True Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Perpisahan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 June 2016

Hai. Namaku Khoirul Nissa. Kalian bisa panggil aku Nissa. Aku adalah siswi dari salah satu SMA swasta di Tuban. Aku adalah seseorang yang pandai (menurut teman-temanku). Aku juga baik hati dan suka menolong. Aku paling jago di bidang mapel Bahasa Indonesia. Hobiku yang lain adalah menulis cerita dan mengedit sesuatu seperti foto atau video. Saat ini aku juga merasakan yang namanya cinta. Semua anak yang sudah puber pasti mengalami masa masa ini. benih benih cintaku tumbuh pada seseorang yang dekat denganku.

Saat itu aku sedang di kelas bersama temanku, Nabila. Dia adalah teman baikku. Dulu, sebelum pindah ke Tuban, aku susah punya teman. Tapi setelah ada dia hari hariku mulai ceria.
“Eh nab, hari ini ada PR apa ya?”
“gak ada PR kok Nis. Paling Cuma suruh ngerjain tugas PPKN yang merangkum halaman 45-50”
“oooh… ok deh…”
Setelah di sekolah yang cukup panjang, akhirnya aku pulang. Di rumah aku melihat banyak barang dikemasi. Aku pun bingung dan langsung bertanya kepada ayah
“Ayah ada apa ini?”
“oh.. kita akan pindah ke rumah baru sayang”
“ha… pindah rumah?! berarti aku pindah sekolah donk?”
“oh engga kok. Kita Cuma mau pindah aja. tapi sekolahmu tidak pindah. Soalnya kita udah dapat rumah. Kita kan disini mengontrak”
“oh…”
Aku hanya bisa ber ohh panjang. Syukurlah kalau begitu. Kalau pindah sekolah pasti ribet. Apalagi harus berpisah dengan sahabatku, Nabila. Setelah itu aku berkemas dan siap pergi ke rumah baruku yeey.. aku akan pindah ke Perumahan Permata Bonang. Setelah aku lihat rumahnya, rumahnya jauh lebih bagus dan lebih luas dari kontrakkanku yang dulu. Aku senang sekali. Tetapi, Aku harus beradaptasi dengan lingkungan disini. uuuh… menyebalkan. Apalagi aku tak punya adik. Pasti bakal kesepian.

Hari sudah malam. Waktu tidur. Keesokkan harinya, aku terbangun seperti biasa. Lalu aku mandi, sarapan dan berangkat ke sekolah. Lalu aku langsung bertemu dengan Nabila dan menceritakan bahwa aku sudah pindah rumah
“Apa?? kamu pindah rumah?! dimana?”
“Aku pindah di perbon kok. Aku harus beradaptasi lagi disana uh.. menyebalkan. Aku kan bukan orang yang pandai bergaul.”
“ya… mau diapakan lagi. Sudah takdir..”
“ya sudah”

Setelah curhat ke Nabila, aku jadi merasa lega. Meskipun aku jadi gak fokus ke pelajaran. Hari telah usai. Semua siswa berhamburan ke luar kelas. Aku tinggal menunggu jemputanku datang. Setelah sampai rumah, aku langsung makan siang dan mengerjakan PR. Sorenya aku sempatkan untuk berjalan jalan keliling Perumahan. Dan tiba tiba aku menabrak seseorang.
“Aduh auw.. sakit” kataku sambil meringis.
“Kau tak apa apa?” tanya lelaki itu
“aku tak apa. Oh ya namamu siapa?
“oh ya perkenalkan namaku Dika Amrullah. Panggil aku Dika saja. Aku tak pernah tau dirimu. Namamu siapa? pasti warga baru disini ya.”
“Eh iya. Benar. Namaku Khoirul Nissa. Bisa panggil aku Nissa aja. Aku tinggal di sana blok paling ujung.”
“oh disitu hmm… kalau aku tinggal sekitar 3 rumah dari rumahmu. Oh ya kamu sekolah dimana? kalau aku sekolah di SMA Islam Tuban.”
“oh aku juga bersekolah disana. Kamu kelas berapa? kalau aku kelas 10 B”
“aku kelas 11 D kelas kita jauh jadi aku gak pernah ketemu kamu. Kamu islam ya?”
“iya aku islam. Kamu juga ya?”
“iya”
“oh sudah dulu ya. Aku mau pulang. Sampai ketemu lagi Mas Dika”
“Iya Nissa”
Aku sangat senang sekali. Entah mengapa hatiku jadi berbunga bunga. Mungkin kaerna dapet teman baru kali ya Tapi dia itu orangnya baik sekali.

keesokan harinya aku menceritakan itu kepada Nabila
“Wah.. selamat ya udah dapat teman baru. Laki laki lagi bisa kamu gebet tuh.”
“ah.. Nabila bisa saja kau ini. jadi malu ah…”
Setelah berbincang ria dengan Nabila, kami pun pergi ke kantin karena sudah jam istirahat. Disana aku melihat Mas Dika sedang makan mie ayam bersama teman temannya. Aku ingin memanggilnya tapi sungkan. Setelah makan, aku pun pergi kelas. Setelah pelajaran yang sangat panjang, apalagi pelajaran IPS yang bikin aku pengen tidur. Akhirnya aku pulang. Setelah itu, aku belajar untuk ulangan besok. Yaitu IPA. Ini juga pelajaran favoritku. Setelah itu, aku pergi keluar dan duduk di bangku taman. Aku sudah janjian sama Mas Dika. Setelah itu, Mas Dika datang sambil membawa bola sepak. Aku bermain bersamannya. Aku senang sekali. Bermain di taman sambil bercanda ria. Tetapi, di hatiku sedikit deg degan. Pasalnya, aku belum pernah sedekat ini dengan seseorang selain orangtuaku. Lalu aku bertanya…
“Mas, kamu sudah punya pacar belum?”
Sontak, mas Dika kaget. Tapi tetap menjawab…
“belum, aku belum punya pacar. Emang kenapa?”
“Oh gak apa apa.” Jawabku.
Lalu aku berpikir dan bertanya kepada hatiku. Apakah aku menyukainya. Tapi… ah tidak mungkin. Lalu aku diajarkan IPA oleh Mas Dika. Ternyata dia ranking 2 di kelas loh hebat. Setelah itu aku pamit pulang.

Tak terasa sudah semesteran. Aku telah mengikuti PAS atau Penilaian Akhir Semester. Lalu aku segera ke mading bersama Nabila lalu…
“Eh Nis selamat ya. Kamu di urutan ke 1 Paralelnya. Hebat.”
“Wah.. iya Alhamdulillah. Kamu paralelnya ranking berapa?”
“yah jauhlah darimu. Aku di urutan ke 11. Kamu hebat loh. Dari 240 anak, kamu bisa yang pertama hebat.
“Hehehe… trims pujiannya. Kamu juga hebat kok.”

Setelah itu aku ke mading kelas 11 tanpa diketahui oleh Nabila. Lalu aku mencari yang namanya Dika Amrullah. Ternyata dia diurutan ke 3 Paralelnya. Nanti akan aku beri selamat ah.. batinku seperti itu. Hari ini juga ada pembagian rapot. Dan Alhamdulillah aku banyak dipuji oleh temanku dan guruku. Soalnya hanya aku dan Siska, temanku yang lain masuk 10 besar parallel. Siska berada di urutan ke 8. Setelah ambil rapot, aku pun pulang dan bebas. Besok dan seterusnya akan libur. Yeey… aku libur selama 1 bulan. Panjang ya. Setelah itu aku pulang. Sorenya aku ketemu Mas Dika dan mengucapkan…
“cie… selamat ya ranking 3 Paralel”
“eh iya… kamu juga ya.. selamat Ranking 1 Paralel,”
“iya mas. Sama sama”
“oh ya, keluarga kita berencana untuk liburan bareng loh..”
“oh ya? wah asyik donk.”
“kita akan pergi 2 hari lagi. Pertama kita ke WBL. Abis itu kita pergi ke kampung halamanku di Sidoarjo. Soalnya nanti aku kuliah disana juga. jadi saat aku kuliah, kamu bisa menemuiku di rumah nenenkku. Tapi kamu di rumah nenekku hanya sebentar karena kamu akan langsung pergi ke Jakarta.”
“oooo…” aku hanya berooh ria.
Tapi tunggu. Kenapa dia membolehkan aku ke rumah neneknya dan mengunjunginnya saat kuliah? apakah dia suka sama aku? karena aku setiap sore selalu bermain dan belajar bareng dengannya. Sampai liburan bareng segala? aneh.. sungguh aneh. Tapi aku tetap senang kita liburan bareng yuhuuy

Hari ini hari yang ditunggu tunggu. Aku, Mas Dika, dan keluarga kami liburan bareng. Pertama, kami ke WBL. Kami pisah mobil. Aku dan keluargaku pakai mobil sendiri, dia juga pakai mobil sendiri. Setelah sampai, aku, Mas Dika, dan keluarga kami pergi membeli tiket. Setelah membeli tiket kami pun masuk wahana yang ada di dalamnya. Mulai dari bom bomcar, rumah kaca, dan rumah sakit hantu kami pun masuk (meskipun aku sangat takut-_-) saat masuk tiba tiba ada pocong di depanku seketika aku berteriak
“aaaaaahhhh…”
Sambil memeluk orang disampingku yang ternyata Mas Dika. Hatiku berdegup kencang, rasanya mau pingsan. Setelah ke luar aku langsung minta maaf sama mas Dika
“Maaf mas, tadi aku memegangmu gak sengaja kok.”
“iya udah gak papa kok. Kamu kan tadi ketakutan.”
“iya mas, terima kasih”
“sama sama”
Setelah memasuki semua wahana, kini tiba saatnya berenang. Yuhuuy, berenang itu paling asyik loh apalagi ramai ramai. Pasti seru. Setelah ganti baju renang, kami pun bermain bersama. Meskipun di WBL kolamnya untuk anak kecil, tapi kami suka kok. Aku bercanda ria bersamanya. Rasanya hari ini bahagia banget bersama dia. Tak akan kulupakan waktu ini saat saat bersamanya. Setelah renang, kami pun ganti baju dan berkemas untuk melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini kerumah neneknya Mas Dika di Sidoarjo. Kami menempuh perjalanan yang jauh. Setelah sampai di rumah neneknya, aku pun bersalaman dengan keluarganya. Rasanya senang disini. Mempunyai saudara banyak. Setelah puas disana, kami pun berpamitan dan akan langsung ke Jakarta. Lalu akupun berpamitan dengan Mas Dika
“Sampai jumpa lagi ya Mas Dika. Assalamualaikum”
“iya Nissa waalaikumsalam hati hati ya dijalan”
“iya”
Rasanya dipesenin mas Dika “hati hati ya di jalan” aku seneng banget. Kayaknya aku mulai suka kepadanya. Tetapi mungkin dia tak suka padaku mungkin aku ya yang terlalu geer.

2 hari kemudian aku sampai di Jakarta. Jakarta tidak pernah berubah. Selalu seperti ini saja. Macet, panas, semrawut, lingkungan kumuh, dan sebagainya. Liburan di jakarta sangatlah seru.

Dan sampailah hari ini hari raya, aku berkeliling kampung untuk minta maaf kepada sanak saudara. Setelah itu aku langsung pulang ke Tuban. Setelah sampai di Tuban, aku langsung tidur karena aku sangat mengantuk. Soalnya kami datang di malam hari. Kesokanya aku bertemu dengan Mas Dika. Lalu aku bersalam salaman dengan Mas Dika. Senang rasanya bisa bersama orang yang engkau sukai. Bagiku, Mas Dika itu perfect. Dia selalu menerima curhat dan keluhanku. Dia juga seperti guruku sendiri yang suka rela membantuku dalam belajar apapun. Ketika kami belajar Bahasa Inggris, dia pun bertanya
“Nissa, jika aku pergi dalam waktu yang lama, bisakah engkau belajar sendiri?”
Sontak pertanyaan itu membuatku kaget aku bingung lalu bertanya
“bisa sih Mas. Tapi emang kenapa? Mas Dika mau pergi kemana?”
“ah gak apa apa gak usah dibahas. Kan aku nanti kuliah di Sidoarjo”
“oh begitu. Ya sudah tak apa. kan nanti aku bisa mengunjungi rumah keluarga besarmu disana”

Setelah itu, kami melanjutkan belajar bareng. Tapi, saat itu pikiranku ada yang mengganjal. Tapi aku tak tahu apa itu. Tapi sudahlah. Tak usah dipikirkan lagi.
Hari ini sudah mulai sekolah. Aku bercerita pada Nabila bahwa liburanku sangat menyenangkan. Nabila hanya berooh ria.
“ooh… seperti itu kalau aku liburan ke Mataram di Lombok untuk menemui keluarga besarku disana. Ayahku juga kerjanya disana.” Tuturnya.
Setelah sekolah aku pulang dan langsung ke rumah Mas Dika. Saat aku ingin menemuinya dia sudah keluar.
“eh mas, ada yang ingin aku omongin nih sebentar saja..”
“Maaf ya mas sedang sibuk ok..”
Lalu dia menutup gerbangnya. Aku bertanya tanya. Ada apa dengan Mas Dika? Mengapa dia seperti itu? apakah ada masalah? tapi aku mencoba berpikir positif.
“yaah paling sibuk sekarang kan dia udah kelas 12 dan aku masih kelas 11. Jadi wajar kalau dia sibuk.” Begitu kataku.
Dan dari hari kehari. Mas Dika tak pernah keluar untuk bermain bersamaku dan belajar bareng bersamaku. Aku merasa ada sesuatu yang aneh dengannya. Aku ingin menyatakan rasa suka padanya. Tetapi dia malah berpaling dan menjauh dariku. Sebulan… Dua bulan… tiga bulan… bahkan sudah setahun ini aku tidak menemuinya lagi. Aku juga sudah jarang mampir ke rumahnya dan bahkan ingin melupakannya. Tetapi, aku tidak bisa. Hatiku menolak untuk melupakannya.

Kini liburan semester sudah tiba. Aku sedang bersepeda di halaman dan mendapati rumahnya yang kosong. Dan disana tertulis “rumah ini dijual” sontak aku kaget bukan main. Kenapa dia tidak bilang kepadaku kalau mau ke Sidoarjo batinku. Tetapi ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku entah apa itu. Lalu aku ingin mencoba menghubunginnya tapi tidak diangkat. Lalu aku segera bertanya pada ibuku
“ibu, Mas Dika pindah rumah ya? dia ke Sidoarjo”
“oh bukan nak, hanya keluargannya ke Sidoarjo. Mas Dika sekarang lagi di bandara di Surabaya.”
“haaa… ngapain di sana?”
“dia mau ke Jerman. Untuk melanjutkan kuliahnya disana.”
Sontak aku kaget dan hampir menangis. Dan aku bertanya lagi pada ibuku
“jam berapa bu dia berangkat?”
“sekitar jam 7 malam. Sekarang baru saja jam 4 sore”
“Ya udah bu terima kasih”
Aku pun langsung berganti pakaian dan menaiki motorku. Setelah itu aku berangkat ke rumahnya Nabila karena rumahnya tak jauh dari terminal.
“Nab aku titip motorku ya…”
“emangnya ada apa”
“ada urusan penting.”

Setelah itu aku pun langsung ke terminal bis dan membeli tiket untuk ke Surabaya. Setelah dapat, aku langsung naik bus. Diperjalanan aku merasa tak tenang. Aku selalu mengechat dirinya lewat BBM tak kunjung dibalas. Dibaca pun tidak. Setelah sampai di Surabaya, aku langsung naik Taksi dan meminta supirnya untuk mengantarku ke Bandara Juanda. Setelah sampai diSurabaya, kulihat jamku. Sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Aku haru cepat. Batinku seperti itu. Lalu aku mencari dirinya dan akhirnya aku menemukannya. Sontak ia kaget melihat kedatanganku.
“Mas, kenapa Mas Dika tak bilang kepadaku kamu akan kuliah di Jerman. Aku belum bisa merelakanmu pergi” kataku sambil menangis
“aku bukan bermaksud seperti itu Nis. Aku hanya ingin kamu tak tahu kepergianku karena engkau pasti akan menangis seperti ini.”
“seharusnya Mas Dika bilang ke aku sehari atau dua hari yang lalu. Jadi kita masih bisa ada waktu. Jadi kamu menghindar dariku gara gara ini..!!”
Mas Dika hanya terdiam lalu aku melanjutkan lagi…
“Mas, aku menyukaimu dari awal kita bertemu. Aku sudah menyukaimu. Lalu saat liburan bareng, aku sudah belajar mencintaimu. Walaupun ku tahu engkau tak mencintaiku. Dan saat tau engkau mau ke Jerman, hatiku rasanya sakit dan pecah seperti beling.”
Sontak Mas Dika kaget. Sambil menangis dan memegangi tanganku dia berkata
“Sebenarnya, mas Dika juga suka dan sayang kepadamu. Waktu itu aku ajak ke rumah keluarga besarku agar kalau aku kuliah disana, bisa mengunjungiku terus. Tetapi takdir berkata lain. Mas dapat beasiswa ke Jerman. Awalnya mas senang. Tapi setelah mengingatmu mas juga sedih. Akhirnya kuputuskan untuk menjauh darimu untuk melupakan perasaan ini. engkau juga cinta pertamaku Nissa. Aku tak akan melupakanmu”
“iya Mas, aku juga tak akan melupakanmu. Kamu juga cinta pertamaku. Aku mencintaimu. Aku tahu kau tak akan pulang ke Indonesia dalam waktu dekat”
“iya Nis. Aku juga mencintaimu”
Akhirnya mereka berdua pun berpelukan sambil diiringi dengan tangis yang sangat mendalam. Setelah itu, Mas Dika pergi dan segera check in ke dalam pesawat. Tangis Nissa pun pecah dan akhirnya dia terduduk di kursi dan terisak sambil berkata
“Mas, sampai kapanpun aku tetap akan menunggumu. Meskipun hatiku sudah pecah seperti beling, aku akan tetap menunggumu. Karena engkaulah cinta pertamaku dan cinta sejatiku sampai kapanpun.”

The End

Cerpen Karangan: Khansa Fakhira B.
Facebook : Putri Jelita

Cerpen True Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Harapan Yang Tak Pasti

Oleh:
Hari ini adalah hari Senin, hari dimana Nita akan mengadakan ulangan semester. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 waktunya Nita berangkat sekolah. Sesampainya di sekolah, Nita langsung mencari ruangan yang

Upsss!

Oleh:
Aku benci banget sama hari ini. Nggak tahu kenapa dari pagi tadi sampai siang ini, aku sial melulu. Kenapa ini? Pagi tadi bangun kesiangan, nggak sempat sarapan, telat ke

Halte

Oleh:
Sore itu Edo, pergi sendirian ke toko buku. Dia menunggu bus di halte yang letaknya tidak jauh dari kampusnya. Ada 5 orang yang berada di halte itu. Sambil menunggu,

Varamedic

Oleh:
Pagi dirumah sakit varamedic. Rumah sakit swasta yang terletak di pusat kota. Linkungannya yang bersih dengan tata bangunan yang rapi. Apalagi lihat perawat wanita dengan senyum manisnya, aduhai tergoda

Sampai Jumpa Sahabatku

Oleh:
Namaku Raisa. Aku bersekolah di SD Global Andalan, kelas 5A. Aku mempunyai sahabat, yang bernama Anindya dan Naila. Kami bersahabat sejak kelas 4. Tetapi, semenjak Naila datang, berangsur-angsur Anindya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *