Verbotene Liebe

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 30 March 2016

Di sebuah danau yang terletak di dalam hutan. Seorang wanita berparas cantik sedang berdiri mematung di pinggiran danau. Dengan mengenakan gaun putih yang cantik, entah apa yang sedang ia lakukan. Pandangannya seolah kosong tak berisi hal apa pun. Sorot matanya yang indah menampakkan kesedihan. Dalam sunyi, dia pun bersenandung dengan suaranya yang kecil namun terdengar merdu.

“Bagai berjalan di atas air, hal yang tak mungkin walau tampak yakin. Batu yang dilempar, menciptakan riak yang kian meluas. Seperti itulah perasaanku. Seperti itulah kebimbanganku. Maafkanlah!” suara senandung itu mengisi keheningan di tempat yang kini ia pijak. Wanita itu lalu menoleh ke arah belakang. Dilihatnya seseorang yang ternyata ia tunggu sedari tadi. “Maaf harus membuatmu menunggu,” ucap orang itu meminta maaf.
“Tak apa. Aku senang kau datang,” jawab si wanita bergaun putih polos itu. Mereka pun saling berpegangan tangan. Dengan segenap rasa mereka tumpahkan rasa cinta kasih mereka.

“Kamu nangis? Kenapa?” tanya orang itu kepada si wanita yang terlihat meneteskan air mata.
“Aku… Aku hanya merasa sedih,” ucap si wanita. Kemudian ia mengusap air matanya dengan jemarinya.
“Maaf jika aku selalu membuatmu sedih. Asal kamu tahu! Aku sangat mencintai kamu, tak peduli apa pun yang terjadi,” orang itu pun mengangkat dagu si wanita dengan penuh kasih. “Ciuman ini sebagai ikatan yang erat. Jangan takut, selama kita saling mempercayai keabadian. Cinta tulus kita akan terkabul,” ucap si orang itu selepas mencium bibir si wanita.

Hembusan angin yang pelan menerpa raga mereka yang lunglai dan luluh. Di bawah pohon besar pinggir danau, mereka tertidur dengan posisi duduk. Tangan mereka saling berpegangan erat walau dalam keadaan tertidur.

CLAP! CLAP! CLAP! …

Bunyi itu membangunkan tidur mereka. Dilihatnya, kerumunan ikan tengah menggerombol di hadapan mereka. Ikan-ikan itu sedang berebut pelet yang tak sengaja tertabur.
“Kamu melepasnya saat tidur ya?”
“Haha… Iya. Saking terlelapnya. Sepertinya ikan-ikan itu sangat lapar. Ayo kita beri makan,” kemudian mereka berdua pun menaburkan pakan ikan yang sudah mereka siapkan. Senyum kebahagiaan terpancar dari raut wajah mereka. Suasana di danau yang sepi, seolah ramai dan hangat karena keberadaan mereka.

“Kenapa takdir begitu kejam?” si wanita terhenti menaburkan pakan ikan. Lalu ia pun duduk sambil memainkan air.
“Kenapa bilang begitu?”
“Aku tahu, kita berdua memang terlarang. Tapi, apakah salah? Jika cinta suci yang kita miliki ini kita tunjukkan? Kenapa harus selalu disembunyikan?” si wanita mulai menangis.
“Andai aku tak pernah terlahir seperti ini. Mungkin kita tak akan bertemu dan merasakan kesedihan,” sambung si wanita lalu ia pun melepaskan pin rambutnya dan melemparnya ke danau.
“Jangan pernah salahkan diri sendiri. Aku mohon. Jangan menangis seperti ini. Karena aku tak mau kamu terus terluka seperti ini,” dengan lembut orang itu memeluk tubuh si wanita dari belakang. “Dengarkan aku. Sampai mana pun kamu akan aku cintai. Dan sampai kapan pun kamu akan terus dicintai. Di ujung langit sana, ada sebuah keabadian yang harus kita percayai bersama,” sambungnya.

Sejenak, keadaan menjadi hening. Hanya kemesraan mereka memancarkan kehangatan yang seperti menyatu dengan keheningan ini. “Kamu mau naik perahu itu?” ucap orang itu menawarkan.
“Baiklah. Sepertinya seru,” si wanita pun menyetujui tawaran orang yang sangat dicintainya itu.

“Kenapa kamu lepas? Kenapa kamu buang?” bertanya heran tiba-tiba pin rambut dilepas dan dibuang ke danau.
“Supaya cinta kita tetap abadi dan tak pernah ditemukan rasa kebosanan,” sangkalnya sambil mendayung. Orang di dekatnya hanya tersenyum lugu. “Kalau kamu lelah mendayung, sini! Aku yang mendayung. Kamu boleh tidur di pelukanku. Kita akan bermimpi bersama,” ucap orang itu merampas dayung kecil yang dipegang si wanita.
“Karena, di dalam mimpi kita akan terus dan terus saling mencinta kan? Sampai kapan pun?” si wanita berkata sambil menyandarkan tubuhnya di dekapan orang yang ia kasihi itu. “Benar. Jangan takut lagi ya? Aku kan ada! Tetap dengan perasaan yang sama,” si wanita mengangguk pelan pertanda mengerti. Tangannya memeluk tubuh orang berparas manis itu. Perlahan matanya tertutup.

Danau yang sebenarnya tidak ada di peta itu pun seolah menjadi rumah bagi mereka untuk saling menumpahkan cinta kasih mereka. Ikan-ikan pun seolah terbius oleh romansa dua orang yang tak seharusnya itu. Air danau yang tenang tampak bagaikan tertidur. Di atasnya terdapat sepasang kekasih yang saling mencinta namun selalu berbimbang hati. Pepohonan besar yang tertiup angin sepoi sepoi seolah menari tarian romantis mengiringi laju perahu yang ditumpangi sepasang kekasih itu. Bunga-bunga teratai yang bermekaran, terlihat menyemburkan rasa hati yang kuat.

“Teruslah bermimpi sayangku. Lupakanlah sejenak kebimbangan ini. Rasakan cinta abadi kita di dalamnya,”
“Sayangku…”
“Kita…”
“Yang terlarang ini!”

Cerpen Karangan: Fauzi Maulana
Facebook: Fauzi We Lah

Cerpen Verbotene Liebe merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Spektrum Ilusi

Oleh:
Terdapat sebuah rasa takjub bercampur iri manakala terpampang cerahnya langit pagi bersama hilir mudiknya koloni burung burung gereja, mereka terbang dengan bebasnya tanpa terbelenggu ikatan adat maupun kepercayaan. Pergi

Aku Yang Mengalah

Oleh:
Aku mengalami kisah ini dimasa putih abu-abuku yang penuh dengan suka dan duka. Perkenalkan namaku adalah putri yani ginting anak dari 3 bersaudara dan anak terakhir dari ayahku yang

Sail In My Heart

Oleh:
Aku lelah berkaitan dengan waktu Mungkin karena perjalanan hati yang jauh dan berliku Aku pernah menyerah karena waktu selalu mengecewakan Di saat kudengar detaknya mengeras, ku menatap dia masih

Lagu Rindu Untuk Dia

Oleh:
Pagi itu entah kenapa kasur di kamar gue terlihat lebih seksi dari Miy*bi sehingga membuat gue enggan untuk meninggalkannya, gue ngerasa nyaman banget berada di atas dia -kasur. Tapi

Kesempatan

Oleh:
Suatu pagi yang cerah, di bawah pohon yang rindang. Ku rebahkan tubuhku, di atas rerumputan. Yang telah dipotong rapi, dan kepalaku, ku letakkan dekat tubuhnya, ya dia yang bersandar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *