Tiga Puluh Tujuh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 27 August 2015

Hari ini aku harus bisa melupakan dia, harus bisa! Harus bisa!

Aku membaca mantra rutinku sebelum memulai aktivitasku pagi ini. Aku menarik napas panjang, hari ini aku harus mengurangi kadar kesedihan dan keterpurukanku. Oh God, ternyata sesakit ini rasanya patah hati. Kukira hubungan dengan Dion baik-baik saja. Biar pun dia tidak romantis, tidak perhatian, dan beribu tidak lainnya, entah kenapa aku sepertinya sudah terlanjur menyerahkan seluruh perasaanku buat dia. Dan ketika aku dikecewakan, rasanya sakit sekali. Arrgghh!! Sudahlah aku tidak mau mengingat dia lagi. Ini masih pagi, aku tidak mau merusak mood-ku hari ini dengan mengingat dia.

“Bisa nggak hari ini berhenti dulu dengarin lagu galau yang bisa buat nangis darah,” Vey menghampiriku dan mematikan speaker kecilku.
“Cuma dengarin, apa salahnya sih?” Belaku.
“Salah, kalau kamu muterin lagu yang sama tiap hari,” Sahut Vey. Aku cuma bergumam.
“Bukan begini caranya kalau mau move on. Cari pacar baru sana,” Lanjut Vey sambil berlalu.
“Kalau semudah yang kamu bilang sih, dari kemarin-kemarin aku sudah gonta-ganti pacar sampai selusin,” Jawabku tidak mau kalah.
“Loh, Mas-Mas yang traktir kita sarapan kemarin nggak termasuk?” Aku mengutuk dalam hati, kenapa Vey Masih ingat sih dengan dia.
“Siapa?” Tanyaku pura-pura bego.

Padahal di kepalaku sudah terpikirkan satu nama. Merasa tidak puas dengan jawabanku, Vey yang sudah duduk di kursinya kemudian bangkit lagi dan menghampiriku.

“Bukan cuma sarapan kemarin, dia juga pernah ngantarin kita ke nikahannya Windi waktu kita bingung nggak ada taksi. Terus masih ada lagi, aku juga sering lihat dia lagi di rumahmu,” Vey menjelaskan dengan detail.
“Dia kan teman Mas Beri, wajarlah sering ke rumahku,” Belaku. Mas beri itu Kakak iparku.
“Sama dia aja, lumayan loh,” Bisik Vey dengan nada genit.
“Nggak mau, buat kamu aja. Aku nggak minat sama Om-Om,”
“Om-Om gimana? Masih muda gitu kok,”
“Dengar ya Vey, Mas Graha itu umurnya sudah tiga puluh tujuh tahun. Coba kamu bandingkan dengan aku yang umurnya Masih dua puluh enam tahun. Bayangin Vey, umur kami bahkan beda lebih dari sepuluh tahun,” Jelasku.
“Nggak jauh-jauh amat kok. Biasa aja, Mama sama Papaku malah beda dua belas tahun. Buktinya akur-akur aja tuh sampai sekarang,”
“Sudah, jangan bahas lagi. Pokoknya aku nggak berminat sama dia. Titik. Sana, kerja lagi,” Kataku.

Vey cuma nyengir. Aku tahu di otaknya pasti sudah tersusun rencana lain. Vey selalu bilang, aku gagal move on karena diriku sendiri. Katanya aku terlalu melankolis, sensitif dan pasrah. Emang apa hubungannya?
Handphone-ku berbunyi pelan, tanda ada pesan Masuk. Baru saja dibicarakan, orangnya malah sms.

“May sudah makan? Mas lagi di food court nih, mau dibawain apa?”

Mas Graha selalu membahasakan dirinya dengan kata “Mas’ dan menyebut aku dengan nama, tidak pernah dengan kata ‘kamu’. Rasanya agak janggal aja menurutku. Entah aku yang tidak terbiasa atau dia yang sok manja.
“Thanks, Mas. Tapi May sudah makan barusan.”
“Syukurlah kalau sudah makan. Take care ya…”

Tanpa perlu dikasih tahu Vey, aku sudah tahu kalau Mas Graha suka denganku. Dari dulu malah, sebelum aku dan Dion putus. Tapi frekuensi perhatiannya tidak serutin ini. Mungkin sekarang dia tahu kalau aku sudah tidak punya pacar lagi, makanya dia selalu mencari cara buat ngedekatin aku. Aku tidak tahu, kenapa di usianya yang segitu dan kehidupannya yang sudah mapan, dia belum menikah juga. Apa yang ditunggunya sampai umurnya tiga tujuh? Atau dulu mungkin dia pernah disakiti wanita sampai trauma buat memulai hubungan baru lagi, atau jangan-jangan… dia g*y. Upsss, semoga tebakanku yang terakhir salah.

Aku bukan tidak suka dengan Mas Graha. Dia baik, perhatian, sopan, berwibawa, bisa dibilang dia tipe lelaki yang bakal disukai banyak wanita. Yang menjadi Masalah buatku cuma umurnya. Buat hal perhatian, Mas Graha memang juaranya. Dion nggak ada apa-apanya. Dari pagi matahari terbit sampai terbenam, tidak ada yang luput dari perhatiannya. Aku sampai bosan dibuatnya.

Tapi aku tidak bisa membayangkan pacaran dengan orang yang usianya sepuluh tahun di atasku. Di saat aku minta ditemanin jalan-jalan ke mall, shopping dan kegiatan senang-senang lainnya, dia malah lebih memilih nonton liputan berita di tv. Apalagi membayangkan kalau menikah dengannya. Di saat anak-anak kami baru masuk sekolah, dia sudah jadi kakek-kakek. Ya ampuuun! Apa-apaan yang aku pikirkan ini.

Aku menguap beberapa kali menahan kantuk yang dari sore sudah menyerangku. Penyakit lama, selalu begini setiap lembur. Beberapa minggu terakhir ini, akulah orang yang paling sering ditemui pada saat jam lembur. Sebenarnya tidak terlalu banyak yang harus kerjakan, aku cuma ingin menghabiskan waktuku. Pulang ke rumah sudah mengantuk, kemudian langsung tidur. Itu yang aku harapkan. Jadi frekuensi buat memikirkan Dion agak berkurang, rutinitasku seperti menangis dan meratap juga bisa diminimalkan. Aku merapikan beberapa berkas yang barusan kuselesaikan. Sudah waktunya pulang. Vey selalu memarahiku jika tahu aku lembur. Katanya daripada mengurung diri di kantor, mendingan waktu kugunakan buat mencari pacar baru.

Handphone-ku berbunyi pelan. Bisa kutebak siapa yang suka mengubungiku di jam-jam seperti ini, Mas Graha.
“May sudah pulang?”
“Baru aja mau pulang, Mas,” Di kepalaku terbayang Mas Graha yang sudah dari sore menungguku di rumah.
“Oh. Mas juga sudah di depan kantormu nih,” Aku terdiam dan mendadak ingin memperpanjang lemburku lagi. Tapi terlambat, Mas Graha sudah melihatku yang baru keluar dari kantor.

Dari mobilnya dia tersenyum dan melambai ke arahku. Aku heran, kenapa Mas Graha selalu tahu jadwalku.
“Kok Mas bisa di sini?” Aku baru sadar ternyata itu bukan kalimat pembuka yang bagus.
“Tadi Mas ke rumah, tapi May belum pulang. Pasti May lembur lagi, makanya Mas nunggu di sini aja,” Jawabnya tersenyum.

Jujur, senyuman Mas Graha selalu bisa menghipnotisku. Kenapa pesonanya Masih aja bisa menggangguku.
“Kita makan dulu ya, May belum makan kan?” Aku mengganguk mengiyakan.
“Hari ini nggak kerja apa, Mas?” Tanyaku. Mas Graha menoleh padaku sekilas, kemudian berkonsentrasi dengan mobilnya lagi.
“Tadi cuma survey ke luar kota sebentar, sore sudah nggak ada kerjaan,” Jawabnya.
“Seharusnya Mas istirahat aja, kok malah jemput May sih,” Kataku.
“Emang kenapa, May nggak suka Mas jemput ya?” Mas Graha malah balik bertanya.
“Bukan nggak suka, kalau gini kan sama aja ganggu istirahatnya Mas. May tahu kok, Mas pasti cape'”, Jelasku.
“Ternyata May perhatian juga ya,” Jawabnya dengan senyum menggoda. Aku jadi salah tingkah.
“Cuma nggak enak ganggu waktu Mas aja,” Aku membela diri. Mas Graha cuma tersenyum.
“Suka seafood kan? Atau May punya usul pengen makan yang lain?” Mas Graha memberhentikan mobilnya di sebuah rumah makan tenda yang lumayan ramai.
“May ikut Mas aja,” Jawabku.
“Wah, artinya May boleh Mas bawa pulang dong,” Lagi-lagi dia menggodaku dengan senyum khasnya. Aku pura-pura nggak mendengar selorohannya.

Sebenarnya aku lagi malas makan. Yang kuinginkan saat ini cuma pulang ke rumah dan tidur.

“Lagi nggak enak badan?” Tiba-tiba saja tangannya sudah menempel di keningku. Refleks aku mengerakkan kepalaku, menjauhkan tangannya dari keningku.
“Ehh… nggak kok, Mas. Cuma agak ngantuk,” Jawabku.
“Makannya bawa pulang aja ya?” Tanyanya. Aku menggeleng.
“Nggak apa-apa kok, Mas. Makan di sini aja. May nggak bakal ketiduran di sini kok,” Jawabku sambil tersenyum.
“Nggak apa-apa kalau pengen tidur juga. Nanti kan bisa Mas gendong,” Lagi-lagi dia menggodaku. Wajahku terasa memanas. Semoga dia tidak melihat perubahan wajahku.

Aku mengaduk teh hangatku dengan malas-malasan. Di kepalaku dipenuhi bermacam pikiran. Sesekali pandanganku beralih ke hadapanku, Mas Graha sedang makan dengan lahapnya. Aku tersenyum sendiri.
“Ada yang aneh?” Tiba-tiba saja Mas Graha berbicara disela makannya. Aku tersentak kaget, tapi kemudian pura-pura nggak perduli.
“Habisin dulu makannya, baru mandangin Mas,” Kata Mas Graha.
“Siapa juga yang mandangin Mas,” Kataku nggak mau kalah. Mas Graha cuma tertawa pelan.

Kenapa orang ini selalu membuat perasaanku bingung. Aku nggak mau mengakui kalau sebenarnya ada yang aneh dengan perasaanku setiap kali di dekat Mas Graha. Jatuh cinta?! Hei, nggak secepat itu. Banyak yang harus aku pertimbangkan sebelum memutuskan jatuh cinta dengan Mas Graha. Belum satu bulan aku putus dengan Dion, nggak semudah itu aku membuka hatiku untuk lelaki lain. Dan pertimbanganku bertambah jika orang itu adalah Mas Graha. Nggak ada yang salah dengan dia, yang menjadi masalah buatku cuma umurnya.

Seharusnya pulang tadi aku langsung terlelap tanpa memikirkan apapun. Tapi saat ini aku malah masih tetap terjaga dan ini sudah dini hari. Seharusnya nggak kubiarkan Mas Graha mempermainkan perasaanku seperti ini.
Tadi Mas Graha tiba-tiba memelukku tepat di depan rumahku pada saat mengantar aku pulang. Tanpa bicara apa-apa, tanpa menjelaskan apa maksudnya. Sebelum sempat bertanya, dia sudah bergegas pulang.

Jujur, aku shock dan berdebar-debar. Aku ingat perasaan seperti ini, seperti perasaan sedang jatuh cinta. Tidak, semoga kali ini aku salah. Kupejamkan mataku lagi, sosok Mas Graha malah seolah menari-nari di kelopak mataku. Aku benci dengan perasaan ini.

Handphoneku tiba-tiba bergetar pelan. Aku terdiam sesaat, layar handphoneku berkedip-kedip menampilkan nama Mas Graha.
“Halo,” Ragu, akhirnya kuangkat juga. Hening, nggak ada suara yang terdengar. Kulihat sekali lagi layar handphoneku, belum terputus.
“Mas, ada apa?” Panggilku. Masih nggak terdengar suara apapun.
“May belum tidur kan?” Suara Mas Graha terdengar pelan. Ini tidak seperti Mas Graha yang aku kenal.
Aku nggak tahu apa yang harus aku katakan. Apakah saat ini aku Masih boleh berbohong tentang perasaanku?
“Boleh keluar sebentar nggak? Mas Masih di depan rumah May nih,”

Tiba-tiba saja kakiku sudah melangkah keluar dari kamarku dan kemudian membuka pintu depan. Setelah melihat ternyata Mas Graha memang Masih di depan rumahku, perasaanku malah jadi berdebar-debar. Mas Graha memberi kode untuk Masuk ke dalam mobilnya.
“Dari tadi Mas belum pulang?” Tanyaku setelah meredam perasaanku yang semakin nggak karuan.

Mas Graha diam dan menatapku. Tiba-tiba tangannya sudah menggenggam tanganku. Rasanya seperti kehilangan nyawa untuk beberapa saat.
“I love you, May,” Bisiknya pelan.

Kali ini aku yang terdiam. Mas Graha tersenyum, melepaskan genggaman tangannya dan kemudian menyentuh anak rambutku pelan.
“Maaf ya, Mas sudah buat May bingung. May kembali tidur lagi ya, sudah malam,” Lama aku menatap Mas Graha.
“Kenapa, belum ngantuk ya?” Tanya Mas Graha. Aku masih terdiam.
“Mas nggak pengen tahu perasaan May?” Tanyaku akhirnya.
“Sudah tahu,” Jawabnya sambil tersenyum. Senyum yang selalu membuatku berdebar-debar. Kali ini aku nggak bisa berbohong lagi.

I wanna make you smile whenever you’re sad
Carry you around when your arthritis is bad
All I wanna do is grow old with you

I’ll get your medicine when your tummy aches
Build you a fire if the furnace breaks
Oh it could be so nice, growing old with you

(Adam Sandler – I Wanna Grow Old With You)

THE END

Cerpen Karangan: Eva Kurniasari
Blog: vadeliciouslife.blogspot.com

Cerpen Tiga Puluh Tujuh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mawar Dan Bulan

Oleh:
Pagi itu, Rahka berangkat menaiki angkutan umum menuju sekolah. Tempat yang sangat ia sukai, untuk menumpahkan isi hatinya setiap hari, kepada sahabat sahabatnya. “Rahka!!” Amar, sahabatnya memanggilnya di depan

Sepenggal Kenangan

Oleh:
Namaku, Giselle Trixiena. You can call me Giselle. Aku adalah seorang gadis yang beranjak dewasa. Lahir dari keluarga sederhana yang menginginkan kebahagian. Aku punya keluarga yang standard, sepasang orang

Posisi Sepihak

Oleh:
“Bil! Billy!,” panggil Riska saat melihat pandangan Billy berlari entah kemana. “Hmmmm?,” tanya Billy. “Lo kenapa? Galau?,” tanya Bram menebak. “Sotoy lo!,” jawab Billy dengan menghembuskan nafasnya santai. “Fel!

Cinta Bersemi Di Pramuka

Oleh:
“Nanda tunggu, pulang sekolah sekarang ngumpul pramuka kata Kak Nida, Ngumpulnya di kelas 8,” ucap seorang perempuan sambil memegang pundakku. “Oh iya Pril, Kan katanya jam 2 ngumpulnya, jam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *