Unreal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 18 March 2017

Nathan menatap layar laptop di depannya dengan malas. Kedua matanya sudah tidak lagi bersahabat untuk diajak bekerja sama mengerjakan tugas kuliahnya. Diseruputnya secangkir kopi yang sudah mulai dingin. Itu adalah cangkir kedua yang menemaninya malam itu. Tugas-tugasnya banyak. Bahkan terlalu banyak untuk dikerjakan sendirian olehnya. Biasanya, dia akan menelepon Adelia, sahabatnya sejak kecil yang selalu dengan senang hati akan membantunya mengerjakan tugas apa pun. Tapi tidak untuk malam ini.

Nathan meregangkan tubuhnya sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Tiba-tiba saja pikirannya teralih pada Adelia saat kedua matanya menangkap ponsel miliknya yang tergeletak di sebelah laptop. Dia bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan gadis cantik itu saat ini. Nathan tidak akan berbohong jika dirinya memang merasa setengah kehilangan Adel. Semua dimulai saat gadis itu mulai menyebutkan nama seseorang padanya. Aldo, laki-laki yang diakui oleh Adelia sebagai pacar barunya. Nathan bukannya benci jika sahabatnya itu memiliki pacar, hanya saja untuk kali ini dia memang tidak merasa senang. Untuk yang satu ini berbeda. Aldo tidak seperti laki-laki yang dia bayangkan setelah Adel memperkenalkan kekasihnya itu.

Nathan meraih ponselnya, kemudian berjalan mendekati jendela kamarnya. Dia mencari kontak seseorang, lalu menghubunginya. Hanya terdengar nada sambung beberapa kali, tidak ada jawaban. Adelia, gadis itu mungkin terlalu asik dengan kekasih barunya sampai-sampai tidak punya waktu untuk menjawab panggilan dari Nathan.

Nathan menghela nafasnya panjang. Dia sendiri sekarang malah merasa kesal bercampur aduk dengan kebingungan. Kesal karena Adelia menghilang seperti ditelan sang malam. Bingung karena tidak tahu harus mencari jawaban kemana. Yang bisa dia lakukan saat itu hanyalah, diam.

“Nathan!”
Nathan membalikkan tubuhnya, kemudian mendapati Adelia tengah berlari-lari kecil ke arahnya. Dia tampak lebih cantik di bawah sinar matahari.

“So?” Nathan menaikkan kedua alisnya, saat gadis itu sudah sampai di hadapannya.

Adel mengatur nafasnya yang terengah-engah sebentar. Butiran kecil keringat membasahi pelipis wajahnya.

“Maaf, Nat. Aku lupa kalo hari ini aku ada janji nemenin Aldo main futsal. Gimana dong?” Kata Adel memelas. Kedua mata bulatnya persis seperti mata anak kucing yang tengah meminta makanan.

“Ah, lagi?” Balas Nathan kesal. “Kamu bisa nemenin dia nanti kan?”

“Tapi Aldo udah jemput aku sekarang.”

“Oke, mana dia?” Nathan mencari-cari di sekelilinya.

“Tuh, yang lagi nelfon di depan ruang administrasi. Tepat di sebelah mobil Avanza biru.”

Nathan memicingkan kedua matanya, mencari-cari sosok yang dimaksud. Dia memastikan setiap wajah yang berada di sana untuk beberapa saat, kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada Adelia yang sedang mengetik sesuatu pada layar ponselnya. Nathan memandangnya cukup lama, sampai akhirnya, gadis itu menyadari ada yang tidak beres dengan Nathan.

“Kamu, hmm kenapa?” Tanyanya ragu-ragu.

“Seriously? Kamu yakin mau nemenin futsal seseorang yang bernama Aldo yang bahkan baru kamu kenal sebulan yang lalu?” Nathan menekankan pertanyaannya dalam-dalam. “Entah kenapa aku nggak yakin, Del”.

Adel menghela nafasnya, kesal. Entah kenapa semua orang tampak benci dengan Aldo. Tidak ada yang salah dengan Aldo. Dia hanya seorang laki-laki yang aktif dengan organisasi sosial dan peduli pada lingkungan. Dia memang bukan laki-laki populer. Dan semua orang membencinya. Adel tidak peduli sebenarnya jika orang-orang tidak menyukai Aldo. Tapi tidak untuk Nathan. Seharusnya Nathan mendukung apa pun yang jadi pilihan Adel.

“Kenapa sih, Nat? Kenapa kamu ikut-ikutan orang lain? Kamu bilang kamu peduli dengan bahagianya aku? Tapi sekarang apa?” Kata Adelia tampak kecewa. Dia bahkan enggan menatap wajah Nathan, lalu mulai mundur perlahan, menjauh.

“Del, kamu tau apa yang orang lain bilang? Mereka bilang kamu gila”, Nathan membalas, dan sedetik kemudian menyesali kata-katanya.

Adel diam, bibirnya tersenyum kecut. Dia tidak percaya Nathan mengatakan kalimat barusan. Mungkin Nathan juga sama seperti mereka yang menganggap dirinya gila. Sekarang dia tidak punya siapa pun untuk melawan kutukan dari mereka, karena sepertinya, Nathan juga tidak mau membantu. Entah kenapa sekarang dunia terasa lebih kejam dibandingkan sebelumnya. Sebelum Aldo hadir di hidupnya.

Saat itu juga, Adel memilih pergi dari tempat itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia tidak ingin berdebat lebih lama dengan Nathan.
Sama seperti Adel, Nathan pun memilih mengunci mulutnya rapat-rapat. Dia ingin melakukan sesuatu, namun tidak yakin apa yang harus dia lakukan. Dia malah memicingkan matanya, menatap matahari yang sudah tertutupi awan. Tidak ada lagi rasa hangat, seolah sang mentari enggan menyinarinya. Seolah tengah menertawakan dirinya yang tidak tahu harus berbuat apa.

Adelia menatap wajah laki-laki yang duduk di sebelahnya. Laki-laki itu tampak membuang pandangan kosong ke depannya. Entah apa yang tengah dia pikirkan.

“Kamu baik-baik aja, Do?” Adel akhirnya bertanya pelan.

“Eh, iya. Aku baik-baik aja,” jawab Aldo cepat, kemudian tersenyum pelan. Adel balas tersenyum.

“Aku cuma lagi mikir, kenapa semua orang benci denganku?” Lanjut Aldo lagi. Matanya tampak sayu.

“Kamu nggak perlu mikirin orang lain, Do. Meskipun mereka semua berpaling dari kamu, aku nggak. Aku nggak peduli dengan mereka,” kata Adel meyakinkan, dia menatap mata laki-laki itu dalam-dalam. Seolah sedang memberikan energi positif ke dalamnya.

“Tapi karena aku, kamu pun akan jadi sasaran. Mereka semua menertawai kamu, kan? Mereka bilang kamu gila.”

“Biarin aja mereka pikir aku gila. Aku emang cukup gila kok karena jatuh cinta sama orang kayak kamu,” balas Adel dengan nada manja, kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu Aldo.

Aldo diam cukup lama. Dia memilih membiarkan gadis cantik itu agar tetap nyaman dengan posisinya. Malam semakin larut, tapi dia masih belum mau membiarkan Adelia pulang, meski dia sendiri pun sadar, ini sudah terlalu malam untuk berada di kampus yang hanya ada mereka berdua. Tapi Adel pun tampaknya enggan berpisah. Dia malah sekarang semakin mendekatkan sandarannya, seolah-olah telah menemukan posisi ternyaman dalam duduknya.

Adel yakin, nanti akan ada waktunya bahwa semua orang akan berhenti menertawakan dirinya. Akan ada waktunya bahwa semua orang akan lelah menyebutnya gila. Yang perlu dia lakukan adalah tidak ambil peduli dengan mereka. Lagi pula, dia tidak butuh mereka. Adel yakin sekali dengan hal itu.

Nathan terbangun oleh bunyi ponselnya yang berdering menerima panggilan dari seseorang. Dia membuka kedua matanya yang masih terasa berat. Tangannya ke sana kemari mencari-cari ponsel yang akhirnya dia temukan di bawah bantal.

Reinald, nama teman satu kampusnya lah yang muncul di layar ponsel. Dia menggerutu sebal sebelum akhirnya menjawab panggilan itu.

“Halo”.

“Apa sih? Pelan-pelan gue baru bangun”.

“Siapa?”

“Serius lo!” Nathan seketika bangun dari posisi tidurnya begitu Reinald menyebut-nyebut nama Adel.

“Oke. Gue ke sana”, Nathan segera mengakhiri teleponnya dan meloncat dari tempat tidur.

Nathan berlari-lari kecil menghampiri Reinald yang tengah menunggunya di bawah sebuah pohon mangga, yang ada di halaman kampus. Tanpa banyak bicara, Reinald memintanya untuk mengikuti, menuju ke gedung B di bagian barat kampus. Di sanalah Nathan mendapati Adelia tengah tertidur di sebuah ruang gudang tempat penyimpanan alat-alat olahraga.

Nathan hampir tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Tapi itu memang benar Adelia yang tengah tidur pulas dengan baju yang kotor. Itu adalah baju terakhir yang dia pakai di saat terakhir kali mereka berbicara.

“Gue tadi mau ambil bola basket. Tapi malah nemu beginian. Gue nggak berani bangunin dia,” kata Reinald menjelaskan.

Nathan tidak menjawab apa-apa. Matanya masih terpaku pada Adelia. Dia merasa hancur melihat keadaan sahabat kecilnya yang sekarang. Adel tidak pernah seperti ini sebelumnya.

“Tadi gue ketemu security. Dia bilang udah ngeliat Adel dari semalem ada di ruangan ini. Sendirian.” Reinald menambahkan membuat Nathan semakin sakit mendengar hal itu.

“Serius, Nat. Dia butuh pertolongan,” Reinald menepuk pundak Nathan beberapa kali, menghela nafas, kemudian pergi meninggalkan Nathan yang masih berdiam diri.

Reinald benar. Nathan harus melakukan sesuatu. Dia tidak mungkin hanya berdiam diri saja dengan keadaan Adel yang sekarang. Adel butuh pertolongan.

Nathan mendekati tubuh gadis itu, kemudian mengusap rambutnya dengan lembut. Dia baru saja bermaksud akan membangunkan, namun Adel sudah lebih dulu membuka matanya. Dia tersenyum, seperti tidak ada apa pun yang terjadi padanya.

“Hei,” katanya sambil mencoba bangkit, tapi kepalanya terasa sakit. Dia hampir saja jatuh kalau Nathan tidak dengan sigap menangkap tubuh kecilnya itu.

“Kok kamu ada di sini, Nat?” Adel bertanya dengan wajah penasaran sambil memijit-mijit kepalanya.

Nathan menatapnya iba. “Harusnya aku yang nanya kenapa kamu ada di sini?” Tanya Nathan pelan. “Sekarang hobby ya tidur di gudang?”

Adel terkikih pelan, kemudian mencubit lengan Nathan sebagai balasan pertanyaan barusan. Dia baru saja akan menjawab, namun tiba-tiba pandangannya mulai berkunang-kunang. Denyut kepalanya semakin terasa kuat, dan hal terakhir yang dia lihat adalah wajah Nathan yang tampak panik, sebelum semuanya menjadi gelap.

Adel membuka kedua matanya perlahan, kemudian silauan cahaya putih menyerang pandangannya dengan sangat tajam. Dia butuh beberapa detik sebelum akhirnya dapat melihat dengan jelas dan mendapati Nathan tengah membaca majalah di samping tempat tidurnya.

Adel menggerakkan jari-jarinya, membuat Nathan berhenti dari aktifitasnya. Wajah laki-laki itu tampak sangat girang.

“Wah, tuan putri udah bangun? Dua kali loh hari ini aku mendapati kamu bangun dari tidur,” katanya bersemangat.

Adel memicingkan matanya, begitu menyadari ruangan tempat dia berada. Sebuah kamar pasien. Dia berada di rumah sakit. Tentu saja itu membuatnya kebingungan.

“Nat, kenapa aku di sini?” Tanyanya khawatir.

“Gak apa-apa. Kamu tadi jatuh pingsan. Kamu terlalu capek, Del,” Nathan menjelaskan sambil menggenggam jemari Adelia yang masih tampak kebingungan. “Mama dan papa kamu dalam perjalanan ke sini. Tadi aku telfon mereka.”

“Aku pingsan?” Tanya Adel tidak yakin, Nathan mengangguk pelan.

Adel tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya. Yang dia ingat hanyalah dia sedang berada bersama Aldo, menatap bintang dalam sunyinya malam.

“Ya ampun! Aku harus telfon Aldo, Nat, dia pasti khawatir karena aku nggak ada kabar,” Adel tiba-tiba menjadi panik dan mulai mencari-cari ponselnya, kemudian menemukannya tepat di meja sebelahnya.

Nathan hanya diam melihat hal itu, dia sudah bosan dengan ini semua. Dia hanya memperhatikan Adel yang tengah mencari-cari kontak di ponselnya. Nathan yakin sekali bahwa yang dicari adalah Aldo.

Adel mengeryitkan dahinya, “Loh, kok kontak Aldo nggak ada ya? Kok bisa hilang?” Tanyanya heran. Nathan terus memperhatikan dalam diamnya.

“Nat, kamu yang hapus kontak Aldo ya?” Adel bertanya dengan wajah curiga. Nathan menggeleng.

“Terus? Ini nggak mungkin hilang gitu aja kan?!” Adel semakin mencecar Nathan yang masih tampak tenang. “Kalau kamu nggak hapus, kenapa bisa nggak ada?”

“Karena Aldo memang nggak pernah ada, Del,” jawab Nathan membuat Adel tertegun.

“Maksud kamu?”

“Nggak pernah ada yang namanya Aldo. Kamu nggak pernah punya pacar yang namanya Aldo. Itu kenyatannya,” Nathan menjelaskan dengan berat sebab dia tidak tega mengatakan hal itu.

“Apa?” Adel menatap wajah Nathan tidak percaya, kemudian malah tertawa kecil. Nathan diam.

“Nggak pernah ada yang namanya Aldo, Del. Itu cuma sosok hasil buah imajinasi kamu,” Nathan kembali melanjutkan penjelasannya meski Adel tampak kebingungan. “Orang-orang bilang kamu gila karena kamu membuat sosok seseorang seolah orang itu nyata. Dan kamu berbicara padanya. Waktu itu kamu nunjukin aku Aldo, kan? Nyatanya, kamu cuma nunjukin aku beberapa petugas kebersihan kampus yang lagi kerja”.

Adel semakin tidak percaya dengan apa yang diucapkan Nathan barusan. Semuanya terlalu sulit untuk dia cerna dengan tiba-tiba. Ini seperti cerita yang dibuat-buat menurutnya. Tidak mungkin dia sampai segila itu. Adel tidak gila, dan Aldo memang nyata.

“Semalem, security kampus kita ngeliat kamu ada di gudang. Kamu berbicara sendirian. Menurut kamu itu normal, Del?” Tanya Nathan lagi.

“Tapi, ini terasa nggak nyata buat aku, Nat!” Adel membantah penjelasan Nathan yang tidak masuk akal.

Nathan meraih kedua tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan erat.

“Del, ini lah kenyataannya. Ini yang nyata. Dan bagian Aldo lah yang nggak nyata. Nggak ada satu pun bukti bahwa dia nyata, Del,” balas Nathan meyakinkan. Dia mendapati kedua mata Adel mulai mengeluarkan air matanya.

Nathan mengerti ini akan sulit diterima, namun dia harus melakukan ini. Adel butuh pertolongan. Adel membuka menu galeri ponselnya. Hal terakhir yang dapat dia lakukan untuk membuktikan bahwa Aldo nyata adalah foto-fotonya bersama Aldo. Tapi, tidak satu pun foto bersama Aldo dia temukan. Bahkan dia pun mulai lupa seperti apa wajah Aldo. Yang dia ingat hanyalah namanya.

Adel mulai menangis menyadari kenyataan. Orang-orang benar, dia memang gila. Adelia yang malang. Adelia yang gila.

“Maaf, Del. Maaf baru mengatakan ini sekarang. Kamu menderita skizofrenia, kamu butuh pertolongan,” kata Nathan, dia mengusap rambut gadis itu sekali, kemudian pergi meninggalkan Adelia yang masih membeku dalam sedihnya.

Cerpen Karangan: Ilham Sullivan
Facebook: Www.facebook.com/iamanggun
Komentar bisa disampaikan ke:
Instagram: @ilhamss17
Facebook: ilhamsullivan17@gmail.com
Terimakasih sudah membaca

Cerpen Unreal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Cerita Tentang Wawan

Oleh:
Siang yang terik. Panas matahari membakar kulitku yang coklat. Debu-debu jalanan menghiasi kaca helmku. Kantuk menjalar di otakku, memaksaku untuk cepat-cepat pulang ke rumah dan dapat beristrahat sepuas mungkin.

Biuti Fourtuna

Oleh:
Cerita ini dimulai saat aku duduk di kelas XII SMA, XII SMA merupakan saat-saat sibuk masalah ujian nasional, ya kebanyakan siswa mengikuti les tambahan didalam maupun diluar sekolah, Aku

Maafkan Aku Teman

Oleh:
“hey! Ayuk mau berangkat sekolah ga?” Terdengar suara halus seorang gadis yang menghampiri ku. Gadis itu adalah sahabatku ia bernama tyas. “eh elu udah siap? Yauda ayuk!” Aku pun

Hujan

Oleh:
“Mungkin ini terakhir kalinya aku melihatmu, selamat tinggal Arya” aku melangkah agak menjauhinya. “Jangan pergi, aku mohon. Jangan tinggalin aku In, aku benar-benar sayang sama kamu” terang Arya yang

Mozart

Oleh:
Ya, sepuluh tahun lalu dia lahir. Aku sangat bahagia. Anugerah Tuhan yang sangat luar biasa. Seketika hidupku terasa lengkap, penuh dan istimewa. Namanya Mozart. Benar, dia adalah obsesiku sebagai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Unreal”

  1. Ughhh. Ini diaa. Walaupun plot twistnya mantep, prosesnya pun mantep, sukaa deh~
    🙂

  2. Chelsaa says:

    Langsung ingat drama Korea “It’s Okay that’s love” baca cerpen ini. Mungkin penulisnya terinspirasi dari drakor itu. Tapi bagus sih.. Lumayan lah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *