The Story Of Soul Eater

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 7 July 2017

Pada suatu jaman hidup sebuah kerajaan dimana sang raja itu sangat rakus, ia berubah jadi rakus dan kejam karena ditinggal mati oleh ratu di dalam peperangan. Raja itu mempunyai anak laki-laki yang bernama Ryo Shuisei yang akan menjadi penerus kerajaan, sang anak hanya anak biasa yang sangat nurut kepada ayahnya saja akan tetapi di suatu malam pesta ulang tahunya datang seorang penyihir yang meminta sebuah kesejahteraan untuk rakyat tetapi raja menolaknya dan menganggapnya pengganggu. Lalu ia menyuruh para penjaga untuk mengusir penyihir itu, sebelum penyihir itu terusir ia membaca mantra kutukan yang mengubah perilaku dan jati diri sang anak menjadi orang yang lebih jahat dari ayahnya sendiri.

Beberapa tahun kemudian setelah sang anak menjadi orang dewasa ia pun berpetualang sendiri dengan alasan untuk mencari seorang istri tetapi yang sebenarnya menjadi tujuan Ryo itu adalah mencari kekuatan lebih untuk membunuh sang ayah dan mengambil alih kerajaanya.

Setelah bermil mil jalan ia tempuh dan siang malam berganti. Ryo bertemu dengan lost soul di sebuah hutan, lost soul itu akan menawarkan sebuah kekuatan yang disebut The Darkness Soul Eater milik Labranca yang disegel di sebuah kuil tua di dalam hutan sesat dengan sebuah tubuh seorang raja untuk diambil alihnya setelah mendapatkan kekuatan itu. Setelah mendengarkan cerita dan tawaran lost soul itu Ryo menyetujuinya dan jalan menuju kuil yang dipimpin oleh lost soul itu.

Di perjalananya ia bertemu dengan seorang elf wanita yang dikepung oleh segerombolan orc, Ryo pun membantu elf wanita itu dengan pikiran bahwa ia akan berguna suatu saat. Setelah ia menyelamatkan elf wanita itu dan berpetualang bersama, hari demi hari dan waktu demi waktu ryo tak sengaja jatuh cinta ke elf wanita itu dan pikiran bahwa menggunakan elf wanita itu sebagai alat hilang entah kemana.

Malam pun datang, Ryo dan elf wanita itu dan juga lost soul yang entah tiba tiba pergi pada saat malam itu bermalam. Ryo yang sedang membuat api unggun dan elf wanita itu duduk menyender di depan pohon di hadapanya Ryo sedang membuat api unggun.

“hei Ryo bagaimana rasanya mempunyai keluarga?” tanya sang elf wanita itu sambil menatap Ryo yang masih membuat api unggun.
“keluarga? Itu biasa saja menurutku, mau ada ayah ibu atau tak ada salah satunya itu biasa karena aku tak pernah mendapatkan perhatian pada ayahku yang sibuk dengan kekayaanya sendiri” jawab Ryo yang sedang menggesek kedua batu dengan keras dan membuat sebuah percikan api yang mengenai daun kering di bawah tumpukan ranting yang sebenarnya api unggun, lalu daun kering itu terbakar dan membakar ranting, lalu Ryo duduk.
“lalu bagaimana dengan cinta? Apa kau sudah pernah merasakanya?” Tanya wanita elf itu lagi dan memasang wajah polos yang menatap ke Ryo.
“cinta? Tidak aku belum merasakanya, apapun yang seperti itu malah aku membencinya” jawab Ryo lagi dan melihat ke wanita elf itu lalu menatapnya.
“rasa ini apakah ini yang ia maksud cinta ya, hmm sepertinya begitu tetapi kenapa ada sesuatu yang menahan hal buruk di dalam diriku setelah menatapnya dan jati diriku yang dulu kembali” kata Ryo dalam hati dan masih menatap wajah elf wanita itu.
“pupupupupu mungkin kau jelek jadi tak laku” ejek elf wanita itu ke Ryo sambil memasang wajah mengejek.
“hei hei hei hei enak saja kau bicara aku tak jelek tau!!! Aku tampan hanya… Saja… aku pemalu” imbuh Ryo lalu ia memalingkan wajah malunya dan melanjutkan kata katanya pada kata aku pemalu dengan suara kecil.
“ahahahaha sudah kutebak yup hmm aku hanya ingin terus hidup” kata wanita elf itu lalu menunduk dan tertidur.
“kau benar benar polos, apa aku harus meneruskan cinta terlarang ini ibu” gumam Ryo sembari menatap ke langit lalu duduk di sebelah elf wanita itu dan menyenderkanya ke bahunya lalu menyelimutinya dengan jubah lusuhnya yang ia selalu pakai.

Di balik salah satu pohon berdiri seorang lelaki yang sebenarnya pengawas rahasia Ryo dari kerajaan yang dikirim oleh ayahnya secara rahasia, ia sudah mendengarkan semua pembicaraan Ryo lalu ia jalan kembali ke kerajaan dengan membawa berita bahwa Ryo telah melanggar peraturan darah kerajaan yaitu memusuhi semua ras lain.

2 hari setelahnya di siang hari Ryo, elf wanita, dan lost soul yang tiba tiba datang kembali melanjutkan perjalananya, ia akhirnya sampai di kuil tua itu dan sudah melewati hutan sesat dimana ia melawan penyihir yang mengutuknya dan memberi kebenaran palsu tentang ayahnya yang membuat kebencian Ryo terhadap ayahnya meledak. Mereka pun masuk ke dalam kuil itu dan dibuntuti oleh seorang assassin yang disuruh oleh ayahnya untuk membunuh elf wanita itu, mereka pun melewati banyak perangkap dan melawan pasukan tengkorak dan sang assassin yang membuntutinya menggunakan skillnya yang membuat dirinya menghilang lalu membuntuti mereka.

Beberapa jam kemudian dan beberapa perangkap, teka teki, pasukan tengkorak yang mereka lawan, mereka akhirnya sampai di tempat kekuatan The Darkness Soul Eater milik Labranca yang disegel di dalam peti itu dan lost soul itu menghilang kembali.
“akhirnya aku sampai di tempat yang bisa merubah segalanya” kata Ryo dengan suara keras dan jalan mendekati peti itu lalu tangan di tahan oleh elf wanita itu.
“tolong jika kekuatan itu baik atau jahat sadarlah bahwa diri mu manusia dan aku akan selalu menyadarkanmu jika kau tak bisa melakunya sendiri, dengan tuan jiwa juga akan membantunya” kata elf wanita itu sambil tersenyum dan melepas tangan yang menahan tangan Ryo.
“baiklah” kata Ryo kembali jalan mendekati peti itu, “kau masih saja polos dan tak mengerti apa apa” kata Ryo di dalam hatinya.

Lalu sang assassin yang membuntuti mereka muncul di hadapan elf wanita itu dan menodongkan daggernya ke leher wanita elf itu.
“Hei Ryo hentikan atau elf jalang yang kau sayangi ini akan ku bunuh” kata sang assassin dan masih menodongkan daggernya ke leher elf wanita itu.
“apa?! Siapa kau?!” kata Ryo berhenti dan mau menggapai peti itu lalu menoleh ke assassin itu.
“jangan dengarkan Ryo dapatkan apa yang kau ingin kan selama ini gunakan aku sebagai alat dimana dulu kau menginginkanya kan? Elf itu dapat membaca pikiran orang lain dan kau sepertinya tidak tahu akan hal itu” kata elf wanita itu dengan wajah yang mau menangis karena di hadapanya adalah sebuah kematian.
“diamlah kau, kau lebih baik jadi jal*ng saja” kata assassin itu dan menatap jijik ke elf wanita itu sambil masih menodongkan daggernya ke leher elf wanita itu.
“cih sialan” kata Ryo lalu tak jadi membuka peti itu dan menunduk diam.
“heh kau tertipu aku akan tetap saja membunuh jal*ng ini” kata assassin itu lalu memegang daggernya dengan erat dan menusuk perut elf wanita itu lalu mencabutnya dan lari ke ryo untuk membunuhnya, “kau juga adalah targetku sialan!!!!” imbuh assassin itu.
“kau juga tertipu” kata Ryo lalu tangan yang ada di atas peti itu langsung membuka peti itu yang membuat kekuatan The Darkness Soul Eater masuk kedalam tubuh Ryo dan waktu berhenti seketika. Hanya Ryo dan assassin itu yang tak terkena efeknya dan tubuh Ryo diselimuti kekuatan itu, lalu Ryo membekap kepala assassin itu yang lari mendekati sembari membawa daggernya dengan tangan dan mengangkatnya ke atas.
“sialan kau lepaskan aku” kata assassin itu ketakutan akan apa yang terjadi selanjutnya lalu ia menusuk lengan Ryo dengan harapan bisa melepaskanya tetapi ia tak bisa dan malah lengan Ryo itu menembus pada saat ditusuk menggunakan daggernya.
“mari kita lihat siapa yang mengirimmu” kata Ryo memasang seringaianya lalu ia mengisap arwah assassin itu sampai tubuh assassin itu kering dan tiba tiba ia melihat semua ingatan assassin itu dan melihat di dalam ingatan itu bahwa ayahnya yang mengirim assassin ini untuk membunuh Ryo dan elf wanita itu, lalu ia melepaskan tubuh assassin yang mati kering itu dan kekuatan The Darkness Soul Eater milik Labranca sudah masuk semua ke dalam tubuh Ryo dengan waktu yang berhenti itu kembali normal.

Ryo pun mendengar elf wanita itu terjatuh lalu ia kaget melihat ke elf wanita itu, ia pun mendekatinya dan memeluknya. Elf wanita itu pun membuka matanya perlahan dan mengelus pipi Ryo dengan lembut lalu berbisik pelan “aku mencintaimu” di dalam bisikan itu lalu mereka berdua berciuman dan wanita elf itu berubah jadi abu dan arwahnya Ryo lepaskan untuk mencari jalanya sendiri. Ryo pun berdiri dan menatap penuh kebencian kedepan lalu air matanya keluar dengan sendirinya, lalu muncul sebuah kabut yang sangat gelap yang terbang mengarah ke kerajaan ayahnya dan menyerap segala arwah yang ia lewati yang membuatnya membesar dan semakin membesar. Ryo pun berubah jadi kabut dan menyatu ke kabut besar itu.

Di kerajaan ayahnya ia sampai dan kabutnya menyelimuti kerajaan yang sudah meramal bahwa serangan dari Ryo, sudah tersiapkan segalanya di luar dinding dan memunculkan banyak pasukan tengkorak dari dalam tanah yang masih memakai armor dan disenjatai banyak senjata dan menunggu aba aba Ryo untuk menyerang, Ryo pun muncul di depan barisan pasukan tengkorak di salah satu depan gerbang lalu ia mengangkat tangan dan muncul sebuah bola api hitam yang semakin membesar sampai sebesar gerbang itu dan ia lemparkan ke gerbang itu yang membuat gerbang besar itu meledak jebol. Lalu ia berubah jadi kabut dan masuk kedalam kerajaan bersama para pasukan yang ada di belakangnya lalu gerbang yang lain juga sudah jebol karena unit tengkorak titan yang sebesar gerbang muncul dari dalam tanah dan menjebolnya dengan menonjok gerbang itu.

Di ruang tahta Ryo sampai lalu ia melihat sekeliling mencari sang ayahnya, ayahnya pun muncul dari balik kursi raja dengan pakaian perangnya dan pedang yang di sebut Heaven Halberd yang dapat memusnahkan musuh dari kegelapan dan jalan menunjukan diri ke Ryo.

“menyerah saja ayah kau tak mengerti apapun dari diriku kau adalah orang yang membunuh ibu, kau kau yang membuat rakyat sengsara, kau hanya seorang raja yang tak becus tak serius dan rakus” kata Ryo sambil menunjuk ayahnya.
“katakan lah kata kata itu jika sudah menang anakku” kata ayah Ryo sambil memesang kuda kuda dan memegang erat pedang Heaven Halberd dengan kedua tangan.
“ayah!!!” kata Ryo sambil lari dan meluncur ke ayahnya lalu mencoba membekap wajah ayahnya yang tertutupi helm perangnya.
“tak akan kubiarkan” kata ayah Ryo lalu menghindar dengan cara menggerakan tubuhnya ke samping dan memegang lengan Ryo lalu membantingkanya ke bawah, ia mencoba menusuk kepala Ryo menggunakan pedang Heaven Halberd.
“siall” kata Ryo kesakitan dan menggerakan kepala ke samping juga untuk menghindari tusukan pedang Heaven Halberd lalu berubah jadi kabut dan menjaga jarak dari ayah lalu kembali ke wujud semula.
“kenapa? Kau takut? Kau takut mati? Hah lucu sekali” kata ayah Ryo lalu berdiri dan jalan mendekati Ryo.
“aku tak takut apapun dan siapapun” kata Ryo sambil menatap ayah dan memasang kuda kuda yang di ajarkan ayah.
“kalau begitu bagaimana dengan rasa kesepian setelah membunuhku!!” kata ayah Ryo sambil lari dan tiba tiba Ryo diam lalu ayah Ryo menonjok Ryo mengunakan tanan kirinya dan membuat Ryo terpental menghantam pintu masuk ke ruang tahta.
“ahkkk sial i-itu curang” kata Ryo kesakitan lalu terjatuh dan menghantam lantai dan tengkurap lemas.
“kau masih jauh jika melawanku bocah” kata ayah Ryo lalu jalan mendekati Ryo sambil menenteng pedang Heaven Halberd.
“Ryo aku akan membantumu” kata lost soul sembari melayang cepat mendekati ayah Ryo dan mau merasukinya.
“pengganggu” kata ayah Ryo lalu menebas lost soul itu dan lost soul itu pun lenyap, lalu ia kembali jalan mendekati Ryo.
“tidak!!! Cih aku masih bisa melawanmu tua” kata Ryo sambil mencoba berdiri dan menatap ayah dengan tatapan masih serius.
“benarkah kalau begitu ini” kata ayah Ryo sambil melempar pedang Heaven Halberd ke dada Ryo dimana letak jantungnya disitu, “sepertinya kau tak akan bisa menghindar” imbuhnya dan melihat ke Ryo yang sepertinya tak memiliki tenaga lagi untuk menghindar.
“hiaaaaaah” Ryo berteriak mengumpulkan menumpukan kekuatan kegelapanya di tangan kanan lalu mencoba memukul pedang Heaven Halberd dan sia sia ternyata kakuatan itu masih belum cukup yang membuat Pedang Heaven Halberd menancap di dada Ryo dimana letak jantungnya dan terbawa tertancap di pintu.
“ikutlah bersama jalang yang kau sebut ibu” kata ayah Ryo lalu berbalik dan jalan menuju pintu rahasia di belakang kursi tahta.

Muncul sebuah kekuatan kegelapan yang lebih besar dari dalam tubuh Ryo yang menyelimutinya lalu ia memukul dengan sekali pukulan ke pedang Heaven Halberd itu hancur.
“apa?! Tak mungkin!” kata ayah Ryo lalu berbalik dan tiba tiba Ryo sudah berada di hadapanya yang membuat ia kaget dan mundur beberapa langkah, “bagaimana bisa?!” Tanya ayah Ryo.
“tak akan kuberitahu dan terima kasih telah membunuh sisi kemanusiaanku” kata Ryo sambil memunculkan seringaianya dan menampilkan giginya yang runcing untuk mengoyak jiwa, lalu ia memukul dada ayah Ryo yang membuat baju zirah perangnya hancur dan melukai organ dalam ayah Ryo.
“bhakkkk” ayah Ryo kesakitan lalu muntah darah, “heh sepertinya kau bertambah kuat ya anakku, semua yang kukatakan tentang ibu bohong yang sebenarnya adalah bahwa ibumu meninggal pada saat melindungimu dari serangan salah satu pasukan kerajaan musuh… terima kasih untuk sekarang aku bisa bersama ibu tetap hidup anakku” kata ayah Ryo lalu tertawa sebentar sambil mengelus kepala Ryo dan berubah jadi abu, lalu Ryo merelakan kembali jiwanya.
Ryo pun hanya diam tanpa ada ekspresi dan kata kata lagi lalu ia sadar dan menangis sekencang kencangnya yang membuat kabut yang menyelimuti kerajaan lenyap bersama pasukan tengkoraknya dan kekuatan Ryo kembali normal.

Beberapa tahun kemudian Ryo memimpin kerajaan ayahnya yang hancur dengan pasukan tengkorak dan pasukan kegelapanya, mulai sekarang tujuan yang ia pikirkan adalah menguasai seluruh kerajaan dan memberi kesengsaraan bagi siapapun yang tidak patuh sambil duduk di kursi tahtanya dan menatap bosan kedepan lalu para jendral kegelapan dan permaisurinya muncul di hadapanya sambil bertekuk lutut menghormatinya.

The End

Cerpen Karangan: R200A800A
“Think like a assassin” jika ingin tau siapa saya hahahaahaahaha btw :3 aku terima keripik dan saranya :v, saya ingin hasil karya saya jadi terkenal dan ada anime and manganya itu impian saya hahaahaahahahaaha
sebuah kode akan saya berikan untuk tau siapa saya “41514” itu kodenya :3
nt*l – SAKET JIWAAAAAAAAAAA :v

Cerpen The Story Of Soul Eater merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akibat Mantra Sihir (Part 1)

Oleh:
“Aku sangat suka sekali dengan hal yang berhubungan dengan sihir” Kata Misa, sambil membetulkan letak kacamatanya yang sedikit bergeser, lalu mengerut-ngerutkan hidung, dengan wajah kemerahan dan pipinya yang menggembung

Udara Yang Dingin

Oleh:
“Felly! Lo kenapa, sih? Dari tadi bengong melulu?! Lu faham nggak sama yang gue bilangin tadi?,” tanya Riska dengan sisa kesalnya. “Nih anak pikirannya, putus deh kayaknya!,” tebak Billy

Saat Terakhir di Stasiun

Oleh:
Ismail Irawan, cowok berusia tujuh belas tahun yang suka nongkrong di stasiun itu, lagi-lagi melihat seorang gadis cantik berbaju putih di seberang rel kereta. Sambil menunggu kereta yang mengantarnya

Masih Mencintaimu

Oleh:
Nina berjalan lunglai menyusuri trotoar. Hari ini ia harus pulang berjalan kaki dari sekolah karena nino, pacarnya harus mengantar risa sahabat nino yang sedang sakit. Nino sebenarnya meminta nina

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “The Story Of Soul Eater”

  1. Anonim says:

    yang saya tidak mengerti dari sini mengapa Ryo mencari kekuatan untuk menghancurkan sang Ayah untuk di ambil tahtanya. padahal meskipun ia tidak melalkukan itu jika ayahnya mati otomatis tahtanya akan jatuh pada anaknya.
    penyihirnya juga aneh
    maaf nggak bermaksud menyinggung tapi cuma komentar ajha. terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *