Tukang Fotokopi Bikin Cinta Mati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 March 2016

Bruakkk!!” suara gebrakan meja yang dilakukan Bu Dian menggema hingga ke seisi kelas, Ali yang tertidur karena penjelasan Geografi bu Dian yang ngalor-ngidul langsung terbangun dan ternyata yang tertidur bukan hanya Ali seorang, kawan-kawan sekelas Ali pun melakukan hal yang sama materi yang diajarkan Bu Dian serasa hanya dongeng pengantar tidur bagi kami.

“Kalian malah pada tidur!!” Ucap Bu Dian dengan marah.
“Habis tadi udah kayak dongeng kancil membegal motor Bu, bikin ngantuk.” Jawab Ali dengan wajah mengantuk.
“Kamu tuh, ya dinasihati malah ngeyel, nih Bu guru suruh untuk fotokopi soal latihan ulangan minggu depan.” Ucap Bu Dian yang menyodorkan soal untuk dikopi sebagai latihan di rumah, Ali apes banget udah disuruh fotokopi dan suruh bayarin lagi, Ali sempet juga nolak. “Loh, Bu kok aku aja Bu yang disuruh, kan semuanya juga pada tidur?” Tanya Ali yang memperjuangkan haknya sebagai murid.
“Kalau Ibu suruh kamu ya kamu!! Ngerti nggak?” Ucap Bu Dian dengan Nada melengking tinggi udah kayak penyanyi dangdut D’academy karena terkena jurus pamungkas akhirnya Ali tunduk juga. “Hmm, iya deh.”

“Kring!!” suara bel pulang sudah berbunyi kini saatnya untuk pulang sebelum itu Ali berbincang-bincang dengan sahabatnya si Aldi.
“Di, apes banget gue hari ini udah disuruh fotokopi suruh bayar juga tuh guru Bokek ya? Kayaknya PNS tapi kok nggak berduit huft.” Ucap Ali dengan nada kesal.
“Udh, jalanin aja, eh kemaren gue lihat si Liana loh dia makin cantik aja dari hari ke hari.”
“Hah, lo masih ngarepin si Liana? Eh asal lo tahu ya, lo itu nunggu Liana jomblo itu udah kayak nunggu bus angkutan! pas ditungguin lamaaaa banget eh pas udah sampe ngetemnya secepat kilat dan pergi lagi udah kayak Liana kan jomblo bentar eh tiba-tiba dia jadian, kan sakit ya sakitnya tuh di sini.” Jawab Ali.

“Kok, sakitnya di sini?” Tanya Aldi.
“Karena kalau di situ.. kadang saya merasa sedih,” Jawab Ali.
“Ah bisa aje lu Al, eh btw gue pulang dulu ya?” Aldi berpamitan dengan Ali.
“Oke,” Jawab Ali.
“Yah sendiri lagi deh, pengen banget punya pacar gitu ada yang nemenin, gue jadi inget pas dulu nembak Anggita, dulu gue bilang. ‘Nggit kamu mau nggak jadi pacar aku?” dia terdiam. ‘Nggit kamu mau nggak jadi pendampingku?’ dia masih terdiam, ‘diam, diam, diam-diam jadian sama orang lain, kan sakit banget gitu.'” Ali curhat ke diri sendiri, efek jomblo paling ya.

Dia lalu pulang naik sepeda motor, sekitar 10 menitan akhirnya Ali sampe juga di rumah, sampe rumah Ali langsung cabut lagi menuju fotokopi nan yang dekat dengan rumahnya setelah 5 menit mencari fotokopian akhirnya dapet di pinggir jalan dan fotokopian itu bernama. “Sotocopy” pas pertama baca Ali bingung binggow, ini sebenarnya fotokopian atau jual soto sama kopi ah bodo amatlah yang penting fotokopi mungkin itu yang ada di pemikiran Ali. Ali memasuki fotokopi tersebut dan suasananya sangat ramai akan mahasiswa-mahasiswa yang sedang memfotokopikan tugasnya sembari menunggu Ali mencoba melihat-lihat tempat fotokopian itu dan saat Ali melihat-lihat atap kayak orang asing yang suka ke rumah orang tiba-tiba ada mbak-mbaknya yang nanya ke Ali.

“Mas mau fotokopi apa Mas?” deg, Ali mendengar suara itu dan menoleh.
“Uwaaaa…” Ali berteriak.
“Ke-kenapa Mas?” Tanya mbak-mbaknya, dalam hati Ali ngomong.
“Biji buner!! Nih cewek cantik banget kalau ini nih udah kayak Laudya Cyintya Bella kw Thailand nih, kualitas impor nih,”
“Maaf Mas kok bengong?” Tanya mbaknya tadi ke Ali yang bengong seperti ketemu bayangan bayangan mantan.
“Hmm, nggak kok Mbak saya tadi cuma.. Cuma tidur dengan mata terbuka!” Ucap Ali yang tampak gugup dan membuat mbaknya terbingung.

“Eh, Mas ini yang difotokopi apa?” Tanya mbaknya sekali lagi.
“Ini nih fotokopi 1, 3, 4, 5, 6, 7, 8 sampe 30 ya!!” jawab Ali.
“Loh Mas kok nggak ada 2-nya?” Tanya mbaknya ke Ali.
“Ya, itu kamu nggak ada duanya, ciealah,” Goda Ali ke mbak-mbak fotokopi.
“Ah, Mas bisa aja ya udah difotokopi dulu ya.”

“Swingg-swing.” suara mesin fotokopi sangat keras terdengar, tapi itu bukanlah hal yang Ali perhatikan tapi yang Ali perhatikan nggak salah lagi adalah mbaknya tadi dalam hati Ali berandai-andai jadian sama dia terus fotokopi bareng terus bayangin pas nikah punya anak. Dianya pengen anak kembar ya udah anaknya difotokopi aja, tapi semua itu hanyalah mimpi seperti Negara ini yang ingin bebas korupsi tapi mencederai pemberantasnya kan itu adalah mimpi terbesar, dan kata pak Karno presiden pertama kita yaitu. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani bermimpi.” ya, itu betul sekarang Negara kita udah punya mimpi dan hanya akan menjadi mimpi (loh kok malah jadi politikus sih penulisnya mabok keong nih). Cerita berlanjut Ali yang bengong membayangkan sampai hal yang tidak-tidak dengan mbaknya fotokopi sampai-sampai Ali mengeluarkan air liur dan seketika mbaknya datang.

“Nih, Mas udah! Totalnya 7000 aja Mas, eh Mas kok ada air berceceran sih emang bocor ya?” Ucap Mbaknya Fotokopi yang udah selesai memfotokopi tugas yang diberikan ibu guru kepada ali dan akhirnya Ali terbangun dari mimpinya. “Hah, maaf Mbak tadi saya bengong, nih duitnya.” Ali menyodorkan duitnya.
“Makasih ya Mas.” tak mau kehilangan kesempatan Ali bertanya nama mbaknya tadi dan ternyata namanya adalah Jessica.

Mulailah awal percintaan yang aneh antara pelajar cupu dengan tukang fotokopian yang cantik dan mulus setelah peristiwa itu Ali sering banget fotokopi di tempat ini apabila ada guru yang nyuruh memfotokopi Ali langsung ambil tugas itu dan tujuannya ialah hanya untuk melihat Jessica tentunya jika kehabisan bahan untuk fotokopi Ali kadang fotokopi hal-hal yang aneh hanya sekedar mencari alasan untuk mencari Jessica sampai-sampai kalender sama kertas minyak bekas gorengan aja difotokopi-in, emang ya kekuatan cinta itu luar biasa. Di sekolah, kerjaan Ali sehari-hari hanya bengong dan membayangkan Jessica jika Ali sudah seperti itu maka jika kau ingin mengajak bicara atau bertanya jadi haram hukumnya, meskipun seperti itu Aldi tiba-tiba mengajak bicara Ali.

“Li, kemaren hari terbaik yang pernah aku jumpai,” Ali bengong dengan mata melotot.
“Kemaren indah…. banget, gue pengen lagi,” Ali masih bengong dan malah makin parah tapi semua itu berubah saat Aldi ngomong. “Li, gue kemaren jadian sama Liana loh!” Gedubrak.
“APAAA!! Lo serius.” Ali yang terbengong langsung sadar karena perkataan Aldi.
“Hahaha, kemaren loh! Buktinya omongan lo dulu itu salah dan gue udah buktiin,” Ucap Aldi.
Ali kaget kenapa kok tinggal Ali yang Jomblo sedangkan Aldi yang wajahnya udah kayak Narji aja udah punya pacar lalu Ali berkata. “Gue, nggak akan kalah dari lo!”
“Maksud lo? Lo mau jadian?” Tanya Aldi. “Rahasia.” jawab Ali dengan senyum tipis di bibir.

Hari itu setelah pulang sekolah Ali langsung menemui Jessica dan mengajak dia untuk jalan-jalan padahal sebenarnya mau nembak tapi itu Cuma alibinya Ali. Pada saat jalan-jalan Ali selalu mandangi wajah Jessica terkadang Jessica juga berkata dalam hatinya. “nih, bocah nape sih?” saat mereka berjalan jalan Ali menstop Jessica dan mengajaknya ke bangku terdekat di taman, Ali menatap mata Jessica dan ngomong.

“Jess, kamu itu cantik kamu mau nggak jadi pacar aku?” Guwahahaha suasananya jadi campur aduk, Ali ternyata benar-benar menyatakan perasaannya emang sih mereka udah kenal kira-kira 1 bulan, tapi mungkin ini terlalu cepat untuk Ali. “Hah, jadian? Tapi aku kan cuma tukang fotokopi.” Jawab Jessica yang mulai memberikan kode-kode penerimaan. “Hah, semua itu nggak masalah, karena cinta itu buta dan tidak butuh alasan.” Jawab Ali dengan muka sok ganteng.
“Ya udah, aku mau sama kamu.” Ucap Jessica yang membuat Ali menjadi senang begitu kepalang, Ali langsung memeluk Jessica dan bilang. “Aku nggak akan membiarkanmu pergi.”

Setelah jadian, hari-hari Ali makin berwarna apalagi sekarang kalau Ali fotokopi jadi gratis, hahhaha tapi itu hanya sementara tidak saat mereka sudah 3 bulan jadian, Jessica jadi jarang sekali memberi kabar sehingga Ali juga makin curiga apa yang dilakukan oleh Jessica. Karena begitu penasaran Ali lalu langsung mendatangi tempat fokopian Jessica dan betapa terkejutnya dia ternyata Ali sedang diberikan bunga dan ditembak oleh orang lain Ali hanya melihat dari kejauhan air matanya menetes dan parahnya lagi Jessica menerimanya mungkin Jessica lupa kalau punya Ali mungkin Ali itu hanya angin-anginan doang. Karena sudah tidak kuat menahan api cemburu yang membara di hati Ali langsung pulang ke rumah sambil menangis mungkin hanya air mata yang dapat menggambarkan perasaan Ali, kadang air mata juga terasa Asin mungkin air mata juga tahu betapa asinnya cinta.

Sesampainya di rumah Ali, membuka HP dan BBM ke Jessica.
Ali Selalu Jadi Ali: “Makasih ya udah nyakitin aku?”
Jessica Selalu Jessica: “Nyakitin gimana?”
Ali Selalu Jadi Ali: “Jangan pura-pura goblok deh! Kamu tadi jadian sama cowok lain kan? Pantesan kamu di SMS nggak pernah bales.”
Jessica Selalu Jessica: “Jadian? Maksud kamu apa sih? Kamu kejedot rem truk lagi ya, kok jadi ngaco gitu?”
Ali Selalu Jadi Ali: “Iya, tadi gue itu tahu kalau kamu tadi jadian sama cowok lain di tempat fotokopian lo.”
Jessica Selalu Jessica: “Oh, itu santai ajalah.”

“Santai? Gimana harus santai tahu nggak, kamu nganggep gue apa atuh?”
“Hahaha, kamu terkecoh juga ya.”
“Terkecoh? Maksudnya?”
“Tadi itu yang jadian Jennifer, kembaran aku,”
“Jadi lo kembar? Kok dari dulu nggak ngomong?”
“Aku lupa ngasih tahu ke kamu, hahaha, kamu kok tadi ketakutan gitu.”
“Aku itu kayak gitu karena aku takut kehilangan kamu, aku itu sayang kamu pake banget.”
“So Sweet, lain kali hati-hati ya beb.”
“Iya deh,”

Terbongkar sudah rahasia atau kecurigaan Ali terhadap Jessica, ternyata cewek yang dikira Jessica tadi ternyata adalah Jennifer dia itu kembarannya Jessica Ali juga baru tahu kalau Jessica punya kembaran, mungkin Ali sekarang malah makin sayang sama Jessica dan ada kata-kata Ali membuat Jessica tersanjung kata-kata itu adalah, “Meskipun kamu itu tukang fotokopi, tapi kamu itu nggak boleh ngeCopi-in perasaanmu ke orang lain, cukup satu aja yaitu aku, aku akan menerimamu apa adanya, dan jangan lupa besok aku mau fotokopi lagi dan Gratisin yaa!!!” dan Ali mengingat jelas apa yang Jessica katakan yaitu, “Dasar cowok nggak modal!!” Ali dengan Jessica memang berbeda, Ali yang hanya pelajar biasa dan Jessica hanya tukang fotokopi tapi perbedaan itu yang membuat semua itu indah.

Cerpen Karangan: Khani Raikhan
Blog: khaniraikhanblog.blogspot.com

Cerpen Tukang Fotokopi Bikin Cinta Mati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Beringin dan Lagu

Oleh:
Lagu itu mengalun begitu pelan, merdu. Tekanan-tekanan tutsnya begitu terdengar. Lagu itu menumbuhkan aura yang begitu negatif. Membuat bulu kuduk berdiri sehingga tampak dari permukaan. Rambutku terterpa oleh angin

Aku Masih Mengharapkanmu Jadi Imamku

Oleh:
“Tut… Tut..” Suara handphone milikku berbunyi merdu membangunkanku dari tidur. “Ahh,” ucapku lirih. Sambil ku lirik jam di handphoneku ternyata jam 04:13 pagi. Aku lihat lagi di layar handphoneku

Coffee For Two

Oleh:
Aku tiba di stasiun. Ku lihat jam tanganku, masih lima belas menit lagi sebelum kereta datang. Hari menjelang petang dan tampak mendung. Sedari siang tadi, awan kelabu memang sudah

Janji Hujan

Oleh:
Sore menjelang, hampir memuncak menjadi senja. Hujan menetes dari langit-langit cakrawala tanpa henti-hentinya. Sepatu beserta seragamku sudah basah dibuatnya, tak dapat menghindar dari serangan ganas percikan air hujan. Sudah

Surat Merah Muda

Oleh:
Seperti biasa. Surat itu selalu datang di dalam lokerku setiap jam istirahat. Bukan hanya aku, semua teman-temanku merasakan hal yang sama. Isi surat bermacam-macam dan selalu bersifat misterius, ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *