Ujung Ujungnya LDRan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 September 2018

Saat itu, kita sudah berada di ujung masa SMA. Keadaan hujan gerimis, Aku Lilly Marika adalah pacar dari seorang Maulana Idham. Saat itu, Idham sudah pulang duluan karena aku masih memiliki tugas lain yang harus diselesaikan di sekolah. Pria itu, pria paling disegani di kelas oleh kaum adam maupun hawa. Pria yang memiliki senyuman manis serta paras tampan. Sikap lembutnya yang membuat semua gadis tak kuat dipandangnya. Seorang Arfian Giordy mengungkapkan perasaannya kepadaku, gadis biasa yang tak terlalu cantik dan tak terlalu pintar.

“Lilly… udah lama aku mendem perasaan ini… maukah kamu jadi pacarku? Aku sangat suka sama kamu sejak kita masuk kelas 3 ini” ucapnya seraya memberikan sebuntal bunga yang diikat rapi.
Terlihat semua mata teman teman yang berada di sekitarku menuju padaku. Semua bersorak-sorak agar aku menerima perasaan Arfian. Terlihat beberapa gadis melihatku dengan tidak enak. Tatapan mereka sinis bak ingin segera membullyku.

“Arfian… ummmh… kak Arfian… kamu udah aku anggap kaya kakak aku sendiri” ucapku
“Kenapa lu Lilly!” teriak salah seorang yang mengerubungi kami
“Sok banget lu jadi cewek” salah seorang gadis meneriakiku tidak terima
“Bukan karena apa kak Arfian… Kamu emang baik banget… bahkan orang sepertimu pasti tidak akan terlihat pantas dengan orang sepertiku” ucapku
“Kenapa Lil? Apakah ada orang lain?” tanya Arfian
“yah.. dan aku gak bisa mengkhianati dia… Maulana Idham… dia adalah pacarku” semua orang terkejut dengan ucapanku. Kedua pendiam yang tiba tiba menjadi sepasang kekasih sepertinya mengguncang pikiran mereka.
“Oh… jadi begitu ya… Selamat ya…” terlihat senyum Arfian yang terbalut raut kekecewaan yang amat mendalam
“Longlast ya..” tambahnya

Aku merasa sangat bersalah kepadanya, namun tak ada yang bisa aku perbuat. Aku menyayangi Arfian namun aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri. Perasaan ini berbeda dengn Idham yang kuanggap sebagai kekasih. Terlihat orang-orang yang mengerubungi kami mulai membubarkan diri. Arfian pun meninggalkanku dengan memaksaku membawa bunga yang dia beri.

Malam harinya aku tak bisa tidur, bagaimana keadaan di kelas ketika mereka semua tau aku dan Idham berpacaran. Apakah kami akan dikucilkan? Atau apa aku pun masih bingung. Paginya aku berangkat lebih awal untuk segera menemui Idham dan menceritakan semuanya.

“Idham… aku mau cerita” ucapku
“aku juga mau cerita ly..” ucap Idham
“oh ya sudah kamu dulu saja” ucapku
“kemarin… Indah nembak aku…” ucapan Idham membuatku lebih shock lagi. Kami berdua menolak dua orang yang dulunya pernah menjadi teman kelompok kami hingga sekarang.
“dham.. kamu serius kan? Kemarin… Arfian juga nembak aku…” ucapku lemas. Aku takut melihat reaksi teman teman jika tau apa yang terjadi.

Benar saja, seisi kelas mulai membicarakan kami, hanya sahabatku Nadin yang tidak membicarakan kami.
“Hai artis kelas… gimana rasanya dulunya anak pendiam sekarang jadi artis” ledek Nadin
“ih apa sih din.. aku galau berat ini… pulang sekolah kita main ya, aku pengen hibur diri” ujarku
“Siap bu artis” ucapanya membuatku tambah kesal, namun kami pun tertawa setelahnya.

Beberapa bulan berlalu, teman-teman mulai segan dengan kami lagi. Arfian dan Indah juga sudah nampak menerima keadaan, walau masih terbesit harapan di mata mereka. Hingga akhirnya penentuan kelulusan pun tiba. Ujian Nasional, ujian yang menentukan apakah kami lulus atau tidak. Apakah kami boleh melanjutkan jenjang yang lebih tinggi atau tidak. Aku dan Idham memutuskan untuk saling mendukung dan tidak mengakhiri hubungan kami seperti layaknya teman teman yang lain yang pacaran terbatas oleh UN.
Belajar, Les, mencari tambahan pelajaran, dan mengerjakan latihan-latihan soal adalah hal-hal yang selalu kami lakukan menjelang UN. Kami pun mengerjakan UN dengan maksimal.

Ujian Nasional telah kami tempuh, semuanya sudah merasa kehilangan sedikit beban mereka, namun tetap saja hasilnya masih harus menunggu. Aku dan Lilly pun menunggu hasil Ujian dengan kegiatan belajar bersama guna meneruskan ke perguruan tinggi. Incaran kami adalah perguruan tinggi negeri yang ada di kota kami. UNS, universitas sebelas maret. Kami berusaha untuk lulus Ujian Nasional serta lulus dalam Seleksi masuk UNS.

“Jadi kalau mau mengerjakan ini pakai rumus yang ini ya..” ucapku seraya mengajari Lilly materi yang tidak dimengertinya. Walaupun sebenarnya Lilly lebih pandai dariku, aku terkadang mengajarinya dalam beberapa mata pelajaran.
“Tapi bisa juga kok pakai rumus ini dham..” ucap Arfian yang tiba-tiba nyelonong sambil menunjukan rumus yang lebih mudah.
“wah makasih ian, kamu emang baik banget..” ucapku
“Eits.. ati ati lho dham, aku masih belum nyerah lho..” ucap Arfian kepadaku
“waduh… hihihi tenang aja ian, dia pasti akan aku jagain terus” ucapku meledek Arfian yang merupakan teman dekatku selama di kelas 1 SMA.

Hasil Ujian Nasional pun diumumkan. Kami semua Lulus dari sekolah ini dengan nilai yang cukup memuaskan walaupun nilai Lilly masih jauh diatasku. Namun masalah timbul setelah itu, Lilly dan keluarganya harus pindah ke kota semarang karena pekerjaan ayahnya. Kami pun membicarakannya di taman dekat sekolah kami.

“Dham… kayanya… kita bakal jarang ketemuan… kita bakalan pisah…” ucap Lilly dengan nada sedih.
“loh kenapa ly?” tanya Idham penuh rasa penasaran
“Ayahku… beliau harus pindah kerja ke kota semarang… dan kayanya aku bakal kuliah di sana karena gak memungkinkan untuk tinggal di sini sendirian” ucap Lilly
“yah… hmhh.. oke deh aku juga bakal ke semarang!” ucapku penuh semangat

Terlihat wajah bahagia Lilly yang nampak tak ingin berpisah denganku, namun raut wajahnya berubah seketika.
“tapi aku gak ingin masa depanmu terganggu karena aku” ucap Lilly
“Gak kok, lagipula.. aku memang sedari awal ingin merantau di kota orang, apalagi Universitas di semarang itu kan memiliki akademik yang cukup bagus juga” ucapku

Namun, seperti yang aku duga, kedua orangtuaku menolaku mentah mentah. Mereka memaksaku untuk tetap berkuliah di kota ini. Mereka tidak ingin anak semata wayangnya pergi ke tempat yang jauh dari mereka. Aku pun tidak tinggal diam. Aku berusaha meyakinkan mereka dengan usaha belajar yang sangat keras.

Akhirnya, dengan melihat hasil try out ku, mereka percaya aku memang bersungguh sungguh untuk masuk ke sana. Sebeanarnya aku memang ingin sekali masuk di fakultas psikologi di Undip semarang, karena secara grade jurusan di sana lebih bagus daripada yang ada di kota ku ini. Aku dan Lilly pun melaksanakan ujian masuk ke Undip.

“Semoga kita berdua lulus ya lil” ucapku
“semoga dham…” balas Lilly

Kami memilih 3 jurusan, dengan 2 perguruan tinggi yang berbeda. Setelah beberapa waktu, hasil pengumuman seleksi masuk diumumkan. Nomor peserta yang aku bawa dan Lilly bawa tercantum di dalamnya, namun, sayang sekali aku tidak diterima di universitas Diponegoro. Melainkan diterima di universitas Sebelas maret di kotaku. Lilly berhasil masuk ke Undip dengan nilainya.
Kami pun gagal satu kampus, dan mencoba untuk merundingkan kembali.

“Bagaimana kalau tiap akhir pekan aku pergi ke semarang untuk berkunjung…?” tawarku
“baiklah… tapi… kalau tiap akhir pekan, kau akan keluar banyak uang. Aku akan berkunjung ke sini lagi saja..” ucapnya
“gak akan.. aku akan kerja sampingan di sini… aku pastikan kita tetap bisa bertemu” ucapku

Kami pun menyepakati persetujuan kami. Hari kelulusan pun tiba, aku pun berpisah dengan Lilly dan teman temanku. Aku berharap bisa bertemu mereka lagi suatu saat nanti. Hubunganku dan Lilly pun terus berlanjut walaupun harus terpisahkan oleh jarak yang cukup jauh.

Cerpen Karangan: Mr. I

Cerpen Ujung Ujungnya LDRan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kutukan Cowok Playboy

Oleh:
Gue memang biasa dibilang cowok paling eksis di sekolah dan pada ngerebutin dan suka php-in perempuan serta suka mainin hati perempuan atau bahasa gaulnya playboy sampai-sampai ada perempuan yang

Alfian Dalam Kenangan

Oleh:
Kala rindu tak lagi mau mengerti, jauh menusuk relung hati. Malam pun tak peduli, hamparan kegelapan tanpa satu pun bintang menerangi. Merenungi laranya hati, aku rindu kau pencuri hati.

Karena Teman Cinta Datang

Oleh:
“woy, lama lu gue dipohon ceri nih,” inilah isi sms yang kudapat ketika bel pulang berbunyi, ketika kulihat siapa pengirim pesan ini ternyata fajar temanku, lalu kubalas lah sms

Kenangan itu, Aku dan Kamu

Oleh:
Barangkali kini kau tak tahu siapa aku, semenjak perpisahan 3 tahun yang lalu mungkin waktu telah perlahan menghapus sedikit demi sedikit memoar kenangan yang kita rajut bersama dan mungkin

Mas Kul Bukan Untukku

Oleh:
Pagi yang cerah dan matahari tak pernah lelah menyinari dunia dengan cahayanya yang menjadi sumber kehidupan bagi seluruh umat manusia. Kumulai hari ini dengan bersiap pergi ke sekolah. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *