Titania’s Life (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 5 April 2016

Daffa yang kesal diacuhkan oleh Titan segera menarik tangan Titan, sekarang mereka saling berhadapan. Tapi pandangan Titan tertunduk. “Kamu kenapa?” Tanya Daffa. Titan tak menjawab pertanyaan Daffa. Wajah Titan tertutup oleh rambutnya yang sedari tadi terurai. Daffa menyadari kalau ada yang tidak beres, Titan tidak menatap wajahnya. Daffa memeluk Titan, “Kamu kenapa sih?” Kata Daffa.
“Kamu jahat.” Kata Titan, sekarang amarahnya mereda, tapi tangisnya pecah. Daffa yakin kalau kini Titan menangis.

“Kok kamu nangis?” Tanya Daffa.
“Aku nggak nangis kok.” Ucap Titan, sambil terisak-isak.
“Kasih aku alesan kamu nangis, biar aku ngerti.” Kata Daffa.
Di dalam hati Titan hanya merutuki dirinya, kenapa dirinya harus nangis di depan Daffa, ini sebuah kebodohan.
“Aaa..kkkuuu.” Ucap Titan terbata-bata.
“Udah kamu nggak usah ngomong, kalau dengan ngomong kamu semakin sedih.” Kata Daffa dengan halus dan lembut.
“Kamu cemburu kan, karena aku berdua sama perempuan tadi.” Kata Daffa.

Di dalam hati Titan tidak bisa mengelak tentang perkataan Daffa.
“Kamu nggak usah cemburu, dia itu cuma temen aku. Dia temen lama aku, dia temen yang udah lama nggak aku temuin. Tapi sekarang baru bisa ketemu, dan sebenernya aku tadi udah nge-line kamu supaya dateng ke tempat tadi. Tapi kamu nggak nge-read. Dan yang perlu kamu tahu, sebenernya juga perempuan itu juga lagi nunggu pacarnya. Jadi kamu nggak perlu cemburu.” Kata Daffa, menjelaskan semuanya ke Titan. Perempuan itu adalah Nora, mantan pacar pertama Daffa, tapi sekarang Daffa tidak ada rasa kepadanya.

“Kamu jujur kan? Kamu nggak bohong kan?” Kata Titan. Sekarang Daffa melepas pelukannya, lalu kedua tangannya menangkup wajah Titan.
“Kamu lihat mata aku, aku nggak bohong. Kenapa kamu nggak periksa ponsel kamu. Kenapa sih kamu tiba-tiba kayak gini?” Kata Daffa, seraya mengusap air mata Titan.
“Tadi… Cerry…” Kata Titan terputus-putus.
“Kamu ketemu Cerry? Dia bilang apa sama kamu?” Kata Daffa.
“Ngomong…” Kata Titan, dia bingung harus bicara apa ke Daffa, dia malu harus bilang kalau dia termakan omongan Cerry dan cemburu saat melihat Daffa dengan perempuan lain.

“Kamu nggak usah ndengerin omongan Cerry, aku sama dia udah putus, dan aku dulu emang berniat mutusin dia, mungkin saat kamu lihat dia nampar aku, kamu bakal berasumsi kalau aku yang buat dia kecewa, tapi sebenernya dia yang udah buat kecewa. Aku udah tahu kalau dia selingkuh di belakangku.” Kata Daffa.
Titan hanya termenung. “Kamu harus percaya sama aku. Yang ada di hatiku kini cuma Titan.” Kata Daffa. Daffa mengantar Titan sampai ke rumahnya.

“Kamu balik lagi ke cafe tadi?” tanya Titan.
“Iya, kan mobil aku ada di situ. Lagian kamu pake acara lari segala sih.” Kata Daffa.
“Oh, ya udah. Aku masuk dulu ya.” Kata Titan.
“Iya, kamu masuk dulu, nanti aku baru pergi.” Kata Daffa.
“Good Night.” Ucap Titan.
“Night too.” Kata Daffa.

Titan berjalan masuk ke dalam rumah, tapi baru beberapa langkah dia berhenti. Ia berbalik dan berlari menuju Daffa. Titan memeluk Daffa, “Daff, aku cinta sama kamu. Entah kenapa aku ngerasain sakit tadi.” Kata Titan. Daffa hanya tersenyum dan membalas pelukan Titan, “Aku juga cinta sama kamu, kamu nggak perlu khawatir. Aku nggak bakal ninggalin kamu.” Kata Daffa. Titan melepas pelukannya, dan mengulurkan jari kelingkingnya, “Janji.” Kata Titan.

“Janji.” Kata Daffa, sambil mengaitkan jari kelingkingnya.
“Aku masuk ya, kamu langsung pulang. Jangan pulang malem-malem.” Kata Titan.
“Iya, iya, tenang aja. Aku ambil mobil terus pulang.” Kata Daffa.
Titan masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang senang.

“Kak Vino.” Pekik Titan.
“Habis dari mana Tan?” Tanya Vino.
“Dari beli ini.” Kata Titan sambil menunjukkan belanjaannya.
“Cokelat? Entar kamu gendut loh.” Kata Vino.
“Ah Kakak bisa aja. Kakak mau cari Mama?” Tanya Titan.
“Mama nggak ada, tadi sih Kakak mau kasih ini ke Mama.” Kata Vino.

“Kasih apaan?” Kata Titan.
“Kasih undangan pertunangan Papa sama Tante Angel.” Kata Kak Vino.
“Papa mau tunangan!” Pekik Titan.
“Iya.” Kata Kak Vino.
“Kok Kakak ngebolehin gitu aja. Kita kan udah janji bakal nyatuin Papa sama Mama kembali.” Kata Titan.
“Kakak nggak bisa ngelakuin itu, ini masalah hati. Besok kamu sama Mama dateng ya.” Kata Kak Vino.
“Iya deh Kak, kalau aku mau.” Kata Titan.
Titan masuk ke dalam kamar, dia sangat kecewa kepada papanya, kenapa papa mau menikah dengan orang lain. Kenapa keluarganya harus terpecah.
Ponsel Titan berbunyi. “Daffa.” Ucapnya lirih.

“Hai sayang. Aku udah sampai rumah nih.” Ucap Daffa.
“Beneran? Kok cepet.” Kata Titan.
“Aku kan ngebut tadi. Biar bisa ngehubungin kamu.” Kata Daffa.
“Oh.” Kata Titan, dengan cuek.
“Kamu kok kayaknya lagi badmood?” Tanya Daffa.
“Aku lagi kesel nih.” Kata Titan.
“Kesel kenapa cerita aja.” Kata Daffa.
“Papa aku mau tunangan besok.” Kata Titan.

“Oh ya? Masa sih, kok sama kayak Mama aku. Mama aku juga mau tunangan.” Kata Daffa.
“Kok bisa samaan sih. Kamu bercanda ya?” Kata Titan.
“Iya beneran, tapi aku belum nanya sama siapa. Mama aku lagi sibuk.” Kata Daffa.
“Mama kamu siapa namanya?” kata Titan.
“Yang mau nikah itu?” Kata Daffa.
“Iyalah, emang siapa lagi.” Kata Titan.
“Angel.” Deg.. jantung Titan serasa berhenti, waktu yang sama dengan nama yang sama, berarti papanya akan menikah dengan mamanya Daffa, yang sekarang menjadi pacarnya.

“Tan, kamu masih di situ kan?” Tanya Daffa.
“Daf, aku dipanggil Kak Vino nih. Aku tutup ya teleponnya.” Kata Titan.
Titan segera mengakhiri panggilan tersebut, lalu menjatuhkan tubuhnya di kasur, air matanya tumpah.
“Kalau Papa akan menikah dengan Mamanya Daffa berarti aku sama Daffa bakal jadi saudaraan dong.” Ucapnya.
“Aku nggak mau ini terjadi.” Kata Titan, mungkin ini egois tapi hatinya mengatakan tidak boleh. Papanya hanya boleh menikah dengan mamanya lagi, dan Daffa tidak boleh menjadi saudara tirinya. Ditengah kesedihannya Titan terlelap tidur.

“Semuanya akan baik-baik saja, yakin dan percaya.”

Keesokan harinya, di hari Minggu pagi. Dengan mata yang sembab, bekas tangisan semalam. Titan terbangun dan bergegas mandi. Dengan memakai baju panjang berwarna cokelat dan celana jeans dengan sneaker yang ia gunakan, ia berniat untuk menemui papanya.

“Kamu mau ke mana sayang?” Kata Mamanya.
“Mau ke rumah Papa.” Ucap Titan.
“Mau ngapain ke sana?” tanya mamanya.
“Ada urusan Ma.” Ucap Titan.
“Kan acaranya nanti malem.” Kata mamanya.
“Berarti Mama udah tahu tentang pertunangan Papa? Kok Mama diem aja? Mama udah nggak cinta sama Papa?” Kata Titan.
“Titan, kita kan udah pernah bahas ini. Mama sama Papa kamu udah cerai, dan kalau Papa kamu menemukan orang lain untuk menjadi pendampingnya, itu hak Papa kamu. Kamu harus ngerti sayang.” Kata Mamanya.

“Tapi Ma, Titan nggak mau kalau ada orang lain yang gantiin posisi Mama. Cukup Mama yang jadi Mamanya Titan, nggak boleh ada yang lain. Titan benci Papa.” Kata Titan.
Tanpa mendengar ucapan Mamanya, Titan pergi menuju garasi, mobil alphard merah yang jarang ia pakai kini sudah menyala deru mesinnya, Titan bertekad untuk menyambangi rumah papanya. Sekitar 15 menit perjalanan, rumah papanya sudah dapat dilihat Titan. “Papa nggak boleh nikah kalau bukan sama Mama.” Batin Titan. Titan melihat rumah papanya sudah mulai dihias, bunga mawar merah dan bunga krisan ada di mana-mana.

“Titan kamu udah dateng?” Kata papanya.
“Papa, aku nggak mau ini terjadi.” Kata Titan to the point.
“Mama kamu yang nyuruh kamu ke sini?” Kata Papanya.
“Bukan, ini bukan dari Mama. Titan nggak akan setuju kalau Papa menikah sama orang lain.” Kata Titan.
“Titan, kamu harus ngerti dong. Papa sama Mama udah cerai. Jadi ini adalah keputusan Papa. Papa akan lanjutkan pernikahan ini dengan atau tanpa persetujuan kamu, tapi Papa bakal seneng kalau kamu setuju.” Kata Papanya.

“Tapi Pa…” Kata Titan sekarang air matanya menetes, membasahi pipinya.
“Kamu dateng nanti malam, saat ini Papa masih ada urusan.” Kata Papa.
“Apa Papa nggak bisa kembali sama Mama? Apa Papa lupa rasa jatuh cinta yang Papa rasain, saat pertama kali jatuh cinta sama Mama? Apa Papa bener-bener udah nggak cinta sama Mama?” Kata-kata Titan membuat ayahnya tercekat. “Titan akan bahagia kalau Papa bahagia, tapi Titan akan bahagia kalau keluarga kita kembali utuh seperti dulu.” Kata Titan.

Papanya hanya terdiam lalu pergi meninggalkan Titan, kak Vino yang sedari tadi menguping hanya diam tak bicara. Titan melihat kakaknya di anak tangga. Lalu Titan pergi tanpa berkata. Malam itu Titan mengasingkan diri di dekat jembatan, namanya Aster Bridge. Di sana Titan hanya duduk sambil melempar kerikil ke arah sungai di bawahnya. Suasana sepi dan langit malam tanpa bintang. Titan hanya ingin hari ini bisa terlewati dengan baik. Sarah dan Vio teman dekatnya tidak ia berikan kabar, mereka pasti sibuk mengurus bazar yang diadakan besok, juga Daffa yang pasti datang ke acara pertunangan mamanya. Masalah hidup Titan cukup complicated, dia merasa Tuhan memberinya kebahagiaan yang semu. Semuanya sirna, dan sekarang hanya tersisa bekasnya. Titan membuka ponselnya. Ada pesan dari Daffa.

“Titan, kamu di mana?” isi pesan Daffa.
Ingin sekali membalas pesan dari Daffa, ingin sekali bertemu dengan Daffa.
Akhirnya Titan mengirim pesan, “Di Aster Bridge.” Daffa hanya menge-read nya. Tak lama ada cahaya lampu mobil yang menghampiri Titan.

“Daffa?” Kata Titan.
“Ngapain di sini?” Tanya Daffa.
“Nggak tahu, pengen sendiri aja.” Kata Titan.
“Ayo pulang.” Kata Daffa.
Titan hanya diam tak berkutik, lalu Daffa ke luar dari mobil dan menggendong Titan sampai ke dekat pintu mobil. Daffa menurunkan Titan lalu membukakan pintu mobil, “Masuk.” Kata Daffa.

Titan hanya diam sambil masuk ke dalam mobil. Di perjalanan hanya ada keheningan, dan Titan sadar kalau Daffa membawanya ke rumah papanya.
“Daf, ini kan rumah Papa?” Kata Titan.
“Emang iya, kan ada acara di sini.” Kata Daffa.
“Balik aja yuk, aku males ke sini.” Kata Titan.
“Kamu nggak mau ngerayain hari spesial ini.” Kata Daffa.
“Aku males, pulang aja yuk.” Kata Titan.

Tepat di rumah papanya, Daffa membukakan pintu mobil dan mengajak Titan masuk. Ada yang aneh di pesta pertunangan ini, kenapa tidak ada tamu yang hadir dan terasa sepi meski ada mobil di luar. Di dalam rumah hanya gelap tak ada cahaya, lampunya dimatikan. “Kok gelap ya Daf.” Kata Titan.

“Kejutan.” Teriak semua orang yang ada di sana. Titan melihat ada banyak orang dengan gaun pesta di sana, ada Sarah dan Vio, ada teman-teman kelas, ada papa dan mama, ada kak Vino. Ada banyak orang di sana tapi tidak ada teman kerja papanya, “Ini acara apa sih?” Tanya Titan.
“Inikan hari ulang tahun kamu sayang.” Kata Daffa sambil merangkul pundak Titan, dan membawanya ke depan kue ulang tahunnya.
“Ini tanggal berapa sih?” Tanya Titan lagi.
“Ini 12 Maret. Kamu lupa sama ulang tahun kamu sendiri?” Tanya Sarah.

“Jadi kalian pada ngerjain aku ya?” Kata Titan.
“Ini surprise, kamu seneng kan?” Kata Vio.
“Ini ngeselin banget. Kamu juga ikut-ikutan ngerjain aku ya?” Kata Titan.
“Iya dong, aku kan mau kasih hadiah ke kamu.” Kata Daffa.
“Ayo tiup lilinnya sayang.” Kata Mamanya.
“Iya Ma.” Kata Titan.
“Make a wish dulu.” Kata Kak Vino.
Setelah mengucapkan permintaan Titan meniup lilin itu, lalu memotong kue. Bagian pertama ia berikan kepada mamanya, kedua papanya, dan yang ketiga untuk Daffa.

“Tan, buat aku dulu dong, Daffa harusnya setelah aku.” Kata Kak Vino.
“Hayo loh Tan, Kak Vino ngambek.” Kata Sarah.
“Kak Vino kalau ngambek makin unyu.” Kata Vio.
“Inget pacar Vi.” Kata Sarah.
“Iya, iya Kak.” Kata Titan, mengambil kue yang telah ia berikan ke Daffa.
“Yah masa kuenya diambil lagi.” Kata Daffa.
“Kalau Kak Vino ngambek entar aku bisa gawat.” Kata Titan.
“Oke, kalau aku yang ngambek berarti nggak apa-apa ya.” Kata Daffa.
“Nggak apa-apa cuma Daffa ini.” Kata Titan.

Pesta itu berlangsung sampai pukul 9 malam, teman-teman yang datang sudah berpamitan untuk pulang.
“Aku pulang dulu ya, selamat ya, kamu makin tua Tan.” Kata Sarah.
“Bisa aja Sar, kamu lebih tua dari aku.” Kata Titan.
“Aku juga mau pulang dulu, kamu semoga langgeng ya sama Daffa.” Kata Vio.
“Hati-hati di jalan ya.” Kata Titan.
Semua orang sudah pulang, sekarang hanya Kak Vino, papa, mama, dan Daffa.
“Kamu nggak pulang Daf?” Tanya Titan.
“Nggak ah, aku ngambek sama kamu.” Kata Daffa.
“Dih gara-gara ngambek gak mau pulang.” Kata Titan.
“Aku mau kasih kamu sesuatu.” Kata Daffa.

“Kasih apa?” Tanya Titan.
“Ini.” Kata Daffa. Sambil mengambil kotak kecil dari sakunya.
Sebuah cincin bermata berlian, “Kamu nggak perlu beli kayak gini Daf.” Kata Titan.
“Emang kenapa? Kamu nggak suka?” Kata Daffa.
“Ini terlalu glamour, aku males pake kayak begini.” Kata Titan.
“Oke, besok aku ganti sama cincin kawat. Sekarang kamu pake yang ada dulu.” Kata Daffa.
“Pakein.” Kata Titan.

Daffa memakaikan cincin tersebut di jari manis Titan.
“Pas di tangan kamu kok. Pake aja yang ini, jangan di lepas.” Kata Daffa.
“Asyik-asyik, Titan dapet hadiah, entar bagi hasil ya dek.” Kata Kak Vino.
“Entar kita jual Kak.” Kata Titan.
“Awas aja, sampe dijual. Nggak bakal beliin lagi.” Kata Daffa.
“Daf, aku kan juga pengen.” Kata Kak Vino.
“Pengen apa Kak? Masa cowok pake cincin.” Kata Daffa.
“Pengen bisa makein cincin ke cewek yang aku cintai.” Kata Kak Vino.
Semuanya tertawa mendengar kata kata Vino.

“Makanya cari pacar.” Kata papa.
“Nggak ada yang mau sama Kak Vino Pa.” kata Titan.
“Jomblo Kak.” Kata Daffa.
“Ma, aku dicariin pacar dong.” Kata Kak Vino.
“Besok, Mama cariin di mall.” Kata Mamanya.
“Kak Vino pacarnya anak mall.” Kata Titan.
Kebahagiaan yang menyelimuti keluarga Titan sekarang terasa, Titan mengucapkan syukur dengan senyuman dan tawanya. Tuhan telah memberikan kebahagiaan yang sangat diimpikannya.

The End

Cerpen Karangan: Almira Zahra
Facebook: Almira Zahra
My name Almira Zahra, i like imagination and write a story.

Cerpen Titania’s Life (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ada Cinta di Bis Kota

Oleh:
Pagi ini aku buru-buru berangkat sekolah. Aku hampir lupa kalau hari ini ada jam tambahan pelajaran pagi. Yups, aku sekarang kelas XII SMA dan wajib mengikuti jam tambahan pagi.

Dia Yang Tidak Bisa Aku Lupakan

Oleh:
Menurutku ungkapan cinta tidak harus memiliki itu benar, seperti itulah yang aku rasakan. Ada seorang pria yang sangat aku kagumi dia bernama Radit. Rasaku itu bermula ketika ada suatu

Dandelion Lain

Oleh:
Di tepi bukit sana, di antara jalan setapak yang berhiaskan bebatuan kecil berwarna pekat, terhampar padang ilalang. Di sanalah aku sering menghabiskan waktu. Sejenak, membiarkan ambu sendiri di gubuk.

Ternyata Itu Bukan Salah Ayah

Oleh:
Reysha, gadis berumur 17 tahun itu harus bekerja agar ia bisa bertahan hidup. Di rumahnya ia hanya hidup berdua dengan ibunya. “Haaahhgt…!! ini semua salah ayah..! karena ayah ibu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *