Time

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 27 August 2016

“Felly! Lo masih di sini?!,” tanya Bram kaget saat melihat Felly masih terduduk serius dengan gitar yang ada di pangkuannya.
“Ya?!,” tanya Felly saat menyadari bahwa ruangan studio terbuka.
“Lo nggak tidur?!,” tanya Bram.
“Belom ngantuk,” jawabnya singkat dengan kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Fel, gue boleh nanya sesuatu nggak?,” tanya Bram dengan nada yang penuh dengan keraguan.
“Ya,” jawab Felly tanpa menatap Bram yang tengah menunggu jawaban yang sesungguhnya dari hati Felly.
“Apa, lo sayang sama gue?!”
Seketika Felly menghentikan gerakan jarinya untuk menulis lirik lagu dan juga notnya. Begitu juga dengan nafasnya. Tenggorokannyaa serasa tercekat. Sesak rasanya saat ia harus mendengar hal itu.
“Sayang?! Maksudnya?!,” tanya Felly dengan senyum simpulnya.
“Enggak jadi deh… Hehehehe… Sorry! Gue cabut dulu ya! Lu kalau tidur jangan malem-malem!,” pinta Bram meninggalkan ruangan itu.

Sejenak, Felly menghembuskan nafas beratnya. Menghempaskan tubuhnya ke kursi dan memijat tengkuknya yang terasa kaku saat Bram bertanya akan hal itu. Ia pun memejamkan matanya untuk merenungkan semuanya.

“Felly!,” panggil seseorang saat Felly tengah menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangan studio.
“Ya?!,” jawab Felly dengan menegakkan tubuhnya.
“Lo belum tidur juga?,” tanya Billy.
“Belum. Gue masih belum ngantuk! Lagipula, kalau gue nggak capek banget gue nggak akan bisa tidur Bil.”
Billy mendekat ke arah Felly. Ia berjalan ke arah belakang Felly. Kemudian, menyentuh pelipis Felly dan memijatnya perlahan. Felly sempat menghindar dan menepis tangannya. Akan tetapi, Billy bisa menahan akan hal itu.

“Gue yakin, setelah dapet relaksasi dari gue pasti besok bakalan bugar buat latihan dan mata pelajaran di kelas.”
“Hahahaha… iya juga sih… Jago juga lu kalau masalah begini.”
“Iyalah. Billy gitu!”
Felly pun membalikkan kepalanya. Menatap menengadah ke arah Billy yang lebih tinggi darinya.
“Apa?”
“Gue boleh nanya sesuatu nggak?”
“Apaan? Tumben banget lo!”
“Menurut lo, gue orangnya gimana?”
Sejenak, Billy terdiam. Kemudian, ia berjalan untuk menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Felly. Menatap Felly dengan serius. Begitu juga Felly yang terus mengharapkan jawaban sesungguhnya dari Billy.
“Lo orangnya egois banget! Keras! Dan nggak bisa terbantahkan! Tapi satu yang gue tahu dari lo! Lo itu penyayang. Sekeras apapun lo marah ke orang, lo nggak akan pernah bisa membencinya. Semua kelembutan lo tertutupi dengan dinginnya diri lo!”
“Lo tahu nggak arti teman itu apa?”
“Bagi gue sih, teman itu adalah segalanya. Dia akan tetap setia dimanapun dan apapun kondisi kita. Selalu bersama meski berjauhan. Yah… begitulah! Tumben sih lo nanyanya begitu?!”
“Karena gue membenci persahabatan.”
“Termasuk Pro Techno?”
“Yah! Sahabat itu penuh dengan rasa iri. Dan, membuat gue gila.”
“Hahahaha. Karena lo belum pernah merasakan apa itu sahabat yang sesungguhnya. Dan satu yang membuat lo membenci sahabat!,” ucap Billy dengan menunjukkan dada Felly.
“Jikalau lo udah menemukan semua itu! Lo akan tahu apa itu sahabat!,” kata Billy dengan meninggalkan Felly yang masih merenungkan semua perkataan Billy dan Bram.

“Gue sayang sama lo! Gue harap, gue bisa menjadi lebih dari sekedar sahabat! Emang sih, ini nggak seromantis itu. Tapi, gue hanya ingin menyayangi lo dengan kebebasan. Bukan terbatas!,” ucap Bram saat band Pro Techno telah bubar dari latihannya.
“Lo bisa menyayangi gue! Tapi gue hanya bisa menganggap lo sebagai sahabat. Maaf…”
“Apakah hal itu termasuk dengan posisi Arka yang sekarang?”
“Yah… hanya nama saja yang sedikit berbeda. Gue sangat menyayangi lo! Tapi, tidak untuk mencintai lo! Saat kita menyayangi seseorang, belum tentu kita mencintai orang itu. Akan tetapi, apabila kita mencintai seseorang kita sudah tentu menyayangi orang itu. Itulah cara kerja kehidupan. Hanya waktu dan takdir yang bisa mengubah segalanya!,” ucap Felly dengan meninggalkan Bram yang masih mencerna ucapan Felly.

Pohon begitu rindang. Udara begitu sejuk. Angin yang semilir menyambut kedatangannya. Menyapa langkahnya dengan irama kicauan burung sekitar. Dan juga, semerbak bau harum dari bunga-bunga yang ada. Felly terdiam dalam bisu di taman itu. Merenungkan akan semua yang telah terjadi. Ia masih tidak menyangka dengan adanya persahabatan.
Jika memang sahabat bisa menyayangi, mengapa juga harus ada cinta di dalamnya yang membuat hati terasa begitu membungungkan? Bahkan, terasa begitu asing dengan adanya hal itu.

“Ikutilah kata hatimu!,” ucap seseorang dari belakang.
“Arka!,” gumam Felly saat mengetahui orang itu.
“Apa kau tahu?!”
Arka mengangguk. Kemudian, memegang bahu Felly dengan lembut.
“Apabila kau mencintai dia. Maka, tinggalkanlah aku. Bagaimanapun juga, aku tidak ingin kau masuk ke dalam jeruji besi hatiku. Begiku, cinta adalah sebuah pelajaran. Dimana kita harus saling membahagiakan. Bukan berarti aku membuangmu. Tapi, itulah caraku mencintaimu.”
“Semua ini terasa begitu berat. Akan tetapi, setidaknya terasa tenang saat aku bisa berbicara jujur mengenai persahabatanku dengan Bram. Arka, kau tahu aku begitu gila saat aku memikirkan hal ini. Tapi aku tahu saat hatimu mulai berbicara. Aku tidak bisa hidup di tengah laut tanpa harus memilih salah satu perahu yang siap menampungku. Aku merasa, aku bisa bernafas saat bersamamu. Aku juga merasa seperti bayi saat mengingat suaramu. Kau tahu, bayi itu tidak mengenal masalah dan juga dosa. Itulah mengapa aku memilihmu. Kau sahabatku. Karena kau selalu ada di sisiku dengan cinta. Tapi berbeda dengan Bram. Dia berada di sisiku dengan kasih sayang. Hanyalah sedikit kesalahan saat ia mengatakan cinta. Semua itu renkarnasi dari kasihan saat ia harus melihat aku sendiri selama kau pergi ke New York! Mengingat, aku tidak pernah sendiri.”

Arka pun tersenyum dengan merengkuh pundak Felly. Merapatkan kepla Felly di tekukan tengkuknya. Membelai lembut rambut Felly dengan mengingat kisah upaya mereka dengan berbagai kesulitan. Hingga semua terasa begitu menarik, dan juga spesial meski tercipta dengan sederhana dan tak semegah sahabat. Namun, spesialnya tidak akan pernah mengalahkan kisah dengan seorang sahabat. Sahabat dan juga sahabat spesial. Satu kesatuan, dengan makna yang berbeda. Itulah nyatanya. Dan waktu, akan bertindak setelah takdir menyuruhnya.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen Time merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tia ku

Oleh:
Langit Jakarta sore ini tampak menguning, tapi tak seperti kuningnya daun yang menua. Mentari pun sudah terlalu lelah setelah seharian bercokol di atas langit. Ranum senja yang kini menyamarkan

Cinta di Bawah Rimbun Bambu

Oleh:
3 tahun yang lalu aku siska gadis malang yang selalu diledekin temen-temen karena tak mengerti artinya cinta, yang serta cuek akan hadirnya cowok. Karena buatku cinta hanya akan membuat

Malam Yang Indah

Oleh:
“Rara bangun!” teriak mama. “Iya aku sudah bangun,” jawabku. Segera aku menuruni tangga untuk sarapan. Hai namaku Rara Restiara aku mempunyai sahabat bernama Riri dan Risa mereka adalah sahabat

Diam Diam Naksir

Oleh:
Aku udah lama banget kenal sama dia, tapi anehnya aku sama dia gak pernah ngobrol satu sama lain. Kita ngobrol cuma sekali waktu masa orientasi siswa. Saat itu aku

Awal Ku Mengenal Cinta

Oleh:
Awal pertama aku menjadi anak SMP aku beserta teman-temanku yang lain melanjutkan ke sekolahan yang berbeda-beda, ada yang di SMP negeri, swasta dan ada juga yang di madrasah tsanawiyah.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *