Unpredictable Unbelievable

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 26 November 2013

Hari itu seperti biasa, Lisa mahasiswi baru itu datang ke kampus membawa kamera yang dikalungkan di lehernya. Apapun yang dirasanya menarik pasti tidak luput dari jepretan kameranya. Dari memotret pengemis di pinggir jalan, seseorang yang sedang duduk di taman, pak bon yang sedang menyapu, dan pemandangan di sekitarnya.

Hari ini ada pameran buku di hall. Banyak buku-buku yang menarik dijual dengan harga miring. Selain fotografi Lisa juga hobi membaca dan tentu saja mengoleksi banyak buku. Barang yang banyak kita jumpai saat di kamar Lisa ada dua, yaitu foto dan buku. Saking kreatifnya, dinding kamar Lisa ia sulap menjadi art photo yang indah.

Karena paginya Lisa ada kelas matematika, ia baru bisa pergi ke pameran buku siang. Sepertinya hari ini adalah hari keberuntungan Lisa. Selain mendapatkan banyak buku-buku yang bagus ia juga bertemu dengan anggota band RCV, mereka adalah band indie yang terkenal di radio lokal. Selain lagu-lagu mereka yang bagus, suara vokalisnya sangat khas dan tentu saja paras tampan merekalah yang menarik hati para fansnya yang rata-rata kawula muda.

“Wah, hari ini benar-benar keberuntunganku” Lisa berkata dalam hati sambil tersenyum. Lisa mulai menjepret beberapa tumpukan buku lalu diam-diam menjepret salah satu anggota band RCV. “yes dapat. Whaow cool!” ternyata ada salah satu anggota band RCV yang tahu kalau Lisa sedang mengawasi mrereka. Dengan cepat Lisa langsung pergi agar tidak tertangkap oleh mereka.

Sesampainya di rumah Lisa langsung mencetak foto-foto tersebut lalu memasukkannya ke dalam album. Jika sangat bagus ia akan menempelkannya di art photo setelah itu ia membaca buku yang ia baru beli.

Malam harinya Eno adik Lisa mengajaknya untuk nonton konser. “kak, nonton konser yuk?” Tanya Eno. “di mana, konsernya siapa?”. “RCV di taman kota” jawab Eno. “hah, ngapain mereka konser di taman malam-malam gini?” tukas Lisa. “kan ada konser amal buat korban banjir di sana”. “oh ya?”. “iya, ikut gak?”. “oke”.

Malam itu mereka berdua pergi ke taman kota untuk nonton konser RCV. Di sana Eno bertemu dengan teman-temannya jadi Lisa memutuskan untuk melihat-lihat pameran sendiri. Seperti biasa, Lisa tidak lupa untuk mengambil foto penampilan band RCV dan beberapa alat-alat musik di pameran tersebut.

Setelah puas memotret Lisa pulang lebih awal. Sesampainya di rumah seperti biasa ia langsung mencetak dan memajang foto hasil jepretannya tersebut. Semua orang pasti mengagumi band RCV dan semua anggotanya. Begitu juga Lisa. Dia menaruh hati pada Six, drummer band RCV. Dia adalah anggota yang paling cuek dan cool, sama seperti Lisa. Banyak sekali foto-foto Six di art photo dan hampir memenuhi album fotonya.

Keesokan harinya. Biasanya Lisa akan menghabiskan jam istirahatnya di perpustakaan atau ke galeri fotografi, tetapi hari ini dia pergi ke kantin. Hampir semua meja sudah penuh, hanya ada satu meja yang kosong yaitu di meja Ina, Siti, dan Dio. “hey, aku boleh gabung ya?” Tanya Lisa basa-basi. “tentu saja, duduk Lis” kata Siti. “thanks”. “eh, kata anak-anak kamu suka ya ama Six?” Tanya Ina. “hah? Siapa, aku? “iya, ngaku aja” tukas Dio. “cie.. hari gini siapa juga yang nggak suka ama Six?” goda Siti. Dalam hati Lisa bergumam, “duh, anak-anak ini keras banget ngomongnya. Mereka pikir aku suka? ugh”

Tidak disangka ternyata di belakang Lisa adalah meja anak-anak RCV. Sontak semua anggota RCV menoleh ke Lisa lalu Lisa menoleh sedikit kepada mereka. Lisa sangat malu sekali, tetapi ia juga sedih karena Six tidak peduli malah anggota lainnya yang heboh. “kalian semua menyebalkan membuat selera makanku hilang” Lisa pergi dengan kesal dan tidak berani menoleh ke arah Six. Lalu Ramon, Connor, dan Djatmiko menggoda Lisa yang sedang lewat. “hai manis” goda Ramon. “wah Six, Lisa lumayan cantik lo” goda Djatmiko, sementara Connor hanya tertawa meramaikan suasana.

Siang ini ada pertunjukan drama di ruang teater. Sebenarnya Lisa tidak suka dengan teater tetapi karena Austin, sahabat Lisa memaksa ia akhirnya ikut. “Austin” “ya?” “aku lapar aku beli snack dulu ya. Nanti aku mennyusul” “bener?” Tanya Austin memastikan. “iya bener, kalo nggak percaya, ni kamera kamu bawa deh” kata Lisa sambil memberikan kameranya kepada Austin. “oke-oke, aku duduk paling belakang. Cari aku ya” pinta Austin. “Oke”

Setelah membeli snack Lisa langsung ke ruang teater. Untung saja Austin duduk di pinggir dekat pintu masuk, jadi Lisa tidak sulit menemukannya. “hei, lama sekali” tukas Austin. “sorry, antri tadi bayarnya. Lagian, sejak kapan kamu suka teater?” selidik Lisa. “ehm.. sejak aku suka sama pemeran utamanya” Austin tersenyum. “hem.. pantas. Uda PDKT belum?” Tanya Lisa. “uda, ni juga dia yang kasih tahu aku kok”. “wah, bener-bener ni anak. Oke sukses selalu ya sob.” Sambil menepuk pundak Austin. “thanks ya, btw mana snacknya?” “oh iya, nih” memberi snack ke dapan Austin.

“Kamu mau?” Lisa menawarkan snack kepada seseorang yang duduk di samping Lisa. Lisa langsung kaget karena seseorang itu adalah Six. “OMG, aku deg-degan. Oh Dear aku malu banget.” Gumam Lisa dalam hati. Lalu Six mengambil snack yang ditawarkan Lisa tanpa berkata sepatah kata pun. Dalam hati Lisa masih bergumam sendiri. Dia berpikir, bagaimana bisa Six ada di sini dan sejak kapan rocker suka dengan teater? Siapa yang ingin dia lihat, apa dia juga suka pada pemeran utamanya? Tanda tanya besar ada di kepala Lisa. “Austin, kamu tahu kalau di sebelah kita itu ada Six?” Tanya Lisa. “yea” jawab Austin dengan santai. “ugh.. aku malu banget karena kejadian di kantin tadi” kesal. “nyantai aja, kan kamu nggak ngelakuin kesalahan apapun” “aku merasa nggak enak aja ama dia. Aku pulang dulu ya..” pinta Lisa. “kan pertunjukannya belum selesai” Dengan muka memelas Lisa memohon, akhirnya Austin mengijinkan Lisa pulang. “oke, hati-hati ya”. “oke bye”.

Beberapa hari kemudian. “Tante Lisanya ada?” “Lho, Lisa belum pulang” jawab tante Emi. “kalau begitu masuk dulu yuk” ajak tante Emi. “iya terima kasih tante” jawab Austin. Sementara itu, di kampus Lisa melihat Renesmee. Cewek yang di taksir sama Austin, dia sedang berdua dengan Six. “hah! Renesmee jalan dengan Six? Kali ini benar-benar gawat” tukas Lisa. Dalam hati Lisa bergumam, “Hatiku tidak sakit melihat mereka karena aku dengan Six memang hanya ngefans, but bagaimana dengan Austin? Tentu saja Renesmee lebih memilih Six, ughh” menghela napas.

Sesampainya Lisa di rumah. “Austin?” “Hai Lis” Austin sumringah. “Ada apa?” Tanya Lisa. “begini, uhm besok rencananya aku mau mengungkapkan perasaanku kepada Renesmee..” Austin belum selesai berbicara tiba-tiba Lisa menyela. “what?” tegang. “ada apa Lis?” Tanya Austin. “eh tidak apa” mengernyit. “sorry ya Tin, but aku tadi lihat Renesmee berduaan dengan Six” dengan ekspresi lesu. “memangnya kenapa? Tanya Austin. “eee.. ok nevermind. Lanjutkan saja” tersenyum terpaksa. “oke, aku mau minta tolong ke kamu. Besok pulang kuliah aku dan Renesmee janjian bertemu di ruang teater. Aku ingin kamu sudah ada di sana duluan lalu kamu main gitar dan menyanyikan lagunya Craig David yang Unbelivable waktu kita masuk, gimana?” kata Austin memperjelas. “oke-oke aku bisa” jawab Lisa. “alright.. sampai ketemu besok. Thanks ya Lis” sambil memeluk Lisa. “ehm, sama-sama”

Setelah itu Lisa pergi ke kamar untuk mencetak foto hasil jepretannya. Sambil menunggu printer mencetak Lisa membayangkan apa yang akan terjadi besok. Apa benar Renesmee bersama Six atau mereka hanya kebetulan bersama. Lisa benar-benar binggung akan hal ini. “dor!” Eno mendobrak pintu kamar untuk mengagetkan Lisa dari lamunannya. “eh, anak kecil sedang apa kamu? Mengganggu saja!” kesal. “kakak kok kelihatan sedih? Lagi patah hati ya?” goda Eno. “ngawur.. begini, Austin sedang PDKT dengan Renesmee, pemeran utama di teater kampus. Dan, kemarin waktu kita nonton teater di sampingku ada Six. Dan tadi waktu di kampus aku juga melihat mereka berdua. Huh aku bingung, apa jadinya dengan Austin kalau mereka memang benar-benar bersama.” Dengan ekspresi lesu dan murung. “wah, kasian sekali kak Austin. Kalau menurutku sih, Renesmee akan memilih Six” kata Eno. “uh.. kamu benar” memeluk Eno. “iih, jangan peluk-peluk ah, malas deh” kata Eno sambil melepas pelukan kakaknya. “huuh, sana-sana pergi” usir Lisa. “mau ikut gak?” Tanya Eno. “kemana?” “ke taman” jawab Eno. “ngapain” Tanya Lisa. “ya nongkrong sama temen-temen, emm ya sebenarnya sih kita mau latihan drama musical” garuk-garuk kepala. “hah? Kamu ikut ekskul drama?” heran. “enggak banget deh, itu hanya tugas kesenian tau” “oukkey..” goda Lisa. “ikut gak?” “iya, nanti kalau ngeprintnya selesai aku kesana” kata Lisa.

Sesampainya di taman, Lisa seperti biasa mengabadikan suasana. Tidak hanya pemandangan disana, tetapi juga Eno dan teman-temannya sebagai objek pemotretan Lisa. Sementara Eno dan teman-temannya sedang latihan bermain gitar dan menghafal naskah, Lisa melambai kepada mereka dan menuju ayunan. “Eno” dari kejauhan Lisa memanggil Eno. “apa? Tanya Eno. “kemari sebentar gih” pinta Lisa. “ada apa?” Tanya Eno. Lisa mengulurkan kameranya pada Eno. “ambilkan gambarku” tersenyum malu. “tumben” “ya, sekali-kali fotografer punya fotonya sendiri” tukas Lisa. Eno mulai memotret Lisa. Karena terlihat asyik, teman-teman Eno juga ingin di foto. Jadilah mereka saling memotret bergantian.

Keesokan harinya. Pagi itu di kampus Lisa bertemu lagi dengan Renesmee dan Six. Sebenarnya Lisa ingin menghampiri mereka dan bertanya apa sebenarnya hubungan mereka. Tetapi itulah Lisa, dia lebih suka mengacuhkan segalanya. Sepulang kuliah Lisa langsung pergi ke ruang teater. Di sana ternyata Austin dan Renesmee sudah datanng dan mereka sedang berdebat. Dalam hati Lisa berkata, “seharusnya aku tau apa yang akan terjadi” setelah mereka berdebat Renesmee pergi meninggalkan Austin lalu Lisa menghampirinya. “Austin, ada apa?” Tanya Lisa sambil menepuk pundak Austin. “enggak, aku nggak apa-apa. Aku baik-baik saja. Kamu jangan khawatir” tersenyum aneh. “maaf ya” kata Lisa. “untuk apa kamu minta maaf, aku malah berterima kasih karena kamu ada disaat aku membutuhkanmu” lalu mereka berpelukan. “eh, aku pulang dulu ya. Kamu hati-hati” Austin langsung pergi tergesa-gesa meninggalkan Lisa. “ok oke, bye” jawab Lisa.

Sebenarnya Austin tergesa-gesa untuk mencari Six. Akhirnya dia menemukannya di dekat parkir kendaraan. “Six, kau… tidak bisakah kau mencari gadis lain? Kau kan tahu kita sudah bersama. Mengapa kau merebutnya dariku?” Austin memukul wajah Six. “jika dia mau aku bisa apa?” jawab Six dengan santai. “kau..” Austin tidak terima lalu mereka saling pukul. Saat Lisa berjalan di koridor kampus, tiba-tiba May mengagetkannya. “Lisa kemana saja kamu?” “ada apa?” Tanya Lisa penasaran. “itu.. Austin dan Six, mereka berkelahi di dekat parkiran” dengan berlari Lisa langsung menuju ke tempat parkir kendaraan.

Lisa berteriak “Austin hentikan!” lalu Lisa mencoba untuk melerai mereka. Saat Lisa berusaha meraik pundak Six meminta agar dia tidak memukul Austin lagi, dengan tidak sengaja mendorong Lisa yang berada tepat di belakangnya. “aw” Lisa kesakitan. Lalu Six menoleh setelah itu dia bangkit dan meninggalkan mereka berdua. Lisa menghampiri Austin, membantunya berdiri lalu memapahnya. Dari kejauhan Six sesekali menoleh mereka berdua. “apa yang kamu lakukan tadi itu memalukan tau?” dengan ekspresi marah. “masih ada banyak gadis cantik di dunia ini selain Renesmee” tambah Lisa. Mereka duduk di pinggir trotoar lalu Lisa membersihkan darah yang menempel pada bibir Austin. “puas kamu?” dengan kesal, Austin hanya tersenyum.

Hari ini ada pentas seni di kampus dan tentu saja di sana juga ada beberapa pameran menarik. Saat semua orang sedang asyik menyaksikan RCV band, Lisa malah mengunjungi pameran fotografi. Setelah lama berkeliling, tiba-tiba Lisa terpaku oleh sebuah foto tanpa frame yang dipajang hanya dengan diselotip di pinggirnya. Yang membuatnya tertegun bukanlah yang lain, melainkan itu adalah foto Lisa yang sedang duduk di taman dengan membawa kamera kesayangannya. Yang lebih mencenggangkan lagi, keterangan foto tersebut adalah berjudul Linda oleh Six. Lisa benar-benar tidak mengerti dan dia benar-benar bingung. Tanpa pikir panjang Lisa mengambil foto tersebut dan langsung menuju Hall. Saat semua penonton bersorak ria Lisa hanya diam dan sedikit kesal karena foto tersebut. Setelah lama menunggu akhirnya RCV band turun ke backstage, Lisa pun menyusul.

“Six apa ini?” menunjukkan foto tersebut dengan kesal. “gue suka sama loe” dengan kesal Lisa langsung menampar Six. “nggak lucu” Lisa langsung pergi. “gue serius Lis” teriak Six menyakinkan. Dalam hati Lisa bergumam, “bagaimana dia bisa tahu namaku?” “sejak aku melihatmu di kantin waktu itu, aku penasaran denganmu. Aku banyak mencari info tentangmu. Dan pasti kamu juga tidak tahu kalau aku sering membuntutimu diam-diam.” Jelas Six. “itu tidak merubah apapun” Lisa pergi. “wah, dia marah” kata Connor sambil menepuk pundak Six. “kejar” “dia” Ramon dan Djatmiko menggoda Six sambil beradegan lucu. Sementara Six hanya menghela napas sambil duduk dan meminum sebotol air mineral. Dalam hati Lisa bergumam, “ada apa sebenarnya dengan Six? apa dia sakit? Frustasi? Patah hati? Atau apa? gila mungkin dia? Habis kesetrum? Kejedot tembok? Atau aku tampar tadi? Uh mungkin aku tadi keterlaluan. Huuh mengapa juga aku memikirkan hal bodoh seperti ini. Aku rasa tidak penting. Sambil memperhatikan koleksi art foto di dinding kamarnya yang dipenuhi foto-foto Six.

Sore harinya. “hey, bersepeda ke taman yuk” mengajak Eno. “haah, tumben. A… lagi patah hati ya?” goda Eno. “apa an sih, pacar juga nggak punya” tukas Lisa. Eno tertawa. “ayo”. “Ma kita ke taman” pamit Lisa. “hati-hati sayang” kata bu Emi. Sembari mengayuh sepeda ke taman, “eh, kak bagaimana kabarnya kak Austin?” Tanya Eno. “oh, dia baik-baik saja. Dia kan Austin” “oh bagus kalau begitu” kata Eno. Lisa melamun dan bergumam dalam hati, “apa kejadian tadi siang itu benar-benar terjadi?” “kak, hey..” tegur Eno. “hem, apa?” Tanya Lisa. “kakak ngelamun ya?” Tanya Eno. “eh, enggak. Ada apa?” “tu kan..” tegas Eno. “dibilang enggak ya enggak, eh kita sudah sampai” kata Lisa.

Setelah memarkirkan sepedanya Eno langsung berlari menuju ayunan favoritnya. Sedangkan Lisa hanya duduk di bawah pohon beringin yang rindang. Dengan hati yang resah dan gundah Lisa memikirkan kejadian tadi siang. Dia bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi. Lalu Lisa menghampiri Eno dan duduk di ayunan sebelah Eno. “hey, ada apa?” Tanya Eno. “huh aku binggung mengatakannya” kata Lisa dengan lesu. “katakan deh, kan ini aku, adikmu yang paling manis” menggoda. Menghela napas “huuh, ok begini. Tadi di kampus saat aku melihat pameran fotografi aku menemukan foto diriku sendiri yang diambil oleh Six. Aku minta penjelasan darinya eh dia bilang dia suka aku. Serius katanya. Tetapi aku tidak percaya dan langsung pergi.” Jelas Lisa. “wah, berarti sebentar lagi kak Six jadi kakaku dong? wah, benar-benar mimpi yang menjadi kenyataan” sumringah. Sambil memukul kepala Eno “apa an sih, ngawur kamu. Aku tahu aku ngefans sama Six, tetapi aku tidak mencintainya tahu” tukas Lisa. “lagipula itu tidak mungkin terjadi. Saat di kantin aku tidak melihat dia melihatku. Tapi tadi dia bilang dia melihatku. Dia pembohong yang buruk sekali.” Dengan kesal.

Keesokan harinya. Dari kejauhan Lisa melihat Austin sedang berbicara dengan Six. “apa aku tidak salah lihat? Yang bersama Austin itu Six kan? Mereka kan bermusuhan, bagaimana bisa ngobrol sesantai itu?” mengernyitkan dahi. Sepulang kuliah Lisa mencari Austin untuk menanyakan hal tersebut, saat melewati Hall, tiba-tiba ada seseorang yang menarik Lisa ke dalam. “Six, apa yang kamu lakukan?” Lisa kaget dan marah. “maaf membuatmu terkejut” kata Six. Hening sekali. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Hanya tatapan dalam oleh keduanya. “lepaskan tanganku” pinta Lisa sambil berusaha melepas genggaman Six. “Lisa aku benar-benar mencintaimu. Aku serius dan aku tidak sedang bergurau. Lama sekali Lisa terdiam karena dia binggung. Ini semua tidak terpikirkan olehnya. “maaf aku tidak mencintaimu” kata Lisa. Dengan cepat Six memeluk Lisa. “Six lepaskan. Lepaskan kataku!” berusaha melepaskan pelukan Six. “please.. sebentar saja” Six menikmati setiap detik berharga itu. Dengan perlahan Six melepaskan pelukannya lalu menatap lembut mata Lisa. Dengan cepat Six mencium bibir Lisa. Lisa melepaskan ciuman Six. “Six kau gila!” dengan marah Lisa langsung pergi dan berlari sangat kencang. Dari jauh Austin memanggil Lisa tetapi dia tidak menghiraukannya. Sesampainya di rumah Lisa langsung pergi ke kamar dia sangat marah kepada Six. “uh dasar bodoh, apa yang dia lakukan? Beraninya dia melakukan ini padaku? Ugh menyebalkan!!”

“apa kakak sudah gila? Mengapa dia teriak-teriak? Hey berisik!” sahut Eno. “mama juga tidak tahu, tadi pulang langsung berlari menuju kamar” menggelengkan kepala. Sementara itu, di kampus Six menjelaskan apa yang baru saja terjadi kepada Austin. Six meminta tolong kepada Austin untuk meminta maaf kepada Lisa. Beberapa saat kemudian mereka datang ke rumah Lisa. “halo tante, Lisa ada?” Tanya Austin. “kamu marahan dengan Lisa?” Tanya Bu Emi. “oh tidak, hanya sedikit kesalah pahaman tante” jelas Austin. “em, baiklah kalau begitu. Dia ada di kamar” kata Bu Emi. “terima kasih tante” kata Austin dan Six lalu mereka langsung bergegas menuju kamar Lisa.

“ma, tadi mama bicara dengan siapa?” Tanya Eno. “siapa memangnya?” heran. “itu ma. Itu drummernya RCV band indie yang terkenal itu lo, namanya kak Six..” kegirangan. “benarkah?’ dengan ekspresi datar karena heran. “Lis ini aku” kata Austin yang sedang mengetuk pintu kamar Lisa. “ada apa?” Tanya Lisa. “bukan apa-apa, aku hanya ingin memberikan sesuatu kepadamu” bujuk Austin. Lalu Lisa membukakan pintu kamarnya. Lisa sangat terkejut karena disana juga ada Six. “ada apa ini?” Tanya Lisa dengan kesal. “tunggu dulu Lis, asal kamu tahu kami sudah berteman” tersenyum kepada Six, Six pun membalasnya. “what?” Lisa terkejut. “apa maksudmu Austin? Dia yang mengkhianatimu? Apa kamu sudah lupa?” tegas Lisa. “bukan seperti itu Lis, dialah yang menyadarkanku kalau Renesmee itu hanya ingin memanfaatkanku”. “A ak..” dengan cepat berusaha menutup pintu kamar tetapi Six berhasil masuk. Mereka saling bertatapan mata. Lalu Six melihat sekeliling dan takjub dengan art foto yang terpajang di dinding. Yang dipenuhi oleh foto-fotonya. “Six..” “ssh..” Six menyentuh lembut bibir Lisa dengan jemarinya. Lalu mereka berpelukan.

Cerpen Karangan: Agus Purnamasari
Facebook: https://www.facebook.com/loveDBA4ever
Aku ingin suatu saat semua cerpenku difilmkan karena aku ingin menginspirasi banyak orang dengan kisah-kisah yang aku tulis 🙂

Cerpen Unpredictable Unbelievable merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Inikah Cinta

Oleh:
Pernah ngerasa jatuh cinta? Gimana sih rasanya? Kalau aku tanyakan ini pada teman-temanku yang jelas aku pasti sudah dibully habis-habisan. Dan mungkin sahabat paling dekatku. Jean akan nyeletuk, “Helooo

Klasik

Oleh:
“Sorry ya. Udah nunggu lama?” Cowok yang semula fokus pada jalanan di luar sana langsung menoleh ke arahku. “Enggak kok. Baru juga.” Senyumnya selalu bisa membuat jantungku berdegup dua

Arloji Cinta Najwa (Part 1)

Oleh:
Matahari yang masih tampak di sebelah timur, langit yang mulai membiru menghiasi pagi itu. Pagi yang indah untuk bersantai, ah sangat disayangkan sekali. Wanita itu lebih memilih bangkit dari

Album Cintaku

Oleh:
Aku sibuk mencari bukuku yang bertuliskan lagu-lagu. Lagu-lagu yang tak pernah kutulis secara utuh. Hanya kutuliskan beberapa liriknya saja yang sesuai dengan peristiwa apa saja dalam hidupku. Aku berniat

Batu di Balik Udang

Oleh:
“Felly! Ini berkas yang lo butuhin untuk stock barang dari para klien,” kata Riska dengan menyerahkan map berwarna biru. “Hmmmm.. tumben banget cepet kerjaannya. Biasanya, lo selalu molor kalau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *