The True Story of Cinderella

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 30 November 2016

Apa yang bisa kau bayangkan tentang Cinderella? Anak saudagar kaya yang cantik jelita dengan hati seputih kapas? Oh tidak, kalian tak akan pernah tau bagaimana Cinderella itu di dunia nyata. Inilah kisahku, Cinderella masa depan yang tak akan pernah kalian pungkiri keberadaannya.

Namaku Cinderella, panggil saja aku Cindy. As you know, aku hanya anak SMA biasa, seorang remaja biasa yang tak akan pernah kalian pikir itu bisa terjadi kepadaku. Tak harus menunggu datangnya pangeran untuk meminangku dan aku akan menjadi putri yang bahagia selamanya. Itu hanya di dalam dongeng, karena di dunia ini tak ada yang abadi. Bahkan di keluargaku.
Keluarga yang aku anggap paling harmonis kini hancur. Keluarga dimana aku telah diajarkan menjadi wanita bermartabat, keluarga dimana aku dibesarkan dengan kasih sayang dan cinta, kini lenyap. Haruskah aku berpura-pura bahagia dan tak terjadi apa-apa? Apakah aku sebodoh itu? Haruskah aku memberontak? Tentu saja! Aku bukan Cinderella di dongeng masa kecil kalian yang tak bisa berbuat apa pun bahkan saat ibunya meninggal.

Bertahun-tahun hidup bersama ayahku membuatku menjadi anak yang bengal. Aku selalu saja melakukan segala hal yang membuat ayahku marah, apa mau dikata aku juga marah. Aku marah karena keadaan sudah tak seperti dulu. Sampai saat ini pun aku masih saja berfikir andaikan suatu saat mereka bisa kembali lagi seperti dulu.

Lalu tiba-tiba saja orang itu muncul. Sang ibu tiri yang ditakuti di dalam dongengmu itu. Tapi dia berbeda, dia cantik, baik, dan bahkan tak menunjukkan keinginan untuk menyiksaku. Tapi aku terlalu buta untuk melihat itu semua. Aku sudah terlalu kalut bahwa sesuatu yang kusayangi akan pergi lagi.

“Cindy!!”
“Tante tuh apa apaan sih? Pagi-pagi udah ngoceh!”
“Maafin bunda ya, bunda cuma mau bangunin kamu. Hari ini kan kamu harus sekolah. Ini udah jam 06.45 lho. Kamu mau berangkat jam berapa?”
“Apaa? Kenapa baru bangunin sekarang sih? Dasar! Minggir-minggir aku mau mandi! Lain kali tuh kalo ngebangunin yang pagi. Jam segini sih nggak ada gunanya ngebangunin.”

Nah, kalian lihat? Itulah beberapa contoh pemberontakanku. Di sekolah pun aku seperti itu, memikat semua orang yang menghalangi jalanku lalu akan kubuat dia hancur. Bukankah hal yang seperti itu sangat menyenangkan? Membuatnya jatuh cinta lalu menghancurkannya.

“Eh awas dong, jangan ngehalangin jalanku!”
“Maaf aku lagi buru-buru, mau ke kantor Kepala Sekolah. Jadi nggak ada waktu buat ngeladenin cewek gak jelas kayak kamu.”
“Sialan!!”

Itulah awal pertemuanku dengannya, dengan dia yang bisa merubah segala pemikiranku. Dia yang berjalan dengan sempurnanya, seakan semua akan membeku ketika dia melewati mereka. Seperti sebuah oase di tengah gurun pasir, di tengah kalutnya hatiku. Jangan harapkan dia seorang pangeran, dia tak sesempurna itu. Dan camkan! Tak ada pangeran di dunia ini yang mau pergi ke pelosok kota untuk mencari putri yang dicintainya.

“Cyn, kamu udah tau kalo ada anak baru di sini?”
“Udah kok, aku udah liat dia tadi, songong gitu.”
“Denger-denger dia ganteng ya Cyn?”
“Ah biasa aja.” Padahal hatiku bisa saja diremukkannya tadi. Haha.
“Oh.. Eh Cyn, nanti jadi kan?”
“Jadi dong, males di rumah nih aku. Bete sama Tante Kiran. Masa aku harus sekolah kan tadi, eh dia baru bangunin aku jam 06.45, kan t*i!”
“Eh eh, pak guru udah dateng tuh. Aku balik ke bangku ku dulu ya.”
“Selamat pagi anak-anak, hari ini kelas kita kehadiran murid baru pindahan dari SMA 13. Prince, perkenalkan diri kamu.”
Aishh.. sialan!! Kenapa harus di kelasku sih? Nggak ada kelas lain apa yang mau nampung dia?
“Hai, namaku Prince dan aku bukanlah seorang pangeran.”
“Bhahahahaha..” semua anak di kelas tertawa mendengar perkenalan dirinya.
Apa coba maksudnya kayak gitu? Mau ngelawak? Kenapa nggak ke kelas seni aja sih?
“Oh iya, hari ini kita pulang lebih awal karena ada rapat pengembangan prestasi anak didik. Jadi sekarang kalian boleh pulang.” kata Pak dave.
“Yeyyy..”
“Yuk Flo capcus ke Mall, abis itu ke diskotik biasa.” ajakku kepada Flo.
“Oke.”

Dan sampailah kita di mall, setelah hari beranjak petang, kita pergi ke diskotik yang biasa kudatangi dengan Flo. Beginilah caraku melampiaskan rasa kesalku sama mama dan papaku, kenapa kalian berpisah dengan cara yang seperti ini? Karena aku berharap kalian hanya akan bisa dipisahkan oleh takdir kematian, bukan oleh sebuah pengkhianatan. Kenapa kalian lakukan ini kepadaku? Tidakkah kalian menyayangiku? Mengapa semua pergi meninggalkanku?

Aku keluar dari diskotik dengan keadaan setengah sadar, dan tiba-tiba saja ada kilatan cahaya dan jeritan samar kudengar. Hah, haruskah aku mati dengan cara yang seperti ini. Akankah ada yang menangisiku di pusara tempatku ditidurkan untuk selamanya? Tubuhku terpental jauh, darah menggenang, dan hujan mengalir deras seperti menangisi betapa mengenaskannya diriku. Lalu mataku pun tertutup.

Rasanya seperti seseorang sedang menggendongku dengan penuh cinta, apakah seperti ini rasanya kematian? Mengapa rasanya bisa sedamai ini? Tiba-tiba saja mataku terbuka, silau cahaya memasuki retinaku. Apakah aku sudah sampai di surga?
Ternyata tidak, ini bukanlah surga. Ini neraka bagiku, melihat semua orang menangis, bahkan mama kandungku pun di sini, menggenggam jemariku. Aku harus bangun! Aku harus tetap hidup!

“Mama, Papa, Tante.”
“Kamu jangan banyak bicara dulu, kamu masih lemah. Mama ada di sini untuk kamu, kita ada di sini untuk kamu karena kita semua menyayangimu. Maafkan mama Cindy. Mama menyesal.” airmata semua orang kembali menggenang.
“Tante, Papa. Maafin Cindy yang selalu nyusahin kalian. Cindy cuma belum bisa terima kenyataan. Maafin Cindy ya Bunda, Papa.” Kupegang tangan Tante Kiran.
“Cindy boleh panggil Tante dengan kata Bunda kan?”
“Boleh sayang, tentu saja boleh. Syukurlah kamu selamat, Bunda sangat khawatir. Eh iya ada temen kamu yang mau masuk, boleh? Dialah yang menyelamatkanmu dan membawamu ke sini.”
“Boleh bun.”

Pintu diketuk, sosok itu pun muncul dan semua orang mulai keluar meninggalkan kami berdua. Hanya diam, saling menatap. Hening, hanya dentingan jam dan detak jantung masing-masing yang menandakan bahwa kita masih hidup. Lalu air mata pun meleleh, baru kuingat siapa yang berada di hadapanku kini. Prince, teman baru sekaligus teman masa kecil yang telah kulupakan. Sejenak kembali kenangan itu, dikala dia pergi dengan keluarganya dan tak pernah kembali hingga aku berusaha menguburnya dari ingatanku selama ini.

“Hai Cinderella.”
“Hai Prince.”
“I’m back.”
“Yeah you’re back!”
“Hahahaha.” Kita berdua tertawa.

Seperti itulah, karena rusuk akan kembali kepada pemiliknya. Aku tak akan berkata bahwa aku akan bahagia selamanya seperti dongeng itu. Sekali lagi tak ada yang abadi di dunia ini, kita tak akan pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan. Satu hal yang bisa kita lakukan hanyalah menjalani dengan sebaik-baiknya. Karena bahagia selamanya hanya ada di dalam dongeng.

Cerpen Karangan: Wahyu Aprilia Dewi
Blog: deviloceancry.blogspot.com

Cerpen The True Story of Cinderella merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kehadiranmu

Oleh:
Semilir angin menelisik setiap jengkal asa. Meniupkan bumi nan pertiwi, indahnya hari libur tanpa segudang tugas sekolah menghampiri hidupku. Bunga tidur yang setia menemani tidurku, kini benar-benar hadir menghiasi.

Sebuah Pertanyaan (Part 2)

Oleh:
“Hohoho!” Mas Tyo tertawa. “Kaget, ya?” Aku menatap Mas Tyo dari sepatu hingga ujung rambutnya. Penampilannya benar-benar berubah. Aku tahu pasti penampilan alumnus yang satu ini yang biasanya acak-acakan

Pertemuan Yang Tak Terduga

Oleh:
“Yuk!!” Ajakku kepada Firda, sahabatku. Aku segera berjalan menuju ke kantin. “Eh.. kamu beli aja. Aku tunggu di sini!” Kataku. Aku malas harus antri hanya untuk membeli jajanan di

Sebuah Harapan (Part 1)

Oleh:
Setelah kuliah biasanya kebanyakan orang mencari pekerjaan yang layak untuk kelangsungan hidupnya, begitu pula dengan Riki, setelah dia lulus kuliah dengan nilai yang pas pasan dia bisa diterima di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *