Tutup Botol

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 March 2016

Sejak saat itu ruas jalan terasa sangat panjang. Perjalanan waktu dua kali lebih lama. Sejak ku dengar, “Jaga diri ya,”

Panggil saja aku Nilam, dua bulan telah berlalu sejak saat itu. Tapi suaranya masih sangat jelas menggema di ingatan. Entah apa perasaanku padanya. Tapi dia masih terbayang mengikuti putaran jarum jam yang menarikku berjalan ke belakang. Masa ospek telah lama berlalu. Karena masa itu, aku mengenal sebuah nama. Rian. Tinggi, berkacamata, pendiam, dan jadul. Itu kesanku padanya. Sama sepertiku, tinggi, tidak berkacamata, pendiam dan malang. Ah bodoh… menyukainya ku pikir sama dengan dosa, sebulan dekat dengannya, akhirnya aku baru mengetahui, dia gebetan ketua OSIS. Gak ngerti juga sih, Kak Rian ini ketua ROHIS sekolah, tapi punya gebetan. Leh ugha.

Sekarang bulan november, musim hujan. Sore ini kabar angin masuk telingaku, Kak Rian meminta aku menjauhi dirinya. Mmm… padahal sejak saat aku tahu dia gebetan orang, aku langsung mundur ke belakang. Tik… tik.. tik… pukul 3 lewat 25 sore, hujan malu-malu mengetuk atas atap kelasku. Kelas kami. Bel berdering sepuluh menit lalu, tapi hujan menahanku ke luar. Sewaktu ke luar, hawa panas yang ku rasa. Dia. Rian dan wanita itu, bersama. Rasanya tak perlu melihat api untuk merasakan panasnya api. Aku seorang pencinta. Gadis seribu cinta, tanpa tahu rasanya dicintai. Aku, yang menghargai cinta. Yang menilai cinta adalah kekuatan. Harus berdiri tanpa adanya seorang penopang. Ah… cinta tak harus memiliki, itu kata hatiku.

Yang menuntunku menjadi wanita bodoh. Siapa yang harus tanggung jawab atas kekosongan ruang rindu ini? Dia? Siapa? Koridor sekolah masih kosong pagi ini. Dingin. Dingin udara pagi, tak lebih menusuk dari dinginnya sikap dirimu padaku. Siapa.. Sejak alih profesi menjadi mata-mata, aku mulai merasa, ada matahari setelah lebatnya awan hitam. Panggil saja Kak Dani. Lagi-lagi tinggi, berkacamata tapi ini berbeda, manis dan “terlihat cerdas,” setiap jam istirahat tiba, tak jarang kami selalu berpapasan. Sebisa mungkin ku daratkan tatapan mataku di matanya tapi, sayang selalu gagal, aku terlanjur tenggelam dalam sorot matanya yang tajam. Lalu aku terbangun dari mimpi, dan aku sadar seorang secret admirer hanya bisa diam tak bersua, hanya mata jendela hati. Ah lagi pula sepertinya ini tak seserius itu, hanya gebetan.

Dreeet… Ponselku bergetar, ada sebuah pesan masuk. Bertuliskan “Nilam,” dari seseorang. Seorang lelaki. Kaka kelasku juga. Sebut saja Andri. Ah, dia memang baik. Dia selalu membantuku saat sedang kumpul organisasi. “Ka Andri,” balasku. Kami chatting-an. Di suatu sore aku terbang. Aku telah selesai membuat seratus burung origami. Yang telah ku siapkan dari jauh hari, untuk kado ulang tahun Kak Rian sebagai tanda, tanda terima kasihku, hmm… entahlah. Sore ini cerah, angin membelaiku lembut, secangkir kopi yang telah mendingin ku seruput perlahan, huft… rasanya bodoh, aku dan Kak Rian sudah lama tidak berkomunikasi tapi, aku sempat menyiapkan kado untuk ulang tahunnya, 6 bulan lagi. Bodoh, memang.

Pagi ini aku sekolah seperti biasa, dengan rasa yang sama. Suasana yang sama. Di dekat gerbang sekolah, angin membawa sebuah suara “Nilam,” suara itu hilang perlahan, langkah spontan terdiam, menoleh ke belakang, Kak Andri. lambaian tangannya tinggi di antara para murid yang berjalan bosan. Tak bisa ku bohongi, Kak Andri membuatku lupa diri, kadang aku suka senang sendiri, karenanya, kadang aku lupa padanya karena Kak Rian. Sore ini aku pulang sendiri, sengaja aku berjalan kaki, melepas rasa penat. Hingga sampai di pertigaan, ku hentikan sebuah angkutan.

Ku masuk dan ku lihat Kak Rian dengan wanita itu, ku diam seribu bahasa, gemetar. Melihat mereka berdua. Kak Rian pun sama bungkam, perkenalan kita dulu seakan tak pernah terjadi. Kami dua kota asing yang bertemu di persimpangan jalan. Hujan. Tanpa aba dia banjiri ruas kota, seakan mengerti apa yang aku rasa. Mati… Aku marah. Aku cemburu. Ku buang seribu origami yang ku buat. Hanya sedikit tersisa. Esoknya aku lanjut kan hidupku, aku bawa sisa origami itu ke sekolah dan ku bagikan, termasuk Kak Andri. Sekarang semua berubah, ada rasa yang berbeda. Ada rasa yang hilang. Ada cerita yang ku sengaja buang. Sudah kodrat sebuah cerita, meski coba dilupakan, tapi itu tidak akan berubah dan bisa kembali teringat bila ada celah.

Waktu berlalu. Hari ke hari, bulan ke bulan hilang ditelan waktu yang berjalan ke depan. Panggil saja Yuda, Kak Yuda, senior satu organisasi denganku. Cerita baru tapi ku rasa bukan sebuah tambatan baru. Dia berbeda. Dia tidak berkacamata. Dia konyol. Sejak pertemuan saat itu, aku jadi sering memerhatikannya dari jauh. Dan dia adalah warna baru. Ku berdiri di koridor depan kelas, langit sangatlah cerah siang ini, ku lihat Kak Yuda bermain gitar di depan koridor kelasnya bersama angin. Sssttt… seakan ada yang berbisik begitu, sekilas di telingaku, membuat judul baru. Lagu baru, Mengagumimu Dari Jauh… tiba-tiba sebuah bayangan muncul, di sudut mataku. Dia yang bertingkah aneh kepadaku. Sebut saja Dika, Kak Dika teman sekelas Kak Yuda, yang entah kenapa aku merasa diusik olehnya. Biarkan…

Waktu masih berjalan. Rasanya ada yang hilang. Cerita yang tertelan ramainya senja di tengah kota. Aku berhenti di persimpangan membeli minuman dan camilan untuk di jalan, arah pulang. Dengan sepasang headseat dan ponsel, ku buat dunia sendiri, ku putar lagu indie kesayangan, damai… “Nilam,” sebuah suara memecah kencangnya suara lagu yang berputar di telingaku. Ku balikan badan, pria tinggi jenjang di depan sana melambai ke arahku. Siapa lagi, dia tersenyum menghampiri, senja sudah tiada lagi, yang ada hanya Nilam dan Andri. Senja ini, aku dapati dia.

Dia yang ku cari, Dia yang tak selalu ada tapi dia ada bersamaku. Sadar atau tidak, aku tahu dan sadar apa yang ku rasa padanya. Sangat sadar. Iya atau tidak, peduli atau tidak dia padaku, senja ini ku dapati cinta. Bukan cinta yang ada karena selalu ada, tapi cinta yang hadir saat kita dalam ketiadaan. Mungkin cinta sejati masih sebuah pencarian, masih sebuah misteri Tuhan. Aku hilang. Hilang bersama manisnya senja ini. Dan senja ini ku dapati satu dari sebuah pertanyaan. Senyum yang coba ku artikan, perhatian yang coba ku jelaskan, suka yang mudah ku gadaikan dengan rasa cemburu, setidaknya kini terbayar. Ya karenanya.

Cerpen Karangan: Mutia Rafif
Facebook: Mutia Rafif

Cerpen Tutup Botol merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Video

Oleh:
Ahz membantai semua pemain yang ada di dalam permainan Romantic Fantasy. Dia sudah tidak memandang bangsa sendiri. Semuanya di anggap lawan. Tak peduli dia akan di hukum oleh Archon

Ia Ajarkan Aku Arti Kesempurnaan

Oleh:
Kukira pertemuan itu hanya sekedar pertemuan biasa. Tapi ketemu ia kembali di kampus, pria dengan rambut kerebonya dan Vespanya, ia pun mulai menyapaku. “Hai” “Ya, hai” “Kenalkan namaku pikar”

Dia Bukan Untukku

Oleh:
Aku Ve, Veronica Angela. Seorang siswi populer di sekolahku, terkenal karena kecantikan dan kepintaranku. Aku seorang yang ceria, terbuka, dan suka keramaian. Malam itu hujan lebat, aku memutuskan diam

Antara Cinta dan Ketulusan

Oleh:
Pagi ini mentari bersinar hangat, ditambah dengan nyanyian burung-burung yang seakan menyuruhku segera terbangun. Hmm.. indahnya pagi ini! Oh ya kenalin namaku Zahra Aulia. Usiaku baru 17 tahun. Aku

Aku Bukan Dia

Oleh:
Sore ini kutumpahkan semua kesedihan yang kurasakan kepada hujan. Aku menangis dalam hujan. Dinginnya air hujan membasahi tubuhku. Kenangan 2 tahun yang lalu masih membekas di ingatanku. Sosok Cinta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *