Ve

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 November 2016

“Ve!!!” teriak pak Dendi yang kelelahan akibat mengejar Ave
“Rasain” Ujar Ave kepada Pak Dendi dan kemudian berhasil meloloskan diri dari kejaran guru BP itu dengan melompati pagar sekolah. Ave memang murid yang bandel, setidaknya itu menurut penilaian pribadi pak Dendi. Ia siswa kelas 2 di salah satu SMA di Makassar. Tingginya 165 cm dengan postur tubuh yang sedikit kurus namun ia sangat lincah. Ia juga anak ceroboh dan suka ikut campur dengan urusan orang lain.

Setelah merasa aman dari kejaran pak Dendi, ia pun menuju ke halaman belakang sekolah di bawah pohon besar, ia sering memarkir motornya disana. Sejurus kemudian, ia pun memacu kendaraan kesayangannya tersebut menuju warung Bu De. Di sanalah ia selalu berada ketika memilih membolos. Ave bukannya malas. Walaupun tidak tergolong siswa yang cerdas, ave sebenarnya rajin mengikuti setiap kegiatan akademik sekolahnya. Hanya saja ia sangat tidak suka guru-guru yang bersifat otoriter, dengan kebijakan-kebijakan yang tidak masuk akal, persis seperti pak Dendi. Kali ini, ia membolos karena pak Dendi sedang mengadakan razia rambut.

“Kok bolos mas?” Ujar Bu De kepada Ave yang sontak membuyarkan lamunannya
“Biasa Bu De, pak Dendi razia rambut”
“Loh kok lari? Kan rambutnya masih pendek?
“Justru itu Bu De, karena rambut yang pendek kayak gini masih disuruh cukur sama pak Dendi, makanya saya kabur. Peraturan sialan macam apa itu, lagi pula kan tidak ada aturan yang jelas soal rambut panjang, emang berapa senti rambut bisa dikatakan panjang, emang rambut mempengaruhi kecerdasan, memang rambut berpengaruh sama semangat belajar? Gak kan” jelas Ave dengan nada sedikit jengkel.
Bu De hanya tersenyum mendengar penjelasan Ave lalu kemudian mengantarkan gado-gado yang tadi dipesannya.

Jam 3 sore, setelah puas nongkrong di warung Bu De, ave pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
“Bun? Assalamualaikum” sapa ave kepada ibunya yang sedang asik membaca majalah, lalu kemudian mendekat dan mencium tangan.
“Waalaikumsalam, kok anak bunda tengil sih? Sana mandi dulu, abis mandi bunda tunggu di ruang makan ya!” jawab ibu ave sambil tersenyum
“Enak aja, oke Bun” jawab ave dengan muka memelas lalu kemudian tersenyum. Ave memang dekat dengan Ibunya, dia adalah anak semata wayang dari Ibu Ana dan Pak Wahid. Mereka memang hanya tinggal berdua di rumah itu dan ibunyalah yang menjadi tulang punggung keluarga. Ibunya bekerja sebagai guru bahasa Indonesia di salah satu SMP di makassar. Ayah ave telah meninggal tiga tahun lalu saat sedang mengemban tugas Di Poso sebagai salah satu anggota TNI untuk mendamaikan konflik antar suku. Ibu Ave adalah ibu yang humoris dan menyukai sastra. Bakat yang ternyata diwarisi oleh Ave.

Pagi-pagi sekali ave telah siap untuk ke sekolah, setelah berpamitan dan mencium tangan Bunda, begitulah panggilan akrab ave kepada ibunya, dia pun memacu sepeda motor peninggalan ayahnya menuju sekolah. Seperti biasa, ave lantas memarkir motor kesayangannya di halaman belakang sekolah di bawah pohon besar. Hanya dua orang siswi yang ternyata mendahuluinya ke sekolah, yang satu Airin, gadis cantik dan cerdas, yang merupakan ketua kelasnya sekaligus ketua osis, dan yang satu lagi adalah Lia, siswi kelas 2 C yang juga merupakan ketua Ekskul seni di sekolahnya. Ave lantas menuju kelas tanpa mempedulikan kedua gadis itu. Ia memilih duduk tenang di bangkunya dan membaca novel sembari menunggu pelajaran jam pertama dimulai.

Ave tergolong cuek kepada lawan jenisnya. Ia sejauh ini tidak tertarik dengan urusan pacaran. Mungkin dia belum menemukan tipe gadis yang diinginkannya, kalau pun ada. Mungkin ia akan bersifat seperti Airin, cuek, ketus dan hanya memikirkan persoalan akademik dan tidak akan mungkin menyukai laki-laki tengil seperti Ave. Di depannya tampak Airin sangat sibuk dengan urusan administrasi kelas.

“Mau dibantu?” ujar Ave menawarkan diri
“gak usah, tolong jangan ganggu aku. Aku sedang sibuk”. Jawab Airin ketus. Walaupun mereka hanya berdua di kelas, berhubung teman kelasnya yang lain belum datang. Airin tetap menolak tawaran ave. Airin terbiasa mengerjakan semua hal sendirian. Mereka berdua memang kurang akrab. Airin tidak menyukai Ave karena sifatnya, ia terlalu santai dengan urusan akademiknya dan kadang-kadang membolos.
“Ya sudah” ujar ave sambil mengangkat bahunya tampak heran dengan sikap gadis itu, ave memilih kembali melanjutkan bacaannya. Setelah puas membaca, ave memperhatikan jam tangannya. Ternyata baru pukul 6.30. Berhubung Ave sedang haus dan pelajaran baru dimulai satu jam lagi, ia memutuskan untuk menuju ke kantin.

Jam pelajaran pertama dimulai 15 menit lagi. Ave memutuskan untuk kembali ke kelas. Tepat di depan pintu kelasnya, Ave berhenti sebentar dan melemaskan tubunya yang terasa kaku. Tanpa sengaja, sepasang matanya menangkap hal yang tidak biasa. Lia, dia tampak gusar dan berjalan kesana kemari di tengah lapangan. Walaupun sekolah mulai ramai oleh siswa dan siswi yang mulai berdatangan, tampak tak seorang pun yang menghiraukan gadis tersebut.
“Ngapain ya dia?” ujar ave kepada dirinya sendiri. Tanpa berpikir lebih keras lagi, ia langsung menghampiri gadis itu.

“Nyari apa sih?” Tegur ave mendadak.
“Eh, hai. Kau mengagetkanku. Aku kehilangan kunci motorku, sudah satu jam lebih aku mencarinya tapi belum ketemu” ujar lia dengan ekspresi khawatir.
Tanpa panjang lebar lagi, ave kemudian ikut gusar dan sibuk berjalan kesana kemari. Persis seperti yang Lia lakukan barusan. Lia hanya berdiri menatap Ave dengan ekpresi keheranan melihat laki-laki tiba-tiba ikut sibuk.
“Heiii” tegur lia mengagetkan Ave
“Heiii” balas Ave mengikuti intonasi dan ekspresi Lia
“Kamu ngapain sih?” tanya Lia dengan wajah keheranan yang kemudian disusul senyum manis karena merasa terhibur dengan tingkah Ave
“Ngapain lagi? Jelas-jelas aku sedang mencari kunci motormu yang hilang. Kamu ngapain bengong. Ayo bantu aku” jawab ave dengan ekspresi serius.
Setelah puas memperhatikan laki-laki itu. Lia kemudian ikut mencari kunci motornya
“Bukannya kamu yang membantuku” ujar Lia di dalam hati sambil tersenyum sendiri.

Setelah 15 menit sibuk mencari, tegur Ave tiba-tiba memecah keheningan. Lia yang sibuk mencari di bagian lapangan yang lain refleks menoleh ke arah lelaki itu. Tampak dari jauh Ave tersenyum lebar sambil mengangkat salah satu tangannya yang memegang Kunci motor dengan gantungan berbentuk huruf L berwarna merah muda. Sontak senyum manis kembali terekah dari wajah Lia.
Ave kemudian menghampiri Lia. Tanpa banyak basa basi ia pun menyerahkan kunci itu dengan sedikit tersenyum.
“Makasih” ucap lia dengan nada sedikit bergetar
“Jam berapa sekarang?” ujar ave tak menghiraukan ucapan gadis itu
“Jam delapan, gawat kamu terlambat mengikuti jam pelajaran pertama, maaf” jawab Lia dengan wajah yang kembali gusar penuh penyesalan
“Bukan cuma aku yang telat, tapi kita berdua. Tunggu apa lagi, ayo..” kata ave dengan sedikit tertawa seraya mengajak lia untuk segera ke kelas.
“Makasih”
Ave yang telah berjalan sekitar dua meter di depan Lia hanya menjawab ucapan itu dengan mengangkat tangan kanannya sejajar bahu kemudian mengacungkan jempol. Ave menuju kelas dengan ekspresi cueknya diikuti Lia yang sedari tadi tersenyum melihat tingkah Ave.

“Assalamualaikum” ave mengucap salam setelah sebelumnya mengetuk pintu kelas.
“Dari mana saja kamu!!”
“Tadi ada urusan penting Bu”
Dengan ekspresi kesal Ibu Yanti mempersilahkan Ave mengikuti pelajarannya hanya dengan memberi isyarat dengan menggelengkan kepala seolah menunjukkan tempat duduk untuknya.

Ibu Yanti adalah Guru Sejarah sekaligus wali kelas Ave. Ia kerap kesal dengan ulah muridnya yang satu ini. Bukan karena kebodohannya, sejujurnya Ave adalah siswa yang paling menonjol pada pelajaran sejarah, bahkan bila dibandingkan dengan Airin. Ia sebenarnya adalah guru yang paling peduli terhadap Ave dibandingkan dengan guru-guru lainnya. Ia yakin bahwa muridnya ini juga mampu di pelajaran lain. Hanya saja nilainya anjlok pada pelajaran tertentu karena sebagian guru mengaggapnya bandel dan kadang terlabat.

“Jangan mentang-mentang kamu menonjol pada pelajaran sejarah lantas kamu ingin seenaknya terlambat. Sebagai hukuman kerjakan tugas halaman 122-130. Airin, tolong kumpulkan tugas Ave besok pagi sebelum pelajaran dimulai.” Perintah Ibu Yanti sesaat sebelum pelajarannya usai. Airin sontak menggeleng jengkel melihat Ave yang sangat santai dengan hukuman tersebut. Ave hanya tersenyum mendengarnya, dengan senang hati ia akan mengerjakan tugas-tugas itu walaupun hal tersebut adalah hukuman.

Pukul 2 siang, siswa yang lain sibuk dengan urusan Ekskul, Ave memilih menyendiri di sudut perpustakaan. Di tempat inilah dia sering menghabiskan waktu dengan membaca buku berbagai gendre dan baru pulang setelah pukul 4 sore. Kali ini Ave membaca buku sembari mendengarkan musik-musik klasik dari Iphonenya.

“Ve!!!” sapa Airin kesal seraya menarik kabel Headset yang dikenakan ave. Entah sudah teguran yang keberapa. Tampaknya ave tenggelam ke dalam buku puisi karya Boris Leonidovich Pasternak yang dibacanya”
“Ada apa sih?”
“Ibu Yanti mencarimu”
“Aku lagi? Tapi aku gak buat salah apa-apa?” Tanyanya keheranan
Airin hanya memberi Isyarat dengan mengangkat kedua bahunya, dan langsung berlalu setelahnya.

“Ada apa Bu? Kali ini apa salahku?”
“Hahah, memangnya kamu merasa berbuat salah? Tenanglah, kamu tidak salah kok, ibu hanya akan meminta bantuanmu untuk Perform tari minggu depan”.
“Ibu bercanda, aku mana bisa menari”
“hahah, jangan konyol Ve, kamu hanya akan mengiringinya, kamu kan bisa main gitar”
“Tapi Bu, masi banyak siswa lain yang lebih bisa dari pada aku, aku juga gak mau”
“Ibu tidak memintamu hanya karena alasan kemampuanmu bermain gitar, tapi karena kamu punya bakat spesial, dan ibu sangat yakin kamulah yang dibutuhkan oleh mereka”
“Spesial? Hahah, ibu bercanda. Aku hanya Ave, tidak lebih”
“Kau tau, karena kau merasa biasa-biasa saja, kau akan menjadi yang spesial di antara anggota tim yang lain, cobalah dulu”
Ave menjadi sangat bingung mendengar penjelasan dari Ibu Yanti. Ia akhirnya takluk dari Ibu Yanti yang sedari tadi terus membujuknya. Alhasil, ia harus mengikuti latihan perdana sore nanti.
“Ingat, latihan pertamamu pukul 4 sore nanti”
“Sipp lah Bu” jawab Ave dengan wajah memelas

Matahari telah terlelap, waktu juga telah menunjukkan pukul 8 malam, baru saja latihan tari selesai. Anggota tari yang lain termasuk lia telah pulang menyisahkan Airin yang tampak sibuk mengurusi biodata dan berkas seluruh anggota Ekskul yang akan berpartsipasi dalam lomba tari minggu depan. Besok adalah hari terakhir untuk registrasi, dan semua berkas harus rampung malam ini juga.

“Heiii” Sapa seorang lelaki memecah keheningan
Sontak Airin dikegetkan oleh suara lelaki tersebut. Hampir-hampir gadis itu berteriak, namun setelah menoleh tenyata lelaki itu ialah Ave yang kembali ke ruang latihan untuk mengambil novelnya yang tertinggal. Lelaki yang ceroboh
“Kok masih disini? Udah jam berapa nih, kamu kan cewek”
“Aku sedang merampungkan berkas registrasi. Kamu duluan saja, sebentar lagi aku pulang kok” jawab airen dingin Mengalahkan dinginnya malam itu.
“Kok kemu ngerjainnya sendiri? Lia dan anggota ekskul tari yang lain mana?”
“Lia lagi sibuk dengan ekskul Pers, seminar tentang pers juga akan diadakan minggu depan. Sudahlah mending kamu pulang sekarang, aku hanya perlu mengisi format registrasi online kemudian memfotocopy berkas biodata ini” kali ini Airin menjelaskan dengan sedikit bawel.
“Okee” tanpa banyak basa-basi lagi, Ave langsung mengumpulkan biodata tersebut lalu kemudian ia masukkan ke dalam map.
“Kau tau, kau bisa semalaman disini kalau mengerjakan semuanya sendiri. Sekarang selesaikan registrasi online itu. Serahkan masalah berkas-berkas ini kepadaku” Tegas ave
“Tapii”
“Aku akan ke luar sebentar dan mencari tempat fotocopy yang buka. Asal tau saja, tempat fotocopy di depan sekolah telah tutup sejak tadi”
Airin terpaku melihat Ave yang dengan lincahnya telah berjalan meninggalkan ruangan itu dengan tingkah khasnya, memberikan isyarat kepada airin dengan mengangat tangan kanannya sejajar bahu dan mengacungkan jempol sambari berlalu.

Tak terasa, jarum jam telah menunjuk angka 11. Dua remaja itu larut dengan kegiatannya. 15 menit kemudian, semua berkas pun telah berhasil mereka rampungkan.
“Kamu pulang duluan saja, ini tinggal sedikit lagi” ujar Airin dengan suara sedikit menyesal.
“Kalau begitu, harus segera kita selesaikan lalu kuantar kau pulang. Tolong jangan menolak. Aku tidak bisa membiarkan seorang gadis berjalan pulang sendiri tengah malam begini”
Walaupun merasa telah banyak merepotkan ave malam itu, Airin hanya dapat tersenyum mendengar ucapan Ave. Lelaki yang selama ini ia benci, ternyata menjadi penyelamatnya di saat-saat genting seperti ini.
“Makasih ya Ve. Kamu terlalu banyak membantuku malam ini. Aku memang kesulitan mengatur waktuku akhir-akhir ini karena harus menyesuaikan jadwal dengan kegiatan-kegiatan OSIS” ucap airin dengan wajah sedikit tertunduk malu.
“Gak masalah. Kau tau, kamu harus berhenti mengerjakan semua hal sendiri. Kamu memang cerdas, tapi bagimanapun, akan jauh lebih mudah kalau dengan bantuan orang lain”
Airin mengangguk paham. “Oh ya Ve. Tugas kamu, biar aku yang kerjakan ya”
“Tolong jangan rebut kebahagiaanku yang satu ini, kamu tau kan aku cinta dengan sejarah, hahah. istirahatlah. See yaa” Jawab Ave bercanda kemudian bergegas pulang.
Airin hanya bisa tersenyum sendiri mendengar jawaban lelaki itu. Entah kenapa sejak malam itu, pikirannya selalu diganggu oleh Ave. Dadanya juga terasa aneh dan jantungnya berdeguk cepat saat membayangkannya.

Latihan tari sore ini berjalan lancar dan selesai pukul 3 sore. Semuanya seperti biasanya kecuali satu hal, hari Lia terus memperhatikan Ave, dan langsung tertunduk saat sesekali Ave menangkap pandangannya.
“Pulang yuk Rin” ajak Lia sesaat setelah Ave berlalu meninggalkan ruang latiahan.
“Hmmm. Okee, tunggu sebentar ya, aku mengemas barang-barangku.”

Sepuluh menit kemudian, mereka berdua telah di gerbang sekolah menunggu jemputan masing-masing. Sejak tadi Lia sibuk membicarakan Ave sambil tersenyum. Entah kepana, ada perasaan sedikit kecewa di Hati airin saat mendengarnya.
“Aku lupa mengambil bukuku, tunggu sebentar ya Lia” Ujar Airin kemudian berlari menuju ruang latiahan.
Lia seperti membeku, sesaat setelah Airin berlalu, Ave tiba-tiba berhenti tepat di depannya.
“Kok belum pulang?”
“hmmm, sepertinya Ayah lupa menjemputku” jawab Lia gugup
“Tunggu apa lagi, ayo naik”
Airin tertunduk, rasa sedih bercampur kecewa seolah meresap ke setiap ruang-ruang hatinya. Ia tak sengaja menguping pembicaraan dua orang di depannya. Langit cerah seolah berubah mendung. Untuk pertama kalinya ia merasakan perasaan cemburu kepada seorang lelaki. Ia menunda untuk pulang ke rumah dan memilih berjalan menuju Ke Perpustakaan Terakhir, yang berjarak beberapa blok dari sekolahnya. Cafe yang juga sekaligus perpustakaan. Disana ia selalu merasa lebih tenang.

Usai mengantar Lia, Ave memutar balik kendaraannya, ia ingin ke Perpustakaan Terakhir untuk mengecek hasil lomba menulis puisi yang ia ikuti minggu lalu.

Airin sering mengunjungi perpustakaan terakhir pada hari Rabu. Pada hari tersebut, perpustakaan terakhir selalu memutar lagu-lagu klsik. Lagu-lagu yang selalu dapat membuat gadis itu tenggelam dalam lirik dan intrumennya. Sesaat setelah melangkah masuk, perhatian airin terhenti tepat di depan mading. Ia terpaku membaca Puisi yang memenangi lomba minggu lalu.

“Eza Avendi”
“Yaaaa”
“Juara lomba menulis puisi”
“Apaa? Akuuu? Kamu serius?”
Sontak Airin berbalik, mukanya memerah menyadari Ave telah berdiri tepat di belakangnya. Mata mereka bertemu dengan jarak hanya beberapa senti.
“Aku juara ya?” tanya Ave lantas memperhatikan mading di depaanya. Pertanyaan yang hanya dijawab anggukan pelan oleh Airin.

Mereka berdua telah duduk di sudut perpustakan terakhir. Buaian musik klasik memenuhi setiap sudut ruangan di cafe tersebut.
“Fur Elise” ucap Ave berbisik
“Kamu tau lagu ini?”
“Aku suka musik kalsik”
Tidak hanya pandai menulis puisi, ternyata Ave memiliki pengetahuan lebih terhadap musik. Semua itu bagai kejutan untuk Airin. Lelaki yang selama ini ia remehkan, ternyata jauh melebihi yang apa yang ia bayangkan.
“Kamu sering kesini?” ave memecah kebekuan gadis itu
“Pada hari selasa. Aku suka musik-musiknya”
“Bererti kita akan sering bertemu di hari selasa”
Senyum manis terekah dari wajah Airin “Oh iya, Lia kemana?”
“Lia? Kok nanya soal Lia? Aku tadi mengantarnya pulang”
“Bukannya kalian pacaran?”
“Pacar, wahh, kamu sedikit berlebihan Rin”
“memangnya kalian gak pacaran? Tapi Lia selalu bercerita soal kamu. Aku juga melihatmu tadi menjemputnya”
“Aku mengantarnya karena dia sendiri di depan gerbang. Ayahnya lupa menjemputya. Kamu salah paham” Ave coba menjeaskan

Airin terdiam menikmati alunan lagu I Could Fall In Love – Selena. Ia merasa bodoh telah sedih dan cemburu. Namun perasaan itu juga yang telah mengantarkannya ke Perpustkaan Terakhir untuk mengenal Ave lebih dekat. Ada perasaan bahagia di hatinya. Seolah alam raya ikut membantu untuk mempertemukan mereka sore itu.

“Tapi Lia menyukaimu Ve”
“Apaa? Kamu bercanda. Mana mungkin Lia menyukai lelaki tengil” jawab Ave bercanda
“Kamu terlalu baik Ve, kamu itu berbeda, kamu melakukan semua hal dengan tulus. Walaupun kamu tidak menyadarinya. Wajar kalau Lia menyukaimu”.
“Tapii, aku hanya ingin membantu semua orang, dan Lia memang membutuhkannya. Aku tidak bermaksud apa-apa”

Satu hal lagi yang membuat Airin semakin kagum pada lelaki itu. Namun di satu sisi. Itu bagai pukulan telak yang diterimanya. Ia kini tau kalau Ave ternyata juga tidak mempunyai perasaan apa-apa padanya.

“Justru karena itu Ve. Kau tau, aku juga menyukkaimu” ucap Airin bergetar. Ia menunduk merasa bodoh. Ada sesuatu yang menetes di pipinya. “aku pulang ya Ve, duluan”.
“Tapi Rin” ave coba menahan
“Tak apa Ve, aku paham perasaanmu”

Ave diam membeku menyaksikan gadis itu perlahan menghilang dari pelupuk matanya. Ia tidak habis pikir. Bagaimana mungkin dua gadis paling populer di sekolah menyukai lelaki sepertinya. Si sisi lain ada perasaan bahagia yang sesak memenuhi ruang dadanya. Ia jatuh cinta kepada Airin

“Bundaa” ave mengagetkan bunda yang sedang asik menonton TV
“Apa sih Ve. Ganggu aja”
“Aku jatuh cinta Bun” Jawab ave konyol
“Jatuh cinta, kamu bercanda. Sama siapa?”
“Sama gadis yang paling sempurna. Dia manis dan pintar Bun”.
“hahah, itu wajar sih. Tapi akan sangat wajar juga kalau dia akan menolakmu”
“Buuun. Bunda bisa tidak sekali ini saja mendukungku. Bukannya malah menjatuhkanku” Ujar Ave kesal
Bunda hanya terus tertawa dan menggoda Ave malam itu..

Bel istirahat berbunyi, Ave termenung di sudut taman sekolah. Ia sibuk memperhatikan Airin dari jauh. Sejak kejadian kemarin, Airin serasa telah sesak memenuhi dada dan pikirannya. Namun sejak kemarin Airin juga mulai menghindarinya. Jangankan bercakap, memandangnya pun hanya dapat ia lakukan dari jauh.
“Ve..” Panggil Bu Yanti
“Iya Bu, kenapa?”
“Dari pada kamu membeku disini, sebaiknya sekarang kamu tempel poster ini di mading. Oh iya, sebaiknya disana selesaikanlah juga masalahmu. Aku kasihan melihatmu membiarkan masalah berlarut-larut. Setauku kau punya keahlian untuk menyelesaikan masalah orang lain”.
“Maksunya Bu”
Ibu yanti hanya tersenyum cuek, lalu berlalu tanpa sepatah kata pun. Hal yang membuat Ave semakin bingung.

Ave berjalan menuju mading mmading sambil membaca poster yang di serahkan oleh bu Yanti. Tanpa ia sadari ia menabrak seseorang dan menjatuhkan buku-buku yang di pegang gadis itu. Refleks ave memungut buku tersebut, kemudian mengembalikannya. Ternyata gadis yang di tabraknya adalah Lia.
“Maaf, aku tak sengaja Lia”.
“Gak apa-apa kok. Mau nempel poster ya”
“Iya nih, tadi disuruh Bu Yanti”
“hmm, okee” Lia seolah salah tingkah dan kehabisan kata-kata di depan Ave.

Saat sedang menempel poster tersebut, ave teringat pesan Bu Yanti. Ternyata masalah yang di maksudkannya adalah prihal Lia. Dia sadar harus berkata jujur dan menjelaskan semuanya sekarang.
“Ve. Aku harus jujur kepadamu” Lia memotong lamunan Ave
“Yaa. Ada apa Lia?”
“Aku menyukaimu. Kau yang membantuku saat yang lain mengabaikan. Aku seolah mempunyai sesorang yang selalu ada untukku, ini pertama kalinya aku menyukai lelaki”. Ucap Lia bergetar

Ave maju selangkah lebih dekat ke gadis itu. Sejurus kemudian tangannya mengusap kepala Lia. “Kau tau, kau seperti adik buatku. Kau teman bercerita yang baik. Kita akan selalu akur.”

Mendengar ucapan Ave Lia hanya tertunduk malu. Ia tau sekarang, kalau Ave memperlakukannya layak adik. Ia tak dapat membendung air mata yang seolah memaksa untuk menetes ke pipinya. Ave hanya dapat tertunduk seraya menurunkan tangan yang tadi mengusap kepala gadis itu, merasa bersalah atas penolakan halusnya kepada lia. Hening sesaat.

“Maafkan aku Lia” ucap Ave dengan nada menyesal. Sesaat kemudian, Lia tak dapat lagi membendung perasaannya. Tubuh mungilnya memeluk Ave yang yang berdiri tepat di depannya.
“Jadilah kakak untukku” pinta Lia dengan terisak
“Aku janji”
Lia kemudian melepaskan pelukannya, menyeka air mata di pipinya. Tampak ia berusaha kembali tersenyum. “Aku ke kelas dulu Ve, sebaiknya kamu temui Airin”

Sejurus kemudian. Lia telah melangkah ke kelasnya. Paham dengan ucapan Lia, Ave bergeas untuk mencari Airin. Karena terburu-buru, ia kembali menabrak seorang gadis. Tanpa berucap sepata kata, gadis itu kemudian berdiri dan bergegas untuk pergi. Sontak tangan kanan Ave meraih tangan gadis itu. Gadis yang sebenarnya ia cari.

“Kamu mau kemana?”
“Tolong lepaskan, aku harus ke ruang Osis sekarang. Aku sibuk”
“Sampai kau terus menghindariku Rin”
“Aku tidak menghindar”
“Katamu, kau menyukaiku. Tapi kau mengabaikanku setelah kata itu kau ucapkan. Aku pikir kau tidak serius dengan yang kau katakan”. Sontak Airin berbalik, pandangan mereka kembali bertemu dengan jarak hanya beberapa senti. Kegugupan tampak nyata di wajahnya
“Aku serius Ve..”
“Kalau kau serius menyukaiku, Aku pun telah serius mencintaimu. Tolong, jangan abaikan aku lagi Rin. Jadilah pacarku.”
Pipi Airin memerah. Ia terkejut mendengar kalimat yang terucap dari mulut lelaki itu.
“Ada syaratnya..”
Ave bingung tak mengerti. “Aku telah menjelaskan semuanya kepada Lia”
“Bukan itu Ve”
“Lantas?”
Dengan pipi memerah, Airin kemudian memeluk tubuh Ave. “Tetaplah jadi Eza Avendi yang aku kenal”

Cerpen Karangan: Insan Kamil
Blog: http://mytreasure18.blogspot.co.id

Cerpen Ve merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sandiwara Cinta

Oleh:
“Jika kau suka dia katakan saja!!” ujar seseorang di ujung sana. Ternyata dia adalah Angel sahabat sekaligus pacar dari Brayen sahabatku. Gubrak tak sengaja aku yang sedari tadi memperhatikan

Oh Ternyata

Oleh:
Sore yang begitu mengagumkan semburat jingga menghiasi langit, warna ungu dan biru pun tak mau kalah ikut terselip di antara kemerahan awan yang mengepul, sore ini aku sangat bersemangat

Cinta Terpendam

Oleh:
Di malam yang dingin dan gelap sepi benakku melayang pada kisah cintaku, kisah cinta yang tak pernah ku tahu akhirnya. Ku sampaikan semua kegalauan hatiku lagu-lagu yang ku rasa

Perpisahan Kita

Oleh:
Stefanny amelia larasati seorang wanita cantik, pintar, baik, berkulit hitam manis. Yang sering dipanggil fany. Fany tidak terlalu manja, namun cengeng. Dia single, dia sama sekali belum pernah mengalami

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *