The Truth

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 21 November 2020

Almira masih terpaku. Keramaian terhenti saat hujan menerjang dengan deras. Dia memejamkan mata, tidak peduli akan dirinya yang sudah basah kuyup. Gadis ini tidak merasa dingin, bahkan terlihat begitu masa bodoh meski beberapa orang meperhatikannya. Hanya saja jika dibiarkan Almira bisa sakit.

Almira menarik nafas, tahu-tahu seseorang menariknya menuju ruko kecil yang sudah tutup, mencoba menjauhkan perempuan itu dari guyuran hujan. Sejenak, ia mengedip-ngedipkan mata, lalu sadar siapa yang ada di hadapannya itu.

Samir.

Lelaki itu tersenyum, manis sekali, hanya saja Almira tidak begitu menikmatinya karena sibuk dengan pikirannya yang kalut.

“Kau dingin? Kenapa kau lakukan ini?” Kata Samir sambil menggesekkan kedua tangannya lalu menempelkannya di kedua pipi Almira yang dingin.

Sejenak Almira mengoreksi wajahnya lalu tersenyum. Tidak ada yang tertinggal di wajah lelaki di hadapannya itu. Sungguh! Semuanya utuh, nyaris sempurna. Samir yang dulu meninggalkannya beberapa tahun untuk bekerja masih seperti Samir yang sama.

“Samir?” Kata Almira, Samir tersenyum lalu mengangguk. Jasnya dia lepas untuk menghangatkan Almira. “Kenapa kau lakukan ini?”

Samir menggeleng, tidak mungkin menjelaskan semuanya pada Almira dalam keadaan seperti ini, yang jelas dirinya pergi karena beralasan. Jika dia punya banyak uang mana sanggup pergi meninggalkan Almira. Almira di hadapannya kembali menangis, Samir menyekanya.

“Kau sahabatku yang cengeng.” Guraunya, Almira melotot dan memukul bahunya. Meski menurut Almira keras sekalipun tetapi Samir tidak merasa ada yang memukul tubuhnya yang gempal itu.

“Kalau aku sahabatmu, kenapa kau tinggalin aku? Semua kau kira baik-baik saja ya?” Almira menyeka air matanya. Menelan ludah saat mulutnya mengeluarkan kata sahabat. Sebenarnya ia tidak ingin mengucapkan kata itu sekarang.

“Kamu tidak tahu apa yang terjadi.” Lanjutnya, lirih. Samir mendongak mengerutkan dahi.

Ditarik nafasnya dalam-dalam, dengan berat hati Almira menunjukkan cincin tunangan yang melingkar di jari manisnya itu pada Samir.

“Kau tahu? Aku akan menikah.” Kata Almira, pahit. Merasa Almira bercanda, Samir terkekeh. Gadis itu memukul bahunya. “Aku sudah besar Samir, bukan Almira ingusan kaya dulu.”

Samir menghela nafas, Almira masih memperhatikannya. Untuk mengatakannya saja sakit sekali. Tapi mau bagaimana lagi? Almira memang harus bisa melupakan Samir.

Samir perlahan tersenyum. Almira yang menyaksikannya menunduk. Samir bahagia.

“Aku akan datang.” Seru Samir, dia tersenyum membuat Almira yang tidak menginginkan jawaban itu terpaksa mengangguk.

Samir, sungguh. Andai dia tahu, semua ini terjadi karena terpaksa, mama Almira yang memintanya segera menikah dengan pria pilihannya. Dan bodohnya Almira yang patah arang tak mendapatkanmu, segera menyetujui.

Samir bangkit membuat Almira yang masih memperhatikannya mengikuti. Kenapa? Hujan belum berhenti tetapi Samir sudah beranjak pergi.

“Aku pulang. Aku harap, kau tidak lupa denganku.” Serunya, Almira yang merasa kini sudah kedinginan hanya menatap punggung Samir yang menjauh.

Sejenak Almira tahu, ya, Samir mungkin senang. Tidak akan ada lagi Almira yang selalu mengganggunya bekerja. Tidak akan ada lagi Almira manja yang selalu meminta dibelikan ini dan itu. Tidak akan ada lagi Almira cengeng yang mengacaukan harinya. Karena Almira, akan segera menikah.

Almira membuang muka, dia sudah kembali terduduk, air matanya mengalir sama derasnya dengan air hujan. Samir, dia bahkan tidak mengantarkannya pulang dalam keadaan hujan deras seperti ini.

Samir yang sudah basah menoleh, memperhatikan Almira sejenak. Ada sesuatu hendak dikatakan, tapi sayangnya urung.

Samir kembali berjalan, kecewa sepertinya. Almira tidak tahu apa yang terjadi hingga Samir meninggalkannya. Dimasukkannya kembali cincin emas itu di sakunya, lalu membuang nafas. Almira tidak akan mungkin mengenakannya karena Almira telah mengenakan yang lain dan akan menikah tetapi bukan dengannya.

Ps : cerpen ini dibuat pada 25 Juli 2016 dan diperbaiki (koreksi tambahan atau pengurangan) pada 3 Desember 2017.

Cerpen Karangan: Eti Komalasari
Blog: Etikomalasari4.blogspot.com
Eti komalasari lahir di Serang 17 Juni 1999. Sekarang ia adalah mahasiswi fakultas keguruan dan ilmu pendidikan semester 1.

Cerpen The Truth merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Galau

Oleh:
Percakapan kedua orang tuanya masih terngiang-ngiang di otaknya. “Argggghhh!!!”gerutunya “Kenapa sich orang tuaku selalu ikut campur masalahku? Ini hidupku,aku yang menjalani,aku yang tau mana yang tebaik untuk hidupku. Aku

Move On With You (Part 1)

Oleh:
Pagi ini aku terbangun dengan mercon sebagai alarmnya. Aku langsung menutup kedua telingaku dengan bantal. Duar! Diar! Hanya itu yang aku dengar. “uuuhhhh… berisik banget sih…” keluhku sambil mempererat

Jomblo Kronis di PHP in

Oleh:
Jomblo kata orang adalah takdir tapi yang namanya single adalah pilihan itu sih kata orang jomblo yang sedang berabili tapi beda lagi dengan yang namanya nathania, dia sekarang sedang

Bahagia itu Sederhana

Oleh:
Perasaan hangat saat merasakan rasa istimewa, melambungkan angan-anganku sejauh-jauhnya hingga tak terjamah lagi oleh mata manusia manapun. Keberanian menyeruak dari hati yang terdalam menepiskan rasa ragu atas perasaan yang

DayDream

Oleh:
Covering my ears to listen to you Shutting my eyes to imagine you You have slowly become blurred, You have slowly left me in the unstoppable memories – Daydream

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *