Tuan Berkacamata

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 18 November 2017

Jam menunjukkan pukul 14.30 wib. Tapi tak ada jawaban bahwa adanya tanda-tanda sms masuk dalam ponselku. Dari pagi hingga kini kutunggui. Namun tiada kabar kudapati dari dia yang kurindui. Sedangkan aku di sini gelisah khawatir.

Apa benar kau kucintai namun tak sebaliknya? Hingga kini pun bayangmu selalu lekat dalam ingatan. Tutur lembut penuh pengharapan.

Flashback
Rembulan kala itu tak hadir menerimaniku. Bintang pun jua begitu. Aku berjalan laju. Membawa minuman. Menuju suatu meja di sudut pandangan. Perlahan kuhampiri. Kuletakkan segelas air yang telah dipesan tersebut. Ada lima pria di meja itu. Empat darinya telah dari tadi hadir dan meneguk air. Sedangkan yang satunya baru tiba. Aku pun tiba-tiba tertuju pada sesosok pria. Sebenarnya wajahnya tidak tampak jelas karena remang-remang warung tersebut. Tapi ingin rasa hati untuk bertanya. ‘Siapakah gerangan kau tuan?’ Akh sudah la. Dia kan di sini adalah konsumen bak raja. Sedangkan aku hanyalan pelayan. Khayal untuk dia melirikku pun hanyalah mimpi.

Siapalah diri ini yang entah kenapa tertarik dengan sosok pria tadi. Wajah damai penuh kelembutan. Memakai kacamata pembentuk kharisma.

sedalam samudera telah aku selami
setinggi langit di angkasa telah kuarungi
sepanjang kehidupanku aku mencari
sebentuk kelembutan hati cinta sejati

Telah sebulan ini ku perhatikan saja dari jauh saat ia bercanda gurau dengan teman-temannya. Tertawa lepas penuh kebahagiaan. Aku pun ikut merasakan bahagia tatkala melihat giginya berbaris menghiasi senyum lebarnya.

Sebenarnya telah banyak jua lelaki yang ingin berkenalan denganku. Tapi entah mengapa aku begitu enggan untuk menyambut niat baik mereka.

Kupandangi lagi Dia dari kejauhan. Tampak kacamatanya silau-silau kehijauan. Aku pun mulai menghampiri mejanya tanpa diharapkan.

“Bang boleh minta nomor hp?”
“Ha? Nomor siapa dek?”
“Nomor abang lah”
“Sini nomor adek aja abang simpan.” Ia pun memperlihatkan ponselnya. Menatapku seakan menunggu jawaban.
“Tak mau la. Adek mau minta nomor abang aja.”
“Ha… bohong adek ni.”
“Iya udah besok ya bang, adek minta nomor ponselnya.”
Ia pun segera bangkit dan pergi menyusul temannya yang sedari tadi menunggu untuk pulang. Aku menatap kepergiannya. Setelah itu segera kubereskan meja yang telah ditinggalkan tuannya itu.

Sedetik menunggumu disini seperti seharian
Berkali kulihat jam ditangan
Demi membunuh waktu
Tak kulihat tanda kehadiranmu
Yang semakin meyakiniku
Kau tak datang

Tiga kali berganti siang tiga kali berganti malam tapi bayangmu tak kunjung hadir dalam nyata. Ke manakah gerangan tak kunjung jua hampiri asaku dengan sempurna. Apakah diri tak layak dan pantas bersanding dengan kau wahai tuan? Tak sudikah lagi dirimu untuk melihatku lagi. Sampai hati kau buat aku menanti. Mungkin aku yang lupa Emas sepertimu tak pantas mencintai pasir kali sepertiku.

Tapi tak sengaja aku menoleh. Tampak silau silau kehijauan tanda kacamatamu melambai-lambai menyeret asaku tuk melangkah maju mendekatimu. Yahh!!! Aku kaget. Orang yang aku kira tidak akan kembali nyatanya tepat di hadapanku. Aku pun tidak membuang waktu.

“Mana bang nomor ponselnya. Sudah tiga hari adek menunggu!!” Tagihku padanya mengulutkan tangan. Bernada seolah penagih hutang
“Kemarin abang kerja dek. Makanya nggak bisa mampir sini.” Jawabnya datar. Tapi pandangan masi tetap tertuju padaku
“Ngapain kerja?” Tanyaku seenaknya. Ahahhaha bisa dibayangkan aku yang bukan siapa-siapa berbicara seolah seperti istrinya saja
“Kan untuk melamar adek.” Jawab teman-temannya mencairkan suasana.
Aku pun tersipu malu mendengar jawaban teman-temannya. Aduh! kok jadi baper ya, pikirku. Akhirnya hatiku luluh jua. Terobati penantian tiga kali rembulan.

Keesokkan harinya aku lekas mengirim pesan singkat padanya. Tapi tidak ada tanpa bahwa sms itu telah masuk. Dengan ragu namun kupaksakan untuk memencet tombol hijau tanda panggil. Nyatanya pun sia-sia. Di seberang sana ada seorang operator yang mengatakan “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif”. Aku lantas dihujani tanda tanya. Apakah sang tuan berkacamata sengaja memberikan nomor ponsel palsu atau nomornya sedang tidak aktif atau bahkan dia sedang bersama pasangannya?

Wah karena dulu waktu aku sekolah hobbi sekali debat dan menghujani lawan diskusiku dengan satu pertanyaan beranak-anak, jadi sampai detik ini pun kebiasaan itu masih melekat. Satu kesalahan saja bisa kutuding dengan 10 pernyataan yang mesti dijelaskan sehari semalam.

Biarkan hati kecilmu bicara
Karena ku yakin kan datang saatnya
Kau jadi bagian hidupku
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya
Biarkan terjadi wajar apa adanya
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya

Oke deh kini aku pun masih setia menunggu. Dan akhirnya menunggu tiga jam tidak sia-sia. Nomornya telah aktif dan akupun menerima balasan pesan singkatku darinya.

Cukup singkat namun akhirnya kami sepakat untuk bertemu di suatu cafe. Awal pertemuan yah seperti layaknya antara cewek dan cowok yang sedang memulai PDKT. Ahahhahah dengan sekantong Kepedean aku pun meyakini bahwa hatiku akan disambut oleh Tuan berkacamata.

Kurasakan kau istimewa
Istimewa indahkan rasaku
Tak sanggup lagi untuk menolak
Dan nyatakan
Kujadikan kamu kekasihku
Saat kau bersimpuh berjanji
Melindungiku menyayangiku di setiap waktu
Kuberi hatiku tuk hatimu
Agar bisa kau manjakannya
Musim berganti apapun terjadi kita satu

Setelah berkenalan sehari. Esoknya Tuan berkacamata mengajakku untuk pacaran. Aku pun langsung menerimanya tanpa pikir panjang. Bukan karena aku murahan lantas gampang saja menerima pria yang mengajak aku pacaran. Tapi aku memang tidak bisa menjalanai masa PDKT dengan lama. Aku takut ilfeellku akan kambuh setelah mengenal dia selang beberapa lama lagi. Aku adalah tipikal cewek yang pemilih dan menuntut pasangan untuk sempurna. Maka aku cepat-cepatkan saja menjalin hubungan dengannya tanpa harus lama PDKT. Takutnya sebelum jadian ntar aku sudah kabur dulu mengetahui sifat pasanganku. Karena jika sudah berstatus pasanganku mau tidak mau aku harus menerimannya. Bukan dengan ketidakiklasan. Tapi bagiku jika sepasang kekasih sudah berkomitmen untuk menjalin hubungan itu lebih penting dari keegoan diri sendiri. Bagiku komitmen adalah segalanya dalam hubungan.

Saat terindah saat bersamamu
Begitu lelapnya aku pun terbuai
Sebenarnya aku telah berharap
Ku kan memiliki dirimu selamanya

Setelah berpacaran dengan Tuan Berkacamata lantas baru ku ketahui sesungguhnya dirinya. Satu kata untuknya yaitu “Dingin”. Ya ternyata dia terlalu sibuk dengan teman-temannya tanpa mempedulikan aku yang sedang kasmaran ini. Ahahhaha. Aku kaget orang yang kukira humoris dan penuh kasih nyatanya bersikap dingin dan sama sekali tidak peka. Mungkin karena sudah lama sekali aku tidak diperlalukan begini. Ya dinomor sekiankan. Ya dengan cowok berumur 25 tahun. Bagiku ketika pria berumur 25 tahun dia sudah tidak pantas untuk bersikap angkuh dengan pasangannya. Loh kenapa? Ya karena ada masanya lak-laki harus sadar bahwasannya semandiri apappun mereka tetaplah butuh kita kaum hawa. Benar apa benar? Emang pria mau nanti menikah dengan teman prianya juga? Emang bisa teman pria kalian melahirkan anak kalian? Ayo coba para pria jawab. Kalo bisa sih aku bakalan ngaku kalau aku benar-benar kalah!!

Oke deh yang tadinya mau nulis cerpen kok larinya jadi curhat ya?

Aku perempuan tak mungkin
Menerimamu bila
Ternyata kau mendua
membuatku terluka
Tinggalkan saja diriku
Yang tak mungkin mununggu
Jangan pernah memilih
Aku bukan pilihan

Come back
Aku pun masi saja setia menanti kabar dari sang kekasih. Hingga malam pekat pun tiada tanda ia hadir melalui pesan ataukah telepon.

Mungkin dia sedang marah terhadapku dikarenakan beberapa hari ini selalu saja menyiksanya dengan kata-kata lembut namun cukup berbekas dalam di hati tuan berkacamata. Akh benar saja. Aku sengaja berkata seperti itu padanya. Aku mau lihat bagaimana dia merasakan sakit. Dan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

Meski waktu datang dan berlalu
Sampai kau tiada bertahan
Semua tak kan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku
Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti

Ya begitu lah… setiap kali menunggu setiap itu juga hatiku selalu bernyanyi. Aku yakin seiring berjalannya waktu hati tuan berkacamata akan jatuh padaku. Kan kugenggam erat hatinya. Mungkin sekarang boleh saja dia mengabaikanku. Tapi nanti. Tidak seorang pun yang bisa menyia-nyiakan diriku.

Cerpen Karangan: Miera yohana
Facebook: Miera latte

Cerpen Tuan Berkacamata merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Chat My Love

Oleh:
‘Kenapa loe gak chat gue sih Veb? gue kangen ama lu’. Otakku masih berputar dengan tangan yang masih mengotak-atik tuts ponsel di tangan. Sudah beberapa kali kukunjungi profil Vebrian,

Menggapaimu Bukanlah Mimpiku

Oleh:
Ku tak bisa menggapaimu Tak kan pernah bisa Walau sudah letih aku Tak mungkin lepas lagi Lagu itu menggambarkan perasakanku kepada pemain basket di sekolahku, namanya Rizky, siswa yang

Kebahagiaan Sesaat

Oleh:
Sebulan ini rutinitasku begitu-begitu saja. Pergi sekolah, ikut pelatihan di ekstakulikuler PMR, dan malamnya begadang. Ya, inilah aku Nanda. Walaupun sesibuk dan secapek apapun kegiatan yang aku lakukan pada

Cinta Pertama dan Terakhir

Oleh:
“Pergi jauh-jauh dari hidup gua!” jerit Chela. “Chela, gua itu gak pacaran lagi sama cewek laen kecuali lu!” “Udah, Rizky, gua udah tau Semuanya tentang lu! Lu cari cewek

Retak Yang Utuh

Oleh:
Hari ini aku terlalu lelah menghadapi hiruk pikuknya kegiatan sekolah hingga akhirnya aku tertidur dari pulang sekolah sampai jam 20.00 malam. Aku lelah karena semua apa yang aku inginkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *