Through My Story

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Jepang, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 4 May 2013

Namaku Banjiro Kiyoshi, aku bersekolah di SMA Date, aku duduk dibangku kelas 2C. Sesuai dengan namaku, Kiyoshi, yang artinya pendiam. Aku sangat jarang berkomunikasi dengan teman sekelasku, aku tidak ingin terlalu dekat dengan mereka, karena aku takut, suatu saat nanti aku akan mengecewakan mereka atau nantinya mereka yang akan mengecewakanku.

“kiyoshi bangun!” kakakku berteriak membangunkanku
“Kau akan terlambat sekolah nanti… Kiyoshi!” sambungnya, sehingga aku terbangun dari tidurku

Aku dan kakakku tinggal dalam satu rumah, kami hidup tanpa kedua orang tua kami. Kedua orang tua kami sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Mereka tidak memiliki waktu luang untuk kami karena mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Aku sudah terbiasa hidup dengan keadaan seperti ini, kehidupan tanpa keberadaan kedua orang tua. Selama mereka mau menanggung biaya kehidupanku dan kakakku, aku tidak akan mempermasalah kesibukkan mereka di luar sana. Kakakku bernama Banjiro Yasuo, umurku dan umur kakakku hanya beda satu tahun. Kakakku bersekolah di sekolah yang berbeda denganku, dia bersekolah di SMA Taiko. Kakakku salah satu murid terpintar di sekolahnya, aku dan kakakku selalu membantu satu sama lain, selayaknya sebuah telapak tangan, apabila tangan yang satu kotor maka tangan yang satu laginya akan datang membersihkan tangan yang kotor tersebut.

Aku mulai bangun dari tidurku, dan hal pertama yang kulakukan adalah “Huuuuwaaaammm” menguap, yang menandakan tidurku masih belum cukup untuk mengisi seluruh tenagaku. Kugerakkan tubuhku dengan paksa dan aku pergi menuju kamar mandi, seusai mandi, ku kenakan pakaian seragam sekolah SMA Date. Setiap pagi hari, hal yang paling malas kulakukan adalah sarapan pagi, apabila aku tidak sarapan pagi, maka kakakku akan marah dan mengomeliku, jadi, untuk menghindari omelan kakakku, aku hanya makan sedikit roti untuk mengisi perutku yang kosong. Setelah kakakku melihatku sudah sarapan pagi, maka, dia tidak akan mengomeliku, aku pun bisa bebas dari masalah ku di pagi hari tersebut tanpa harus kena marah dan diomeli sama kakakku. Aku beranjak pergi melangkahkan kakiku menuju pintu rumahku, ku buka pintu rumahku, dan yang pertama ku lihat adalah cahaya pagi mentari yang menyilaukan pandanganku. Kehangatan di pagi hari, suara cecuitan burung, hembusan angin yang menyenangkan, hari-hari seperti inilah yang kuinginkan, sunyi, damai dan tentram, tanpa ada suara berisik, tanpa ada masalah, dan tanpa ada seorang teman. Aku selalu menikmati kesendirianku, aku sudah terbiasa hidup sendiri tanpa ada seorang teman disisiku. Teman itu tidak terlalu berharga bagiku, aku tidak membutuhkan seorang teman, yang kubutuhkan adalah kenyamanan, dan, hal yang selalu membuatku nyaman adalah hidup tanpa seorang teman.

Di waktu jam pelajaran, aku membaca sebuah buku, lalu, pandanganku teralihkan oleh seorang gadis, seseorang yang mampu membuatku merasa nyaman walaupun hanya dengan melihatnya saja. Ini adalah hal yang paling menakjubkan dalam hidupku dan tujuanku dalam menggapai perasaanku. Ya, betul, itu adalah masalah perasaanku terhadap wanita. Bagiku, seseorang yang tidak mampu mengungkapkan perasaannya kepada gadis yang disukainya, adalah sesuatu yang sangat mencekek dan menyakitkan. Aku selalu memperhatikan dirinya dari belakang, karena posisi tempat dudukku tepat dibelakangnya, aku sangat beruntung bisa dapat posisi tempat duduk di belakang. Cuman, hal yang paling memuakkan dari kehidupanku adalah, aku tidak pernah berbicara dengan dirinya, yang mampu kulakukan hanya melihatnya saja, melihatnya dari kejahuan. Setiap kali aku memandang dirinya, hal yang selalu kulakukan adalah menggerakkan penaku diatas selembaran kertas buku catatanku, dan membuat oret-oretan cerita yang terlintas dipikiranku, yang hasilnya adalah terciptanya sebuah cerpen. Telah banyak cerpen yang ku buat dari hasil pandanganku tersebut, tema dari setiap cerita-ceritaku tersebut, tidak lain dan tidak bukan adalah tema tentang masa-masa kehidupan romantis diriku dan dirinya. Tapi itu semua hanyalah khayalanku saja, aku hanya mampu bermimpi di atas tulisan-tulisanku saja. Aku hanya bisa menyimpan perasaanku, rasa cinta yang tidak akan pernah terwujud, mimpi ini hanya akan membawaku menuju neraka.

“Sampai jumpa besok, dan jangan lupa mengerjakan PR kalian ya anak-anak!” ucap guruku di saat bel pulang sekolah berbunyi

“Kiyoshi! Apa kau mau mengerjakan PR ini bareng dengan kami?” tanya salah satu teman sekelas ku, untuk membuat kelompok kerja bareng
“eh? Tidak, terima kasih, aku akan mengerjakannya sendiri di rumah” refleks aku langsung menyelipkan buku catatanku tersebut ke dalam laci
“oh, ya udah, semoga berhasil ya!”
“iya”

Aku pun bergegas memasukkan semua buku ku ke dalam tasku dan mulai pergi meninggalkan kelas. Di perjalanan aku bertemu dengan teman sekelasku yang lain, mereka berencana menonoton film di bioskop, namun, mereka kelebihan tiket, jadi mereka mengajakku untuk nonton bareng bersama mereka. Karena aku masih ingat dengan PR ku, aku pun menolak tawaran mereka dengan mentah-mentah.

“mari kita nonton film!”
“ayo, tapi kita kelebihan tiket, sayangkan kalo tidak digunakan”
“oh, itu Kiyoshi, kita ajak aja dia”
“boleh juga”
“OOOIIIII, KIIIYOOOSSHIIIII…!!!” teman ku memanggilku dari jauh, aku pun pergi mendatangi mereka berdua
“ada apa?”
“kami kan kelebihan satu tiket, mau kau ikut nonton film sama kami di bioskop?”
“eh, maaf, aku tidak bisa, aku lagi ada PR, jadi maaf ya kalo aku tidak bisa”
“haa, ya udah lah, makasih ya”
“iya”

Aku pun melanjutkan perjalananku menuju rumah, hari sudah mulai gelap, aku bergegas melangkahkan kaki ku lebih cepat. Sesampainya di rumah, aku mulai mengerjakan PR ku, namun anehnya, buku catatanku tidak ada dalam tasku, aku terus mencari, dan kubongkar seluruh tasku, tapi tetap saja, aku tidak menemukan buku catatanku. Aku tidak bisa mengerjakan PR ku kalo buku catatanku tidak, jadi aku mencoba berpikir kembali, apakah mungkin aku menjatuhkan buku ku di suatu tempat, aku berpikir-dan terus berpikir. Dan aku ingat, buku ku ketinggalan di laci meja belajarku, cerobohnya aku, cerita-cerita rahasiaku, semuanya ada di situ, kalo sampai ada orang yang membaca ceritaku tersebut, matilah aku, mereka akan tahu kalo aku suka sama si Aiko. Terpaksa aku harus kembali ke kelas untuk mengambil buku ku yang ketinggalan. Sesampainya di sekolah, aku pun pergi menuju kelasku, ketika aku masuk kelas, aku terkejut, kenapa Fujita masih ada di dalam kelas. Apa yang dia lakukan di dalam kelas, aku terus bertanya-tanya tentang keberadaannya di dalam kelas.

“apa yang kau lakukan di sini Fujita? Bukankah kau harus pulang kerumah untuk belajar, supaya kau mendapat ranking satu lagi” tanyaku penasaran

Lalu tiba-tiba Fujita menunjukkan buku catatanku, di saat itu aku tidak mampu berkata apa-apa lagi. Aku sangat syok, apa yang tidak kuinginkan telah terjadi, apakah dia telah membaca semua ceritaku?, apakah dia telah mengetahui bahwa aku menyukai Aiko?.

“kau tidak perlu terlalu serius begitu, seakan-akan kau sedang melihat buku seluruh hutangmu saja” ungkap Fujita kepadaku
“kenapa kau bisa memiliki buku catatanku?”
“karena aku duduk jauh di belakang” sambil menunjuk posisi tempat duduknya

Huh? Duduk di belakang, apa hubungannya memiliki buku catatanku dengan duduk di belakang. Aku tidak tahu bagaimana jalan pikiran Fujita, mungkin dia sudah terlalu banyak belajar sehingga inilah jadinya

“hm?”
“aku tahu, kalo kau sering menulis cerita di catatan ini pada waktu jam pelajaran dan aku juga tahu, kalo kau lupa membawa buku catatanmu ini, maaf kalo aku sudah mengintip catatanmu ini, dan aku kira, kau akan kembali untuk mengambil buku catatanmu ini, jadi aku menunggumu di sini”

Mengintip katanya, apa dia telah membaca buku catatanku. Terus kenapa seenaknya saja dia berkata, kalo dia tahu semuanya, aku menulis cerita selama jam pelajaran. Dasar orang aneh, kurasa ini akibat kebanyakan belajar, sehingga membuat otaknya menjadi error.

“(apa yang telah direncanakannya?)” ungkapku dalam hati
“cerita-ceritamu tentang Aiko sangat menarik, dia memang gadis yang pendiam, dan, dia itu gadis terbaik di sekolah kita ini”
“(ternyata dia juga suka dengan Aiko)” ungkapku dalam hati lagi
“aku rasa, dia juga suka denganmu” Fujita mengeluarkan pernyataan yang sangat aneh dan membuatku sangat terkejut.

Apa-apaan dia ini, bilang Aiko juga suka samaku, apa dia tahu perasaan Aiko yang sebenarnya. Memang dasar sudah gila ini anak, otaknya sudah tidak beres lagi.

“eh? Itu tidak mungkin! Aku saja tidak pernah bicara dengannya dan kenapa kau bisa tahu hal itu?”
“aku telah memberitahumu sebelumnya, itu karena, aku duduk di bangku paling belakang”

Lagi-lagi, gara-gara duduk di bangku paling belakang, emang apa hebatnya sih duduk di bangku paling belakang. Apa dengan duduk di bangku belakang dia bisa tahu segalanya.

“Cuma gara-gara itu, kau bisa tahu semua hal yang ada di kelas!?”
“ya, semacam itulah, tapi jika kau merasa tidak cocok dengan pernyataanku tersebut juga tidak apa-apa”
“(tsk, justru aku merasa senang dengan pernyataan mu tersebut)” ungkapku dalam hati

Di sini aku juga merasa sedikit senang sih, karena dia berkata kalo Aiko juga suka denganku. Jarang kali ada orang yang berkata begitu kepadaku.

“jangan khawatir, aku akan mengembalikan buku catatanmu ini dan tidak akan memberitahukan rahasiamu kepada orang lain” ucapnya sambil mengarahkan buku catatanku
“baiklah, terima kasih” aku mendekati Fujita untuk mengambil buku catatanku
“(namun)”
“asal dengan satu syarat” pinta Fujita kepadaku
“(ini dia) apa itu? (dia pasti akan menyuruhku untuk pergi meninggalkan Aiko jauh-jauh)”

Aku sudah menduga ini semua akan terjadi, dia pasti tidak akan mengembalikan buku catatanku dengan gratis, dia pasti menginginkan sesuatu dariku, kalo saja dia menyuruhku untuk pergi meninggalkan Aiko jauh-jauh, aku tidak bisa menerima itu. Lebih baik aku kehilangan buku catatanku dari pada kehilangan Aiko.

“bergabunglah denganku, di klub pembuat cerita” teriaknya kuat-kuat tepat ditelingaku

Aku selalu terkejut di buat ini anak. Permintaannya selalu yang aneh-aneh, kali ini dia memintaku untuk bergabung dengan klubnya, klub pembuat cerita. Aku tidak tahu, kenapa dia memintaku untuk bergabung dengan klub pembuat ceritanya tersebut.

“eh?”
“ceritamu itu sangat menarik, dan aku sebagai ketua klub pembuat cerita, sedang mencari orang yang berbakat seperti dirimu, aku telah memikirkan banyak hal, dan aku memerlukan tulisan-tulisan hasil karyamu”
“kau memiliki ranking yang tinggi di negara ini, dan kau ingin menjadi penulis!”
“laki-laki terlahir dengan keinginan yang kuat, mereka selalu ingin melakukan apa yang mereka inginkan, dan inilah keinginanku, menjadi seorang penulis, aku tidak perlu jadi orang terpandang atau jadi artis terkenal dan dari itu semua aku sangat buruk dalam berolahraga, tapi aku mempunyai bakat menulis dan kau juga mempunyai bakat itu, jadi karena itu, aku memutuskan untuk menjadi seorang penulis dan ingin berkerja sama denganmu” ungkap Fujita dengan panjang lebar dan penuh semangat

Dia menjelaskannya dengan panjang lebar, di tambah lagi dengan pose-pose yang berbeda. Dengan nada tinggi rendah, penuh senyum di wajahnya, dia seakan-akan telah melihat mimpinya berada di depan mata.

“sangat menarik”
“benarkan?!”
“tapi aku menolaknya”

Aku menolak permintaan Fujita tersebut, aku tidak ingin menjadi seorang penulis, karena aku tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang penulis.

“tapi aku menolaknya huh? tapi kau sangat suka menulis kan?” ungkap Fujita dengan senyum
“bukan berarti kita bisa jadi penulis” tegasku
“bagaimana jika aku membantumu” tiba-tiba menawarkan sesuatu yang aneh lagi
“membantuku?”
“iya, membantumu untuk mendapatkan Aiko”
“(membantuku untuk mendapatkan Aiko, ini kesempatan yang sangat bagus, tapi) aku tidak mau, aku tidak mau sesuatu yang kuinginkan itu didapatkan dengan bantuan orang lain”
“huh baiklah”

Aku pun pergi meninggalkan Fujita sendiri di dalam kelas. Aku tidak mau terlalu lama dengannya, nantinya otakku bisa ketularan error kayak otaknya.

“ya, aku pulang ke rumah ya, aku mau belajar, terima kasih atas buku catatannya”
“apa kau mau membuang bakatmu begitu saja? apa kau ingin kehidupan yang normal? yang tidak memiliki ketertarikan sama sekali, apa kau baik-baik saja dengan itu?”
“menggapai mimpi kita di di bangku kelas 2 SMA, bukan kah itu sangat aneh?”
“lebih baik kita mulai dari sekarang kan? agar nantinya kita tidak terkejut akan masa depan kita yang tidak jelas, jika kita berkerja sama, kita pasti bisa melakukan ini”
“kau benar-benar menyebalkan, baiklah, aku akan memikirkannya di rumah nanti”
“eh? Benarkah?”
“tapi, kemungkinan besar, jawabannya pasti tidak”
“tidak apa-apa, berpikirlah sejenak di rumah, jika jawabannya tidak, maka aku akan menyerah”

Selama di perjalan ke rumah, aku selalu terpikir-pikir, kalo seandainya aku jadi seorang penulis mungkin tidak akan jadi masalah buatku. Kata Fujita aku memiliki bakat dalam membuat cerita, bakatku ini bisa kujadikan sebagai mimpi baru dalam kehidupanku. Aku harus berpikir lebih lama lagi dalam mangambil keputusanku ini.

Di rumah aku tidak bisa mengerjakan PR karena kepikiran terus sama perkataan Fujita tersebut. Jika aku menjadi seorang penulis, mungkin aku akan berhasil, tapi itu tidak mungkin. Di luar sana, masih banyak orang yang lebih berbakat dari pada diriku. Tidak ada gunanya aku memikirkan semua ini, apabila mimpiku ini tidak jadi kenyataan, maka hidupku akan menjadi normal juga.

“Kiyoshi!” kakakku memanggilku
“hm? Apa?” lalu kakakku masuk ke dalam kamarku
“ada apa? kenapa kau tidak makan malam bersama ku?” sambil melihat aku sedang bermain game
“apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak mengerjakan PR mu, kau tidak akan menjadi orang sukses bila kau begini terus” sambung kakakku sambil menyenggakku

Sial, kenapa orang-orang begitu egois. Aku akan memutuskan sendiri masa depanku. Lalu handphone ku berbunyi tiba-tiba, kudekati handphone ku, seseorang telah meneleponku, lalu kuangkat teleponku, ternyata yang meneleponku adalah Fujita

“ini aku Fujita”
“Fujita? kenapa kau punya nomorku?”
“aku minta sama temanmu”
“ada apa?”
“sebenarnya, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, jadi ikutlah denganku”
“huh?”
“kau tahu, aku sedang sibuk, tapi kenapa kau mengajakku?”
“jika kau tidak di sini, ini semua tidak ada artinya, cepat dan datanglah”
“tidak bisakah kau memberitahunya sekarang?”
“aku ingin memberimu kejutan, jadi datanglah ke Toko Nichi”
“ya udah, baiklah, aku akan kesana”

Aku pun pergi ke Toko Nichi, di sana, aku melihat Fujita sudah berdiri di depan Toko Nichi, dia pun sudah melihatku juga, lalu dia melambai-lambaikan tangannya ke arah ku, seakan-akan memberi tanda tempat posisinya. Dia pikir aku bodoh, dia pikir aku tidak melihatnya, dasar bodoh. Aku sudah muak terus-menerus bersama Fujita satu harian ini, kuharap, hari ini adalah hari terakhirku bersama dengan dirinya. Aku pun pergi mendatanginya, melihat wajahnya senyum-senyum dari kejauhan hendak membuatku mau muntah.

“bagaimana? Apa kau sudah memutuskannya? Tanya Fujita padaku
“ha? Keputusan apa?”
“haaa, jadi kau belum memutuskannya?”
“keputusan apa? Dasar bodoh!”
“keputusan untuk bergabung dengan klub ku”

Waahhh, iya, aku lupa memikirkan itu, gara-gara terlalu banyak berpikir aku jadi lupa memikirkan keputusanku. Apa yang harus kukatakan, mana mungkin aku menolaknya tanpa alasan yang tidak pasti.

“aku sudah menduga ini akan terjadi”
“ha? Apa maksudmu?”
“ini, coba lihat, ini yang ingin kutunjukkan padamu” sambil mengarahkan selembar kertas padaku

Kertas apa ini?, aku pun membaca kertas tersebut, ternyata isi kertas itu adalah sebuah pengumuman lomba cerpen.

“kau pikir dengan memberikan pengumuman ini, aku akan merubah pikiranku”
“hehe, apa kau sudah membaca siapa saja yang ikut di situ” dia memberikanku satu lembar kertas lagi

Aku pun membaca lembar yang satu lagi, ini adalah nama orang yang sudah mendaftar perlombaan tersebut. Aku membaca nama-nama orang yang sudah mendaftar satu persatu. Aku sangat terkejut, di dalam perlombaan ini, ada satu nama yang membuat sangat bergairah untuk mengikuti lomba ini.

“hm, boleh juga caramu”
“hahaha, ini lah yang di sebut teknik memaksa Fujita, hahaha”
“baiklah aku mengerti, tapi boleh aku bertanya satu hal padamu?”
“boleh, apa itu?
“apa rencanamu yang sebenarnya?”
“mudah saja, jika kau ikut lomba ini, secara otomatis kau bisa mendekati Aiko dengan mudah, dan seperti katamu sebelumnya, kau tidak mau sesuatu yang kau inginkan itu didapatkan dengan bantuan orang lain, jadi dengan kata lain, aku tidak akan membantumu, dan kau sendiri lah yang akan membantu dirimu”
“baiklah, aku sudah mulai mengerti, tapi, aku mengikuti lomba ini bukan berarti aku masuk dalam klub pembuat ceritamu”
“aku mengerti itu, baiklah teman, mulai sekarang, kita akan bekerja sama dan bersaing dalam perlombaan ini”
“jangan panggil aku teman! Bodoh!”

Entah kenapa, sejak saat itu, aku merasakan sesuatu yang aneh, kurasa aku sudah memiliki seorang teman. Tapi, aku tidak ingin menjadi temannya.

Keesokan harinya, aku bearada di ruang klub pembuat cerita. Fujita memperkenalkanku dengan kedua anggotanya. Maklum saja, klub ini tidak terlalu terkenal, klub ini hanya memiliki dua anggota saja. Orang yang pertama bernama Chiko, siswa kelas 2B, alasannya masuk ke klub ini adalah, dia tidak memiliki tempat yang luang untuk beristirahat, dengan kata lain, di menjadikan tempat ini hanya sebagai tempat peristirahatannya saja. Orang yang kedua bernama Ayame, siswi kelas 2B yang sekelas dengan Chiko, alasannya masuk ke klub ini adalah, dia hanya ingin membantu klub ini agar tetap hidup, dengan kata lain, klub ini tidak memilki anggota yang pasti.

Ketika jam olahraga, Fujita mendatangiku dan mengajakku untuk menjumpai seseorang. Sesampainya di tempat tujuan, aku terkejut, ternyata Fujita mengajakku hanya untuk menjumpai Aiko.

“oi, Aiko!”
“ah? Fujita? Ada apa?”
“apa kau ikut lomba membuat cerita itu?”
“membuat cerita? Oh iya, aku ikut lomba itu, apa kau juga ikut?”
“hehe, engak, aku tidak ikut, tapi yang ikut Kiyoshi”
“(Fujita kurang ajar, jadi ini rencanamu)”
“apa kau ikut perlombaan itu Kiyoshi?”
“eh, iya, aku ikut perlombaan itu, hehe”
“wahhh, senangnya, ternyata bukan aku saja yang ikut” Aiko tersenyum tiba-tiba

Senyuman Aiko itu, senyuman yang memberikan kehangatan walau hanya dengan melihatnya saja. Matanya yang bersinar-bersinar, begitu indah, membuat diriku semakin semangat.

“Aiko! Maukah kau jadi pacarku?!” teriakku tiba-tiba
“eh?” Fujita dan Aiko bingung mendengar pernyataanku
“(eh?, apa yang telah kulakukan, kenapa aku bisa terbawa sama perasaanku)”
“Fujita” Aiko memanggilku
“eh, maaf, bukan maksudku berkata begitu, maaf kan aku Aiko”
“baiklah”
“apanya yang baiklah?”
“aku mau”
“ha? (WAAAHHHHHHH…!!! aku tidak menyangka ini, aku sangat beruntung)
“tapi dengan satu syarat”
“huh?”
“tapi, jika kau bisa menang dalam perlombaan nanti”
“huh? Apabila aku bisa menang dalam perlombaan nanti, aku akan berpacaran denganmu nanti?”
“iya, apa kau tidak mau?”
“baiklah, aku mau”

Aku tidak menyangka, hal yang tidak akan pernah kuduga akan terjadi padaku, orang yang kucintai akan menjadi milikku. Orang yang tidak pernah berkomunikasi denganku, orang yang tidak pernah memandang diriku, orang yang tidak pernah dekat denganku, dia akan menjadi pacarku, YAAHHHOOOO, senangnya hatiku. Tapi, itu semua tidak akan kudapatkan dengan mudah, aku harus berusaha keras untuk mendapatkan juara satu dalam perlombaan tersebut, maka dia akan jadi milikku sepenuhnya. Dan pada akhirnya, aku telah memutuskan tujuan masa mudaku, tujuan yang baru hadir dalam hidupku. Menjadi seorang penulis.

Sejak saat itu, aku mulai banyak membaca buku-buku cerita, aku mulai menambah wawasanku lebih luas lagi, aku tidak ingin kalah dalam perlombaan tersebut. Disamping itu semua, Fujita selalu membantu, aku tidak tahu kenapa dia membantuku, padahal aku ingin melakukan ini semua sendiri, tapi di sisi lain, hatiku sangat senang bisa di bantu Fujita, kejadian ini membuat kepalaku jadi pusing, tidak mau tapi mau. Fujita sangat bersemangat dalam membantuku membuat cerita dia pergi kesana-kemari untuk mencari ide yang menarik, dan ide tersebut bisa dimasukkan dalam ceritaku. Di sisi lain, Aiko tidak mau kalah, dia membaca banyak cerita dari hasil karya pemenang perlombaan sebelumnya, dia ingin mengetahui apa saja yang di nilai juri dalam perlombaan tersebut. Melihat kejadian ini dalam meraih kemenangan perlombaan tersebut, membuat darah dalam diriku menggelegak memanas ingin meledak. Aku tidak akan berdiam diri saja, aku pun harus mulai bergerak, bagaimana membuat cerita yang menarik.

Ketika di perjalanan pulang, aku dan Fujita melihat Aiko pergi jalan-jalan bersama dengan adik dan kakaknya. Aku bingung, apa yang harus kulakukan, apakah aku akan menyapanya, atau mengabaikannya begitu saja. Fujita memberiku saran untuk menyapanya, tapi aku tidak berani, karena adik dan kakaknya Aiko ada di situ. Jadi aku memilih untuk mengabaikannya saja.

“eh, bukan kah itu teman satu sekolahmu Aiko?” tanya kakak Aiko kepada Aiko
“eh”
“ha, lihat! Wajah kakak memerah” ungkap adik Aiko

Di saat itu aku mulai merasakan, kalo aku dan Aiko seperti ada ikatan, kami saling merasakan malu satu sama lain. Aku tidak menyangka, Aiko juga akan merasa malu melihatku. Setelah kami berpapasan, aku tidak ingin kejadian ini berakhir begitu saja, jadi, aku mencoba untuk melihat ke belakang sejenak. Setelah aku melihat ke belakang, aku sangat terkejut bercampur senang. Ternyata, Aiko juga sedang melihat ke belakang, kami pun saling pandang-pandangan, lalu kupalingkan wajah kembali, karena aku merasa malu melihat wajah Aiko. Mungkin kejadian ini hanya kebetulan saja, tapi untuk yang terakhir kalinya aku mencoba melihat ke belakang lagi. Ternyata betul, aku dan Aiko memiliki suatu ikatan. Ketika aku melihat ke belakang dia pun juga melihat kebelakang, hatiku sangat senang, kenapa kejadian ini bisa terjadi padaku.

Esoknya di kelas, diadakan pemindahan tempat duduk, posisi Fujita masih tetap di belakang, kurasa dia merasa senang karena mendapat posisi tempat duduk yang sama. Sedangkan posisiku, aku tidak yakin dengan perasaanku ini, aku merasa senang tapi aku merasakan sesuatu yang sangat aneh. Aku tidak tahu perasaan apa itu, memikirkannya saja sudah membuatku sangat pusing. Tapi satu hal yang pasti, aku sangat senang.

Aku duduk di samping Aiko, dari posisi ini aku dapat melihat wajah Aiko begitu dekatnya. Aku tidak menyangka Aiko akan semanis ini bila di lihat dari jarak yang sangat dekat. Namun aku mulai mengerti, perasaan aneh apa yang telah melandaku tadi. Kami duduk samping-sampingan, tapi, hubungan di antara kami tidak ada suatu komunikasi. Kami hanya diam mendengarkan pak guru menerangkan di depan. Perasaan ini terlalu menjanggal di hati ku, jadi aku mencoba berkomunikasi dengan Aiko. Aku berkomunikasi dengan Aiko melalui perantara tulisan. Aku menulis sebuah pertanyaan di buku ku dan mendekatnya ke Aiko, pertanyaan pertamaku, apa hobimu?, lalu dia membalas tulisanku dengan melakukan hal yang sama, jawabannya, membaca dan menulis cerita. WAAHHH…!!! aku sangat senang, akhirnya aku bisa berkomunikasi dengan Aiko, lalu aku menulis pertanyaan kedua, apa warna kesukaanmu?, dia pun menjawab, warna hijau. Namun, secara tiba-tiba Aiko memberikan ku no Handphone nya, aku langsung tersenyum melongo, aku tidak mampu menahan perasaanku ini, aku sungguh-sungguh sangat senang.

Keesokan harinya lagi, aku mencoba berkomunikasi dengannya, aku bertanya, apa kau yakin kalo aku bisa?, dia pun menjawab, pasti bisa, lalu kubertanya lagi, apa kau nanti tidak menyesal?, lalu kuberikan buku yang telah ku tulis dengan pertanyaan tersebut. Sekilas dia membacanya, sontak aku langsung terkejut, apa yang terjadi, apa aku telah berbuat salah, aku tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saja Aiko menangis setelah membaca tulisan ku tersebut. Aku tidak mampu berkata apa-apa, semua orang melihatnya menangis, guruku bertanya.

“Aiko, ada apa?”
“tidak ada apa-apa buk” dengan menahan tangisannya

Sejenak aku merasa pusing, kurasa aku telah melakukan kesalahan yang sangat pada Aiko, bukan maksudku untuk membuatnya menangis, aku tidak berniat apa-apa.

Di jam istirahat, aku dan Fujita pergi ke suatu tempat, aku mencertikan semua kejadianku tadi pada Fujita. Aku sangat senang bisa bertemu dengan Fujita, dia mau mendengarkan ceritaku, apabila aku tidak bertemu dengannya, mungkin entah sama siapa aku akan bercertita. Fujita paham dengan semua ceritaku, dia mengerti apa yang telah terjadi. Lalu dia memberiku suatu masukkan, masukkan itu sangat membantuku, mendengar masukkannya sudah membuat sedikit tenang.

“Fujita, kurasa aku telah membuat Aiko menangis”
“memang apa yang kau bilang padanya?”
“pertama aku bertanya, apa kau yakin kalo aku bisa, terus dia menjawabnya pasti bisa, terus aku bertanya lagi, apa kau nanti tidak menyesal, setelah pertanyaan itu, dia langsung menagis setelah membacanya”
“hm, jadi begitu”
“apanya yang begitu”
“dia sendiri yang memutuskan itu bukan?, jadi, dia harus bisa menerimanya, jika sesuatu itu, sudah dia sendiri yang memutuskannya, maka dia tidak akan pernah menyesalinya”
“tsk, begitu ya, terima kasih ya, teman”
“kapanpun kau butuh teman”

Sejak mendengar masukkan dari Fujita, aku akhirnya mengerti, Aiko sendiri yang memutuskan ini semua, jadi, tidak mungkin dia menyesali keputusannya. Aku akan mencoba berkomunikasi lagi dengan Aiko, aku akan meminta maaf padanya.

Jam istirahat pun selesai, aku kembali ke kelas, dan duduk di bangku ku, disampingku, Aiko, kurasa Aiko sudah sedikit tenang. Aku pun membuat tulisan dan memberikannya pada Aiko, lalu Aiko menangis lagi membaca tulisanku tersebut. Di sini aku sedikit senang, Aiko menangis bukan karena sedih, Aiko menangis karena dia bahagia. Yang ku tulis dalam buku ku tersebut adalah, kita akan selalu bersama, setelah aku memenangkan perlombaan tersebut, aku akan menyimpan nomormu dan akan mengirim mu SMS nanti.

Sejak Aiko menangis, aku tidak ingin mengecewakannya lagi, aku harus berusaha untuk menjadi pemenang di perlombaan tersebut. Aku dan Fujita berkerja keras hingga malam, kami terus membuat cerita semenarik mungkin. Setelah kami berusaha keras dalam membuat cerita kami.

Kami memutuskan untuk membuat cerita yang bertema kisah percintaan dengan akhir yang sedih, judulnya kami buat One Peace, ceritanya mengisahkan seorang gadis yang baru pindah sekolah, dia gadis yang sangat manis dan pintar, banyak pria yang mengejar dirinya, namun si gadis tidak menginginkan satu pria pun. Hingga pada suatu hari ketika si gadis mendatangi sekolah pada sore hari, dia melihat seorang pria sedang bermain basket, dia penasaran dengan pria tersebut, kenapa dia latihan main basket sendirian saja. Si gadis pun mendatangi pria tersebut dan bertanya kepada si pria. Si pria pun menjawab pertanyaan si gadis dengan dengan ramah, di saat itu si gadis sudah mulai merasa nyaman dekat dengan si pria. Hingga si gadis terus dekat dengan si pria, si pria pun memberi respon yang baik pada si gadis. Mereka terus dekat dan dekat, hingga di antara mereka mulai tumbuh sebuah perasaan, perasaan yang mungkin tidak akan pernah mereka inginkan. Hingga pada suatu hari, si pria menyatakan perasaanya pada si gadis, dan si gadis pun juga merasakan hal yang sama dengan si pria. Mereka pun mulai menjalin hubungan mereka lebih erat lagi. Namun, sudah lama mereka menjalin hubungan mereka, ternyata ada pria lain yang memasuki kehidupan si gadis, sebenarnya si pria yang telah memasuki kehidupan si gadis, pria lain itu adalah pacar si gadis. Sejak saat itu, si pria mulai bingung, apa yang harus dilakukannya, apakah dia harus tetap mencintai si gadis atau pergi meninggalkan si gadis. Si gadis pun juga begitu, dia bingung mau memilih, siapa pria yang harus dicintainya. Hingga pada suatu hari si pria pergi meninggalkan si gadis, karena si gadis tidak mampu membuat keputusan yang pasti, dan si pria lain juga pergi meninggalkan si gadis, karena si pria lain sudah tidak mencintai si gadis lagi, si pria lain telah menemukan pengganti si pria. Hingga pada akhirnya si gadis menyesali perbuatannya karena dia telah membuat sebuah keputusan yang salah. Seperti itulah cerita yang aku dan Fujita buat, cerita ini kami buat berdasarkan kejadian Aiko, tapi kebalikannya. Aiko berani yang membuat keputusan, dan dia mampu untuk menyesali perbuatannya, sedangkan si gadis yang berani membuat keputusan tetapi tidak berani menyesali perbuatannya.

Lalu, kami pun mengirim cerita kami ke perlombaan tersebut. Kami tinggal menunggu keputusan juri, keputusan juri akan diumumkan minggu depan. Aku tidak sabar menunggu hasil pengumuman pemenangnya.

Setelah satu minggu kami menunggu, akhirnya pengumuman pemenagnya sudah diedarkan. Aiko mendapat juara tiga, juara dua dari SMA lain, dan yang menjadi juara satu adalah dari SMA lain juga. Aku sangat terkejut melihat hasil pengumuman tersebut, aku tidak mampu berkata apa-apa, lalu Aiko mendatangiku.

“Kiyoshi” panggil Aiko padaku
“maafkan aku Aiko, aku tidak mampu memenuhi janjiku, aku memang tidak pantas untukmu, memenuhi janji begini saja aku tidak bisa, maafkan aku Aiko” ucap ku dengan perasaan penuh bersalah
“tidak Kiyoshi, justru kau telah memenuhi janjimu”
“ha? Apa maksudmu Aiko?”
“dulu kan aku pernah bilang, jika kau bisa menang dalam perlombaan ini kau dan aku akan menjalin hubungan kita dan kau telah memenangkannya”
“aku tidak menang Aiko” ucapku sambil mengeluarkan air mata
“kau menang Kiyoshi, tapi tidak di perlombaan ini, tapi menang dihatiku”
“Aiko”
“kalo kau memang ingin berpacaran denganku melalui suatu perlombaan, itu tidak apa-apa buat ku, aku siap menunggumu Kiyoshi, kalo kau mau” sindir Aiko sambil tersenyum
“hehe, kau mendapatkan hatinya teman” sindir Fujita padaku
Sejak saat itu, aku mulai merasakan kehangatan dari suatu ikatan. Ikatan persabahatan dan ikatan kasih sayang. Kesunyian yang selama ini melandaku hilang dengan lahirnya mimpi baruku. Mimpi yang dimulai dari kata menjadi seorang penulis.

~Tamat~

Cerpen Karangan: Fadel Aniki
Facebook: Fadel Aniki

Cerpen Through My Story merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pena Semangat (Part 1)

Oleh:
Suasana kelas terasa hampa, tidak ada suara terdengar kecuali suara lembaran buku yang ku bolak-balik. Lembaran akhir dari sebuah cerita yang ku baca memiliki makna yang sangat dalam. Seakan

Sekarang & Selamanya

Oleh:
Fadjar mulai menjelang, mentari kian menari dari ufuk timur. Tak terasa hari telah berganti sedangkan diriku masih terbaring di atas tempat tidur, menyambut datangnya sinar yang menelusup dari balik

Remember

Oleh:
“Apa kau masih mengingat daun maple yang berguguran diwaktu senja?” Pertanyaan itu masih terngiang-ngiang di otakku. Apa aku masih mengingat itu semua? Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Untuk sekarang

Goodbye My First Love

Oleh:
Januari 2013 ini seseorang yang pernah berada di hatiku dalam waktu yang cukup lama melangsungkan pernikahan. Aku dapat kabar dari teman dekatku yang kebetulan juga tetangga satu RT, smsnya

Jati Diri Cinta

Oleh:
Afa Point Of View “Gagal,” gumamku berdecak kesal, ketika kulirik sekilas cewek itu masih fokus pada pelajaran fisika yang benar-benar membuatku mengantuk, bukan, bukan aku saja, tetapi kulihat hampir

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Through My Story”

  1. Tasu says:

    Ceritanya mirip sama bakuman
    tapi bagus buat di baca
    ganbatte 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *