Untitled (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 January 2017

Mentari tersenyum menyambut insan yang terbangun dari buaian mimpi. Setelah melakukan semua aktivitas pagi mulai dari bersih-bersih, menyiram bunga, mandi dan lain-lain, aku segera mengambil seragam osis yang tergantung di balik pintu kamarku. Dengan tergesa-gesa aku memakai satu persatu pakaian seragamku.

“nabila…!! masih lama gak? Cepetan…” Suara ria dari depan rumah. Aku segera berlari ke luar menemui ria dan dua sahabatku tian dan sela. Seperti biasa setelah berada di depan mereka aku harus mendengarkan khotbah jum’at yang gak habis-habis itu. OMELAN

Hari ini adalalah hari pertama masuk semester 1 kelas XII. Rasanya seneng banget setelah sekian lama liburan, rasanya bajuku tambah mengecil, (yang bener aja, orangnya paling yang makin besar… ya nggak..?).
Di hall sekolah tampak ratusan anak mengerumuni papan pengumuman dengan ocehan khas anak-anak SMA. Aku dan ketiga sahabatku langsung beraksi menerobos sampai barisan paling depan.
“Awas..! awas..!” teriak ria yang disambut koor “huuu..!” dari siswa lain. Aku dan ketiga sahabatku langsung mencari kelas yang tercantun nama masing-masing.
“gue kelas XII IPA A, loe kelas berapa bil?” Tanya ria padaku. Aku belum mendapatkan ejaan namaku tercantum dalam daftar kelas yang di tempel di papan pengumuman.
“nama gue gak ada..!” balasku dengan nada bingung. Tiba-tiba cubitan kecil mendarat di lengan kananku, sontak aku menjerit dan berhasil menyita perhatian beberapa siswa yang ada di hall sekolah.
“apaan siih, sakit tauuu!!” umpatku pada ria yang tiba-tiba histeris hingga harus mendaratkan cubitan kecil di lenganku.
“hany, itu ada fatih, liat deh manis banget…” bisik ria padaku dengan logat lebay genit gimana gitu. Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah cowok yang berdiri tidak jauh dari aku dan ria.
“biasa aja tuh…” responku pelan.
“nabila… loe di kelas XII B,…” tian berhasil menemukan ejaan namaku.
“nabila, mimpi apa sih loe bisa sekelas sama si ganteng…” komentar ria histeris saat makan di kantin. Serempak tian dan sela menatap ke arahku.
“emang kenapa kalo gue sekelas sama dia? Gak ada efeknya nilai gue bagus trus gue jadi juara kelas kan…” solotku sambil tetap menikmati bakso yang aku pesan 15 menit yang lalu.
“loe tau fatih gak sih?” tanya sela. Aku menggelengkan kepala memang aku tak begitu tahu tentang fatih. Cuma namanya yang terlalu familiar di telingaku.
“nabila… fatih itu cowok paling ganteng, tajir, manis, cowok cool di sekolah kita ini, dan loe tahu? Semua cewek di sekolah ini nggak ada yang nggak suka sama dia…” jelas tian panjang kali lebar.
“gue enggak…” jawabku ketus. Semakin lama tian, sela dan ria semakin gila membicarakan fatih, aku segera pergi mencari tempat yang aman dari topik pembicaraan, yaitu fatih.

Aku menuju kelas baruku yang letaknya super duper jauh dari kantin dan toilet, ini salah satu hal yang membuatku tidak begitu suka dengan kelas ini. Di kelas aku duduk sama rifa teman sekelasku dulu. Beberapa saat setelah bel masuk, bu asih masuk ke kelas dan memberi kabar bahwa beliau adalah wali kelas kami setahun ke depan. Aku yang tidak begitu cocok dengan bu asih langsung terbelalak penuh umpatan.
“hadduuuhhh…!! lengkap sudah penderitaan gue…” bisikku yang bisa di dengar orang di sekitarku. Sejak kelas X aku paling alergi sama yang namanya bu asih, ini kenapa jadi wali kelasku.
“ngefens? apa suka? loe itu gimana sih, lagian, Apa coba yang loe suka dari dia?”
“Nabila, cowok pinter, manis, ganteng, baik lagi…maklum lah kalo banyak yang ngefans, loe tau cowok ganteng gak sihh…?!” kata ria lagi.
“dia itu baik bil, nggak sombong…” tambah ria.
“nggak sombong apanya, senyum aja langka gitu…”
“iya, tapi dia itu punya aura berbeda, kalo udah kenal orangnya seru kok, buktinya temen-temennya juga banyak..” bela ria.
“emang loe udah ngerasain?”
“hehe, belum sih… itu tugas loe, kan loe yang sekelas sama dia…”
“nggak asyik loe, masak gue… nggak mau ah, males aku, loe kan yang ngefens…” tolakku.
“ya udah deh, tugas loe Cuma ngasih info ke kita tentang dia aja…”
“yaaaa..!! nggak mau, udah ah ya, gue ngantuk… tutup ya… daah..” kututup telepon yang menbuatku merasa bersalah harus masuk kelas XII IPA B
Aku menerawang keluar jendela. Ku hembuskan nafas berat untuk melegakan hati. Perlahan aku mulai terbuai mimpi.

Tak terasa satu bulan sudah aku menjadi teman sekelas fatih, dan tentu saja menjadi bulan-bulanan sahabatku saat bercerita tentang fatih. Minta diceritain inilah, itulah, dan ada satu hal yang paling aku tidak suka, kalau ditanya nabil tadi pake kaos warna apa? Gila! Dikira gue bodyguardnya? Dan hal yang paling menyebalkan lagi saat di kelas, yaitu para cewek yang hobi `nggosip` membuatku semakin tidak betah berada di kelas. Dari hari-kehari aku semakin gila gara-gara cerita tentang fatih.

“dia itu cueknya minta ampun, jarang yang bisa dekat sama dia…”
“iya, dingin banget… banyak yang udah nyoba deketin dia tapi nggak bisa.. heran gue,” tambah Sela
“masa iya sih? Kalo gue bisa dekat sama dia gimana?” tanggapku yang mulai risih gara-gara topik nggak pindah-pindah.
“waaahh… gue pasti seneng banget tuhh, kan kalo loe deket dia berarti gue juga bisa deket?!” kata ria penuh semangat.
“tapi loe yakin bisa? Gue nggak yakin tuhh..” tambah ria lagi. Aku hanya mengangkat bahu,
“siapa tau, nggak ada yang nggak mungkin kan?” jawabku. Di perjalanan menuju kelas aku tak henti-hentinya menyalahkan diriku sendiri, kenapa harus menawarkan diri seperti itu?! Kalo kayak gini gue bisa benar-benar gila harus jadi pusat informasi tentang fatih..! oohhh tidaaakkk… aku berusaha untuk cuek saja dengan hal itu, dibuat happy aja ya nggak?

“heh, cowok-cowok terhormat, bayar iuran kelas seribuan..” kataku pada fatih dan yang berkumpul di bangku belakang. Fatih menatapku sambil tersenyum. Sejenak aku termangu.
“cepetan echh, nggak menerima bon!” balasku mencoba menutupi kekakuanku.
Semua melihat ke arahku, “pelit banget… ntar gue bayar setelah istirahat aja,” kata sigit yang diiyakan semua yang hadir di majlis itu. Aku segera pergi menjauh. Gilaa..! kenapa harus fatih sih yang senyum kayak gitu… gerutuku dalam hati.
“mana bayarnya?” aku menghadang langkah mereka saat masuk kelas.
“hehe, nabil, lain kali aja ya… uangnya udah habis buat jajan..” kata sigit meringis tanpa merasa bersalah.
“yeee alaahh, dasar, ganteng-ganteng disuruh bayar seribu aja ngeboon… maluu kaleess…” kataku dengan nada agak tinggi cukup didengar anak-anak satu kelas. Semua menatap ke arahku. Aku tersenyum merasa menang. Tiba-tiba fatih mengeluarkan uang sepuluh ribu.
“gue, sigit, syihab, riyan, yanto, eko, heri, riski, ucup,…” kata fatih menyodorkan uang sepuluh ribuan padaku. saat aku hendak mengambilnya tiba-tiba buku catatan pembayaran iuran kelasku diambil syihab. Fatih berusaha menyuruh syihab untuk mengembalikanya padaku tapi tidak dihiraukan syihab dan yang lain.
“nabila farhani.. ya elaah, loe sendiri aja belum bayar nyuruh kita-kita bayar..” kata syihab membuatku turun derajat di mata fatih dan teman-temannya tak ketinggalan teman-teman satu kelas. “menyebalkan”. Fatih tersenyum, mungkin merasa impas.
“ya udah yang seribu lagi buat loe aja… masak nyuruh bayar tapi belum bayar sendiri..” kata fatih dengan suara mengejek. Menurutku. Aku terdiam membiarkan mereka melewatiku sambil tertawa merasa menang. Huuuhh, awas kalian,
Aku kembali ke tempat dudukku, rifa sudah menungguku dengan senyumnya yang menyebalkan.
“lagian juga, salah siapa coba?” aku menatap rifa sebel. Rifa malah semakin lebar tersenyum. Aku menyembunyikan wajahku di antara lipatan tanganku.
“gue sebel sama loe…!” gumamku. Rifa hanya terus tersenyum melihat tingkahku.

Hari ini di sekolah diadakan seribu langkah sehat remaja. Semua siwa SMA memakai kaos olahraga lengkap dengan celana trainingnya. Semua berkumpul di lapangan untuk mendengarkan sambutan dari bapak kepala sekolah.
“siapa yang dapat undian akan mendapat hadiah dari panitia, jadi tetap semangat ya..!” akhir pidato pak kepala sekolah yang disambut riuh tepuk tangan dan sorak sorai anak-anak.
“asyyikk.. ada hadiahnya, jadi semangat kalo kayak gini..” kata ria.
“alaahh, paling-paling hadiahnya buku tulis dan pensil…” solot sela. Aku masih sibuk dengan kertas yang aku siapkan untuk bahan majalah bulan depan. Memang tidak pandai dalam hal tulis-menulis tapi untuk ikut anggota redaksi majalah sekolah aku cukup bersemangat. Pukul 08.00 wib. Perjalanan dimulai, start dari gerbang SMA dan finish di lapangan desa trimukti dengan jarak kira-kira 5 KM. Dengan semangat, semua siswa SMA melangkahkan kaki diiringi musik yang dilantunkan dari tape recorder yang dibawa pak kris dan suara bising tawa anak-anak mengesankan perjalanan ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan. Aku dan ketiga sahabatku berjalanan beriringan di urutan paling belakang.
“kita kok di belakang sih, perasaan tadi di depan deh..” kata tian.
“makanya kalo jalan cepetan, jalan kayak keong gitu mau di depan..” respon cowok di belakangku diikuti tawa yang lain. Beberapa saat setelah itu langkahnya sudah mendahuluiku.
“siapa sih, masa gue disamain sama keong? Sejak kapan keong cantik kayak gue?..” omel tian yang bisa didengar oleh cowok itu.
“heehh..! bukan keongnya yang mirip loe, tapi loenya yang mirip keong..! hahaha” tambah ria mengundang tawa semua yang mendengar termasuk cowok tadi. Wajah tian berubah ekspresi. Manyun.
“eecch, itu namanya siapa sih? gue sering liat mukanya di majalah..” kata sela.
“heeh..! nabila, loe kenal kan sama dia?” tanya sela yang membuyarkan konsentrasiku.
“heh? Eehh! Cowok tadi? Itu fery anak kelas XII Bahasa 1..” jawabku.
“lumayan juga.. manis..!” kata sela memberi komentar.
“nabila!” suara pak darin dari belakang. Aku berhenti untuk menunggu langkah pak darin.
“ini.. cari hal-hal yang unik ya.. yang cowok juga bawa,” kata pak darin sambil menyodorkan kamera. Aku tersenyum sambil mengacungkan jempol pada pak darin yang juga tersenyum senang.

Di perjalanan tak henti-hentinya aku menjepret semua hal yang unik dan langka. Dan ini sangat menyenangkan, kadang aku juga iseng dengan teman-teman yang sedang memasang wajah capek dan jelek. Aku berjalan sendirian di belakang sambil memotret panorama yang indah. Ria, sela dan tian sudah duluan, mau PDKT sama fery, katanya. Sampai tempat yang indah, dari jalan terlihat jurang yang cukup indah penuh tumbuh-tumbuhan menghijau, dari sudut yang lain terlihat laut yang membiru nan indah. Aku segera mengambil posisi untuk mengambil foto, sedikit menepi di bibir jurang. Sraaakkk..!! kakiku terpleset dan jatuh. Aku terduduk lemas, kakiku terasa ngilu. Terdengar suara sigit dari atas jurang yang heboh mencari bantuan. Aku hanya berharap tidak merasakan sakit di kakiku.
“heh..! cepet dong tolongin..!” suara sigit terdengar jelas dari atas jurang. Tiba-tiba seseorang datang.
“loe nggak apa-apa?” tanya fatih melihat kakiku yang terluka. Aku tak bisa berkata-kata, kaget, takut, sakit itu yang aku rasakan.
“nggak usah nangis!” kata fatih. Dengan refleks tanganku mencubit lengan fatih, berharap dapat meluapkan sakit yang aku rasakan melalui cubitan itu. Fatih berdiri bermaksud meninggalkanku.
“fatihh…” panggilku lirih dengan bendungan air mata yang aku tahan. Aku ingin mengeluarkannya namun, entah kenapa aku merasa malu.
“ayoo..,” Fatih berjongkok di depanku, aku menatapnya heran. Dengan cepat fatih meraih tanganku dan menggendongku. Perasaanku tak karuan, malu, sakit, takut, ingin nangis. Tanpa kusadari air mataku keluar dengan sendirinya, mengalir membasahi pipiku turun membasahi kaos yang dipakai fatih. Dengan sekuat tenaga aku menahan air mataku, tapi masih tetap keluar.
“nggak usah ditahan… nangis aja,” kata fatih saat mendengar suara cegukanku.
“loe ngapain sih pake acara minggir-minggir ke jurang, bahaya tauu..! kalo udah kayak gini siapa yang disalahin coba? Untung kamera loe nggak rusak..” cerocos sigit di sepanjang perjalanan. Aku terus menyembunyikan mukaku di punggung fatih. Dasar..! masih juga ngurusi kamera, gue kan yang bernyawa.. batinku. di sepanjang perjalanan sigit masih saja nyerocos nggak jelas, membuatku merasa nggak enak sama fatih dan sigit. Sudah berulang kali aku minta turun tapi fatih tak menuruti keinginanku.

Cerpen Karangan: Nabila Farhani
Facebook: Nabila Farhany

Cerpen Untitled (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bertepuk Sebelah Tangan (Part 2)

Oleh:
“Sudahlah bray, aku nggak mau kawanku ini sedih terus, lama-lama aku takut kau bunuh diri pula, besok kan hari minggu, gimana kalau ku ajak kau jalan-jalan ke puncak, hitung-hitung

Cinta Yang Terbalaskan

Oleh:
“Benci… benci… benci… benci, pokoknya aku benci sama Idham Khalik” teriak Wahyuni saudara kembarku, saya mencoba menjadi pendengar yang baik buat saudaraku yang sedang nelangsa karena seorang pria, diluapkan

Pejuang Perbedaan

Oleh:
“Terus apa salahnya kalau sekarang aku pacaran dengan Bintang, Mbak?” tanyaku dengan emosi yang jelas-jelas menunjukan kekecewaan. “Ya Mbak bukannya ngelarang, tapi kamu tahu sendiri resiko nya, la.” bantah

Tutup Botol

Oleh:
Sejak saat itu ruas jalan terasa sangat panjang. Perjalanan waktu dua kali lebih lama. Sejak ku dengar, “Jaga diri ya,” Panggil saja aku Nilam, dua bulan telah berlalu sejak

Bayang Bayang

Oleh:
TIN-TIIINNN!!! Ckiiiittt BRUAGH!! Disinilah aku. Berdiri di samping sesosok gadis yang tergolek lemas di tengah jalan. Dengan darah segar yang terus mengalir dari kepala dan tulang-tulangnya yang patah. Setelah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *