak perlu menatapku seperti itu Nona-nona, aku tahu aku ini pangeran yang tampan. Sebentar ya,” ocehnya terdengar sangat santai. Ia merogoh saku-saku pakaiannya. Hendak menemukan sebuah benda yang ia mau tunjukkan.
“Ah, daripada kalian berlama-lama melihatku dan sengaja membuatku tersanjung, lebih baik lihat saja benda ini,”

Sebuah kalung berliontin bunga tulip yang selama ini menjadi permasalahan, terkait tepat di telunjuk kanan Pangeran Gervin. Pandangan kedua putri itu, sekarang beralih memperhatikan liontin setelah sebelumnya fokus pada sosok pangeran tersebut.

“Berikan padaku!” ucap Putri Laluna seraya merebut kalung yang menggantung itu. Namun nyatanya, ia kalah cepat dari Pangeran Gervin yang langsung menyembunyikan kalung tersebut di belakang tubuhnya.
“Aku akan memberikan kalung ini padamu. Tetapi kalian harus mengikuti satu syaratku,” kata sang pangeran dengan ekspresi menyeringai sangat jelas di wajahnya.

Sekarang tibalah waktunya perjamuan antara dua kerajaan. Kembali seperti biasa, aku mengawasi jalannya kegiatan ini. Tentu, sebagai pelayan.
Hari ini pukul 11 siang, aku tak kunjung melihat tamu keluarga kerajaan. Padahal setahuku, mereka telah tiba dua jam yang lalu. Entah mengapa aku sangat penasaran dan ingin sekali melihat mereka -terutama pada pangeran-. Kudengar dari para pelayan lain, pangeran yang datang dari kerajaan tetangga itu sangat tampan. Rasa penasaranku pun semakin bertambah karenanya.

“Tak.. Tak.. Tak.. Tak..”
Suara langkah beberapa orang yang masuk ke ruang utama istana terdengar begitu menggema. Yang Mulia Raja, Ratu, dan Putri Kerajaan Flaryna menampakkan hidungnya. Di belakang mereka terlihat rombongan Kerajaan Flatyra mengikuti. Tapi tunggu siapa itu. Rasa-rasanya, aku pernah mengenalnya. Kulihat dia berjalan di sebelah Raja Flatyra. Tetapi siapa dia? Kapan dan dimana aku pernah menemuinya? Ah, mungkin dia hanya seorang pengawal kerajaan. Dan aku mungkin melihatnya sekilas di suatu perjalanan, entah kapan itu.
Tapi, tunggu! Bukannya itu “Si Teman”? Ya, aku mengenalnya. Itu pasti dia. Mengapa dia tak bilang padaku bahwa dia seorang pengawal? Padahal aku akan terima-terima saja kalau dia mengaku sedari awal. Tetapi kurasa, ada yang salah dari pakaiannya. Kupikir apa yang ia kenakan hari ini terlalu berlebihan untuk ukuran seorang pengawal dan juga terlalu formal dibandingkan dengan ketika ia bertemu denganku seperti biasa di taman istana.

“Krista, ayo menunduk!” bisik Sani, kerabat dekat yang berdiri di sampingku.
Karena terlalu memikirkan dia, aku sampai melupakan sikapku ketika sedang bertugas. Beruntung, ia tidak menyadari kehadiranku di sini. Mungkinkah, dia adalah seorang pangeran? Ya ampun, imajinasiku ini melampaui batas.
“Lupakan, dan fokuslah Krista!” nasihatku dalam hati.

“Ini merupakan suatu kehormatan bagi kami atas kehadiran kalian. Jadi, terimalah salam kami.” sambut ramah Putri Laluna. Kedua putri itu mengisyaratkan salam dengan mengangkat sedikit gaun mereka seraya menundukkan badan.
“Kurasa penyambutan ini terlalu berlebihan menurutku pribadi.” kata si Teman. Aku ingat persis jenis suaranya, meskipun tanpa melihat siapa yang berbicara. Aku baru tersadar, ia terlalu lancang berkata seperti itu di hadapan Yang Mulia Raja.
“Tentu, ini tidak berlebihan menurut kami, Pangeran Gervin. Memanglah dengan cara seperti ini cara kami menyambut tamu istimewa,” ucap Raja Flaryna.
“Benar. Terlebih, sebentar lagi Anda akan menjadi bagian dari keluarga kami,” sambung Yang Mulia Ratu.

Apa? Keluarga kata Yang Mulia? Sebuah keluarga dalam kata lain memiliki arti sebuah ikatan. Semakin kupikirkan semakin membuatku buntu. Tidak kudapati sedikitpun maksud dari semua kejadian ini. Mulai dari liontin tulip itu. Gaun itu. Bahkan, pertemuanku dengan dia. Apakah ini memang sudah terencanakan?

“Maaf, aku tidak bisa menerima pertunangan ini. Biar Larissa saja, yang menggantikanku.” ujar Putri Laluna terdengar bersungguh-sungguh. Setelah Putri Laluna mengungkapkan pernyataannya, perlahan, Putri Larissa pun membuka kata. “Aku pun sama. Maaf, aku tidak berhak untuk menggantikan posisi kakakku dengan cara seperti ini,”

Raut serius terpancar di wajah kedua putri tersebut setelah menolak secara halus pertunangan salah satu dari mereka, dengan Pangeran Gervin. Keadaan pun seketika menjadi hening karenanya.

“Hentikan semua ini, Ayah!” ungkap Pangeran Gervin menghancurkan keheningan. Yang dilakukannya itu membuat semua orang terkejut. Sangat tersirat dari wajah orang-orang di sekitarnya.
“Putri Laluna, Putri Larissa, atau siapapun anggota Keluarga Flaryna, itu bukan gadis yang Ayah maksud. Mereka berdua, bahkan salah satunya pun, tidak ada hubungannya dengan peristiwa di hutan waktu itu!” ungkap kekesalan Pangeran Gervin semakin menjadi-jadi.
“Hutan? Apa maksud Anda Pangeran?” tanya Raja Flaryna. “Apa kalian, paham?” beliau berbalik bertanya pada putrinya. Dan memang karena ketidaktahuannya, mereka kompak mengisyaratkan dengan gelengan kepala.
“Lihat sudah terbukti bukan? Ucapanku ini benar,” ujar kembali Pangeran Gervin dengan ekspresi kepuasannya.
“Maaf jika kami lancang, Yang Mulia Raja Flatyra. Sebenarnya apa yang Anda dan putra Anda sembunyikan dari kami?” tanya Sang Ratu yang akhirnya bersuara.
Terungkaplah semua maksud kedatangan Kerajaan Flatyra ke istana tersebut. Termasuk pula menceritakan di dalamnya, kisah tentang seorang gadis yang berada di hutan lima tahun lalu, yang diduga berasal dari Kerajaan Flaryna.

“Jadi apa karena alasan ini, yang membuat pangeran konyol itu memaksa kita untuk menolak lamarannya?”
“Kupikir begitu, Kak. Sekarang aku mengerti. Sebaiknya, kalung ini kita kembalikan saja padanya dan suruh ia untuk memberikannya pada gadis pujaannya itu. Bagaimana menurutmu?”
“Aku setuju denganmu,”

“Lalu, siapa sebenarnya gadis yang dimaksud tadi? Dari kerajaan kami? Bagaimana bisa aku sebagai seorang raja sama sekali tidak tahu mengenai hal ini,” gerutu Baginda Raja Flaryna.

“Permisi,”
Sepertinya kehadiranku mengganggu obrolan penting mereka. Aku datang hanya untuk menuangkan minuman ke dalam cangkir-cangkir yang ada. Aku mencoba untuk bersikap seperti pelayan biasa apa adanya. Sekalipun, di hadapan -jelmaan lain- si teman.

“Ah, selesai juga,” gumamku. Untung saja cairan manis itu tidak berceceran kemana-mana waktu tanganku terus bergetar saat menuangkannya. Aku langsung saja berbalik meninggalkan meja bernuansa horor itu.

“Gadis di hutan itu, sekaligus gadis yang kucintai, adalah dia.”
“Maksudmu, Krista?”
Tiba-tiba aku menghentikan langkahku tanpa sengaja setelah aku mendengar namaku disebut -sebagai bahan obrolan- mereka. Padahal aku ingin sekali cepat-cepat menjauh dari bayang-bayang para bangsawan yang terhormat itu.

“Krista, kemarilah.”
Akhirnya, dia memanggilku. Kupikir ia benar-benar sudah tidak mengenaliku karena sikapnya yang selalu tak acuh, meskipun tahu aku berada di dekatnya. Aku pun tak bisa menolaknya. Kuturuti batinku untuk kembali menghadap mereka. Bukan, maksudku untuk menatap wajahnya.

“Apa kabar?”
Ingin rasanya aku berteriak. Ingin rasanya aku menarik poni panjang menggelikannya itu. Namun aku masih mampu menahannya karena berada di hadapan yang mulia. Aku sangat senang. Temanku, telah kembali. Ya, benar, dia benar temanku. Dia yang selalu mengucapkan kalimat singkat -yang berkesan- untukku. Dia yang datang padaku, ketika aku membutuhkannya. Dan juga, dia yang menghiburku. Tak salah lagi, dia memang temanku.

“Mengapa kamu diam di situ?”
Benar-benar menyebalkan. Apa dia tidak merasa bersalah sama sekali padaku setelah sedari tadi ia terus mengabaikanku? Sekarang, ia menghampiriku. Mau apa dia.

“Aku merindukanmu,”
Kali ini, dia berhasil menaklukkanku. Tak kusangka. Tapi kalau kupikir lebih jauh, memang dia selalu berhasil membuatku tak berpaling darinya. Mau bagaimana lagi, yang dapat kuberikan dari sekian banyak hal yang ia berikan padaku, adalah membalas pelukannya saat ini.
“Aku lebih merindukanmu,” bisikku.

“Ehem.”
Dehaman itu langsung membuat kami tersadar kembali. Dan baru kusadari tadi itu adalah sikap yang sangat memalukan.
“Ini kami kembalikan padamu, Gervin.” kata Putri Larissa sambil menyerahkan kalung berliontin bunga tulip tersebut ke tangan sang pangeran.
“Pakaikanlah itu ke lehernya,” ujar Putri Laluna pada sang pangeran kembali.

“Krista, cepat berputar!”
Aku dan pangeran Gervin masih terdiam. Kaku rasanya. Aku pun kurang mengerti apa maksud “berputar” seperti yang Putri Laluna katakan.

Namun lagi-lagi, Putri Laluna menunjukkan tatapan tajamnya lagi. Ah, kupikir tatapan itu sudah tak akan mengarah lagi padaku. Ternyata aku salah. Akhirnya ku berpikir lagi, mencoba mencerna perintahnya tersebut. Aku berputar, membelakangi Pangeran Gervin. Entah aku merasa yakin sekali, yang ku lakukan ini benar perintahnya. Dan aku mengerti maksudnya, setelah si teman berusaha memakaikan kalung di leherku.

“Bunga tulip adalah lambang kerajaan kami. Karena kamu memakai liontin dari kerajaan kami.. Selesai,” ia berhasil memasangkan benda itu di leherku.
“Kau belum menyelesaikan kata-katamu,” balasku.
“Kan sudah lama kukatakan padamu. Kalau aku adalah temanmu, dan kita, bisa lebih dari itu. Aku, menepati janjiku bukan?” ucapnya yang membuat otakku semakin buntu karena pelukannya dari belakang.
“Jadi?”
“Jadi, maukah kamu tinggal di istana kita? Hidup bersama selamanya?”
Aku tidak bisa berucap apa-apa. Aku terlalu bahagia, karena dia. Yang bisa ku ungkapkan hanyalah meneteskan air mata padahal di hatiku tertulis banyak kata yang tidak bisa kurangkaikan satu persatu.

Singkat cerita, kami memilih untuk hidup berbahagia bersama di istana kami, Kerajaan Flatryra. Aku sangat bersyukur bahwa gadis biasa sepertiku, dapat menjadi permaisuri seorang raja yang tampan, setia, dan bijaksana seperti Gervin.

The End

Cerpen Karangan: Elvaya Zalfa Nabilah
Facebook: elvayaznabilah[-at-]gmail.com

Cerpen The Prince, Double Princess, and I (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Petualangan dan Cinta (Part 2)

Oleh:
Setibanya di tenda lau kawar kami bergegas kembali melaksnakan sholat berjamaah yang dipimpin oleh fahmi. Setelah makan malam selesai kami mulai agenda berikutnya yaitu membuat lingkaran dan membakar kayu

Kita dan Hujan

Oleh:
Ku kumpulkan segala rasa pada ujung jemari Tak memberikan celah sedikitpun untuk membuang rasa yang tak pernah ku mengerti Walau dirimu hanya bayang semu dalam setiap mimpiku Hujan yang

The Dragon’s Tale

Oleh:
Suara itu menggema di ingatannya. Ia yang setengah sadar akhirnya terbangun, mendapati dirinya dalam gelap. Di hadapannya ada sebuah dinding batu yang menguncinya dalam gelap. Kemudian ia teringat akan

Tears

Oleh:
“Irene, bisa tidak kau duduk manis sebentar saja. Pundakku sakit kau tekan-tekan terus seperti itu!” Irene tak mengindahkan permintaan Iqbaal. Dia masih terus mengerjai sahabat tersayangnya ini. Iqbaal langsung

Dream Catcher

Oleh:
“Mimpi buruk akan ditangkap dan hanya mimpi baik yang lolos, jadi kamu nggak akan mimpi-mimpi buruk lagi. Percaya?” “Itu kan mitos.” “kalau aku sih percaya.” Dialog itu masih terus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *