The Tuesday

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 1 October 2012

Pernah merasa seperti di atas awan? Melayang terhembus angin yang memang diharapkan datang, menerobos badai yang bahkan dulunya takut untuk dilewati, dan memekik senyum yang hampir mekar karena terjebak dalam suara petir yang menggemuruh. Semua ku rasakan baru-baru ini. Dan semua ini membuat tanda tanya di benakku semakin membesar. Mungkinkah ini saatnya? Atau ini Cuma ilusi yang hanya akan ku rasakan sementara saja?

Pelik liku tubuhku mencari-cari di tengah keramaian. Bukan seperti di pasar, tapi ini lebih dari itu. Di tengah dentuman suara-suara aneh yang silih berganti hadir, aku berusaha melangkah untuk dapat menemukan apa yang ku cari. Ya… firasatku benar…

The Tuesday

Saat itu adalah hari Selasa, dan aku bisa merasakannya semakin dekat. Ku coba untuk menenangkan diriku di kantin. Mencoba memilih menu makanan yang mungkin akan mengusik seleraku. Akhirnya mataku tertuju pada “Nasi Goreng Mentega”. Menu termurah dengan tambahan teh tawar hangat. Aku rasa itu cukup untuk menenangkan otakku. Akupun bergegas memilih tempat kosong agar aku bisa rehat sejenak dari keramaian yang menjenuhkan ini. Tak berapa lama kemudian pesananku datang dan dengan lahap aku menyantap habis seisi piringku. Apalagi aku menambahkan telur asin pada makanan yang ku pesan. Hmm… masih bisa aku bayangkan betapa lezatnya menu hari itu.

Santapanku ludes. Pertanda kalau aku memang membutuhkan ‘rehat’. Kemudian aku melihat dua sosok yang sangat ku kenal dengan baik menuju ke arahku, mereka adalah dosen dan juniorku. Ku sapa mereka seadanya, “Makan Kang?”, begitu sebutanku untuk dosenku, Kang Tata. (Actually I forgot what he said next).
Selesai menyantap makananku, akupun segera bergegas untuk membayar. Dan di situlah aku tahu, firasatku benar.
“Hai bu!”
Sejenak aku tertegun mendengar suara yang menyapa ibu Cucu (sang pemilik kantin). Aku terdiam selama beberapa detik, ku coba jernihkan pikiranku lalu berkata dalam hati ‘Ya Allah, udah lama banget aku gak ketemu dia’. Akhirnya aku tersadar dan berkata,
“Yah, mr.Alay..”
Aku takut dengan perkataan yang baru saja aku lontarkan, ‘Apa yang baru aku ucapkan ini salah? Kenapa gak ada respon?’. Tanpa ku sadari ada yang sengaja menginjak kakiku, and guess who? Yes, it was him! Respon yang sama sekali di luar dugaanku. Tapi tahukah kalian? Itu adalah momen berharga dalam hidupku.
Tanpa ku sadari aku berkata
“Dasar nyebelin!” (with a cute voice, hehe..)
Aku masih berdiri di depan kasir untuk menunggu kembalian, tapi ibu kantin malah menyuruhku menunggu. Tapi aku senang, karena dengan begini, aku punya alasan untuk setidaknya sebentar saja berbicara dengannya.
Tanpa berpikiran panjang, aku langsung menuju ke meja tempatnya, dosen, dan juniorku duduk. Langsung saja ku lakukan apa yang ingin aku lakukan dari hari pertama masuk kuliah semester lima; shake his hand. And you know what? I thought it was the best moment in my life (scream: AAAAAAAAAAAAAAAAA). You know what in my mind? ‘Aaaaaaa he is smiling to me, it was for me’.
(Ok Ay, breath…)
Haha… sorry, I was too obsessed!
Kemudian, aku langsung duduk di sebelahnya, di antara dia dan kang Tata. Namun itu hanya sementara. Begitu dia melihat kedua orang temannya duduk di dekat kami, dia langsung menghampiri mereka.
“Elu di situ ki?”, tanya kang Tata
“Bentar kang, lagi ngomongin skripsi”, jawabnya
Aku hanya bisa melihat mereka dari tempat dudukku. Ada sedikit rasa kecewa di benakku saat itu. Lalu aku lanjutkan percakapan dengan kang Tata dan juniorku, Merri. Saat itu mereka sedang membicarakan persiapan SPL (Studi Pengenalan Lingkungan). Aku memotong pembicaraan mereka dengan bertanya soal buku yang akan dipinjamkan kang Tata kepadaku seusai libur kenaikan tingkat.
“Kang, kemarin janji mau minjemin buku ke Ayu. Mana?”, tanyaku
“Kapan saya bilang gitu?”, kang Tata malah tanya balik
“Yaahh… dia lupa!”, keluhku
“Emang kamu mau buku yang gimana?”, tanyanya lagi
“Emmm…”, gumamku
“Kamu milih buku aja pake mikir lama!”, katanya
“Hehe.. pokoknya buku yang bukan soal romantisme kang, lebih suka buku soal perjuangan hidup soalnya”, kataku
“Ohh.. Sepatu Dahlan udah baca?”, tanya kang Tata lagi
“Belum kang, boleh deh! Tapi kang, ada buku yang bahasa Inggris gak?”, tanyaku lagi
Belum sempat kang Tata menjawab, ku rasa ada yang duduk di sebelahku. Ya, dia kembali dengan wangi yang sangat ku kenal dengan baik. Aku tahu betul ini wanginya. Ku lihat dia sejenak lalu memalingkan kepalaku menatap lawan bicaraku kala itu.
“Ada, kamu mau yang bahasa Inggris?” tanyanya
“Iya kang, hehe..”, jawabku
“Oke, tapi hari Kamis baru bisa saya bawa ke kampus. Besok saya gak ke kampus”, kata kang Tata
“Oke kang!”, seruku
Kemudian Merri mencoba untuk meneruskan percakapan dengan kang Tata soal SPL yang akan diadakan sabtu itu. Karena aku tau sedikit soal SPL, aku coba untuk menyambung pembicaraan mereka.
“Mer, emang pembicaranya siapa minggu ini?”, tanyaku
Belum sempat Merri menjawab pertanyaanku, kang Tata menyuruhku untuk pindah tempat duduk ke tempat duduknya karena dia ingin keluar meja untuk memesan makanan. Well, ada sedikit rasa kecewa saat itu. Karena artinya, aku gak bisa duduk deketan sama si Mr.Alay. Yaaa, dengan berat hati aku pindah tempat duduk. Saat itu aku lanjutkan ceritaku dengan Merri. Tapi ada sedikit perasaan kesal karena si Mr.Alay asik dengan Android barunya.
Tak berapa lama setelahnya, kang Tata pun datang duduk di kursi yang awalnya aku duduki.
“ Lupa teh, hehe..”, jawabnya
“Ohh.. teteh kirain kang Tata. Akang terus ngapain mau masuk ke SPL?”, tanyaku
“Ada deh.. kamu mau tahu aja!”, kata kang Tata
Lalu ku dengar si Mr.Alay menyambung percakapan kami.
“Iya nih kang, kepo-an nih dia!”, serunya
“Ihh siapa yang kepo?!”, kataku
“Dia sering ngepoin FB gue nih, kang!”, serunya
“Yee!! Gak ada ya! Kemarin itu cuma kebetulan muncul di home paling atas, abisnya alay banget sih. Ya udah deh, dikomentarin”, kataku
“Halah.. gak mungkin gak mungkin!”, katanya
“ihh ya udah kalo gak percaya”, keluhku
Tapi dia benar, aku memang suka ngepoin dia di FB. Well, that’s because I like you!
“Jangan-jangan lu suka lagi sama gue?!”, tanyanya
Oke fine! Kalo mau nanya kaya gitu, at least bisa milih situasi dan kondisi yang tepat donk ya. Belum sempat ku jawab pertanyaannya, kang Tata memotong percakapan kami.
“Diam yu!”, seru kang Tata
Aku dan Mr.Alay kaget, lalu
“Emang kalo bener si Ayu suka sama lu, lu mau apa?”, tanya kang Tata
Well, kalo gue punya penyakit jantung kayanya udah kambuh dari semenit yang lalu nih…
“Ya gak diapa-apain kang!”, jawabnya
“Ya udah kalo gitu”, kata kang Tata
Aku hanya bisa tersenyum saat itu. Walau aku tahu itu bukan jawaban yang aku ingin dengar. Belum sempat aku berpikir panjang, dia memotong pikiranku.
“Ya gak apa-apa, selera gue kan high quality!”, serunya

Lama aku mencerna kata-katanya, lalu..
“Sial! Terus maksudnya??!!”, tanyaku kesal
“Hahaha…”, dia malah tertawa
Pembicaraan kala itu tetap berlanjut silih berganti dari aku, dia, kang Tata, dan Merri.
Masih ku ingat betapa menggemaskannya saat dia tertawa kecil seperti saat dia meledekku. Aku juga masih ingat cara dia mengejekku. Aku suka caranya saat itu memperlakukanku. Hanya senyum hangat yang selalu mewarnai hariku kala itu. Pembicaraan kami usai. Semua bergegas kembali ke kampus secara terpisah. Aku Cuma bisa menghela nafas, antara nafas bahagia karena akhirnya bisa berbicara langsung dengan idolaku atau nafas kecewa karena harus berpisah dengannya saat itu.
Sungguh aku tak pernah menyangka apa yang terjadi selanjutnya karena ini bukan kelanjutan yang aku harapkan. Aku mengira dengan percakapan kali itu, semua akan menjadi mudah bagiku untuk bisa lebih dekat dengannya. Ternyata aku salah! Aku hanya bisa menikmati satu momen itu bersamanya. Semua percakapan itu kini seperti jadi debu yang bahkan aku sendiri tak tahu harus ku sedot pakai apa debu-debu yang masuk ke dalam hati ini. Sulit bagiku menerima semua kenyataan yang terjadi setelahnya. Seperti semua hanya ilusi dan mimpi indah di siang bolong.
Beberapa hari setelahnya aku masih menganggap biasa sikap acuhnya yang biasa tidak menyapaku sebelum percakapan di kantin itu terjadi, tapi kini aku sadar. Dua hari yang lalu, tepatnya hari Kamis aku melihatnya berada di kampus seperti sedang sibuk menyiapkan sesuatu. Aku tenang saja melihat gelagatnya karena itu pemandangan yang biasa buatku. Kala itu aku berada di ruangan mas Agus (Mas Agus adalah karyawan di jurusan yang bertugas menjaga laboratorium dan menyiapkan berbagai surat-surat seperti yang diminta oleh dosen-dosen di jurusan dan ruangannya mas Agus itu berada tepat di belakang laboratorium komputer satu), ku lihat ada teh Qorry di dalam ruang tersebut.
“Teh, mas Agus mana?”, tanyaku
“Lagi ke TU bentar”, jawab teh Qorry
“Ohh..”, kataku
Aku memutuskan untuk menunggu mas Agus sambil berdiri di depan mejanya. Aku ke sana untuk menanyakan soal lowongan asisten laboratorium komputer bahasa Inggris. Aku masih menunggu mas Agus sambil berdiri ditemani teh Qorry yang sedang sibuk mencari sesuatu di ruang tersebut. Sesaat kemudian ku dengar suara yang sangat ku kenal memenuhi ruangan mas Agus.
“Qorry! Buruan!”
Ya! Itu suaranya! Suara yang sudah lama ingin ku dengar, suara yang ku rindukan hadir di telingaku.
“Iya bentar!” kata teh Qorry
Aku coba beranikan diri untuk menolehkan kepalaku ke arahnya.
“Ditunggu ihh sekarang!”, serunya
Hanya itu, cuma saat itu aku berani melihatnya. Kurang dari tiga detik.
“Iya iya!” seru teh Qorry
Aku yakin dia sadar akan keberadaanku di ruangan itu, tapi entah kenapa dia diam dan hanya berdiri di situ menunggu teh Qorry keluar sesuai perintahnya dan bukannya malah pergi dari depan pintu.
Apa salahku sampai dia sedingin itu? Apa yang sudah aku lakukan sampai ini semua terjadi? Apa mungkin akhirnya dia menyadari kalau rasa ini padanya semakin besar? Ataukah mungkin dia ingin aku menjauh darinya seperti yang pernah kualami sebelum ini?
Setelah teh Qorry keluar ikut bersamanya, aku hanya bisa terdiam di ruangan itu sendirian. Otakkku masih mencoba mengurutkan kejadian yang baru saja kualami.
Akupun bergegas turun tangga untuk melanjutkan perkerjaan yang seharusnya aku lanjutkan. Kemudian aku harus segera ke ruangan pak Gum Gum untuk menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan hari itu. Saat menaiki tangga aku sadar aku berpapasan dengannya, tapi tetap ku tundukkan kepalaku. Apa yang menjadi ketakutanku saat itu benar, dia mengacuhkan keberadaanku. Aku hanya bisa menghela nafas marah. Aku kesal padanya, aku benar-benar kesal padanya.
Semua percakapan itu seolah tak pernah ada di ingatannya. Semua ejekannya buatku seolah tak pernah keuar dari bibirnya. Aku benar-benar terjebak di saat percakapan itu terjadi. Aku benar-benar bodoh masih bisa mengingat setiap detil kejadian saat itu, bahkan saat dia mengacuhkanku.
Aku butuh jawaban dari pertanyaan yang aku sendiri tak tahu apa. Aku takut, aku benar-benar takut kali ini. Aku takut aku gak bisa move on. Dia udah cukup menyita pikiranku sebulan ini. Jadi gimana mungin bisa aku lupain dia segampang itu. Jujur aku masih berharap dia bakal ngerasain hal yang sama dalam waktu dekat ini. Tapi aku gak mau berharap lebih karena aku sadar aku ini gak cantik, gak pintar, bandel, dan gak sesuai sama “high quality” yang pernah dia sebut waktu itu. Aku juga tahu rasa sakitnya kalau harapanku melebihi kenyataan yang akan terjadi kelak lebih pahit. Jadi sampai di sini kuputuskan untuk menjauh, sesuai dengan keinginanya aku akan menjauh. Walau sesungguhnya ini benar-benar berat buatku, karena aku masih suka…

~To Be Continued~

Cerpen Karangan: RS
Blog / Facebook: niyujonas.blogspot.com

Cerpen The Tuesday merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Doa Amira

Oleh:
Si putri tunggal jelita mendiang pak dirman mantan kepala desa itu mau tak mau harus teruskan hidup berdua bersama ibunya, tiada lagi harta benda yang tersisa semua telah raib

Penyesalanku Atas Kepergian Ayah

Oleh:
Saat itu pagi pagi sekali ayah duduk di teras depan, dengan kopi dan pisang dari ibu, aku melihat wajah ayah yang begitu pucat, terdiam menatap anak anak yang sedang

Bara Cinta Rindu

Oleh:
12 Desember 2000 “Dasar wanita gak tahu diri!”teriakan Papa menyambutku di balik pintu. Wajahnya merah padam.Napasnya memburu penuh amarah.Dengan tangan kanan terangkat ke atas.Siap menerjang Mama yang kini bersandar

Hanya Sebuah Kado Titipan Tuhan

Oleh:
Pagi seperti biasanya, Putri langkahkan kaki menelusuri lorong lorong koridor sekolah menapaki jejak menuju kelas. Saat itu hanya ada beberapa siswa yang hilir mudik berjalan santai menuju kelas masing

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *