Ujung Ujungnya LDRan (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 September 2018

Masa SMA adalah masa paling kritis dalam kehidupan ber remaja kita. Bisa dibilang ini masa awal penentuan kehiupan sosial kita. Kalau kita disegani, maka seterusnya pasti banyak orang segan dengan kita. Tetapi sebaliknya, sekali memiliki banyak musuh maka musuh itu tidak akan hilang bahkan untuk waktu yang lama.

Namaku Maulana Idham, 18 tahun, baru saja menginjak kelas 3 SMA. Masa penentuan untuk membangun masa depan. Ada kisah unik yang aku lalui selama 2 tahun lebih di SMA ini. Kami memang tidak dekat, pernah sekali kami dekat itu pun karena tugas kelompok kami sering dalam satu kelompok. Kami sama sama anak yang pemalu, terkadang kami bertatap mata namun tak saling menyapa.

“Nak idham, nak Lilly, kalian hari ini tugas piket kan? Tolong bawakan buku tugas ini ke meja bu guru ya” ucap bu Wanda guru fisika kami.
“baik bu” kami menjawab serentak.

Dalam bertugas seperti ini pun kami jarang mengobrol, bahkan kami menjaga jarak karena saling malu. Mendekati Ujian Semester 1, ketua kelas kami yang mendapat amanah dari wali kelas kami membentuk kelompok belajar yang terdiri dari 4 orang tiap kelompoknya.

“Dham! Sekelompok sama aku ya!” teriak Indah salah satu gadis di kelasku yang terbilang sering menempel padaku
“Kita sekelompok juga” ucap Arfian, anak paling populer di kelas, dia adalah salah satu panutanku, karena selain wajahnya yang rupawan, dia anak yang ramah serta pandai.
“iya, mohon bantuannya ya Fian, Indah, Lilly” ucapku seraya menulis agenda yang akan dipelajari untuk ujian.

Kami pun mulai menyusun jadwal belajar kelompok kami. Kami membentuk kelompok grup Line. Ini pertama kalinya aku memiliki kontak pribadi Lilly setelah 2 tahun lebih berlalu di SMA ini. Akhirnya aku pun memberanikan diri untuk memulai pembicaraan dengan Lilly melalui kontak Line.

“Hai Lilly, sedang apa?” tulisku dengan basa-basi.
“Hai dham, aku sedang belajar nih” tulis Lilly dengan stiker gambar beruang belajar.
“hehehe, agak canggung ya kita ngobrol kaya gini… soalnya kita jarang ngobrol, tapi aku ganggu gak?” ucapku dengan emoticon malu malu
“iya dham… hihihi. Enggak kok, aku baru aja mau selesai belajarnya” balasnya

Kami pun mulai menikmati obrolan asik kami. Hingga aku merasa mulai ada kontak di antara kami. Hampir setiap malam setelah kami belajar, kami mengobrol lewat Line. Aku menikmati obrolan kami, dan sepertinya Lilly juga orangnya asik diajak ngobrol, padahal kami berdua sama-sama pemalu.

Belajar kelompok sudah dimulai, kami mengadakan belajar kelompok di rumah masing-masing secara bergilir. Kali ini kesempatan berada di rumah Arfian. Aku melihat Arfian sangat pandai dalam menjelaskan kami, dia juga terlihat sangat nempel dengan Lilly. Melihat pemandangan itu sedikit membuatku cemburu. Namun sepertinya tidak hanya aku yang cemburu, tingkah Indah yang selalu menempel kepadaku juga sepertinya membuat Lilly agak mulai menjarak.

Malamnya, obrolan kami berubah menjadi sangat membosankan. Seperti ada rasa marah di antara kami.
“Kamu marah ya?” ketikku di Line
“gak kok, malah harusnya aku yang tanya, kamu marah aku deket Arfian?” ketiknya
Aku bingung harus menjawab pertanyaan itu, jika aku jawab ‘Iya’ aku tidak ada hak untuk berkata seperti itu. Namun aku tidak bisa membohongi perasaan cemburu ini.
“hmmhh.. agak marah sih, soalnya aku kesel aja..” Tulisku
“ya udah aku minta maaf ya” tulisnya dengan stiker meminta maaf
“eh kok minta maaf, kan kamu gak salah, aku aja yang terlalu ke geer an. Oh iya besok bisa ketemu di lantai atas setelah pulang sekolah?” ketikku
“baiklah aku tunggu di lantai atas ya” balasnya

Aku pun memikirkan apakah aku harus mengutarakan perasaan ini kepada Lilly. Namun aku takut jika ditolak maka kedekatan kami ini akan menghilang begitu saja. Aku pun berencana menembak dia sepulang sekolah, aku sudah siap dengan resiko apapun. Kami pun bertemu di lantai atas sekolah disaat pulang sekolah dan keadaan sepi.

“Lilly, ano… mm… sebenernya…” ucapku ragu
“Aku suka kamu dham..” ucap Lilly mendahuluiku
“heee?? Aku baru aja mau ngomong gitu” ucapku
“hihihi… aku udah tau kok. Aku kan sering baca novel novel yang adegan mau nembak pasti kaya gini” ucapnya
“hmh.. yah begitulah.. kamu mau gak jadi pacar aku Lil?” ucapku
“mmm… aku mau, tapi kita belajar sampe UAS dulu ya nanti kita baru mulai pacarannya” ucapnya

Kami pun membuat persetujuan yang tak diketahui siapapun kecuali kami berdua dan Tuhan. Di kelas tidak ada yang tau kalau kami sudah saling mengutarakan perasaan. Aku pun sedikit kesal melihat perlakuan Arfian kepada Lilly, namun ini sudah komitmen kami. Kami harus merahasiakan ini dari siapa pun.

Selepas penat mengerjakan Ujian, kami pun memulai hubungan pacaran kami layaknya anak SMA jaman sekarang. Namun tak ada yang mengetahui hubungan kami berdua hingga saat itu. Sepulang sekolah dalam perjalanan pulang dan keadaan mendung, gadis yang selalu menempel padaku, dia mulai menyatakan perasaanya kepadaku.

“Idham… sekolah tinggal beberapa bulan lagi… sebelum ujian akhir, aku ingin ngomong sesuatu sama kamu sebelum akhirnya kita bakal pisah” ucap Indah si gadis berkulit kecoklatan yang terlihat sangat manis bagi siapa pun yang melihatnya.
“eh.. ada apa ndah?” tanyaku
“aku suka sama kamu dham… tapi…” ucapnya terputus oleh omonganku
“maaf ndah… aku seneng kamu ngomong gitu, tapi…” sekarang giliran indah memotong ucapanku
“Udah ada Lilly kan… aku tau kok, maafin ya… selama ini aku tau tapi tetep aja nempel nempel ke kamu. Aku cuman mau nanya… kenapa harus Lilly? Kenapa bukan aku dham?” ucap Indah dengan mata berkaca kaca ambil tangannya memegangi kedua pundakku seraya ingin memelukku namun tak bisa.
“Maaf ndah…” hanya ucapan maaf yang dapat terucap dari mulutku.

Cerpen Karangan: Mr.I

Cerpen Ujung Ujungnya LDRan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cita Citaku

Oleh:
Menjadi penulis yang hebat. Itulah cita-cita yang selalu kuharapkan. Aku membayangkan bagaimana serunya berbagi ilmu kepada orang banyak melalui tulisan. Rasanya tak akan mungkin cita-cita itu bisa tercapai jika

Merpati Awan Untuk Langit

Oleh:
“Merpati, apakah aku bisa menjadi awan yang selalu dekat dengan langit?” Hanya kalimat itu yang dapat mengalir dari pikiranku. Pikiran seorang Rhytmawan Klaudiani. Cepat-cepat saja aku menulis kalimat itu

Email Misterius (Part 3)

Oleh:
Tiba-tiba aku menemukan sebuah buku kecil yang terjatuh namun dengan foto 2 anak yang bersebelahan sambil memegang tembakan air. Aku mengenali wajah keduanya, itu adalah Ray dan Dini ketika

The Love Story of My Life

Oleh:
Sembari duduk di pinggir sungai, Aku menghabiskan waktu istirahat sekolah yang sangat membosankan, angin-angin genit mulai menghembus kecil seraya membisikan kepadaku bahwa selama aku masih bernafas, aku akan menunjukkan

Cinta Di Batas Asa

Oleh:
“Apa-apaan kamu ini? Apa kamu sudah gila? Apa kamu sudah tidak bisa mencari pendamping hidup yang lebih baik? Kuliah tidak lulus, eh sekarang minta nikah sama perempuan malam juga!

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *