Untuk Sebuah Nama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 8 March 2016

Si, dengarkanlah kata hatimu. Semua yang dikatakannya benar! Hidup bersama seorang penulis sepertiku ini adalah kesia-siaan. Tak ada guna. Tak ada harap. Yang ada hanya kelaparan. Melarat. Sengsara! Jika kau masih membangkang, datanglah ke rumah Mas Joni Ariadinata. Lalu, duduklah di dekatnya. Dengarkanlah ceritanya saat sedang berkisah tentang Kisah Kasih Oto dan Wiwik. Agar kau yakin, hidup bersama seorang penulis benar-benar menjijikkan.

Tak punya masa depan. Jauh dari kelayakan! Apalagi kemewahan. Bagaimana tidak? Makananku saja jauh dari kata empat sehat lima sempurna. Kau catat dan dengar baik-baik saat Mas Joni berkata, ‘Hari ini indomie, besok sarimi, besoknya lagi supermi, kemudian popmie: dan kalau bosan barulah beli nasi bungkus.’ Itulah makanan sehari-hariku, Si. Seorang penulis yang ‘jancuk’ kata Sudjewo Tedjo. Dan Asu kata Butet Kartaredjasa.

Si, ikuti kata hatimu yang telah memilih Raden Ndoro Bei. Lagi-lagi, kata hatimu benar. Bersamanya, kau akan hidup bahagia. Rumah bertingkat dua. Mobil dan motor berjajar di garasi. Kolam renang. Makanan orang-orang Eropa: burger, roti, spageti, pizza. Dan makanan-makanan Jepang yang tak ku ketahui namanya. Kalau kau bosan, bilang saja. Nanti pelayan Mas Bei akan menyediakan nasi di meja. Tak lupa telor ceplok kesukaanmu. Ikan asin. Ayam panggang. Dan… oh ya, aku lupa. Kau lebih suka ayam penyet ya? Baiklah, baik. Langsung saja minta ganti ke si pelayanmu itu.

Si, biarkan aku sendiri. Di sini. Di antara cahaya dop 5 watt yang meremang. Bercumbu dengan bau kertas, pena, dan tinta. Bahkan, mengeloni ketiganya. Tenang saja, aku tak mungkin melupakan harum bunga mawar yang menjadi kesukaanmu itu. Terlebih, mawar putih yang keindahan serta wanginya selalu kau agung-agungkan. Si, meskipun lebih banyak waktu ku habiskan untuk kelon. Dibanding menghabiskan waktu bersamamu. Percayalah, tak mungkin ku lupakan semua kenangan tentangmu. Bahkan, aku masih ingat suara tawamu. Suara tangismu. Serta kegenitanmu. Kejahilanmu. Kemarahanmu. Ceritamu tentang dunia lain. Hutan larangan. Kunang-kunang. Semua masih terkenang. Rapi. Indah. Dan berseri. Tenangkan saja dirimu. Tak perlu risau. Baik-baik kau di sana bersama Mas Bei.

Si, mengapa tatapanmu tak lagi setajam mata elang yang menakutkan? Malahan, ku lihat tatapanmu itu semakin sayu. Mengapa Si? Mengapa suaramu tak lagi sekuat dan setegas raja hutan? Lebih banyak ku dengar suaramu parau. Payah kau Si! Si, bersikaplah seperti malam. Ya, malam! Bukankah kau sendiri yang pernah berkata padaku bahwa kau lebih nyaman ngobrol bersamaku kala malam tiba? Lantas, mengapa kau lupa? Sekarang, izinkan aku untuk membacakan sajak tentang malam yang menjadi kesukaanmu itu. Dengarkan ya…

Malam…
Meski ia tak terlihat
Tapi begitu memikat
Hingga bulan dan bintang melekat
Malam…
Tak pernah sekali pun ia muram
Apalagi menyalahkan kehendak Tuhan
Kala membuat siang lebih benderang
Malam…
Adalah bentuk kedamaian
Tak pernah sekali pun ia dendam
Meski setan berkeliling saat ia datang
Dan membuatnya terlihat mencekam
Sekaligus menakutkan
Malam…
Adalah bukti ketulusan
Tak pernah sekali pun ia kecewa
Meski ketenangan yang ia bawa
Dicabik-cabik lolongan serigala
– Cepu, 21 Januari 2016 –

Sajak itu hanya sebagian kecil dari kesukaanmu yang ku abadikan, Si. Agar aku tak kehilanganmu. Agar aku selalu merasakan kehadiranmu di sisiku. Menemaniku. Memelukku. Dan kau tahu? Masih banyak kesukaanmu yang lain yang telah ku tulis di berbagai lembar kertas. Menghabiskan beribu-ribu pena dengan berbagai macam warna: hitam, biru, merah, hijau, dan kuning.

Selain malam, kau suka permata bukan? Itu telah ku tulis, Si! Tak hanya itu, aku juga menulis tentang hutan larangan. Pepe. Kunang-kunang. Walang. Kupu-kupu. Sepeda. Angon. Sari-sari bunga mawar. Bahkan, kelicikan demi kelicikan yang dilakukan Sengkuni kepadamu, juga telah ku catat. Enak saja dia mengusik ketenanganmu. Merobek-robek kesenanganmu. Membelenggumu. Aku tak terima Si. Sungguh, tak terima! Nanti, akan ku tunjukkan kelicikan-kelicikan si Sengkuni itu di hadapan Batara Guru –raja yang menguasai Kahyangan- agar dia menghukum si Sengkuni. Biar tahu rasa dia Si!

Si, berbahagialah kau bersama Mas Bei. Dan, sekali lagi. Biarkan aku di sini. Menikmati hangatnya kelon bersama ketiga pacarku yang penuh kehangatan. Kenikmatan. Surga dunia. Sembari menunggu keputusan dari Bathara Guru. Entah menghukumku dengan melenyapkan namamu di hatiku. Atau bahkan, menghukumku dengan mengirim Bisma yang ahli dalam peperangan untuk menebas leherku. Mematikanku. Mengirimku ke Kahyangan. Lalu, menghukumku di Kawah Candradimuka bersama Werkhudara. Entahlah Si. Entah! Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin, aku perlu singgah ke rumah Kyai Lurah Semar Badranaya agar mendapat petuah bijaknya yang berkata: Wong cilik ora sugeh bondho nangging sugeh roso -yang artinya: Orang kecil tidak kaya harta tetapi kaya hati.

Lalu kemudian, ku datangi kediaman Cak Nun untuk merobek puisi ‘Doa Mohon Kutukan’ yang beliau bingkai di ruang tamunya pada bagian: Jika syarat untuk mendapatkan kebahagiaan bagi manusia adalah kesengsaraan manusia lainnya, maka sengsarakanlah aku. Ya, orang kecil yang sok jadi penulis sepertiku ini memang pantas untuk sengsara di Kawah Candradimuka, Si. Dan engkau, layak untuk bahagia. Bahagia bersama Raden Ndoro Bei. Lalu, menulis kisah cinta layaknya Rama-Sinta, yang selalu bahagia. Sekali lagi, bahagia Si! Ya, Bahagia.

Cerpen Karangan: Sujanarko
Facebook: Narko Rooney MUfc
Sujanarko. 19 Januari. Penyendiri. Penggemar Setan Merah. Penikmat kopi dan sastra. Penggila Komedi. Jika ingin menemaninya, silahkan berkunjung ke rumahnya: Narko Rooney MUfc (Facebook) @Suja_narko12 (Twitter) dan Suja_narko (Instagram)

Cerpen Untuk Sebuah Nama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Secret of Love (Part 2)

Oleh:
Dan pada saat aku ingin melupakan Reno tiba-tiba dia datang lagi. Dia menghampiri gue yang lagi duduk sendirian makan bakso di Kantin. “heyyy, Tania Maulida Wijaya” kata Reno dengan

Short Love

Oleh:
“ann… buka pintu lo ann!” teriak mira dan nam sembari menggedor-gedor pintu kamar ann. Sebenarnya ann malas membukakan pintu untuk kedua sahabat anehnya itu, habisnya mereka pasti akan mengacak-acak

Kamu Yang Terakhir

Oleh:
“Kamu yang terakhir”. Itulah kalimat yang selalu muncul di dalam hatiku setelah mengenal dia. Di minggu pagi yang cerah ini aku duduk di taman sambil memandangi layar handphoneku. Tring…

Kisah Cinta Si Kutu Buku

Oleh:
Hai… namaku Dyana Khoirunnisa. Aku adalah seorang siswi di salah satu sekolah di Bandung. Aku terbilang orang yang kutu buku di sekolahku, aku sedikit lugu jika ada orang yang

Benang Tersembunyi

Oleh:
Kedua orangtuaku sudah bercerai sewaktu aku masih berumur 5 tahun. Dulu sewaktu SD, terkadang aku sangat iri melihat teman-temanku yang mempunyai orangtua lengkap dan mereka hidup bahagia. Tidak sepertiku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *