Tuhan Jagakan Pelangiku (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 9 May 2016

Mereka lalu menyusuri jalan raya kota Semarang. Sekitar dua puluh menit kemudian mereka sampai di sebuah rumah yang cukup mewah, Aldi menghentikan motornya, mengajak Anisa turun dan memasuki rumah itu. Setelah sampai di dalam rumah Anisa semakin terlihat bingung melihat foto Aldi di sebuah meja. Belum sempat Anisa bertanya, Aldi sudah lebih dulu memulai penjelasannya.

“Ini rumahku, sudah enam bulan akun pergi dari sini, seperti kedua orangtuaku yang juga dengan mudahnya meninggalkanku demi keluarga baru mereka,” jelas Aldi.
“Maksud kamu?” tanya Anisa.
“Orangtuaku sudah bercerai, dan sekarang mereka sudah menikah lagi, Ayah aku sekarang tinggal di Jogja dan Ibuku di Jakarta, mereka selalu menganggap aku sudah bisa mengurus diri sendiri, dan hanya dengan mengirim uang ke rekeningku tiap bulan itu mereka anggap sebagai sebuah tanggung jawab yang sudah terpenuhi.” ucap Aldi dengan nada emosi. Anisa dapat mengerti perasaan Aldi, Ia mencoba mengutarakan pemikirannya.

“Hmm… Jadi karena itu kamu pergi dari rumah terus ngamen gitu? Lalu buat apa rumah ini dan uang yang orangtuamu kirim tiap bulannya?” tanya Anisa.
“Aku tak mau terima apa pun dari mereka sebelum mereka menyadari kesalahan mereka!” jawab Aldi emosi.
“Al, tak selamanya kehidupan memberi pilihan, terkadang kita harus menerima keadaan sepahit apa pun rasanya, karena Tuhan pasti tahu itu yang terbaik untuk kita, anggap saja semua ini adalah cara Tuhan untuk lebih mendewasakanmu, dan menjadikan hidupmu lebih bermakna bagi sesama.” jelas Anisa berusaha menenangkan hati Aldi.

“Maksud kamu? Aku berguna? Bahkan sekarang aku merasa hidupku sudah tak berguna lagi Nis.” ucap Aldi nampak putus asa. “Hei, jangan salah, sadarilah kehadiranmu adalah kebahagiaan bagi anak-anak jalanan yang kamu beri makan setiap malam, bukankah dengan kejadian ini kamu bisa merasakan apa yang mereka rasakan? Bukankah dengan itu kamu sekarang telah menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna bagi sesama? Ayolah Al… Come on, look your self.” Anisa berusaha menyemangati Aldi. Aldi tersenyum, hatinya menjadi jauh lebih tenang setelah mendengar ucapan Anisa.
“Dan aku tahu gimana caranya biar kamu bisa lebih berguna lagi.” tambah Anisa.

“Gimana?” tanya Aldi penasaran.
“Kenapa gak kamu tampung saja anak-anak jalanan itu di rumah ini, lalu kamu beri mereka pendidikan dengan biaya yang kamu dapat dari orangtuamu tiap bulan. Aku yakin hidupmu akan jauh lebih bahagia jika kamu mau berbagi kebahagiaan.” jelas Anisa.
“Kamu bener Nis, makasih banget aku jadi punya tujuan hidup sekarang.” jawab Aldi yang kini tampak bersemangat, Anisa pun tersenyum senang.
“Hmm… Udah jam lima nih… Ke Tugu Muda yuk. Aku mau main gelembung sabun,” pinta Anisa. Mereka lalu kembali menaiki motor menuju Tugu Muda.

Dalam perjalanan Anisa menanyakan pada Aldi. “Al, boleh tanya?”
“Apa?” jawabnya.
“Kenapa kamu bisa dengan mudahnya percaya denganku menceritakan semua kisah tentangmu yang sebenarnya?” tanya Anisa penasaran.
“Karena hanya kamu yang memperlakukan aku layaknya orang baik, yang tidak melihatku dari penampilan luarnya saja, selama ini orang yang ku temui selalu berpikiran negatif tentang aku hanya karena aku berpenampilan seperti anak liar.” jelas Aldi.
“Hmm… Sebenarnya aku juga melihat orang dari penampilan luarnya loh.. Beruntung saja kamu waktu itu mata aku lagi sakit, haha.” jelas Anisa dengan bercanda. Aldi pun ikut tertawa.

Sore itu Tugu Muda masih diguyur gerimis, namun Anisa dan Aldi tak begitu terganggu dengan gerimis, karena kini di hati mereka masing-masing telah terlukis pelangi yang penuh warna kebahagiaan. Seperti biasa Anisa duduk di rerumputan yang sama di taman Tugu Muda, ia lalu mengeluarkan sebotol gelembung sabun dari dalam tasnya, dan dengan penuh semangat ia memainkan gelembung itu dengan indahnya menghiasi suasana sore itu, Aldi hanya tersenyum memandangi sosok yang ia kagumi di hadapannya itu.

“Oh iya, kamu kan pernah janji mau cerita alasan kamu kenapa suka bermain gelembung?” tanya Aldi, Anisa tersenyum.
“Karena dalam setiap gelembung yang ku tiup, ada doa yang ku tujukan untuk Tuhan, dan aku percaya ketika gelembung itu pecah, artinya Tuhan telah mendengar doaku, kamu bayangkan saja betapa damainya hati ketika tahu semua doa yang kita ucapkan didengar oleh Tuhan…” jelas Anisa tersenyum damai.
“Aneh,” Ucap Aldi yang tak menemukan kata lain selain itu.
“Banyak kok yang bilang aku aneh.. haha. Tapi aku gak bohong kok, kamu mau coba?” Anisa lalu mengambil sebotol lagi gelembung sabun dari dalam tasnya dan memberikannya pada Aldi.

“Cobain deh tiup, sambil dalam hati kamu bicara sama Tuhan, katakan apa pun yang ingin kamu katakan, dan yakinlah Tuhanmu pasti bisa mendengarnya.” jelas Anisa, Aldi pun melakukan seperti yang Anisa jelaskan, ia mencoba meniup gelembung itu, dan tersenyum puas melihat banyaknya gelembung yang berterbangan dengan indahnya lalu pecah dengan sendirinya yang kata Anisa itu menandakan bahwa Tuhan telah mendengar doanya.
“Bener juga yang kamu bilang, batin jadi tenang.. Haha.” ucap Aldi sambil tertawa lepas, Aldi lalu kembali meniup gelembungnya, namun tiba-tiba tak sengaja gelembung itu mengenai mata Anisa, Ia langsung kesakitan.

“Aduhh!!” Anisa terus memegangi matanya yang secara tak sengaja terkena gelembung yang ditiup Aldi.
“Anisa… Maaf maaf.. Aku gak sengaja.” Aldi tampak panik. Anisa masih terus menutup matanya.
“Sini aku tiup mata kamu.” dengan refleks Aldi meniup mata Anisa, tapi Anisa malah semakin kesakitan. Aldi pun semakin bingung. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Aldi lalu mengajak Anisa untuk berteduh, dan saat berlari Anisa tiba-tiba terjatuh, matanya semakin terasa sakit, ia tak sanggup lagi berdiri.
“Aku gak kuat Al… Mata aku sakit banget.” ucap Anisa kesakitan.

Aldi langsung menggendong Anisa. Anisa pun menutup matanya, ia pingsan di punggung Aldi yang menggendongnya. Saat akan menyeberangi jalan raya, mobil jemputan Anisa menghampiri mereka, Pak Rahmat, sopir Anisa langsung mengambil Anisa dari gendongan Aldi, dan membawanya ke dalam mobil. Aldi pun hanya diam, ia panik dan bingung melihat Anisa pingsan. Tanpa mengatakan apa pun Pak Rahmat langsung melajukan mobilnya meninggalkan Aldi sendiri di tengah derasnya hujan.

Malam itu Aldi terlihat sangat gelisah dan khawatir, berkali-kali Ia mencoba menelepon Anisa, namun tak satu pun ada jawaban. Aldi lalu pergi ke Gereja, ia berdiam diri di sana, berdoa semoga Anisa baik-baik saja, Aldi terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan sosok yang ia kagumi itu. Pagi itu cuaca kota Semarang cukup cerah, tak ada tanda akan turun hujan hari itu, di sebuah sudut Gereja, Aldi terlihat bangun dari tidurnya, semalaman ia berdoa untuk Anisa hingga tertidur. Wajah Aldi tiba-tiba panik seakan ia melupakan sesuatu hal yang penting. Ia langsung bergegas dengan langkah cepat menuju salah satu lampu merah yang ada di sekitar Tugu Muda, di sana ia melihat ada banyak anak-anak jalanan yang tampak lemas karena kelaparan. Aldi pun merasa sangat bersalah telah lupa memberikan makan malam untuk mereka seperti yang biasa ia lakukan.

“Adik-adik… Maafin Kak Aldi ya, semalam kakak benar-benar lupa,” ucap Aldi penuh rasa bersalah.
“Gak apa-apa kak, kita masih kuat kok…” jawab salah seorang anak. Aldi lalu teringat saran dari Anisa untuk menampung dan memberikan pendidikan pada anak-anak jalanan itu di rumahnya.
“Adik-adik, kalian mau gak tinggal di rumah Kak Aldi, terus sekolah, biar kakak yang biayain semuanya.” tawar Aldi pada anak-anak jalanan itu.
“Mau… Mau.” jawab anak-anak serempak dengan gembira. Aldi lalu membawa anak anak itu untuk tinggal di rumahnya.

Sudah enam bulan sejak kejadian sore itu, Aldi sama sekali tak mendapatkan kabar apa pun dari Anisa, setiap sore Aldi selalu bermain dengan gelembung sabunnya seperti yang biasa Anisa lakukan, teleponnya tak pernah dijawab, smsnya pun tak pernah dibalas. Aldi pun berpikir Anisa sudah sangat membencinya sehingga tak mau mengenalnya lagi, namun meskipun begitu Aldi selalu berharap Anisa akan hadir kembali dan bermain gelembung di taman Tugu Muda, walaupun tidak untuk menemuinya, Aldi sudah merasa cukup senang jika bisa melihat Anisa bermain gelembung sabun dengan senyumnya yang tulus seperti dulu lagi. Tiba-tiba Aldi tersadar dari lamunannya ketika melihat sosok yang berdiri di hadapannya.

“Anisa?” Aldi terkejut senang melihat kehadiran Anisa, ia berdiri tepat di hadapan Aldi dengan Pak Rahmat yang menuntun di sampingnya, hari itu Anisa mengenakan kerudung warna putih dengan kacamata hitam yang menutupi matanya. Anisa lalu menyuruh Pak Rahmat untuk menunggunya di mobil. Ia lalu meraba-raba mencari rerumputan untuk duduk seakan tak dapat melihat apa pun. Aldi lalu membantu Anisa untuk duduk, ia masih sangat terkejut dengan keadaan Anisa kini. “Anisa kamu.” belum sempat Aldi melanjutkan pertanyaannya.
“Iya Al, aku buta.” jawab Anisa sambil tersenyum sendu.

“Apakah itu karena kejadian waktu itu?” tanya Aldi semakin merasa bersalah.
“Engga Al.. Sebenarnya emang udah lama aku kena kanker mata.” jelas Anisa.
“Dan karena aku kamu jadi seperti ini sekarang, Oh Tuhan… betapa kejamnya aku!!” Aldi mengutuk dirinya sendiri.
“Al, ini semua bukan karena kamu. Sungguh, cepat atau lambat ini pasti akan terjadi, semua ini atas izin Tuhanku Al.” jelas Anisa. Aldi hanya diam memandangi sosok yang begitu tegar di hadapannya itu. “Kamu tahu apa yang aku ucapkan sama Tuhan di setiap gelembung ini?” ucap Anisa sambil mengeluarkan sebotol gelembung sabun dari dalam tasnya, lalu meniupnya. “Tuhan, sebelum aku hanya bisa melihat satu warna kegelapan, berilah aku kesempatan untuk bisa melihat warna-warna pelangi yang sesungguhnya.” ucap Anisa sambil tersenyum.

“Anisa.” Aldi terharu mendengar doa Anisa.
“Dan tahukah Al, Tuhanku itu baik banget, Dia udah kabulkan doaku lewat kamu.” jelas Anisa.
“Maksud kamu?” tanya Aldi tak mengerti.
“Kamu adalah pelangi itu, dalam waktu yang singkat kamu telah memberikan banyak warna kebaikan, tentang ketulusan untuk berbagi, dan tentang indahnya perbedaan dalam hidup ini. Aku bisa mengerti itu semua karena kamu Al… dan bahkan setelah aku buta pun, pelangi itu masih bisa ku lihat dengan jelas.” jelas Anisa masih dengan senyumnya yang penuh ketegaran.

“Nisa… kamu salah, bukan aku pelangi itu, tapi kamu. Kamulah yang telah memberi banyak warna di hidupku, mengajariku untuk bersyukur dan menerima kenyataan dengan ikhlas, kamulah pelangi itu Anisa.” ucap Aldi penuh haru.
“Hmm.. Wah.. Kalau gitu kita sama-sama pelangi dong.. Hahaha.” jawab Anisa dengan tawa candanya, Aldi pun melihat gadis itu dengan penuh rasa haru dan kekaguman.
“Dan sudah enam bulan aku kehilangan pelangi itu, sempat aku berpikir pelangi itu telah membenciku,” lanjut Aldi, Anisa lalu tertawa mendengar itu.
“Haha… Ya enggaklah. Enam bulan ini aku kemoterapi di Jakarta, sama sekali aku gak pegang hp. Dan aku kembali ke sini cuma buat ngembaliin sesuatu milik kamu, besok aku ke Jakarta lagi dan menetap di sana..” jelas Anisa.

“Apa?” Aldi kaget mendengar Anisa akan menetap di Jakarta. Anisa lalu mengeluarkan sebuah jaket dan memberikannya pada Aldi. “Ini jaket kamu, maaf aku baru bisa kembalikan sekarang.” ucap Anisa.
“Ku mohon jangan pergi.” pinta Aldi, Anisa tersenyum.
“Udah ku tebak kamu pasti bilang gitu, haha.” jawab Anisa bercanda.
“Aku serius Nisa.” Aldi tampak memohon.

“Maaf Al, aku masih harus menjalani banyak pengobatan di sana, dan kebetulan kerjaan Ayahku juga pindah ke sana, jadi aku juga harus menetap di sana. Apa kamu mau aku cepet mati kalau terus di sini?” jelas Anisa dengan pemikirannya yang seimbang antara hati dan logika yang selama ini dikagumi Aldi.
“Nisa! Jangan bicara kematian!” ucap Aldi dengan nada tinggi.
“Makanya biarkan aku pergi.” jawab Anisa.
“Ya sudahlah kalau itu demi kesembuhanmu, ku relakan Pelangiku pergi.” ucap Aldi pasrah.

“Pelangi itu gak akan pernah pergi Al, selama ingatanmu masih ada.” jawab Anisa penuh keyakinan.
“Aku kagum sama kamu Nis, bangga bisa mengenalmu.” ucap Aldi. Anisa tersenyum sambil kembali memainkan gelembung sabunnya. “Oh iya, gimana kabar anak-anak jalanan itu? Apa mereka udah tinggal di rumahmu sekarang?” tanya Anisa.
“Udah Nis, sehari setelah kamu pergi aku ajak mereka tinggal di rumah, aku juga udah daftarkan mereka ke sekolah, dan syukurlah ada banyak donatur yang mau membantu sekarang,” jelas Aldi.
“Wah.. Kalau gitu kebalik kamu. Harusnya aku yang kagum sama kamu, dan aku bangga bisa mengenalmu, haha.” jawab Anisa, Aldi pun tertawa.

“Aku minta nomor rekening kamu,” pinta Anisa pada Aldi.
“Buat apa?” tanya Aldi.
“Sebagai tanda bahwa aku belum mati, izinkan aku untuk jadi salah satu donatur kamu, tiap bulan aku akan kirim sedikit tabungan aku untuk anak-anak jalanan itu, dan kalau seandainya aku udah gak kirim lagi, itu tandanya Tuhan telah memanggilku.” jelas Anisa sambil memberikan selembar kertas dan bolpoin pada Aldi.
“Anisa… Berapa kali harus ku bilang, jangan pernah bicara kematian!” ucap Aldi sambil memberikan nomor rekeningnya dan memberikannya pada Anisa. Anisa pun tertawa mendengar ucapan Aldi.
“Makasih Nis.” ucap Aldi.

Pak Rahmat lalu datang untuk menjemput Anisa.
“Sudah mau maghrib, Mbak Anisa harus pulang.” ucap Pak Rahmat.
“Iya Pak. Al, aku pulang dulu ya. Jaga dirimu baik-baik,” ucap Anisa pada Aldi, Pak Rahmat lalu menuntun Anisa.
“Tunggu Nis…” Aldi menghentikan langkah Anisa. Ia lalu memakaikan jaket miliknya pada Anisa,
“Pelangiku ada setelah hujan, dan aku mau saat hujan tiba Pelangiku tetap merasakan kehangatan, aku sayang kamu Anisa.” ucap Aldi, Anisa tersenyum, tanpa sadar ada setetes air mata di pipinya.
“Aku pun juga sayang kamu, Pelangiku.” jawab Anisa penuh ketulusan.

Tugu Muda adalah saksi pertemuan dan perpisahan kedua makhluk Tuhan itu, satu bulan setelah perpisahan itu, di tempat yang berbeda, Anisa dan Aldi tanpa sengaja melakukan hal yang sama. Anisa berada di balkon lantai tiga rumah sakit, sementara Aldi di taman Tugu Muda, kala itu gerimis menghiasi senja, namun Pelangi terlihat jelas di hati Anisa dan Aldi, dan entah mengapa walaupun ada perbedaan yang mendasar dari keduanya, tapi sepertinya Tuhan telah menyatukan hati mereka pada satu rasa yang sama. Ketulusan itu membuat mereka menggenggam tujuh warna pelangi dalam tujuh balon di genggaman mereka. Dan dalam hati mereka meminta pada Tuhan.

“Tuhan, jagakan pelangiku.” mereka lalu melepas tujuh balon itu ke udara, membiarkannya terbang ke langit yang tinggi untuk menyampaikan pesan sederhananya.
“Tuhan, Jagakan Pelangiku.”

THE END

Cerpen Karangan: Triana Aurora Winchester
Facebook: Triana Rizki Kurniasih
Aku, adalah yang seperti Tuhan tahu tentang aku.

Cerpen Tuhan Jagakan Pelangiku (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Teman Cinta Datang

Oleh:
“woy, lama lu gue dipohon ceri nih,” inilah isi sms yang kudapat ketika bel pulang berbunyi, ketika kulihat siapa pengirim pesan ini ternyata fajar temanku, lalu kubalas lah sms

Penantian

Oleh:
Pagi hari seperti biasa, jam alarm membangunkanku untuk segera bersiap-siap berangkat menuju ke sekolah, aku mandi berpakaian dan sarapan bersama keluarga tercintaku. Aku berpamitan dengan orangtuaku untuk berangkat ke

Pesan Untuk Dirimu Yang Mungkin Ada

Oleh:
Aku sering memimpikan sebuah mimpi yang sama berulang kali. Namun, ada sebuah mimpi yang terus menggangguku. Aku pernah mengutarakan gejolak aneh yang kurasakan mulai dari mimpi itu sendiri hingga

Cinta Untuk Cinta

Oleh:
Sofie menolak Rien, teman sekantornya untuk diperkenalkan dengan salah seorang teman laki-lakinya, saat dia diberikan pesta kejutan di kantornya pada ulang tahunnya yang ke-28. Rien mengatakan kalau temannya tersebut

The Champion

Oleh:
Dalam heningnya musim panas, gue asik dengerin lagunya Daniel Bedingfield yang berjudul If you’re not the one, dan lagu ini bener-bener bikin gue sedih banget, yah sedih, sedih karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *