Usia 17 dan Pacar Baru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 8 March 2013

Hidup terasa indah dan menyenangkan bagi Lydia saat ini. Ketika ia terbangun dari tidurnya, ia menyadari bahwa di pagi itu umurnya telah bertambah satu. Lydia tersenyum lalu ia bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju meja rias. Selamat ulang tahun yang ke tujuhbelas Lydia ujarnya sambil memperlihatkan senyumannya di depan cermin. Yaaa… di hari ini genap tujuhbelas tahun usia gadis cantik itu.

Angka Tujuhbelas memang benar-benar angka keramat dan angka yang sangat di tunggu-tunggu oleh Lydia. Selain ia tumbuh menjadi gadis remaja yang akan beranjak menuju ketahap pendewasaan, di angka keramat ini ia juga akan di berikan kebebasan oleh orangtunya untuk memilih, mengambil keputusan sendiri, pulang kerumah selambat-lambatnya jam 12 malam jika weekend dan inilah point yang paling penting dan di tunggu-tunggu oleh Lydia, ia di perbolehkan untuk mempunyai pacar oleh Mama dan Papa nya.

Waahhhhh… seperti mimpi rasanya bisa mempunyai pacar teriak Lydia dalam hatinya. gue akan merasakan apa yang di alami oleh Nuke dan Farah. Akan ada seseorang yang akan memperhatikan gue, menyayangi gue, menelepon setiap hari, mengucapkan selamat tidur setiap malam, bisa nonton film berdua dan bergandengan tangan, Khayalan Lydia pun meninggi. Hmmmm… senangnya…

“Ly…?… panggil seseorang yang tiba-tiba masuk kedalam kamar Lydia tampak mengetuk pintu kamarnya terlebih dahulu.
“Yaa ampun Ardy, loe kebiasaan deh masuk kedalam kamar orang enggak pernah ngetuk pintu dulu? Kalo gue lagi pakai baju gimana teriak Lydia geram”.
“Yaa Ampun Ly, loe belum mandi juga? Ini udah siang tau kata Ardy yang terlihat lebih geram dibandingkan Lydia”.
“Weekkkkk… gue lupa teriak Lydia panic sambil menepuk jidadnya lalu ia buru-buru masuk kedalam kamar mandi”.
“Gue tunggu dibawah yaa teriak Ardy sambil menutup pintu kamar Lydia”.

Lydia adalah anak kedua dari orangtuanya, Papanya seorang Manager di sebuah perusahaan terkenal. Mamanya seorang ibu rumah tangga, ia mempunyai kakak laki-laki bernama Bimo dan seorang sepupu laki-laki yang sedari kecil sudah ikut dengan kedua orang tuanya, dia bernama Ardy. Lydia dan Ardy seusia, mereka juga satu kelas di sekolah yang sama. Setiap pagi mereka berangkat ke sekolah bersama dengan mengendarai sepeda motor yang dikendarai oleh Ardy. Dan seperti biasa Ardy menunggu kehadiran Lydia di meja makan sambil sarapan. Ardy melirikan matanya kearah jam yang berada di tangan kanannya lalu ia mengeleng-gelengkan kepalanya.
“Lydia telat lagi Dy, Tanya Mas Bimo sambil tertawa ketika melihat mimic muka Ardy”.
Ardy tersenyum kecut sambil menganggukan kepalanya. Tidak lama kemudian terdengar suara gaduh dari lantai atas. Ardy dan Mas Bimo mengarahkan pandangannya lalu mereka melihat Lydia berlari terburu-buru sambil menuruni anak tangga.
“Ayo… ayo cepat Dy, kita sudah kesiangan nih teriak Lydia sambil meneguk segelas susu”.
“Jangan buru-buru Ly, nanti kamu tersedak kata Mama sambil mengeleng-gelangkan kapalanya”.
Setelah pamit dengan Mama, Papa dan Mas Bimo, Lydia dan Ardy segera berangkat ke sekolah. Pagi itu jalanan masih terlihat basah dan becek karena hujan kemarin malam yang sangat deras. Ardy memacu sepeda motornya dijalan dengan hati-hati, tiba-tiba melintas sebuah mobil sedan di sebelah mereka dengan kencangnya. Mobil itu melindas genangan air yang tepat berada di samping Lydia dan Ardy. Mereka berdua pun terkena cipratan air kotor.
“Huaaahhhhh…? Teriak Lydia histeris”.

Ardy memberhentikan motornya di pinggir jalan, sedan hitam itu pun akhirnya juga berhenti kira-kira empat meter jaraknya dan berada di depan mereka. Tampak seorang ibu-ibu turun dari sedan itu dan berjalan tergesa-gesa menghampiri mereka.
“Huaahhh… Gimana nih, baju kita kotor semua Dy kata Lydia panic sambil membersihkan seragamnya dengan tisu.
“Aduh… maaf… maaf yaa dik, baju kalian jadi kotor karena anak saya yang menyetir tidak hati-hati kata Ibu-Ibu itu dengan wajah penuh penyesalan”.
“Tidak apa-apa bu, jawab Ardy sambil tersenyum”.
“Enggak apa-apa gimana, Dy? Lihat seragam kita kotor semua, gue kan nanti malu sama anak-anak teriak Lydia kesal”.

Tiba-tiba datang seorang anak laki-laki menghampiri mereka. Lydia lalu memandang anak laki-laki itu dengan wajah penuh dengan kekesalan. Tetapi dengan mimic muka tidak bersalah, lalu anak laki-laki itu berkata dengan santainya.
“Cuma segitu aja kok kotornya, Loe berdua masih bisa tetap sekolah kan katanya”.
“Yaa… ampun mata loe buta apa, loe bilang ini nggak kotor? lihat nih seragam gue penuh lumpur gara-gara loe nyetir nggak hati-hati, emangnya jalanan ini punya nenek moyang loe kata Lydia sambil menatap geram anak laki-laki itu”.
“Sabar Ly, enggak enak tuh sama nyokapnya bisik Ardy”.
“Yaa… sudah nanti gue ganti seragam loe, emangnya berapa sih harga seragam? gitu aja kok di ributin, bikin susah aja jawab anak Laki-laki itu sinis”.
“Keandra…? Kamu tidak baik ngomong seperti ini teriak Mama anak laki-laki itu sambil melototkan matanya”.
“Abis dia duluan sih Mam yang nyolot katanya”.
“Ayo kamu minta maaf atau mama tidak akan mau mengantarkan kamu ke sekolah lagi ancam Mamanya”.

Anak laki-laki itu dengan terpaksa mengulurkan tangan kanannya kearah Lydia sambil mengalihkan pandangannya kearah lain, ia tidak mau menatap Lydia.
“Udah loe nggak perlu minta maaf? mau minta maaf kok kaya orang nggak rela gitu sih… Percuma tau nggak? kata Lydia kesal sambil berjalan membalikan badannya”.
“Maaf Tante kami jalan duluan yaa, takut kesiangan kata Ardy”.
“Maafkan anak saya yaa, nak? Mohon nya”.
“Enggak apa-apa kok Tante, mungkin anak Tante memang tidak sengaja jawab Ardy sambil tersenyum”.

Ardy lalu memacu kembali sepeda motornya menuju sekolah. Sesampai di sekolah Lydia berjalan menuju kelas, ia menundukan kepalanya ketika teman-teman di sekolah memandangnya lalu mereka berbisik-bisik melihat keadaan Lydia yang kotor. Gila… sial banget gue? Ini kan hari ulang tahun gue, kenapa gue bisa jadi begini. Pasti nanti Nuke dan Farah menertawakan gue juga gerutu Lydia dalam hatinya.
Dan benar saja begitu Lydia masuk kedalam kelasnya. Nuke dan Farah tertawa melihatnya.
“Yaa ampun Ly, loe abis kecebur dimana canda Farah sambil tertawa terbaha-bahak”.
“Itu… tuh, tadi gara-gara ada anak cowo tengil nyetir mobil nggak liat-liat ada genangan air, main ngebut aja? Jadi gini deh nasib gue sekarang gerutu Lydia sambil cemberut”.
“Heheheheh… pagi-pagi udah dapat kado? Btw… selamat ulang tahun yaa Ly kata Nuke sambil mencium pipi Lydia”.
“Duh kasian amat sih, sini-sini gue bersihin rambut loe? Tuh masih ada yang kotor kata Farah sambil menyisiri rambut Lydia”.

Pada jam istirahat Lydia tidak mau keluar dari kelasnya, ia enggan karena nanti akan menjadi pusat perhatian oleh teman-temannya. Hanya Farah dan Nuke yang pergi ke kantin membeli makanan. Lagi-lagi Lydia menggerutu didalam hatinya. Hufh… benar-benar deh tuh cowok gak punya pikiran sama sekali, udah tau salah dan ngerugiin orang lain tapi tetap aja mukanya kaya orang yang tidak punya dosa. Duh… kenapa nasib gue hari ini apes banget yaa, gue lapar lagi? kata Lydia sambil memegang perutnya.

Tiba-tiba Lydia melihat kedua sahabatnya jalan terburu-buru masuk kedalam kelas, dengan wajah sumringah mereka kompak berkata. “Gileee… ada anak baru di kelas 12B ganteng banget Ly”.
“Masa..? Tanya Lydia tidak semangat”.
“Iyah… serius? orangnya cool banget Ly jawab Nuke”.
“Gosipnya sih tuh anak pindahan dari Jepang jelas Farah”.
Wew… dari jepang? Hmmm… Orangnya seperti apa yaa. Kalau Nuke dan Farah sampai berkata heboh seperti itu, pasti tuh cowok ganteng abis. Mereka berdua kan mempunyai tipe cowok yang setinggi langit persyaratannya. Kata Lydia dalam hatinya.
“Sayang… kita berdua sudah punya cowok yaa, Ke… ujar Farah sambil tersenyum”.
“Hahahahahah… maksud loe kalau kita belum punya cowok, anak baru itu bakalan jadi rebutan kita Far? Kata Nuke tertawa”.
“Yoi… asal saingannya pake akal sehat yaa jawab Farah sambil tertawa juga”.
“Bagaimana kalau kita kasih kesempatan ini sama yang masih jomblo aja deh kata Nuke sambil melirikan matanya kearah Lydia”.
“Apaan sih loe…? Teriak Lydia dengan wajahnya yang memerah”.
“Ayolah… Ly, sekarang loe kan sudah 17 tahun. Sudah boleh pacaran kan? Masa loe sia-siakan point yang loe tunggu-tunggu dari Mama loe itu kata Farah”.
“Gue jamin, loe pasti suka sama cowok itu canda Nuke”.
Lydia tersenyum mendengar gurauan kedua sahabatnya itu. Benar juga kata Nuke dan Farah, masa sih gue sia-siakan kepercayaan Mama setelah 17 tahun gue menunggu. Hmmm… mungkin ini saatnya gue membuka hati dan mulai mencari cowok yang baik, sayang, dan asik untuk dijadikan pacar kata Lydia dalam hatinya.

Beberapa jam kemudian Anak-anak berseragam putih abu-abu di sekolah Lydia, siang itu pada berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing begitu bel tanda selasainya jam pelajaran terakhir berbunyi. Mereka berjalan beramai-ramai menuju gerbang sekolah. Ada segerombolan anak laki-laki yang meletakan tas-tas mereka di pinggir lapangan lalu mereka bermain basket bersama sebelum pulang. Beberapa orang anak perempuan terlihat sedang bergosip ria di pinggir lapangan sambil memperhatikan orang-orang di sekeliling mereka. Ada juga anak-anak yang nongkrong di kantin sekolah sambil bersenda gurau. Dan yang berpacaran sambil bergandengan tangan mereka pun pulang kerumah.

Satpam-satpam di sekolah Lydia pun juga mulai sibuk mengatur antrian mobil-mobil yang hendak menjemput murid-murid di sekolahnya. Semua anak-anak di siang itu sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Suasana seperti inilah yang setiap hari terjadi ketika mereka hendak pulang dari sekolah. Lydia, Farah dan Nuke berjalan menuju parkiran sambil bersenda gurau.
“Gue pulang sama Ardy yaa… guys, sorry nggak bisa nemenin nyari buku dan traktir loe berdua hari ini. Lihat nih seragam gue? Gara-gara anak itu semua rencana di hari ulang tahun gue jadi berantakan, kata Lydia”.
“Nggak apa-apa Ly, besok kan juga bisa jawab Nuke”.
“Ehhhhh… Lihat-lihat!! Itu… itu si Ardy lagi ngobrol sama anak baru yang cool itu bisik Farah heboh sambil menunjukan jarinya kearah parkiran motor”.
“Waahh… cepat banget si Ardy, dia langsung akrab aja sama anak baru itu, padahal kita kan ndak satu kelas jelas Nuke”.
“Ly… ini kesempatan kita untuk kenalan sama dia. Cepet loe samperin Ardy terus loe minta di kenalin sama cowok itu bisik Farah”.
“Ayooo… Ly cepet, kata Nuke sambil mendorong-dorong tubuh Lydia kearah Ardy”.
Lydia menghampiri sepupunya itu yang sedang asik mengobrol.
“Dy… panggil Lydia ragu-ragu”.
Ardy dan anak baru itu menoleh kearah Lydia, Nuke dan Farah. Tiba-tiba Lydia terkejut ketika melihat wajah anak baru itu. Dengan kesal ia pun berteriak…
“Ya ampun Ardy… kenapa loe mau temenan sama tuh anak? Loe nggak punya harga diri yaa, mau aja di ajak ngobrol sama anak belagu dan tengil kaya dia kata Lydia kesal begitu tau jika yang menjadi anak baru di sekolahnya adalah anak laki-laki yang tadi pagi telah membuat rencananya hari ini berantakan semua”.

“Hmmm… Ternyata loe sekolah di sini juga? kata Anak itu sambil tersenyum sinis”.
“Ehhh… loe jadi anak jangan sok sama kegantengan gitu yaa, loe tuh anak baru di sini? Jangan belagu tau teriak Lydia kesal”.
“Ohhhh… ternyata gue ganteng toh, makasih yaaa… tapi maaf loe bukan tipe gue kata Anak itu sambil tertawa melihat Lydia yang sangat kesal”.
“Ehhhhh… Yaaa ampun, siapa juga yang suka sama loe? GR banget sih loe, dasar cowok nora jawab Lydia yang bertambah kesal dibuatnya”.
Melihat kejadian itu, Nuke dan Farah saling berpandangan mereka pun bingung melihat sahabatnya marah-marah seperti orang yang sedang kesurupan.
“Ly… loe kaya anak kecil aja… Ahh, malu tau di liatin sama anak-anak kata Ardy”.
“Ayoo… Dy, kita pulang. Ngapain juga sih loe temenan sama dia kata Lydia sambil cemberut menarik tangan Ardy”.
Gue balik duluan yaa Ndra, pamit Ardy pada anak baru itu. Ardy lalu menghidupkan mesin sepeda motornya. “Jiaahhhh… mati gaya kita disini, balik aja yuk bisik Farah pada Nuke”. Nuke menganggukan kepalanya tanda setuju, lalu diam-diam mereka berdua pun berbalik arah dan cepat-cepat melangkahkan kakinya tampak sepengetahuan Lydia yang masih saja kesal.

Semenjak kejadian itu Ardy dan Keandra semakin akrab. Ternyata mereka mempunyai hobby yang sama yaitu Travelling dan Rafting. Keandra sering datang kerumah Lydia untuk bermain dengan Ardy. Mau tidak mau Lydia pun sering melihat keandra yang berada di rumahnya sampai berjam-jam. Lydia masih menaruh dendam dan kesal pada Cowok keturunan Jepang itu. Seperti di siang ini, bel rumah Lydia berbunyi berkali-kali. Lydia yang sedang menikmati tidur siangnya pun terganggu mendengar suara yang berulang-ulang bunyinya. Lydia terbangun dari tidurnya lalu ia beranjak pergi menuruni anak tangga, dengan setengah sadar ia pun membuka pintu rumahnya itu.

“Lama banget sih buka pintunya? Ardy ada nggak Tanya Keandra sambil masuk kedalam rumah”.
“Loe tuh nggak punya sopan santun yaa, bukannya beri salam malah marah marah. Loe enggak tau apa, loe tuh dah ganggu tidur siang gue, bukannya terima kasih sudah gue bukain pintunya jawab Lydia”.
“Sorry deh… Ardy ada nggak..? gue dapat kabar gembira nih buat dia kata Keandra sambil duduk di sofa”.
“Orangnya enggak ada, lagi pergi nganterin Mama ke supermarket? Loe pulang aja dulu, nanti balik lagi kalo Ardy sudah ada” jelas Lydia.
“Enak aja loe… Suruh gue pulang lagi, loe kata di luar enggak panas apa? Emangnya gue strikaan yang mau aja di suruh mondar-mandir terus. Gue mau nunggu Ardy disini aja gerutu Keandra sambil cemberut”.
“Terserah…” kata Lydia.

Lydia duduk di hadapan Keandra. Nih anak nyusahin banget yaa. Nyokapanya ngidam apa sih waktu lagi hamil, anaknya kok sampai kaya gini kata Lydia dalam hati, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia memperhatikan Kendra yang sedang asik bermain dengan ponselnya. Lydia memandangi Keandra, sebenarnya sih Keandra ganteng juga wajahnya? Hmmm… tapi sayang kelakuannya tidak seindah wajahnya. Kenapa kalau di dekat dia bawaan gue jadinya emosian terus yaa, tingkahnya nyebelin banget, dia nggak pernah ramah sama gue. Padahal kan kejadian itu sudah berlalu tiga bulan lamanya. Gue heran kenapa Ardy bisa akrab dan dekat banget yaa sama Keandra. Jangan-jangan mereka saling suka lagi… hehehehe, Lydia pun tersenyum sambil menarik nafas panjangnya.

“Kenapa loe ngeliatin gue terus…? Loe suka sama gue yaa? Tanya Keandra sambil tersenyum memandang Lydia”.
Lydia tersentak kaget mendengar gurauan Keandra. Damn… Ternyata dia tau kalau gue pandangi dari tadi kata Lydia dalam hatinya.
“Jiaaahhhhh… muka loe merah tuh, loe malu yaa canda Keandra sambil tertawa terbahak-bahak”.
Lydia cemberut memandang Keandra.
“Ehhhh… Ndra, loe sudah lama di sini? teriak Ardy yang tiba-tiba berada di antara mereka”.
Huuuhfff… untung saja Ardy datang, kalau enggak bisa mati gaya nih gue di depan dia pikir Lydia sambil bernafas lega.
“Hi… Ada… Keandra toh, kebetulan nih Tante tadi beli mie ayam. Kita makan bareng-bareng yuk ajak Mama begitu ia masuk kedalam rumah”.
“Iyah… Tante terima kasih jawab Keandra begitu sopannya”.
Ly… Siapkan mie nya nih untuk Keandra ujar Mama sambil memberikan Lydia sebuah kantong plastic. Lydia berjalan menuju dapur, tiba-tiba Keandra datang menghampirinya.
“Sini gue bantu… kata Keandra sambil mengambil mangkok dari tangan Lydia”.
Lydia heran memandang Keandra yang lagi sibuk menuangkan Mie nya kedalam Mangkok. Waduh… kesambet setan apa nih anak, tiba-tiba jadi ramah gini sama gue gumam Lydia dalam hatinya.
“Lho… Kok loe enggak ikutan sama Ardy keatas Tanya Lydia”.
“Ardy mau ganti baju dulu, masa mau gue buntutin juga? Mendingan gue di sini makan mie ayam kebetulan gue lagi laper jawab Keandra sambil tertawa”.

Lydia memandang Keandra untuk yang sekian kalinya. Matanya menyipit terlihat seperti sedang meram jika ia sedang tertawa, giginya putih dan rapi, senyumannya bertambah manis dengan adanya lesun di pipinya. Keandra mirip seperti actor-actor yang bermain di Drama Korea. Tidak heran kalau banyak anak-anak perempuan di sekolah yang tergila-gila padanya, termaksud Nuke dan Farah padahal mereka sudah punya cowok… huhf.
“Widiiihhhhh… tumben loe berdua akur canda Ardy sambil duduk di sebelah Lydia”.
Keandra tersenyum sambil memandang Lydia yang sedang melototi matanya kearah Ardy.
“Ehhhh… Katanya ada kabar baik buat gue, apa tuh Ndra? Tanya Ardy sambil melahap Mie nya”.
“Akhirnya kita dapat tiket pesawat murah ke Bali Bro…? jawab Keandra antusias”.
“Serius loe Bro…? kita bisa jadi Rafting dong di sana teriak Ardy kegirangan”.
“Yoiiii… asik kan, kita bisa long weekend di sana sambil main air kata Keandra”.
“Kita cuma berdua aja nih Ndra, pergi liburannya Tanya Ardy”.
“Hmmm… Yaa Kalo yang di sebelah loe minta ikut sih boleh aja kok, asal nggak ngerepotin aja disana? daripada dia manyun terus dirumah canda Keandra”.
“Maksud loe gue…? Upsss… sorry yaa gue nggak suka Rafting, nanti badan gue hitam kata Lydia”.
“Serius loe… Ly Tanya Ardy”.
Lydia dengan mantab menganggukan kepalanya.
“Yaa sudah kalo gitu kita ajak Farah sama Nuke aja… Dy, pasti mereka mau kata Keandra”.
“Ehhh… apa-apaan loe Ndra, ngajak-ngajak temen gue? Gue dah janjian ma mereka mau liburan juga kata Lydia berbohong”.
“Emangnya mau kemana, Tanya Ardy”.
“Hmmm… Ke Mall jawab Lydia ragu-ragu”.
“Huahahahahaha… ke Mall ?… gila kaya anak SD aja loe liburan di Mall canda Keandra sambil tertawa terbahak-bahak”.
Lydia merengut menatap Kendra. Ardy lalu mengambil ponselnya. “Kita telepon Nuke aja deh, nggak salah kan kalo kita coba dulu ngajak mereka? Siapa tau saja mereka mau jelas Ardy”. Tidak lama kemudian Ardy pun berbincang-bincang dengan Nuke. Jiaahhh… bagimana nih kalo Nuke sama Farah mau ikutan. Berarti gue di sini sendiri dong, wew… malas juga nih kalau kaya gini? Hmm… apa perlu gue ikut juga yaa, tapi masa sih gue harus jilat ludah gue sendiri… , kan malu pikir Lydia.

“Mereka mau ikut kan? Tanya Keandra”.
Ardy tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Waahhh Tuh… kan? masa gue sendirian disini gerutu Lydia dalam hati sambil cemberut melihat Ardy dan Keandra.
“Loe mau ikutan nggak, Ly? Siapa tau saja loe berubah pikiran Tanya Keandra”.
“Sudah… Ikut aja kenapa sih, kan ada gue ini ajak Ardy”.
Dengan ragu-ragu tapi mau, akhirnya Lydia pun menganggukan kepalanya.
“Nah… gitu dong, jadinya..kan gue punya teman yang bisa gue ajak berantem nanti disana canda Keandra sambil tertawa”.

Dua minggu kemudian akhirnya mereka berlima berangkat ke Bali, dengan menggunakan pasawat terbang mereka tiba di Bandara Ngurah Rai pukul empat sore dan langsung menuju Hotel di daerah Kuta tempat mereka menginap selama tiga hari disana.

Pagi harinya setelah sarapan mereka pergi dengan menggunakan mobil sewaan serta modal sebuah peta untuk memudahkan mereka mencari jalan ke tempat tujuan. Keandra dan Ardy sengaja tidak mau menggunakan jasa pemandu wisata, alasannya karena liburan akan semakin menarik dan banyak tantangannya bila mereka mencari-cari jalan sendiri ketempat tujuan. Hmmm… seperti berpetualang itulah yang ada di pikiran mereka. Lagi-lagi Lydia dan Keandra bertengkar karena Keandra salah membaca peta yang di lihatnya. Mobil yang di kendarai oleh Ardy pun terus saja berputar-putar tak tentu arah.
“Tuh… kan Gue bilang apa, kita harus pakai jasa pemandu wisata? Akhirnya jadi kaya begini kan, kita nyasar nggak tau ada dimana sekarang. Ini kan buang-buang waktu namanya gerutu Lydia sambil cemberut”.
“Sabar atuh… Ly kalau kita nyasar, kita masih berada di Indonesia ini? enggak mungkin juga kan tiba-tiba kita ada di Afrika canda Ardy”.
“Tau… tuh loe nggak sabaran banget sih Ly, bisik Farah”.
“Kita tanya sama orang aja deh.. Ndra? usul Nuke”.
“Nggak usah Ke, gue bisa kok. Tenang saja pasti nanti kita sampai kesana jawab Keandra”.
“Iyah… Sampai ke tempat tujuannya nanti pas tengah malam! Sekalian saja loe rafting sama tuyul celetuk Lydia menyindir Keandra”.
Mendengar perkataan Lydia. Nuke, Farah dan Ardy pun tertawa terbahak-bahak. Setelah berputar-putar akhirnya mereka tiba juga di Sungai Ayung yang berada di Desa Payangan Ubud.

Mereka berlima lalu masuk ke dalam untuk mendaftarkan diri dan mencoba Arung Jeram yang berada disana. Setelah selesai mengisi identitas masing-masing, Keandra, Ardy, Lydia, Nuke dan Farah pun di beri pengarahan tentang bagaimana cara menggunakan dayung dan yang lain- lainnya, oleh seorang instruktur.

“Nah sekarang kalian pakai perlengkapan keamanannya dulu yaa, setelah itu kita berarung jeram jelas Instruktur itu”.
Lydia melihat bermacam-macam alat keamanan yang berada di depannya. Yaa ampun bagaimana cara pakainya nih, gue bingung gumamnya dalam hati. Dengan ragu-ragu Lydia pun mengambil pelampung itu.
Sini… gue bantu? kata Keandra sambil mengambil pelampung dari tangan Lydia. Lydia terbengong-bengong melihat prilaku Keandra yang sangat perhatiaan sama dirinya saat ini. Dengan cekatan Keandra memakaikan pelampung di badan Lydia. Nah sekarang sudah aman, tinggal pakai ini kata Keandra sambil mengambil Helmet lalu ia juga memasangkannya di kepala Lydia. Keandra tersenyum manis sambil mengunci Helmet yang di pakai oleh Lydia lalu ia berkata “sekarang sudah lengkap semuanya”.

Wew… sepertinya bukan hanya Lydia saja yang terbengong-bengong melihat tingkah Keandra, tetapi Nuke, Farah dan Ardy pun juga di buat terpana oleh perhatiaan Keandra. Wow… So sweet bisik Nuke ke telinga Farah. Farah pun segera menganggukan kepalanya tanda setuju dengan bisikan Nuke.

“Woyyyy… kenapa kalian jadi pada bengong semua? ayo di pakai perlengkapannya teriak Keandra begitu ia menyadari ketiga temannya saat ini sedang memperhatikan dirinya”.
“Ayo… cepet-cepet pakai kata Ardy sambil tertawa”.

Keandra, Lydia, Ardy, Nuke dan Farah berjalan menuju pinggir sungai. Disana sudah tersedia perahu karet yang akan mereka tumpangi. Mereka di bimbing oleh instruktur yang sudah ahli dan paham betul akan keadaan dan letak sungai yang berarus deras itu. Meskipun baru pertama kali Lydia sangat antusias untuk memacu adrenarinnya. Di sepanjang perjalanan menyelusuri derasnya air sungai, mereka harus menguasai arus liar agar perahu mereka tidak terbalik. Lydia, Keandra, Nuke, Farah dan Ardy pun di manjakan oleh pemandangan dengan hijaunya alam yang tersaji indah di sepanjang perjalanan. Sungai itu mempunyai beberapa buah air terjun, mereka pun tidak sia-siakan kesempatan untuk berfoto. Keandra selalu berada di samping Lydia. Ia menjaga Lydia supaya teman yang sering menjadi lawan argumentasinya itu tidak merasa takut. Sepertinya Lydia pun sudah mulai terbiasa dengan perhatian-perhatian yang di berikan oleh Keandra. Lama-kelamaan Lydia merasa nyaman berada di samping Keandra. Mereka terlihat berani dan kompak di sepanjang perjalanan untuk mengarungi sungai yang kurang lebih memakan waktu hampir dua jam itu.

“Hi… Lihat, Tom and Jerry sekarang sudah mulai akur bisik Ardy pada Nuke dan Farah”.
“Hahahahaha sepertinya mereka berdua sudah terbawa oleh suasana alam yang sangat damai ini kata Farah tertawa”.
“Akhirnya… senang banget gue melihat mereka bisa akur jelas Nuke sambil tersenyum”.
Ardy, Farah dan Nuke memperhatikan Lydia dan Keandra yang sedang asik beristirahat sambil mengobrol di atas sebuah batu besar setelah mereka selesai mengarungi sungai.

“Tuh… kan gue bilang juga apa, asik kan berarung jeram kata Keandra sambil tersenyum manis memandang Lydia”.
“Iyah… gue sepertinya jadi ketagihan nih jawab Lydia sambil tertawa”.
“Nanti deh lain kali gue ajak arung jeram lagi, hmmm… Yang dekat-dekat saja dengan Jakarta kata Keandra”.
“Hahahahaha… gue merasa jadi anak tomboy sekarang teriak Lydia yang masih saja tertawa”.
“Wahhh… sepertinya loe juga harus ngerasain ini… nih? kata Keandra”.
Tiba-tiba Keandra lompat dari atas batu besar… , Byuuuuurrrrrrrr… Keandra pun sekarang sudah berada di dalam sungai. Ia berenang dengan asiknya sambil melambai-lambaikan tangannya kearah Lydia yang sedang memperhatikannya.
“Ayooo… lompat Ly, airnya segar? Dingin banget teriak Keandra”.
“Gue takut ahhhhh… jawab Lydia sambil menggelengkan kepalanya”.
“Nggak usah takut, ayo loncat..? gue jagain dari bawah, rugi kalo nggak berenang di sini kata Keandra merayu Lydia”.
“Serius loe Ndra? kata Lydia gugup”.
“Iyah… Nggak apa-apa kok, kalo kaki loe sampai patah gara-gara ini. Jangan khawatir nanti gue gantiin sama kaki gue canda Keandra sambil tertawa”.

Lydia tersenyum malu, wajahnya menjadi merah merona. Lalu dengan mantab ia loncat dari atas batu terjun ke sungai. Byuuuurrrrr… seluruh badan Lydia basah, Lydia pun tertawa sambil mengusap wajahnya. Mereka berdua berenang, dan dengan jailnya Lydia menciprat-cipratkan air sungai ke muka Kendra. Tidak mau kalah dengan Lydia, Keandra pun membalas menciprat-cipratkan air itu kearah Lydia.

“Huaaahhhh… udahhhh… Gue nyerah teriak Lydia sambil tertawa lalu ia berjalan ke pinggir sungai menjauhi Keandra”.
Keandra tersenyum lalu ia mengikuti Lydia dari belakang. Setelah bermain puas seharian di sungai, akhirnya mereka berlima kembali lagi ke hotel untuk beristirahat. Keesokan harinya Lydia terbangun dari tidurnya setelah ia mendengar ada yang ngetuk-ngetuk pintu kamarnya. Dan lagi-lagi Keandra lah yang menjadi penyebab Lydia terbangun karena merasa terganggu. Tetapi kali ini Lydia tidak marah-marah seperti waktu itu. Lydia tersenyum ketika ia tau kalau Keandra lah yang berada di depan kamarnya.
“Weks… sudah siang Non, loe mau tidur terus seharian di dalam kamar kata Keandra sambil memperlihatkan senyuman manisnya”.
“Duh… Sorry, gue kecapaian kemarin, sampai enggak nyadar kalau sudah siang jawab Lydia”.
Lydia menengok ke kanan kirinya, ia terlihat bingung dan baru tersadar juga kalau kedua sahabatnya pun telah menghilang dari kamarnya.
“Lho… Nuke sama Farah kemana tanya Lydia sambil mengucek-ngucek matanya”.
“Mangkanya jangan tidur terus, mereka keluar sama Ardy katanya sih mau cari souvenir yang lucu-lucu”.
“Kok loe enggak ikut Ndra, tanya Lydia lagi”.
“Nah itu dia… Gue di suruh jagain loe sama Ardy, dia takut nanti loe kenapa-napa jelas Keandra”.
Lydia mengangguk-nganggukan kepalanya tanda ia mengeri.

“Ly… , kita jalan yuk? Hmmm loe mandi dulu gih, malu tuh ada ilernya canda Keandra sambil tertawa”.
“Apaan sih loe… ahhh… kata Lydia malu sambil menepuk pundak Keandra”.
“Gue tunggu di luar yaa kata Keandra yang masih saja tertawa”.
Keandra berjalan mondar-mandir menunggu Lydia di depan lobby hotel. Hatinya berdebar-debar, ia pun tidak sabar untuk bertemu kembali dengan Lydia. Tidak lama kemudian ia tersenyum lebar ketika melihat Lydia yang sedang berjalan menghampirinya. Lydia pun tersipu malu melihat tatapan mata Kendra. Seperti terkena sihir prilaku mereka berdua pun berubah yang tadinya bermusuhan sekarang seperti sepasang kekasih yang sedang ingin berkencan.
“Sorry yaa Ndra, loe kelamaan yaa nunggunya? kata Lydia yang masih saja tersipu malu”.
“Enggak apa-apa kok, ayoo kita berangkat ajak Keandra”.
“Lho kita mau kemana Tanya Lydia bingung”.
“Hmmmm… kesuatu tempat yang gue jamin pasti loe suka jawab Keandra”.

Dengan malu-malu Keandra memegang tangan Lydia lalu ia menggandengnya. Lydia pun terkejut dengan sikap Keandra terhadapnya. Tetapi ia sudah merasa nyaman dengan genggaman tangan Keandra yang begitu hangat. Ia pun membiarkan musuh bebuyutannya itu menggandengnya.
Keandra mengajak Lydia jalan-jalan dengan menggunakan sepeda motor yang telah di sewanya. Mereka tertawa dan bersenda gurau di sepanjang jalan. Tidak ada lagi kata-kata yang menyebalkan yang keluar dari kedua mulut mereka. Lydia dan Keandra sangat menikmati perjalanannya hingga senja.

“Lho kita kok berhenti lagi Ndra, loe mau kemana tanya Lydia sambil turun dari motor yang di kendarai Keandra”.
“Mau makan jawab Keandra singkat”.
“Mau… makan lagi? gila perut loe belum kenyang tanya Lydia bingung”.
“Belum jawab Keandra lagi sambil menggelengkan kepalanya”.
Lydia mengikuti langkah Kendra yang masuk kedalam café setelah ia memakirkan motornya. Lydia langsung terpesona ketika ia menuju teras belakang café itu yang mensajikan suasana romantis dengan pemandangan laut lepas yang terbantang sangat luas. Matahari yang mulai tenggelam pun menambah suasana menjadi indah.
“Waahhhh… gilaaaa keren banget teriak Lydia sambil tersenyum lebar”.
“Keren… kan? kata Keandra tertawa”.
“Loe tau tempat ini dari mana, Tanya Lydia”.
“Sudah lama gue kepengen banget nemuin tempat yang seperti ini, dan akhirnya gue ketemu juga setelah ngubek-ngubek di internet jawab Keandra”.
“Ohhhh… kata Lydia sambil menganggukan kepalanya”.
“Sebelumnya gue juga sudah pernah kesini kok, gue langsung jatuh cinta begitu melihat suasananya. Dan gue berjanji suatu saat gue akan datang lagi ke tempat ini dengan seseorang yang gue sayang, biar gue bisa nikmati tempat ini berdua dengan dia jelas Keandra”.
“Weeekkssss… terus loe sudah ketemu sama orangnya belum? tanya Lydia lugu”.
“Sudah kok… jawab Keandra singkat”.
“Wow… enak dong, sekarang mimpi loe itu sudah terwujud kata Lydia”.
“Iyahhhh… dan gue bersyukur banget sekarang gue bisa mengajak cewek judes, galak, sok tau, dan penakut itu menikmati suasana di senja sore ini berdua dengannya jelas Keandra sambil tersenyum memandang Lydia”.
Lydia terdiam, ia berfikir sambil memandang Keandra di hadapannya.
“Ma… Maksud loe… , itu gu… gue, Ndra? Tanya Lydia ragu-ragu sambil menunjukan jari telunjuk kearah hidungnya”.
Keandra menganggukan kepalanya. “Ternyata, cewek yang sekarang bersama gue itu selain judes, galak, sok tau, dan penakut itu juga “lemot” jawab Keandra sambil tertawa”.
“Wahhhh… loe mau bikin gara-gara lagi sama gue nih? kata Lydia manja”.
“Hehehehhe… enggak, Please… kita jangan bertengkar lagi yaa. Sekarang kita nikmati saja dulu suasana ini bisik Keandra”.

Lydia dan Keandra mengobrol sambil menikmati pemandangan senja itu berdua. Mereka tertawa gembira bercerita tentang kejadian di sekolah sampai dengan pengalaman mereka di sungai kemarin. Terasa begitu nyaman sekarang berada di dekat Keandra, ia bukan lagi cowok yang jail dan pemarah seperti kemarin-kemarin. Sekarang yang di hadapannya adalah seorang cowok yang sangat perhatian dengan dirinya dan cool seperti yang di puja-puja oleh Nuke dan Farah pikir Lydia dalam hatinya sambil tersenyum ia memandang Keandra yang sedang asik bercerita tentang pengalamannya berarung jeram.
Keesokan harinya mereka berlima pulang ke Jakarta, Lydia dan Keandra telihat bertambah dekat. Nuke, Farah dan Ardy pun menyukai kedekatan mereka berdua. Dan Pagi ini Lydia terlihat begitu gembira, Ia munuruni anak tangga menuju ruang makan. Setelah sarapan Lydia dan Ardy berangkat ke sekolah. Hari itu masih pagi ketika mereka tiba di sana. Wahhh tumben nih anak semangat banget pergi ke sekolah, hmmm… sakin semangatnya masih sepi begini di sini, biasanya kan Lydia terus yang bikin gara-gara terlambat datang ke sekolah kata Ardy dalam hatinya.

“Ly… Gue nongkrong dulu yaa di kantin? Masih sepi di kelas kata Ardy sambil meninggalkan Lydia yang hendak masuk kedalam kelas mereka”.
Lydia pun masuk kedalam kelasnya. Lydia baru tersadar kalau mereka datang kepagian ke sekolah. Tiba-tiba mata Lydia terbelalak ketika ia melihat ada sepuncuk surat beramplop merah muda dan setangkai Bunga mawar merah yang berada di atas mejanya. Dengan ragu-ragu Lydia mengambil surat yang di depan amplopnya tertulis namanya. Lydia membuka amplop itu lalu ia membaca nya.

“Lydia… mungkin ini sesuatu yang nora atau kuno, tapi aku berharap kamu membacanya. Hmmmm… Maaf kalau sikap aku selama ini terhadap kamu sangat tidak menyenangkan. Pertama kali aku melihat kamu, ketika aku mau mendaftarkan diri untuk masuk kesekolah ini. Aku langsung suka dan jatuh cinta melihat senyuman kamu ketika kamu sedang bersama Nuke dan Farah. Aku memperhatikan kamu dari jauh. Jujur saja waktu kejadian saat itu aku sangat gugup menghadapi kamu yang begitu marah, karena baju kamu yang kotor. Aku kaget ketika orang yang menjadi korban atas kesalahan aku adalah kamu, Cewek yang aku lihat waktu itu. Lebih-lebih lagi aku sangat cemburu melihat Ardy bersama dengan kamu waktu itu. Maaf aku telah berbuat bodoh. Aku senang melihat kamu jika sedang bertengkar dengan aku, kadang aku sengaja membuat hal yang tidak enak sama kamu agar kamu marah, karena aku tidak tau harus berbuat apalagi untuk mendekati kamu. Dan sekarang aku sadar, aku tidak mau membuat kamu sedih lagi karena ketidaknyamanan yang aku perbuat. Karena aku takut kehilangan dan bertambah jauh dari kamu. Dan sekarang aku ingin bisa lebih dekat dengan kamu… Mau kah kamu menerimanya… Keandra”.

Lydia tersenyum lalu ia mengambil bunga yang masih terletak diatas meja. Lydia mencium harumnya mawar itu. Inilah pertama kalinya ia mendapatkan surat dan pernyataan seseorang yang suka dan sayang kepadanya.
Sepulang sekolah, Lydia menghampiri Keandra yang sedang berjalan kearahnya. Mereka berdua terseyum dan saling memandang.

“Ndra… Panggil Lydia “.
“Kita pulang bareng yuk, ajak Keandra”.
Lydia menganggukan kepalanya, Keandra meraih tangan Lydia lalu ia mengenggamnya erat-erat kembali. Mereka berdua pulang kerumah sambil bergandengan tangan. Mimpi Lydia pun menjadi nyata. Lydia sangat bersyukur karena telah mendapatkan seorang pacar yang baik dan perhatian padanya di awal umurnya yang ke 17 tahun…

( Tamat )

Cerpen Karangan: Ayu Soesman
Facebook: Hikari_gemintang[-at-]yahoo.com
Hi… ini cerpen terbaru yang aku buat, semoga teman-teman suka membacanya. Maaf yaa kalau ada kata-kata yang salah dll…. Selamat Menbaca 🙂

Cerpen Usia 17 dan Pacar Baru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia

Oleh:
Sudah lama dia tak pulang, sekalinya pulang, hanya satu hari, setelah itu pergi lagi. Dia biasanya duduk di padang rumput di sana, dan aku setiap hari selalu ada di

Kecantol Mak Comblang (Part 1)

Oleh:
“Shuttt shuiiitttt”, siulan dari laki-laki tinggi 165 cm dengan berat badan 63 Kg, berambut tipis model potongan polisi yang membuatnya semakin terlihat tampan, degan seragam SMA yang dikenakan, dan

Pemuda Gila, Peri dan Bulan

Oleh:
Sore menjelang, dan pemuda itu berjalan menaiki bukit. Bukit yang sangat tinggi, bahkan awan pun selalu berada di bawah puncak bukit itu. Bukit yang sangat sepi, hanya terdapat padang

Cracked Doll

Oleh:
Delva sangat membenci saudaranya. Baginya pengalaman buruk harus dialami. Mereka satu rumah tapi tidak akur. Sampai di mana Delvo menyukai cewek yang sama dengannya. Rafa menghampiri Delva. “Kalau lo

Dibalik Kisahnya

Oleh:
Semuanya berawal dari ketidak-sukaanku terhadap teman sekelasku yang bernama giovito, banyak hal yang membuatku membencinya: malas, banyak omong, gak pernah ngerjain tugas dan masih banyak lagi. Hal-hal itu yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Usia 17 dan Pacar Baru”

  1. suria ningsih says:

    so sweeet

  2. Carolina Ayu says:

    So swett bgt .. hehe 🙂

  3. Fanny says:

    So sweet bangettttttt siihh kak ayu pinter buat ceritanya ampe baper …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *